
Nama : Brian Satria
Umur : 27 tahun
Tinggi: 179cm
Sifat : Penyayang dan berdarah dingin
Status : Anak Budi, Mafioso Jepang Snake
Red.
Kali ini yang terbangun
adalah Jacob karena mendengar suara tangisan kecil Caca. Jacob merasakan sakit
di kelapanya.
“Suara siapa itu?”
tanya Jacob sambil memegang kepalanya yang terluka dan merasa sudah di ikat
dengan kain.
Jacob mencari asal
suara itu dan menemukan Caca.
“Kau? Kenapa kau juga
ada disini?” tanya Jacob yang ada di depan Caca.
“Alhamdulilah kau
sadar,” ucap Caca sambil memeluk Jacob.
Jacob merasakan
gemetaran yang bergejolak di tubuh Caca ketika mememeluknya.
“Tenanglah aku disini
kau tidak perlu takut. Sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.” Ucap
Jacob.
“Aku tadi bermain petak
umpet bersama dengan kak Brian dan aku menemukan rumah ini untuk bersembunyi.
Namun saat aku bersembunyi aku melihat apa yang terjadi padamu. Dan …” ucap
Caca.
“Dan apa?” tanya Jacob.
“Dan tadi aku melihat
laki-laki menyiksa perempuan itu dengan tidak menggunakan busana sehelai
kainpun.” Ucap Caca yang polos.
“Brengsek mereka.
Tenanglah kita akan keluar dari sini segera mungkin. Sekarang kau cukup tenang
disini dan serahkan semua padaku.” Ucap Jacob.
“Maksudmu kita kabur?”
tanya Caca.
“Tidak aku akan melihat
situasi terlebih dahulu, kau tetaplah di sini dan jangan kemana-mana hingga aku
kembali.” Ucap Jacob.
Jacob keluar dari
jendela kamar tersebut dan melihat situasi. Jacob membawa 1 buah pisau yang
kecil di tangannya yang sudah ia sembunyikan selalu di kantong celananya. Jacob
berencana untuk membunuh satu persatu orang-orang itu.
Ada lima orang yang
berada di luar rumah itu, satu di bunuh oleh Jacob ketika ia sedang berada di
dalam kamar mandi. Satu di bunuh Jacob ketika berdiri di depan pintu rumah.
Satu dibunuh oleh Jacob di hutan. Satu di bunuh Jacob di saat ia menelpon. Satu
di bunuh Jacob di belakang rumah.
Jacob membunuh mereka
semua dengan cara yang sama. Pertama menyerang kedua pergelangan kaki mereka
dengan pisau, ketika mereka menundukkan kepalanya karena kesakitan di bagian
kaki. Jacob langsung mengayunkan pisaunya ke leher mereka yang membuat mereka
segera terbunuh.
Semua keterampilan
membunuh ini sudah di ajarkan oleh Kagami dalam menggunakan samurai atau benda
tajam lainnya. Sejak lahir Jacob juga sudah terbiasa mendengar jeritan
orang-orang kesakitan dan suara tembakan dan suara keadaan perang karena selalu
__ADS_1
ikut dengan James di barak.
“Sretttttttttttttt,”
suara pisau yang mengenai kulit.
“Au…”
“Strestttttt,” suara
Pisau yang mengenai leher.
Dengan sangat cepat Jacob
memberaskan lima orang yang berada di luar itu, tinggal tiga orang lagi yang
berada di dalam rumah untuk di bereskan. Jacob mengambil satu pistol dari
orang-orang yang dibunuhnya.
“Untuk berjaga-jaga aku
harus mengambil pistol ini,” ucap Jacob.
Kemudian Jacob masuk
kedalam rumah itu untuk membereskan yang lain. Sementara dikamar tempat Caca
menunggu seseorang datang untuk mengecek apakah Jacob masih ada di dalam.
“Kau siapa?” ucap
seorang pria yang mengecek ke kamar Jacob di sekap.
“Kau, tolong!” ucap
Caca berteriak.
Pria itu menangkap Caca
dan membawanya ke kamar sebelah di mana sang ketua grup itu sedang bersama
wanita.
“Bos, maaf menganggu
kesenangan mu, sepertinya anak perempuan ini mengetahui apa yang sudah
terjadi.” Ucapnya.
“Tinggal kau bereskan
saja, untuk apa datang kemari menggangguku.” Ucapnya.
“Masalahnya aku
menemukannya di kamar bocah yang kita culik itu. Namun bocah itu tidak ada di
kamar, malah anak perempuan ini yang aku temukan.
tembakan.
“Apa itu?”
“Aku akan mengeceknya
bos, aku tinggalkan anak ini dulu bersama bos.”
“Baiklah segera
kembali.”
“Baik bos,” jawabnya.
Ia pergi untuk mengecek
dimana asal suara tembakan tersebut, ternyata suara itu dari pistol yang di
tarik pelatuknya oleh Jacob untuk membunuh rekannya.
“Kau?”
“Dor….”Suara tembakan
kembali mengarah dirinya.
“Aku harus segera pergi
ke kamar untuk menjemput anak perempuan itu.” Ucap Jacob.
Bos yang bersama dengan
Caca itu mengintrogasi Caca.
“Kau sudah melihat
semuanya? Katakan!” ucapnya sambil menampar pipi Caca.
Caca hanya diam saja.
Dan wanita yang ada di kasur itu hanya diam dan tak berdaya melihat Caca yang
di tampar. Kemudian dirinya di peluk kembali oleh laki-laki itu dan Jacob
datang.
“Dor…” suara tembakan
yang meluncur di badan wanita dewasa itu yang seharusnya ke laki-laki tersebut.
“Kau berani-beraninya
melukai wanitaku di saat aku belum puas dengannya.” Ucap laki-laki itu.
__ADS_1
“Pasukan dimana
kalian!”panggilnya kepada anggotanya.
“Mereka semua sudah aku
bunuh,” ucap Jacob.
“Apa?Aku tidak percaya.”
Jawabnya.
Saat itu laki-laki itu
menyandera Caca dengan mencekiknya saat Caca mau berlari ke arah Jacob.
“Untunglah kau sudah
sampai dan baik baik saja,” ucap Caca sambil berlari ke arah Jacob.
“Kalian saling kenal?”
ditariknya tangan Caca kemudian menecekik lehernya Caca.
“Jangan kau sentuh
perempuan itu brengsek.” Ucap Jacob.
“Jadi ini adalah
perempuan mu? Baguslah aku akan membunuhnya sebagai pengganti kau membunuh
wanitaku.” Ucapnya sambil mengarah sebuah laci untuk mengambil sebuah tembakan.
Caca yang sudah sulit
bernapas karena terlalu lama di cekik olehnya pingsan tidak sadarkan diri tepat
saat Jacob menembakkan tangan laki-laki itu.
“Dor…” tembakan dari
Jacob mengenai tangannya dan membuat tubuh Caca terjatuh ke lantai.
Caca yang melihat keberadaan
Jacob sebelum menutup matanya.
“Ku bilang lepaskan dia
brengsek!” ucap Jacob yang ingin menembak kembali namun pelurunya sudah habis.
“Dor…….” Suara tembakan
yang keluar dari pistol laki-laki itu hampir mengenai Jacob.
Jacob dengan segera
untuk bersembunyi hingga seluruh peluru yang ada padanya habis, kemudian mereka
bertarung dengan tangan kosong.
“Bruk…” satu tumbukan
melayang terkena di wajah Jacob.
Jacob membalasnya
dengan pisau yang ada di tangannya, namun laki-laki itu berhasil menghindar.
“Kau hebat juga bisa
menghindari beberapa serangan ku tapi jangan harap kau dapat melukaiku.” Ucapnya.
Beberapa kali Jacob
melakukan hal yang sama selalu bisa dihindarinya. Namun beberapa kali pisau
Jacob tetap bisa mengenai bagian-bagian wajah dan perutnya. Dan dia semakin
kehabisan darah, sementara Jacob sudah lelah karena berulang kali terkena
pukulannya. Hingga akhirnya untuk tusukan kesekian kalinya Jacob berhasil
mengenai jantung laki-laki itu.
“Kau! Aku… menganggap…mu…remeh.
Bruk!!” ucap pria itu terbatah-batah kemudian terjatuh di lantai setelah
terkena tusukan Jacob.
Pada akhirnya
kemenangan di raih oleh Jacob. Saat Jacob berhasil membunuhnya Jacob segera
menghampiri Caca dan melihat keadannya.
“Syukurlah kau masih
hidup,” ucapnya saat mengecek denyut nadin dari tangannya dan jantungnya
kemudian memeluknya dengan erat.
Setelah Jacob merasakan
Caca masih hidup dirinya lega dan kemudian pingsan.
Mereka berdua terbaring
bersama di lantai itu.
Dengan kondisi kamar
__ADS_1
yang sudah ada dua mayat, satu di samping mereka berdua dan satunya di atas
ranjang.