
Ruangan yang menjadi saksi tempat pembunuhan Hanz yang di lakukan oleh Max benar-benar sangat kejam. Setelah mendapatkan semua informasi itu semua, Max dengan mudah membunuh Hanz begitu saja dengan memenggalkan kepalanya.
Akashi dan Richard masuk kembali ke dalam ruangan introgasi dan melihat semuanya dengan jelas apa yang terjadi.
“Jadi bagaimana kita akan membereskannya?” tanya Akashi.
“Iya bagaimana sekarang?” tanya Richard.
“Kenapa kalian menjadi bingung.” Jawab Max yang membersihkan darah di tangannya dengan menggunakan sapu tangan miliknya.
“Kau sudah membuatnya seperti ini senior.” Jawab Richard.
“Iya, jadi kami tidak tahu apa yang harus di lakukan.” Jawab Akashi.
Max selesai membersihkan tangannya dari darah itu, langsung merangkul kedua pundak Akashi dan Richard. Mereka berdua menjadi merindung karena di rangkul oleh Max dengan kedua tangannya itu. Akashi yang berada di posisi sebelah kanan Max dan Richard di posisi sebelah kiri Max.
“Gampang!” Jawab Max.
“Maksudnya?” tanya Akashi dan Richard dengan badan yang terdiam tanpa bergerak.
“Masukkan mayat Hanz dan ketiga anak buahnya ke dalam mobil yang aku kendarai tadi. Bakar terlebih dulu sebelum memasukkannya kedalam jurang. Setelah itu masukkan ke dalam berita bahwa dua orang dokter dari rumah sakit K beserta supir dan pengawalnya meninggal dunia dalam kecelakaan maut.”
“Hmmm…. Mobile mereka terbakar hingga mayat mereka tidak bisa lagi di otopsi. Itu merupakan hal yang mudah untuk kau lakukan Akashi.” Jawab Max kemudian melepaskan mereka berdua.
Richard dan Akashi saling menatap dengan wajah yang setuju dengan ide yang di katakana oleh Max.
“Kau memang jenius bisa merencanakan hal seperti ini dengan singkat.” Jawab Akashi.
“Senior benar-benar bagus.” Jawab Richard.
Mereka melaksanakan rencana yang sudah di buat oleh Max dengan segera.
“Sudah aku katakana dia benar-benar melebihi iblis.” Bisik Richard kepada Akashi.
Akashi mengaggukkan kepalanya yang berarti menyetujui hal tersebut.
Mereka sudah selesai untuk melaksanakan rencana itu dengan bantuan anak buah Richard dan Akashi. Sedangkan mereka kembali ke rumah sakit Akashi untuk istrihat. Max langsung membersihkan dirinya di kamar mandi dan memakai pakaiannya yang sudah dia pindahkan dari apartemennya di tempat Akashi.
__ADS_1
Dua orang lelaki yang sedang duduk di sofa sambil menikmati berita pagi hari. Dua lelaki itu adalah Richard dan Akashi yang sedang menanti berita kematian Hanz yang di akibatkan oleh kecelakaan murni akibat masuk jurang. Karena saat itu cuaca juga sangat mendukung yaitu turun hujan deras.
“Kecelakaan yang sering terjadi di persimpangan bukit ini sudah menjadi hal yang biasa di setiap tahunnya. Dengan kondisi hujan deras, jalanan yang licin dan berbelok. Lagi-lagi sebuah mobil jatuh kedalam jurang dan mengakibatkan ledakan dan menghancurkan penumpang yang ada di dalamnya.”
“Namun di lihat dari penyelidikan polisi bahwa ini adalah mobil milik dokter Hanz dari rumah sakit K. Yang berada di dalam mobil itu adalah tuan Hanz, dokter muda pindahan dan juga dua orang yang terdiri Dari supir dan pengawal dokter Hanz.”
“Polisi juga menyatakan bahwa hal ini adalah kecelakaan murni karena jalanan yang licin setelah hujan. Saat itu korba ingin menuju ke luar kota untuk pertemuan dokter, dan menurut penjelasan rekan lainnya bahwa mobil mereka mengalami ban boncor sehingga yang lain mendahulu mereka.”
“Sekian berita pagi hari ini. Penonton untuk bisa berhati-hati dalam berkendara apalagi di jalanan yang curam seperti ini.” Jawab reporter sebelum menutupnya.
Max yang baru saja keluar dari kamarnya dan duduk bersama dengan Richard dan Akashi.
“Sejak kapan kau berdiri di sana?” tanya Akashi.
“Sudah bereskan.” Jawab Max.
“Kau memang hebat senior.” Jawab Richard.
“Sekarang apa yang akan kau lakukan?” tanya Max kepada Richard.
“Kau ikut denganku ke Tiongkok. Kita akan bertemu dengan Billy. Setelah itu, kita akan merencanakan hal lainnya.” Jawab Max.
“Kenapa kalian saling menatap. Bukannya kalian sudah mengetahui mengapa harus seperti itu?” tanya Max.
Mereka mengaggukkan kepalanya.
“Bagaimana dengan pembasmian mereka?” tanya Akashi.
“Setelah aku menyamar menjadi Hanz.” Jawab Max yang tersenyum.
“Dua hari lagi pertemuan mereka.” Jawab Akashi.
“Iya. Bagaimana rencananya?” tanya Richard.
“Kau pergi bertemu denga Billy. Sedangkan aku dan Akashi akan membereskan hal di sini. Setelah selesai aku akan menyusul. Yang terpenting sekarang adalah untuk segera merebut kembali tahtamu dari saudara tirimu itu. kau harus memikirkan hal yang benar-benar serius untuk melakukan hal itu.” Jawab Max.
“Baiklah.” Jawab Richard yang tidak bisa membantah.
__ADS_1
“Siapkan semuanya Akashi.” Jawab Max.
“Oke.” Jawab Akashi.
“Aku pinjam sepeda motormu?” tanya Max.
“Untuk?” tanya Akashi.
“Ada yang ingin aku temui.” Jawab Max.
Max masuk kedalam kamar untuk menggunakan mantel pakaian kemudian mengambil kunci sepeda motor dari Max. Kali ini Max keluar dengan wajah aslinya yaitu tanpa penyamaran lagi. Tidak ada lagi tahi lalat di wajahnya dan kacamata di wajahnya.
Max melajukan dirinya menuju tempat Kazumi. Max, khawatir dengan keadaan Kazumi yang mengetahui berita ini. Dengan kecepatan yang cepat Max mengendarai sepeda motor untuk segera sampai di restoran iga sapi tersebut.
Kazumi yang baru saja membantu sang nenek untuk membuka restoran buka tiba-tiba mendengar tentang kecelakaan mobil itu dan membuat tangannya teriris pisau. Jari telunjuk Kazumi tergores akibat pisau untuk
memotong lobak.
Kazumi menjadi patung mendengar berita itu dan meninggalkan dapur menuju kamar untuk mengambil ponselnya. Kazumi mencoba menelpon berulang kali nomor Max namun tidak aktif.
“Ayolah tersambung.” Jawab Kazumi yang mondar mandir sambil menelpon Max.
Hampir 20 kali Kazumi melakukan hal itu namun tidak aktif juga. Air mata sudah mengalir jatuh ke pipinya. Kazumi terduduk di atas kasurnya dengan keadaan yang tidak berdaya memikirkan berita tersebut.
“Apakah itu benar kau Max? Katakan padaku itu tidak benar.”
“Kenapa kau mati di saat aku belum memberitahu isi hatiku.”
“Kau benar-benar pria brengsek Max.” Jawab Kazumi yang terus memaki Max.
Kazumi berlari keluar dari rumahnya menuju apartement Max yang berada di sebarang rumahnya. Namun, Kazumi tidak menemukannya. Dia menekan tombol pintu apartement Max yang tidak mendapat jawaban.
Kazumi dengan tangisannya membelakangi pintu dan menjatuhkan dirinya cukup lama sekitar sepuluh menit kemudian ia kembali berjalan menuju restoran iga. Dengan tatapan yang kosong dan berjalan menyebrang jalan tanpa melihat arah kanan dan kiri.
Kakinya berjalan saja tanpa memperhatikan hal itu karena sudah merasa kehilangan Max. Mobil putih yang berlaju cepat hampir menabrak Kazumi yang berjalan di jalan raya itu. Untung saja ada seseorang dengan cepat menangkap tubuh Kazumi menjauhi mobil tersebut . Kazumi yang mendarat di pelukkan seseorang itu baru sadar, hampir saja nyawanya hilang karena tertabrak.
“Apa kau gilak berjalan tidak melihat kanan dan kiri!” ucap penyelamatnya.
__ADS_1