I Love You Mr.Mafia

I Love You Mr.Mafia
Ajakan Billy


__ADS_3

Television yang menyala memberikan sebuah informasi tentang kebakaran sebuah perusahaan teknologi milik seorang laki-laki muda dan juga tampan.


“Kerugian yang di perkirakan atas kebakaran yang terjadi di perusahaan milik Kevin mencapai miliyaran yen. Penyebab kejadian ini murni sebuah kebakaran yang di akibatkan dari arus listrik yang rusak. Korban yang dinyatakan meninggal dan di temukan saat ini adalah sekitar 43 orang. Kemungkinan akan terus bertambah, tim evakuasi dan si jago merah masih dalam pencarian korban jiwa yang tersisa.” Ucap seorang reporter itu.


Billy yang sedang duduk manis di sofa sambil menikmati konsumsi berita yang sedang ia nanti-nanti tersenyum lebar.


“Baguslah tim penyedik tidak mendapatkan bukti apa-apa.” Ucap Billy.


Setelah melihat berita yang telah ia nanti-nanti itu, Billy mengambil remote TV kemudian menekan tombol merah power. Billy membaringkan badanya di sofa sebentar kemudian pergi ke dalam kamar Max. Billy membangunkan Max untuk menagih janjinya untuk mengajaknya pergi jalan-jalan melihat sunset.


“Woy! Bangun.” Ucap Billy yang menarik kaki Max hingga setengah badannya di kasur dan setengah lainnya di pinggir kasur.


“Isssss. Apa sih Bill.” Jawab Max yang mengusap kedua matanya dengan kedua tangannya.


“Ayo berangkat. Ini sudah pukul 14.30 Wib.” Jawab Billy.


“Kau sudah kembali dari belanja?” tanya Max yang membangkitkan dirinya dari kasur dan duduk.


“Sudah, setangah jam yang lalu aku sudah sampai.” Jawab Billy.


“Baiklah aku akan bersiap.” Jawab Max.


“Oke, jangan kelamaan.” Jawab Billy.


“Iya iya. Billy kau ambil saja teleponku dan katakana pada Akashi untuk menjemput kita. Biar dia yang akan memandu kita jalan-jalan.” Jawab Max.


“Ide yang bagus. Baiklah akan aku lakukan.” Jawab Billy.


Max berjalan menuju pintu kamar mandi, sementara Billy mangambil ponsel Max dan mencari nama Akashi di ponsel itu. setelah mendapatkannya Billy menekan tombol panggil untuk menghubungi Akashi.


“Ada apa Max?” tanya Akashi.


“Aku Billy.” Jawab Billy.


“Kok bisa nomor Max ada padamu?” tanya Akashi yang heran melihat ponselnya kembali untuk memastikan nomor yang menghubunginya itu adalah nomor ponsel Max.


“Aku sedang di jepang. Kau sedang apa?” tanya Billy.


“Baru selesai operasi pasien usus buntu.” Jawab Akashi.


“Bersiap-siapkan untuk menjemput kami berdua. Aku ingin melihat keindahan Jepan. Jadi kau akan memandu kami untuk melihatnya.” Jawab Billy.


“Tentu saja aku bisa. Oke aku akan bersiap-siap dan segera ke apartemen Max.” jawab Akashi.

__ADS_1


“Oke. Jangan lama-lama.” Jawab Billy.


“Oke.” Jawab Akashi.


Panggilan itu juga berakhir. Akashi yang saat ini berada di ruang kerja kedokterannya meletakkan jas dokternya di gantungan kayu yang ada di samping meja kerjannya. Kemudian Akashi pergi keluar ruangan menuju lift mengarah ke lantai atas yaitu tempat tinggalnya.


Sesampai di rumahnya Akashi bersiap-siap mengganti pakaiannya untuk menjemput Max dan Billy. Namun Akashi berfikir untuk mengajak Richard yang baru beberapa hari ini mulai sembuh total. Akashi membawakan sebuah aksesoris penyamaran untuk Richard gunakan.


“Bro!” panggil Akashi.


“Kau sudah kembali dari kerjaan?” tanya Richard yang berada di kamarnya di rumah Akashi.


“Kau pakai ini, kau pasti bosan di rumah saja sudah seminggu.” Jawab Akashi.


“Ini apa?” tanya Richard.


“Pakai saja. Kita akan jalan-jalan dengan Max dan Billy. Mungkin aku akan mengajak kalian ke pantai milikku.” Jawab Akashi.


“Senior Billy ada di sini?” tanya Richard.


“Iya, segeralah menyamar untuk menutupi identitasmu dari mata-mata. Aku tunggu di ruang tamu.” Jawab Akashi..


Akashi keluar dari kamar Richard dan menunggunya berganti pakaian di ruang tamu. Sedangkan Richard mengganti pakaiannya dan menggunakan tompel di pipinya dna menggunakan aksesoris kaca mata dan juga topi hitam yang sudah di siapkan oleh Akashi.


“Kau tetap tampan. Hmmm tapi satu lagi, tunggu.” Ucap Akashi.


Akashi mengambil sebuah softlen berwarna hitam untuk menutupi bola mata Richard yang berwarna biru itu.


“Kau pakai ini.” Jawab Akashi yang memberikan kotak softlen.


Richard menggunakannya dan penampilannya sesuai yang di inginkan. Orang lain tidak akan mengetahui identitas aslinya. Setelah semuanya sempurna, mereka menuju lift untuk turun ke lantai dasar parkiran mobil. Sesampai di parkiran mobil, Akashi dengan cepat mengemudikan mobilnya menuju apartemen Max.


Beberapa menit perjalanan menuju apartemen Max, mereka telah sampai. Akashi menelpon Max bahwa dirinya sudah berada di depan apartemen mereka.


“Aku sudah sampai, segera turun.” Ucap Akashi.


“Oke,” jawab Max.


Max mengkunci apartemennya kemudian berjalan ke luar apartemen bersama dengan Billy. Max dan Billy memasuki mobil Akashi.


“Hy senior Billy.” Ucap Richard.


“Siapa dia?” tanya Billy.

__ADS_1


“Penyamaran berhasil.” Ucap Akashi kepada Richard.


“Richard. Junior yang selalu kau kerjain bersama dengan Jack karena kesombongannya itu.” Jawab Max.


“Aku tidak tanda. Hahahha, kenapa kau menyamar? Dan kenapa kau ada di sini?” tanya Billy yang belum mengetahui kejadian Richard yang ingin di bunuh oleh saudara tirinya.


“Ceritanya panjang Billy, lebih baik sekarang kita segera ke pantai milik ku.” Jawab Akashi.


“Hahaha, benar-benar. Cerita kau nanti saja, aku ingin cuci mata di jepang ini dulu.” Jawab Billy.


“Sejak dulu kau tidak pernah berubah akan sifat playboy mu ya senior.” Ucap Richard.


“Hahaha, kau juga masih sama dengan kesombonganmu itu.” Jawab Billy.


“Kita akan ke mana?” tanya Max kepada Akashi.


“Aku akan membawa kalian ke pantai saja, sekalian melihat matahari terbenam dan melihat wanita-wanita Jepang.” Jawab Akashi.


“Aku suka idemu.” Jawab Billy.


Mobil mereka melaju menuju tempat yang sudah di tentukan oleh Akashi. Setelah satu jam lebih dalam perjalanan mereka tiba di pantai milik Akashi. Mereka berempat memang sedang menggunakan tampilan celana pendek dan baju kemeja lengan pendek. Mereka berempat kelar dari mobil dan berjalan memasuki arena pantai.


Saat mereka berempat turun dari mobil, hampir semua mata sudah tertuju pada mereka. Ke empat pria tampan ini telah menyihir seluruh arena pantai dengan ketampanan mereka. Semua wanita-wanita cantik menatap charisma yang di pancarakan oleh mereka.


Akashi membuka kaca mata hitamnya menunjukkan dirinya kepada petugas pintu masuk arena pantai.


“Selamat datang tuan Akashi.” Ucap seorang petugas itu.


“Mereka teman-temanku.” Ucap Akashi.


“Baik tuan, silahkan masuk.” Ucap petugas itu.


Akashi memakai kembali kaca matanya dan mengaggukkan kepalanya. Kemudian, mereka semua masuk ke pantai dan lagi-lagi banyak mata yang sedang memandang mereka.


Namun, mereka berempat tidak menghiraukan pandangan itu. Mereka langsung mengambil posisi membuka baju dan menjeburkan diri di air pantai. Hanya Richard yang tidak ingin berenang dan hanya duduk di tempat yang sudah di sediakan dengan membaringkan dirinya.


“Kau tidak ikut?” tanya Akashi.


“Kalian saja,” jawab Richard.


Mereka bertiga kembali ke tepi pantai dan duduk bareng dengan Richard. Mereka berempat melihat matahari terbenam dari tepi pantai itu.


“Wanita di sini cantik-cantik namun kenapa gak ada niatanku untuk menggoda mereka ya?” Billy yang bertanya pada dirinya sendiri saat melihat matahari terbenam dan melihat sekitar pantai yang penuh dengan pengunjung wanita menggunakan bikini.

__ADS_1


__ADS_2