
Caca menceritakan semuanya kepada Bagas dengan sangat rinci tanpa ada yang ditutupin atau ditambahi. Caca tidak bisa bercerita hal ini kepada siapapun bahkan kepada bunda Aisyah dan Ayah Joko. Dia mengetahui bahwa masalahnya ini akan membuat oranglain khawatir.
Caca juga tidak ingin memberi beban kepada kedua orangtuannya. Caca juga sudah memiliki prinsip dalam hidupnya bahwa keburukan suami tidak harus di beritahukan
kepada orang lain. Caca harus bisa menyembuyikan semua hal kesedihan atau semua hal tentang keluarganya dari orang lain. Karena semua masalah tidak harus di
publikasikan.
Tapi, Caca juga butuh seseorang yang bisa dipercayai olehnya dan juga bisa mendengarkan tentang keluhannya saat ini. Bagas menjadi seseorang yang saat ini bisa mendengarkan apa yang dialami Caca. Caca sudah tidak tahan lagi untuk menahannya. Sejak dulu juga Caca sudah dekat kepada Bagas. Mereka selalu berbagi rahasia satu sama lain.
Caca sangat lelah setelah menceritakan semuanya sambil menangis. Caca tertidur di sofa itu dengan keadaannya. Bagas mengangkat Caca kedalam kamar dan menyelimutinya.
“Kakak ku yang malang. Harus menghadapi semua ini disaat sedang hamil besar.” Jawab Bagas yang menyelimuti Caca dengan melihat Caca yang tertidur.
Bagas keluar kamar Caca setelah menyelimutinnya. Bagas sudah
berjanji kepada Caca untuk tidak memberitahu kepada orangtua mereka dan juga Jack. Bagas menjadi bingung dan harus bercerita kepada siapa untuk menyelesaikannya. Bagas ingin membantu Caca menyelesaikan masalahnya. Tapi Bagas belum menemukan solusinya.
Sementara di mansion, Lauren sudah sampai dan langsung ke kamar untuk mengambil laptop dan mengirim filenya. Hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk mengirim file dan juga melakukan videocall kepada cliet. Setelah mendapatkan kesepakatan kepuasan pelanggan terhadap desain yang sudah dirancang oleh Lauren.
Saat itu, Lauren selesai dengan cepat dan langsung teringat dengan Caca. Lauren bergegas pergi kembali untuk menjemput Caca dan bertemu dengan Deni di depan pintu mansion.
“Mau kemana kakak ipar?” tanya Deni yang menggandeng Kenzo dan Bella.
“Kebetulan.” Jawab Lauren.
“Kenzo, Bella kalian masuklah. Uncle ingin berbicara dengan tante Lauren.” Jawab Deni.
“Baik uncle Deni. Dah tante Lauren.” Ucap Bella.
Bella dan Kenzo masuk kedalam mansion sedangkan Deni dan Lauren masih berdiri di depan pintu mansion.
“Apakah Caca memintamu untuk menjemputnya di perpustakaan kota?” tanya Lauren.
“Kakak ipar pertama?” tanya Deni.
“Iya…..” Lauren menceritakan semua kejadiannya karena dia juga memiliki feeling yang tidak baik.
“Apa? Ayo kita menjemputnya.” Jawab Deni.
__ADS_1
“Baiklah. Sejak tadi aku juga sudah menelponnya tapi tidak di angkat. Aku semakin khawatir Den.” Ucap Lauren yang sedang berjalan bersama Deni ke bagasi mobil.
“Coba aku yang menelponnya.” Ucap Deni yang mencoba juga.
Lauren membuka pintu mobil dan mendengar suara dering ponsel. Lauren langsung mencari asal suara itu dan ternyata itu adalah ponsel Caca yang ada di bangku depan.
“Deni. Ini ponsel Caca.” Ucap Lauren.
“Jadi dia?” tanya Deni yang sama-sama sedang tatap menatap dengan Deni.
“Jangan-jangan?” tanya Lauren kembai.
Mereka berdua langsung bergegas memasuki mobil masing-masing dan melaju ke perpustakaan kota. Mereka dengan kecepatan penuh sampai di sana dengan cepat dengan beberapa melewati lampu merah. Mereka langsung berpencar untuk mencari keberadaan Caca saat sampai di perpustakaan kota. Namun mereka sudah berkeliling di dalam perpustakaan dan luar perpustakaan untuk mencari keberadaan Caca yang tidak di temukan juga.
Akhirnya, Deni dan Lauren duduk bersama sambil meminum air mineral untuk istirahat terlebih dulu. Dan langsung memutuskan untuk menghubungi Jack. Deni langsung menghubungi Jack dan akan bertemu dengan Jack di mansion.
“Ada apa? Kenapa kau tidak ke markas?” tanya Jack terlebih dulu saat menerima panggilan Deni.
Saat ini mereka sudah mendekati waktu keberangkatan ke Tiongkok. Tiga hari lagi acara pelelangan di kapal pesiar akan segera berlangsung. Mereka lebih fokus untuk ke markas dalam merencanakan pembalasan dendam tersebut.
“Kakak ipar menghilang. Segera ke pulang ke mansion untuk mengetahui detailnya.” Jawab Deni.
“Segera kembali.” Jawab Deni.
“Aku akan segera kesana.” Jawab Jack yang terburu-buru mengambil kunci mobil untuk pergi sendiri.
“Iya.” Jawab Deni.
“Kenapa?” tanya Billy.
“Caca menghilang.” Jawab Jack dalam langkahnya.
“Biar aku yang akan membawanya, kau lebih baik tenangkan dirimu.” Jawab Jimmy yang meminta kunci mobilnya
Jack memberikan kuncinya kepada Jimmy. Billy dan Max mengikuti Jack yang sudah pergi menggunakan mobilnya. Lauren dan juga Deni pergi kembali ke mansion. Sambil menunggu kedatangan Jack dan lainnya, ponsel Caca berdering dengan nomor yang tidak dikenal.
“Aku hanya mengatakan kepadamu tentang kebenaran Jack. Semua keputusan ada ditanganmu. Itulah yang terakhir yang ingin aku katakan kepadamu.” Ucap seseorang itu lalu mematikan panggilan itu.
“Siapa kau?” tanya Lauren.
__ADS_1
“Siapa?” tanya Deni.
“Aku tidak mengetahuinya, dan nomor ini juga tidak di ketahui. Yang dia katakan adalah ‘Aku hanya mengatakan kepadamu tentang kebenaran Jack. Semua keputusan ada ditanganmu. Itulah yang terakhir yang ingin aku katakan kepadamu.’ Itulah yang dikatakan olehnya Deni.” Jawab Lauren.
“Apa?” tanya Deni.
Deni meminta ponsel yang Caca untuk dilihatnya. Ponsel Caca yang tidak menggunakan pola atau kunci apapun sehingga semua orang dapat melihat isinya. Pesan email yang ditermia oleh Caca dari Richard belum ada dihapus sehingga Deni dan Lauren mengetahui apa yang ada didalam.
“Deni, ini benar-benar gila.” Jawab Lauren.
“Kau benar. Siapa yang sudah berani mengirimkan semua ini?” tanya Deni.
“Aku hanya mengetahui dia pagi ini memintaku untuk mengantarkannya untuk bertemu dengan teman kampusnya.” Jawab Lauren.
“Caca sudah tamat beberapa bulan yang lalu. Jadi dia sudah tidak pernah lagi bertemu dengan teman kampusnya.” Jawab Deni.
“Jangan-jangan.” Jawab mereka berdua yang berfikir sama jika orang itulah yang mengirimkan pesan itu.
“Tunggu, sepertinya aku tadi pagi mempotretnya.” Jawab Lauren yang membuka ponselnya.
“Mana?” tanya Deni.
“Ini.” Jawab Lauren yang menunjukkan hasil potretnya.
“Aku tidak mengenal orang ini.” jawab Deni.
“Aku juga tidak mengenalnya tapi aku tidak asing dengan wajahnya. Seperti mengenalnya di suatu tempat.” Jawab Lauren.
“Kita akan memberitahukan semua ini kepada Jack.” Jawab Deni.
Mereka duduk di sofa itu untuk menunggu kedatangan Jack dan memecahkan semua masalah ini. Deni bergegas kembali ke perpustakaan kota untuk mengecek sekitar tempat tentang keberadaan Caca.
“Kau disini saja. Aku akan mencari keberadaan Caca lewat CCTV di perpustakana kota dan terakhir kalinya kau menurunkannya.” Jawab Deni.
“Ide yang bagus. Kenapa tadi kita tidak kepikiran?” tanya Lauren.
“Kau jelaskan semuanya kepada Jack dengan perlahan. Aku akan mengurusnya. Aku takut Caca dibawa orang itu. Jadi kita membagi tugas semua ini.” Jawab Deni.
“Baiklah.” Jawab Lauren.
__ADS_1