I Love You Mr.Mafia

I Love You Mr.Mafia
Pembunuhan


__ADS_3

Nama : Brian Satria


Umur :  27 tahun


Tinggi: 179cm


Sifat : Penyayang dan berdarah dingin


Status : Anak Budi, Mafioso Jepang Snake


Red.


Kali ini yang terbangun


adalah Jacob karena mendengar suara tangisan kecil Caca. Jacob merasakan sakit


di kelapanya.


“Suara siapa itu?”


tanya Jacob sambil memegang kepalanya yang terluka dan merasa sudah di ikat


dengan kain.


Jacob mencari asal


suara itu dan menemukan Caca.


“Kau? Kenapa kau juga


ada disini?” tanya Jacob yang ada di depan Caca.


“Alhamdulilah kau


sadar,” ucap Caca sambil memeluk Jacob.


Jacob merasakan


gemetaran yang bergejolak di tubuh Caca ketika mememeluknya.


“Tenanglah aku disini


kau tidak perlu takut. Sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.” Ucap


Jacob.


“Aku tadi bermain petak


umpet bersama dengan kak Brian dan aku menemukan rumah ini untuk bersembunyi.


Namun saat aku bersembunyi aku melihat apa yang terjadi padamu. Dan …” ucap


Caca.


“Dan apa?” tanya Jacob.


“Dan tadi aku melihat


laki-laki menyiksa perempuan itu dengan tidak menggunakan busana sehelai


kainpun.” Ucap Caca yang polos.


“Brengsek mereka.


Tenanglah kita akan keluar dari sini segera mungkin. Sekarang kau cukup tenang


disini dan serahkan semua padaku.” Ucap Jacob.


“Maksudmu kita kabur?”


tanya Caca.


“Tidak aku akan melihat


situasi terlebih dahulu, kau tetaplah di sini dan jangan kemana-mana hingga aku


kembali.” Ucap Jacob.


Jacob keluar dari


jendela kamar tersebut dan melihat situasi. Jacob membawa 1 buah pisau yang


kecil di tangannya yang sudah ia sembunyikan selalu di kantong celananya. Jacob


berencana untuk membunuh satu persatu orang-orang itu.


Ada lima orang yang


berada di luar rumah itu, satu di bunuh oleh Jacob ketika ia sedang berada di


dalam kamar mandi. Satu di bunuh Jacob ketika berdiri di depan pintu rumah.


Satu dibunuh oleh Jacob di hutan. Satu di bunuh Jacob di saat ia menelpon. Satu


di bunuh Jacob di belakang rumah.


Jacob membunuh mereka


semua dengan cara yang sama. Pertama menyerang kedua pergelangan kaki mereka


dengan pisau, ketika mereka menundukkan kepalanya karena kesakitan di bagian


kaki. Jacob langsung mengayunkan pisaunya ke leher mereka yang membuat mereka


segera terbunuh.


Semua keterampilan


membunuh ini sudah di ajarkan oleh Kagami dalam menggunakan samurai atau benda


tajam lainnya. Sejak lahir Jacob juga sudah terbiasa mendengar jeritan


orang-orang kesakitan dan suara tembakan dan suara keadaan perang karena selalu

__ADS_1


ikut dengan James di barak.


“Sretttttttttttttt,”


suara pisau yang mengenai kulit.


“Au…”


“Strestttttt,” suara


Pisau yang mengenai leher.


Dengan sangat cepat Jacob


memberaskan lima orang yang berada di luar itu, tinggal tiga orang lagi yang


berada di dalam rumah untuk di bereskan. Jacob mengambil satu pistol dari


orang-orang yang dibunuhnya.


“Untuk berjaga-jaga aku


harus mengambil pistol ini,” ucap Jacob.


Kemudian Jacob masuk


kedalam rumah itu untuk membereskan yang lain. Sementara dikamar tempat Caca


menunggu seseorang datang untuk mengecek apakah Jacob masih ada di dalam.


“Kau siapa?” ucap


seorang pria yang mengecek ke kamar Jacob di sekap.


“Kau, tolong!” ucap


Caca berteriak.


Pria itu menangkap Caca


dan membawanya ke kamar sebelah di mana sang ketua grup itu sedang bersama


wanita.


“Bos, maaf menganggu


kesenangan mu, sepertinya anak perempuan ini mengetahui apa yang sudah


terjadi.” Ucapnya.


“Tinggal kau bereskan


saja, untuk apa datang kemari menggangguku.” Ucapnya.


“Masalahnya aku


menemukannya di kamar bocah yang kita culik itu. Namun bocah itu tidak ada di


kamar, malah anak perempuan ini yang aku temukan.


tembakan.


“Apa itu?”


“Aku akan mengeceknya


bos, aku tinggalkan anak ini dulu bersama bos.”


“Baiklah segera


kembali.”


“Baik bos,” jawabnya.


Ia pergi untuk mengecek


dimana asal suara tembakan tersebut, ternyata suara itu dari pistol yang di


tarik pelatuknya oleh Jacob untuk membunuh rekannya.


“Kau?”


“Dor….”Suara tembakan


kembali mengarah dirinya.


“Aku harus segera pergi


ke kamar untuk menjemput anak perempuan itu.” Ucap Jacob.


Bos yang bersama dengan


Caca itu mengintrogasi Caca.


“Kau sudah melihat


semuanya? Katakan!” ucapnya sambil menampar pipi Caca.


Caca hanya diam saja.


Dan wanita yang ada di kasur itu hanya diam dan tak berdaya melihat Caca yang


di tampar. Kemudian dirinya di peluk kembali oleh laki-laki itu dan Jacob


datang.


“Dor…” suara tembakan


yang meluncur di badan wanita dewasa itu yang seharusnya ke laki-laki tersebut.


“Kau berani-beraninya


melukai wanitaku di saat aku belum puas dengannya.” Ucap laki-laki itu.

__ADS_1


“Pasukan dimana


kalian!”panggilnya kepada anggotanya.


“Mereka semua sudah aku


bunuh,” ucap Jacob.


“Apa?Aku tidak percaya.”


Jawabnya.


Saat itu laki-laki itu


menyandera Caca dengan mencekiknya saat Caca mau berlari ke arah Jacob.


“Untunglah kau sudah


sampai dan baik baik saja,” ucap Caca sambil berlari ke arah Jacob.


“Kalian saling kenal?”


ditariknya tangan Caca kemudian menecekik lehernya Caca.


“Jangan kau sentuh


perempuan itu brengsek.” Ucap Jacob.


“Jadi ini adalah


perempuan mu? Baguslah aku akan membunuhnya sebagai pengganti kau membunuh


wanitaku.” Ucapnya sambil mengarah sebuah laci untuk mengambil sebuah tembakan.


Caca yang sudah sulit


bernapas karena terlalu lama di cekik olehnya pingsan tidak sadarkan diri tepat


saat Jacob menembakkan tangan laki-laki itu.


“Dor…” tembakan dari


Jacob mengenai tangannya dan membuat tubuh Caca terjatuh ke lantai.


Caca yang melihat keberadaan


Jacob sebelum menutup matanya.


“Ku bilang lepaskan dia


brengsek!” ucap Jacob yang ingin menembak kembali namun pelurunya sudah habis.


“Dor…….” Suara tembakan


yang keluar dari pistol laki-laki itu hampir mengenai Jacob.


Jacob dengan segera


untuk bersembunyi hingga seluruh peluru yang ada padanya habis, kemudian mereka


bertarung dengan tangan kosong.


“Bruk…” satu tumbukan


melayang terkena di wajah Jacob.


Jacob membalasnya


dengan pisau yang ada di tangannya, namun laki-laki itu berhasil menghindar.


“Kau hebat juga bisa


menghindari beberapa serangan ku tapi jangan harap kau dapat melukaiku.” Ucapnya.


Beberapa kali Jacob


melakukan hal yang sama selalu bisa dihindarinya. Namun beberapa kali pisau


Jacob tetap bisa mengenai bagian-bagian wajah dan perutnya. Dan dia semakin


kehabisan darah, sementara Jacob sudah lelah karena berulang kali terkena


pukulannya. Hingga akhirnya untuk tusukan kesekian kalinya Jacob berhasil


mengenai jantung laki-laki itu.


“Kau! Aku… menganggap…mu…remeh.


Bruk!!” ucap pria itu terbatah-batah kemudian terjatuh di lantai setelah


terkena tusukan Jacob.


Pada akhirnya


kemenangan di raih oleh Jacob. Saat Jacob berhasil membunuhnya Jacob segera


menghampiri Caca dan melihat keadannya.


“Syukurlah kau masih


hidup,” ucapnya saat mengecek denyut nadin dari tangannya dan jantungnya


kemudian memeluknya dengan erat.


Setelah Jacob merasakan


Caca masih hidup dirinya lega dan kemudian pingsan.


Mereka berdua terbaring


bersama di lantai itu.


Dengan kondisi kamar

__ADS_1


yang sudah ada dua mayat, satu di samping mereka berdua dan satunya di atas


ranjang.


__ADS_2