
Dua mobil hitam dengan berisi empat orang di masing-masing mobil melaju dengan kecepatan yang sangat cepat menuju sebuah jalanan hutan yang sangat sunyi. Dengan kegelapan di malam hari dan hanya cahaya bulan yang menyinari lingkungan jalanan yang panjang tersebut.
Mobil itu berisi pasukan Akashi yang sudah siap untuk bermalam di jalanan itu. Mereka mengikuti intruksi yang sudah di jelaskan oleh Akashi. Mereka mencari tempat di dalam hutan yang tidak jauh dari jalan besar.
Akashi dan Richard sudah bersiap-siap untuk beraksi saat fajar nanti sesuai dengan rencana mereka bertiga. Mereka hanya tinggal menunggu intruksi dari Max. Max yang masih berada di dalam rumah sakit, tepatnya di dalam ruanganya juga sedang bersiap-siap merencanakan semuanya.
Jarum panjang jam dinding terus berputar hingga waktunya tiba untuk segera berangkat. Max merapikan dirinya di depan cermin yang berada di dalam toilet kantornya. Merapikan rambutnya kemudian, bergegas keluar dengan persiapannya menuju ruang Hanz.
Hanz dan anggota lainnya sudah siap bergerak, mereka bertemu di depan kantor Hanz.
“Baru saja aku akan menyuruh salah satu dari mereka untuk memberitahumu bahwa kita akan segera berangkat.” Ucap Hanz.
Max hanya tersenyum dan membungkukkan badannya. Rombongan Hanz yang terdiri dari empat pengawal dan dua orang dokter lain bergegas mengikuti Hanz yang berjalan keluar rumah sakit. Dengan penampilan baju jas dokter peraktek yang menjadi salah satu ciri khas dokter yang bekerja di rumah
sakit K.
Dua mobil silver sudah menunggu rombongan mereka sebagai alat transportasi menuju luar kota. Mereka akan menghadiri rapat beberapa dokter yang terkenal negara itu. Pintu mobil sudah di buka untuk mereka semua.
“Max kau ikut dengan ku dan yang lain ke mobil belakang.” Ucap Hanz.
Mereka semua mengikuti intruksi yang sudah di katakana oleh Hanz. Sesuai dengan rencana bahwa Max dan Hanz akan berada di mobil yang sama. Mereka juga sudha menukar masing-masing supir akan yang membawa mereka keluar kota.
Dua supir yang yang mengemudi itu adalah anggota Richard. Sedangkan supir asli yang seharusnya membawa mobil itu sudah di bius oleh meraka di parkiran rumah sakit. Mereka sudah membawa mereka di dalam mobil ambulan dan mengikatnya. Sehingga saat terbangun mereka tidak akan bisa ke mana-mana. Mereka juga sudah di tutupi dengan kain hitam pada wajah mereka.
__ADS_1
Sampai saat ini rencana aman dan terkendali. Max mengirimkan sebuah pesan kepada Akashi bawah dirinya sudah bergerak untuk mempersiapkan rencana selanjutnya. Akashi dan Richard sudah bersiap-siap dengan membuat diri mereka tidak di kenali oleh Hanz. Mereka menggunakan topeng dan pakaian serbah hitam.
Mobil mereka sudah menjauh dari rumah sakit K dan masuk ke jalanan yang akan menuju luar kota. Sesuai dengan ketepan waktu yang sudah di perkirakan oleh Max. Mobil yang di tumpangi olehnya itu tidak ada angin.
“Ada apa?” tanya Hanz yang merasa mobil berjalan tidak tertatur.
“Sepertinya ban mobil belakang kita bocor.” Ucap sang supir.
Mereka berhenti di jalanan hutan yang cukup sunyi. Mobil yang satunya juga ikut berhenti, namun Hanz memerintahkan mereka untuk melanjutkan perjalanan karena takut akan terlambat di tempat.
“Kalia duluan saja, kami akan segera menyusul.” Jawab Hanz.
Mereka mengikuti perintah dan melanjutkan perjalanannya. Sedangkan supir dan pengawal yang selalu menjaga Hanz membantu untuk mengganti ban belakang mobil dengan ban penggati yang selalu ada di belakang bagasi belakang mobil.
Supir itu sudah membawa memutar alat untuk mengkuatkan ban terpasang dengan benar. Namun, tiba-tiba segerombolan orang berpakaian hitam dan memakai masker hitam menyerang mereka. Supir dan juga Max berusaha membantu pengawal Hanz. Yah, orang-orang berpakai hitam dan bermasker hitam itu adalah anggota Akashi dan Richard yang sudah menunggu mereka sejak tengah malam di jalanan.
“Aku juga akan membantu.” Ucap Max.
“Tidak perlu, pengawalku sudah berpengalaman. Mereka paling hanya seorang begal yang ingin mencuri mobil kita.” Jawab Hanz yang merasa tidak curiga sama sekali.
Namun saat pertarungan empat pengawal yang menjaga Hanz tersebut itu dikalahkan dengan orang. Max berjalan membantu mereka dan berniat untuk menyerang juga. Max mengeluarkan jarum bius yang sudah dia persiapkan untuk membius para pengawal Hanz.
“Jadi benar dia adalah mata-mata?” ucap Hanz dalam hatinya yang sejak awal sudah di beritahu oleh geng bahwa Max merupakan seorang mata-mata namun dirinya tidak mempercayai hal itu dan tetap mempercayai Max sebagai dokter genius yang datang di rumah sakit K.
__ADS_1
Hanz yang melihat hal itu sangat tidak terima, ia segera bergegas menuju ke arah Max untuk menghajarnya. Namun, dari belakang Hanz seseorang datang dan memukul kepalanya dengan sebuah balok dengan sangat keras. Orang memukul itu adalah Richard. Akashi dan Richard sudah sampai sejak tadi di sana menggunakan kendaraan sepeda motor dan menunggu mobil Hanz berhenti.
Akashi bergegas berlari menuju tempat Max dan juga memegang jarum suntik yang berisi bius. Akashi membantu dua orang lagi yang harus di suntik dengan bius oleh dia karena dua orang lainnya sudah di bereskan oleh
Max.
Selesai melumpuhkan semuanya, mereka semua tersenyum penuh dengan kemenangan.
“Untung saja dia hanya membawa empat pengawalnya saja.” Jawab Akashi.
“Kau salah, dia membawa enam orang lagi pengawalnya yang mengikuti kami dari kejauhan. Namun sudah di bereskan dengan orang-orangku.” Jawab Max.
“Benarkah?” tanya Akashi dan Richard yang tidak menyangka hal itu.
Mereka tidak menyangka bahwa hal yang di katakana oleh Max itu adalah kenyataan. Padahal mereka sudah membuat rencana sesempuna mungkin. Mobil lain datang dan melaporkan kepada Max soal pemberesan pengawal lainnya yang mengikuti mereka dari belakang.
“Kau memang hebat.” Jawab Akashi yang menepuk pundak Max.
“Kalian juga sudah bekerja dengan baik.” Jawab Max.
“Segera bereskan mereka dan ikat di markas kita.” Jawab Akashi kepada anak buahnya.
Satu persatu pengawal yang pingsan akibat obat bius di masukkan ke dalam mobil dan menuju ke markas Akashi yang berada di tengah hutan. Tidak jauh dari tempat itu, hanya membutuhkan waktu setengah jam lagi.
__ADS_1
Jalanan sunyi yang masih waktu fajar itu menjadi saksi dalam cahaya bulan yang maish menerangi tempat dan beberapa lampu jalan. Kamera jalan yang ada sepanjang jalan tersebut juga sudah di hacking oleh mereka sehingga tidak akan melihat kejadian apapun dan berjalan seperti biasanya.
Hacking kamera tersebut di lakukan oleh Richard. Richard memiliki kemampuan sedikit tetang masalah hacking di ajarkan oleh Billy saat di dalam regu tentara dulu. Setelah siap memindahkan semua pengawal yang pingsan di dalam mobil. Mereka semua masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat. Richard dan Akashi tetap memakai kendaraan sepeda motornya. Sedangkan Max menjaga Hanz di dalam mobil yang di naiki mereka tadi.