
Lauren masuk kedalam kamar hotel dengan suasana hati yang baik. Senyuman dan kebahagian dari wajahnya terlihat dengan jelas. Untuk pertama kalinya wajah yang anggun dan berkharisma itu tersenyum lepas. Meletakkan tas kecil yang dibawa olehnya diatas kasur dan membaringkan tubuhnya juga.
“Billy Sandreas!” panggil Lauren dengan tubuh yang sedang dibaringkan dan melihat langit-langit atap tempat tidur.
Tertawa sendiri setelah mengingat apa yang sedang terjadi malam ini. Lauren mengingat semua yang sudah di lakukan oleh Billy. Saat di jemput olehnya untuk acara hingga mendengarkan Billy bermain piano untuk dirinya. Lauren benar-benar sedang di mabuk cinta.
Sebuah kebetulan yang terus menghantui dirinya. Sudah sangat lama baginya tidak merasakan kebahagian dalam kehidupan ini. Warna kehidupan itu kembali ada pada waktu ini. Sejak kematian orangtua Lauren, dia hanya memiliki ambisi balas dendam saja. Namun, dirinya tidak menyangka akan terus bertemu dengan laki-laki yang sudah menyelamatkan hidupnya.
Lauren pernah berfikir bahwa pertemuannya di villa pantai yang berada di Italia hanyalah sebuah kebetulan yang sangat baik. Dia bisa mengetahui orang yang sudah menyelamatkannya ketika dia ingin mengakhiri hidupnya. Dia datang kembali untuk memberikan kehidupan bagi Lauren.
Dulu, Billy memberikan kehidupan kedua untuk Lauren bisa hidup dengan baik dan mengurungkan niatnya. Tapi beberapa pertemuan tanpa di sengaja beberapa kali ini, Billy memberikan kehidupan yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Sebuah kehangatan perhatian yang sudah lama tidak dirasakan oleh Lauren semenjak kematian kedua orangtuanya.
“Aku berharap kau cinta pertama dan terakhirkku.” Jawab Lauren dalam hatinya.
Lauren yang menggenggam kedua tangannya dalam pelukkan itu memutuskan untuk mengejar cintanya. Sudah waktunya menikmati hidup yang sebenarnya setelah menyelesaikan dendam yang selama ini sudah terpendam pada dirinya. Kali ini Lauren memutuskan untuk menjadi seorang wanita biasa yang ingin merasakan cinta seperti wanita lainnya.
Lauren bangkit dari posisi tidurnya untuk berjalan menuju kamar mandi. Lauren membersihkan dirinya dan menggantikan pakaiannya dengan piama berwarna putih. Lauren berada didepan kaca hias untuk melihat dirinya. Mengambil beberapa kosmetik sebagai perawatan kecantikan rutin bagi dirinya. Setelah selesai, Lauren keluar dari kamar mandi dan membaringkan tubuhnya.
Lauren menepuk kedua tanganya sebanyak tiga kali dengan cepat untuk mematikan lampu ruangan. Menyisakan lampu tidur yang berada di samping tempat tidurnya. Menutupi tubuhnya dengan selimut berwarna cream dan memiringkan badannya ke arah kanan sambil memeluk bantal guling.
Pandangan Lauren berada ke arah pemandangan kota Tiongkok dari jendela kaca. Jendela kaca itu sengaja tidak di tutupi oleh gorden agar Lauren bisa menikmati keindahan malam ini. Perlahan-lahan Lauren memejamkan matanya dan tertidur dalam waktu yang cepat. Mungkin sudah terlalu lelah dengan jadwal malam ini.
Keesokan paginya, Billy sudah mengetuk pintu kamar hotel Lauren. Lauren yang belum saja terbangn dari tidurnya menyadari ada bel pintu tamu didalam kamarnya. Lauren langsung bangkit dengan kondisi wajah dan rambut yang acak-acak. Tanpa melihat di monitor kamera luar, Lauren langsung membuka pintu dan meguap.
“Jadi beginikah wajah aslimu saat bangun tidur?” tanya Billy yang melihat kondisi Lauren berantakan namun baginya itu sangat imut menurut padangannya.
Lauren yang masih belum melihat wajah tamu yang melihatnya dalam keadaan bangun tidur itu. Saat tatapannya sudah terlihat dihadapanya, Lauren terkejut hingga menutup kembali pintunya dan membalikkan badannya ke pintu.
“Billy! Wajahku?” ucap Lauren yang baru saja tersadar dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Billy.
Suara bel terdengar kembali dan di monitor tersebut Billy mengatakan kepada Lauren untuk segera membuka pintunya kembali.
__ADS_1
“Bukalah! Aku sudah melihat semuanya, kenapa harus malu?” tanya Billy.
Akhirnya, Lauren yang masih malu dengan pakaian piama yang terlalu seksi dan juga wajah yang masih berantakan pada dirinya. Lauren membuka pintunya kembali dan mempersilahkan Billy untuk masuk.
“Baiklah, masuk!” jawab Lauren yang tidak berani melihat wajah Billy.
Lauren berjalan menuju kamar mandi dan meninggalkan Billy begitu saja didalam kamarnya.
“Jangan terlalu lama saat mandi.” Ucap Billy yang duduk di sofa.
“Issss.” Jawab Lauren yang sudah sangat malu dan menutup pintu kamar mandi.
Beberapa menit Lauren berada didalam kamar mandi dan Billy masih sangat sabar menunggunya dengan membaca majala yang ada dimeja sofa. Karena tadinya terburu-buru untuk masuk kedalam kamar mandi, Lauren lupa membawa handuk pakaian yang ada didalam lemari.
“Billy!” Panggil Lauren dengan pelan.
“Ada apa?” tanya Billy.
“Baiklah. Tunggu sebentar.” Jawab Billy berjalan menuju lemari dan mengambilnnya.
“Terimakasih.” Jawab Lauren yang menerimanya dan langsung menutup pintunya kembali.
Billy tertawa kecil dan menahannya dengan tangan kanannya ke arah mulut. Billy yang terlalu menikmati tingkah konyol yang dilakukan oleh Lauren. Berdiri sedikit lama didepan kamar mandi kemudian kembali duduk di sofa. Lauren keluar dengan menggunakan handuk piama berwarna putih.
“Tunggu sebentar lagi!” ucap Lauren dengan pelan saat keluar dari kamar mandi.
Lauren berjalan menuju kopernya dan mengambil beberapa pakaian yang diperlukan olehnya. Lalu masuk lagi kedalam kamar mandi untuk memakai pakaiannya. Setelah selesai, Lauren keluar dengan keadaan yang sudah siap. Lauren berjalan ke arah sofa di mana Billy duduk.
“Aku sudah siap.” Ucap Lauren.
Billy meletakkan majalah yang dibaca olehnya. Melirik ke arah Lauren yang berdiri di depannya kemudian tersenyum.
__ADS_1
“Baiklah. Ayo pergi!” jawab Billy yang berdiri.
“Sebentar, aku mengambil tas.” Jawab Lauren.
Billy menganggukkan kepalanya dan masih menunggu Lauren berjalan mengambil tasnya.
“Ayo!” ucap Lauren kepada Billy.
Billy berjalan keluar dari kamar dan Lauren menutup pintu kamar hotelnya mengikuti Billy dari belakang.
“Kenapa kau di belakangku, kemarilah.” Jawab Billy yang berhenti melangkah dan menunggu Lauren bisa berjalan bersama dengannya.
“Kita akan kemana?” tanya Lauren.
“Kau belum sarapan apapun, jadi aku akan mengajakmu untuk makan dulu.” Jawab Billy.
“Lalu?” tanya Lauren.
“Ke rumahku.” Jawab Billy.
“Ke rumah mu?” tanya Lauren.
“Iya. Aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang. Mungkin dia akan sangat senang jika bertemu denganmu.” Jawab Billy yang menekan tombol lift.
“Siapa?” tanya Lauren.
“Nanti kau akan mengetahuinya ketika kita sudah sampai.” Jawab Billy.
Mereka menuju ke parkiran mobil dan melaju ke restoran untuk sarapan. Lauren dalma keadaan yang snagat penasaran dengan ajakan Billy yang akan membawanya ke rumahnya. Hal ini benar-benar di luar pemikirannya. Beberapa pemikiran membuat sinopsi sendiri dalam otaknya. Sampai-sampai saat sarapan juga masih melamunkan hal itu.
Billy yang mengetahui gerak-gerik Lauren hanya tersenyum tipis tanpa terlihat jelas. Billy lebih memilih menggodanya saat mereka sarapan.
__ADS_1
“Wajahmu di saat baru bangun tidur sangat imut.” Ucap Billy mengingatkan kembali.