
Bagas menyalakan sepeda motornya dan kembali ke rumahnya. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai di tempat menggunakan sepeda motor. Dalam fikiran Bagas masih banyak pertanyaan yang harus ia jawab sendiri. Tentang bagaimana dia mengetahui kebenaran siapa sebenenarnya abang sepupunya itu dan kakak iparnya.
Bagas masih saja menginginkan sebuah penjelasan bagimana mungkin semua ini terjadi pada keluarganya. Walaupun sebenarnya dia mengetahui dari tebakan saja saat kejadian penculikan Caca di mansion. Dia menyaksikan banyak hal yang tidak biasa.
Bagas mematikan mesin sepeda motor ketika sampai di rumah dan bergegas untuk membersihkan dirinya. Setelah membersihkan dirinya ia berbaring ke atas tempat tidur untuk menjernihkan pemikirannya atas banyaknya sebuah rahasia yang ada di kepalanya. Ia harus menyembunyikan hal ini dari kedua orangtua dan kakak kandungnya sendiri.
Dia tidak bisa bercerita tentang hal ini karena takut semuanya akan berantakan. Namun di hatinya juga merasa bersalah karena selama ini tidak pernah satu hal apapun yang ia sembunyikan dari keluarganya. Bagas berusaha menata fikiran dan hatinya agar sejalan. Hingga tiba-tiba Brian masuk ke dalam kamarnya.
“Masuk!” jawab Bagas yang mendengar ketukkan di luar pintu kamarnya.
“Boleh aku tidur di sini saja?” tanya Brian.
“Tentu abang. O ya ternyata pakaianku cocok juga di badanmu.” Ucap Bagas.
“Begitulah. Sebenarnya aku lupa memindahkan koperku. Besok mereka akan mengirimkannya.” Jawab Brian yang mengatakan sejujurnya bahwa koper mereka berada di bagasi taksi mogok itu.
“Hahaha, ternyata begitu.” Jawab Bagas.
“Oh ya bagaimana dengan pendidikanmu? Bagaimana jika kau ikut abang saja ke Jepang.” Tanya Brian
“Baik. Tidak perlu abang Brian. Karena aku sudah kuliah sambil kerja partime di Jakarta.” Jawab Bagas.
“Benarkah?” tanya Brian.
“Tentu saja. O ya, selama ini abang Brian dan Paman Budi mengapa tidak pernah berkunjung ke Indonesia?” tanya Bagas.
“Abang terlalu sibuk dengan urusan bisnis, bahkan pamanmu saja jarang abang kunjungi.” Jawab Brian.
“Pantas saja. Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan, karena hanya tinggal pamanlah harta berharga abang.” Jawab Bagas.
“Hmmm. Baiklah.” Jawab Brian.
“Bagas bisa mengerti tentang masa lalu abang dan keluarga, semua itu Bagas ketahui dari bunda. Bunda sangat mengkhawatirkan kalian cukup lama, begitu pula dengan ayah.” Jawab Bagas.
“Kami baik-baik saja, semua hanya butuh pemulihan saja.” Jawab Brian yang mengelus kepala Bagas kemudian membaringkan dirinya di atas tempat tidur.
“Sebenarnya aku dan ayah hanya ingin melindungi kalian.” Jawab Brian dalam hati.
__ADS_1
“Abang! Apakah sudah tidur?” tanya Bagas yang saat itu sudah duduk di kursi meja belajar.
“Ada apa?” tanya Brian yang menghadap ke arah Bagas.
“Bolehkan aku bercerita sebuah rahasia?” tanya Bagas.
“Apa itu?” tanya Brian.
“Kakak Caca pernah hampir di lecehkan oleh professor di kampusnya karena dia menolak cinta laki-laki itu. Tapi abang Jack yang menyelamatkannya. Dan yang aku ketahui bahwa laki-laki itu ternyata bukan orang baik. Dia pernah berulang kali mengirim pesan email kepada kakak Caca. Tapi ada tanda di setiap pesan itu.” Ucap Bagas.
“Lambang?” tanya Brian.
“Iya sebuah tanda lambang kalajengking. Email kakak Caca sudah lama aku yang menggunakannya makanya aku lah yang menerimanya sejak saat kakak Caca setahun di luar negeri.” Jawab Bagas.
“Dan aku mengetahui tenang lambang itu atas nama professor itu setelah abang Jack memberitahuku. Saat itu pernah sekali dia memasang profile emalinya dengan wajah aslinya. Namun beberapa jam kemudian dia menggantinya lagi.” Jawab Bagas.
“Apakah sampai seperti itu dia tertarik dengan Caca?” tanya Brian.
“Mungkin saja. Jadi bolehkah aku meminta bantuanmu untuk mencari keberadaannya sekarang?” Jawab Bagas.
“Tentu. Aku akan mencarinya dan melindungi putri kecilku.” Jawab Brian.
“Terimakasih. Walaupun sejak insiden itu dia tidak pernah lagi mengirim pesan apapun ke email ini, dan aku pernah bertanya kepada kakak Caca bahwa professor itu sudah tidak lagi bekerja di sana.” Jawab Bagas.
“Benarkah?” tanya Brian.
“Itulah yang membuatku khawatir. Tau sendiri bagaimana trauma kakak Caca?” ucap Bagas.
“Tenanglah, sekarang dia sudah memiliki suami. Jadi dia tidak apa-apa karena ada orang yang akan selalu melindunginya. Abang bangga terhadapmu karena sudah menjadi adik yang baik buatnya.” Jawab Brian.
“Tentu saja. Semua ini kau yang mengajarkanya.” Jawab Bagas.
“Hahahah, ternyata beginikah serunya memiliki adik laki-laki?” tanya Brian.
“Abang saja terlalu sibuk dengan pekerjaan dan baru kali ini bisa berkunjung ke sini.” Jawab Bagas.
“Karena saat ini aku sudah bisa melindungi kalian semua.” Jawab Brian dalam hatinya.
__ADS_1
“Heheh. Tapi abang benar-benar rindu terhadap kakak Caca, abang yakin dia lebih cantik dari photonya.” Jawab Brian.
Selama ini Brian hanya melihat Caca dari photonya saja yang di kirim oleh Budi. Karena sejak kecil mereka menghilang entah kemana kemudian muncul setelah lima tahun. Budi yang membuka sebuah restoran ramen dan Brian ikut dengan kakeknya. Mereka terpisah hingga besar, Budi hanya bertemu sekali dalam setahun.
“Besok akan bertemu, sekarang mungkin mereka sudah tidur. Karena sejak terbit matahari hingga terbenam mereka sibuk dengan resepsi. Pasti mereka sudah sangat kelelahan.” Jawab Bagas.
“Baiklah, sejak dulu aku tidak pernah mau mengganggu tuan putri itu tertidur.” Jawab Brian.
“Jadi kakak juga mengetahui sifat buruk kakak Caca pada saat di ganggu dalam tidurnya dia akan memukul dan mentarik telinga kita?” Tanya Bagas.
“Tentu saja, dia seperti..” ucap Brian kemudian di sambut bersama dengan Bagas.
“Moster mengamuk.” Jawab mereka bersama kemudian tertawa keras.
“Ternyata hingga besar dia selalu memiliki sifat itu?” tanya Brian.
“Tentu saja.” Jawab Bagas.
“Hahahaha. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya. Apakah dia akan tetap manja dan kenanakan terhadapku? Dan jika itu terjadi aku ingin sekali membuat suaminya cemburu.” Jawab Brian.
“Aku setuju, lakukanlah abang. Aku mendukungmu.” Jawab Bagas memberikan jempolnya.
“Lihat saja abang ipar, aku ingin lihat reaksimu terhadap abang Brian. Bagaimana kau menahan emosimu ketika kakak Caca berdekatan dengan abang Brian. Hahaha,” ucap Bagas dalam hatinya.
“Kita lihat saja besok.” Jawab Brian.
“Tapi abang benaran akan mencari informasi tentang laki-laki itu kan?” tanya Bagas kembali.
“Tentu saja, aku sampai lupa. Coba kirimkan gambar yang kau maksud.” Jawab Brian.
“Oke. Tapi bagaimana abang bisa mendapatkan informasinya?” tanya Bagas yang pura-pura bodoh.
“Tenang saja, kau mengetahuikan bahwa di dunia ini dengan uang kita bisa mendapatkan infomasi apapun.” Jawab Brian.
“Benar juga. Jika sudah mengetahui, abang tolong kirimkan kepadaku biar aku tidak terlalu khawatir.” Jawab Bagas.
“Oke tenang saja,” jawab Brian.
__ADS_1
“Tidurlah abang, maaf atas curhatanku yang mengganggu tidurmu.” Ucap Bagas.
“Hahaha, tenang saja. Aku malah berterimakasih dengan begini aku mengetahui kondisi kalian. Kau tdiur jugalah.” Jawab Brian.