
“Ups maaf, sepertinya tidak akan seru jika
membunuhmu dengan cepat.” Ucap Jeni kemudian melepaskan tanganya yang mencekik leher Caca.
“Aku akan ceritakan kisah dulu saat aku membunuh wanita ****** sama seperti mu yang merebut John dariku. Padahal dia adalah sahabatku tapi, tidak. Dia bukan sahabatku, dia mengetahui aku mencintai John namun dia berani menikahi John dan meninggalkan aku sendirian.” Ucap Jeni.
Saat ini Caca hanya diam karena dia sedang mengontrol nafasnya kembali setelah di lehernya di cekik oleh Jeni.
“Karena dia begitu padaku jadi wajar saja aku membalasnya. Namun saat pertama kali aku mencelakainnya aku ketahuan oleh John dan membuatnya pergi menjauh padaku. Saat itu mereka pergi dan tidak pernah bertemu denganku lagi.” Ucap Jeni melanjutkan ceritanya sambil berjalan memutari badan Caca yang di ikat.
“Namun saat aku bertemu dengan mereka lagi, ternyata wanita itu hamil dan suaminya adalah John. Aku merencanakan untuk membunuh dia dan juga bayinya dengan membakar rumah mereka di saat John tidak ada di sana.” Ucap Jeni lagi.
“Mungkin aku harus membuat dirimu seperti wanita itu, setelah melahirkan. Wanita itu dan kedua bayinya aku bakar bersama-sama. Hahahha, dan akhirnya aku akan mendapatkan John kembali.” Ucap Jeni.
“Tapi… saat itu aku melihat John menyelamatkan wanita itu dan anak-anaknya namun tidak keluar-keluar dari rumah itu. Dan aku fikir dia sudah meninggal tapi ternyata dia masih hidup saat ini dan itu membuatku senang.” Ucap Jeni lagi.
“Sudah aku katakan dia bukan John tapi dia adalah Jack.” Ucap Caca yang tiba-tiba mengeluarkan suaranya.
“Diam! Dia adalah John. Pria yang aku cintai dan kau tidak berhak untuk hidup. Sama seperti wanita ****** itu.” Ucap Jeni.
“Kenapa kau membunuh istri John dan anak-anaknya dengan begitu kejam? Apakah kau tidak memiliki hati nurani sama sekali?” tanya Caca yang sengaja mengulur waktu.
“Karena cinta bisa membutakan segalanya.” Jawab Jeni dengan mudah.
“Wanita gilak!” Ucap Caca.
“Apa katamu? Gilak! Ya aku gilak karena mencintai John. JAdi jika aku tidak bisa memilikinya kalian juga tidak boleh memilikinya.” Ucap Jeni.
“Lepaskan aku!” Ucap Caca.
“Itu tidak akan pernah terjadi. Tapi sebelum kau meninggal aku akan memberikanmu sedikit hadiah. Hahaha. Jika kau di nodai oleh orang-orangku , aku yakin John tidak akan mengkuburkan mu selayaknya karena kau sangat menjijikkan.” Ucap Jeni.
“Aku harus mengulurkan waktu karena aku yakin Jack akan menemukanku karena aku tidak ada di mansion.” Ucap Caca dalam hatinya.
__ADS_1
“Kau bilang, kau sudah menyaksikan John masuk kedalam rumahnya saat kebakaran itu terjadi dan tidak pernah keluar dari kebakaran itu. Lalu kenapa kau yakin apa yang kau lihat adalah John?” tanya Caca.
“Karena wajahnya sama seperti John.” Jawab Jeni.
“Sudah aku katakana dia adalah Kakaknya John yaitu Jack. Jack suami ku bukan John orang yang kau cintai.” Ucap Caca.
“Sudah aku bilang jangan membohongiku. Aku yakin dia adalah John.” Ucap Jeni.
“Coba kau fikir jika memang dia adalah John kenapa saat itu kau tidak melihat John keluar dari kebakaran itu, bukan kah kau sendiri yang menyaksikannya?” tanya Caca.
“John adalah kembaran Jack. Jadi wajar saja wajah mereka sangat mirip. Dan kau menyelahkan aku atas pernikahanku pada Jack?” ucap Caca.
“Tidak mungkin! John tidak memiliki saudara kandung bahkan dia tidak memiliki keluarga setelah aku mengetahuinya selama ini sebelum aku mengetahui bahwa dia dan wanita itu saling mencintai.” Ucap Jeni.
“Selama ini kaulah yang tidak benar-benar mengetahui John dan selalu mencari informasi tentang John dengan tanganmu sendiri tanpa mempertanyakan hal itu kepada orangnya secara lansung.” Ucap Caca.
“Hmmm sangat logika tapi sayang aku tidak akan pernah mempercayaimu. Karena aku selalu mengikuti cintaku. Jadi aku yakin dia adalah John. Dan kau sengaja bercerita ini untuk mengulurkan waktu agar ada seseorang yang akan menyadari bahwa kau hilang di pesta.” Ucap Jeni.
“Tapi sayang, waktu mu sudah habis dan selamat menikmati bersenang-senang dengan mereka.” Ucap Jeni
“Selamat tinggal wanita ******,” ucap Jeni sambil menggoreskan luka di paha Caca dengan pisau.
Goresan itu tidak terlalu dalam karena kulit Caca terlindungi oleh lapisan pakaian yang digunakannya.
“Kalian tau apa yang harus di lakukan?” ucap Jeni.
“Kami mengerti bos,” ucap mereka bertujuh yang ada di ruangan bawah tanah itu.
“Kau ikut aku kembali ke markas dan yang lainnya kerjakan sesuka kalian. Nikmati mangsa kalian dan setelah itu bunuh dia.” Ucap Jeni.
“Terimakasih bos,” ucap mereka berenam.
Saat Jeni keluar dari ruang bawah tanah, salah seorang anggotanya melaporkan sesuatu.
__ADS_1
“Bos, tiba-tiba ada puluhan ekor ular berbisa
mengelilingi rumah ini.”
“Bunuh,”
“Mereka terlalu banyak bos, tapi kami di perintahkan untuk menyalakan api menggunakan obor agar mencegahnya masuk kedalam rumah ini. Jadi bosa sebaiknya segera meninggalkan tempat ini.” Ucapnya.
“Baiklah,” ucap Jeni.
Jeni di kawal oleh beberapa orang yang membawa obor untuk masuk kedalam mobil dan meninggalkan rumah yang berada di tengah hutan tersebut.
Saat Jeni keluar ternyata Jack dan yang lainnya sampai di rumah itu. Namun Bagas mengetahui ada sebuah mobil yang baru saja keluar dari rumah itu saat Jack dan teman-temannya berencana untuk masuk kedalam rumah.
Saat Jack dan yang lainnya mulai menyerang, Bagas berhasil memphoto wajah Jeni beserta plat mobil yang digunakan Jeni saat ingin pergi dari rumah itu. Kemudian Bagas mengkirimkan hasil potretnya kepada Billy yang berada di mansion. Jeni keluar dari pintu samping rumah sehingga tidak bertemu dengan Jack,Jimmy dan Max.
Saat Max masih membereskan musuh yang berada di luar rumah tersebut, orang yang berada di dalam sedang berdiskusi untuk memperebutkan yang pertama untuk melakukan hal tidak senonoh pada Caca.
“Kalian berempat berjagalah di luar, setelah aku selesai kalian berikutnya bergantian. Karena aku bos disini kalian jangan pernah membatah.” Ucap seseorang yang akui dirinya adalah bos.
“Baiklah yang penting kami mendapatkan giliran.” Ucap mereka bersama-sama kemudian meninggalkan ruang bawah tanah.
“Hy gadis cantik, kau menggunakan gaun pernikahan yang lucu.” Ucapnya saat mendekati Caca.
“Jangan coba macam-macam padaku!” ucap Caca.
“Tenang saja aku akan melakukannya secara perlahan, tapi lebih baik aku akan merobek gaun pernikahanmu terlebih dahulu sebelum membuka keseluruhannya.” Ucapnya.
Dia dengan perlahan-lahan merobek gaun Caca di mulai dari bagian bawah hingga seperti baju pendek.
“Lepaskan aku mohon jangan lakukan itu, hiks…hiks” ucap Caca yang sudah ketakutan dan menangis.
Dan secara kebetulan dirinya mengingat kejadian saat dia masih berumur tujuh tahun saat kejadian yang membuatnya trauma. Di saat itu dia mulai menangis sekuat-kuatnya dan memanggil nama Jack.
__ADS_1
Saat itu Jack sedang membereskan seseorang dan tiba-tiba mendengar suara Caca mencaritahu keberadaannya. Saat musuh itu menyentuh wajah Caca, Jack tiba dan melihatnya. Hal itulah yang memancing emosi Jack dan saat itu Jacob terbangun untuk mengambil ahli tubuhnya.