
Tempat, Waktu dan situasi hanyalah sebuah fiktif belaka dari sang penulis. Selamat membaca dengan cerdas.
Pusat belanja terbesar di ibukota yang selalu ramai di setiap harinya. Dengan jumlah pengunjung yang berjumlah jutaan orang setiap harinya. Pusat belanja dengan kelas tinggi ini hanyalah orang-orang yang memiliki banyak uang yang dapat menikmatinya. Dari kalangan artis, pengusaha, pejabat dan
orang-orang dengan identitas yang di rahasiakan.
Pusat belanja ini memang di khususkan untuk orang-orang yang seperti itu. Semua di lakukan hanya untuk kenyaman pengunjung dan ketenangan orang-orang berstatus sosial yang tinggi. Tidak heran jika pemilik saham terbesar di pusat belanja itu adalah perusahaan Sandreas. Terdapat lebih dari 25 lantai di mall itu.
Pria itu keluar dari ruang ganti pakaian dengan stely jas berwarna hitam yang sangat mewah. Di tunggu dengan dua pelayan toko pakaian yang berada di luar ruang ganti dengan pakaian seragam berwarna merah.
“Tubuh ini memang cocok menggunakan pakaian apa saja.” Ucap Billy yang melihat dirinya dari depan cermin di luar ruang ganti pakaian itu.
“Tuan benar-benar tampan dan sangat cocok menggunakannya.” Ucap serorang pelayan.
“Tentu saja.” Jawab Billy memberikan senyuman sehingga dua pelayan wanita itu baper.
Billy tidak menghiraukan mereka dan kembali memilih pakaian yang berada di sejajaran gantungan, patung di toko itu. Tanpa di sengaja dirinya mendengar suara berisik dari bagian barisan pakaian wanita.
“Aku bilang, aku ingin gaun ini dengan warna merah bukan merah hati.” Bentak pelanggan itu kepada manajer toko.
Billy yang berjalan menuju sumber suara dan ingin mengetahui apa yang sedang terjadi. Terlihat seorang wanita yang menggunakan dress hitam sexy, membawa tas elimited edition dengan rambut yang tergurai hitam sebahu sedang memarahai seorang manajer toko.
“Maaf nona, aku tidak mungkin salah. Anda lihat ini catatan bon pemesanan yang anda lakukan sebulan yang lalu.” Jawab sang manajer memperlihatkan bukti pemesanan yang di tanda tanganin wanita itu sendiri.
“Wanita itu?” tanya Billy yang memberhentikan langkahnya dan bersembunyi di balik jajaran patung pakaian wanita.
Billy melihat seorang wanita yang tidak asing dan berusaha untuk mengingatnya dalam fikirannya. Billy mencari ponselnya dan mencari sebuah photo di ponsel itu. Photo yang di dapatkan dari ponsel ia cocokkan dengan wajah wanita itu.
__ADS_1
“Aku sedang tidak bermimpi?” tanya Billy sendiri dengan mencubit pipinya sendiri.
“Au…” Billy yang merasakan sakit akibat cubitannya sendiri untuk membuktikan apakah dia sedang bermimpi atau tidak.
“Ikan terlihat tanpa ada pancingan bahkan mencarinya.” Ucap Billy di dalam hatinya kemudian memphoto wanita itu.
Billy mempercepat langkahnya untuk membayar pakaian yang di pakainya.
“Hitung berapa semuanya dengan cepat. Dan bungkuskan pakaian yang aku gunakan sebelumnya.” Ucap Billy kepada kedua pelayan itu dengan memberikan kartu hitam kepada salah satu pelayan.
Kedua pelayan itu mendapatkan aura yang menekan sehingga cepat melaksanakan apa yang di minta oleh Billy segera tanpa berfikir untuk merayu Billy. Saat itu Billy memberikan ekspresi seperti ingin membunuh seseorang.
Satu pelayan masuk ke ruang ganti pakaian untuk membungkus semua pakaian yang sudah di coba oleh Billy. Satu pelayan lainnya menerima kartu hitam Billy dan segera menuju kasir untuk menghitung biaya belanja Billy. Billy mengikuti pelayan itu di depan kasir. Dan pelaya itu segera menghitung pembelajaan dan menggesek kartu hitamnya.
“Tuan ini pakaiannya.” Ucap seorang pelayan datang membawa pakaian Billy.
“Iya.” Jawab Billy dengan singkat dan mengambil tas yang berisi pakaiannya.
“Aku harus membuntutinya tanpa sepengetahuannya. Aku harus segera!” ucap Billy dalam hatinya.
Billy berjalan keluar toko pakaian dan mencari tempat persembunyian untuk bisa melihat dengan jelas ke mana wanita itu setelah dari toko tersebut. Menunggu selama 10 menit, wanita itu keluar dar toko terdebut dengan dua pengawal yang berbada besar mengikutinya dan membawa hasil belanja.
Wanita itu adalah Jenni. Jenni yang sudah lama di cari-cari oleh Billy dan lainnya untuk mendapatkan informasi yang lengkap tentang niat dan tujuannya yang sebenarnya dalam penculikkan Caca. Billy tidak ingin langsung menangkapnya karena ada beberapa hal yang sedang ingin Billy pastikan oleh wanita ini.
Jenni berjalan bersama dua pengawalnya menggunakan lift kemudian masuk. Tanpa di sadari oleh mereka, Billy juga sudah masuk kedalam lift bersama mereka. Salah seorang pengawal Jenni menekan tombol 1 yang mengartikan mereka menuju lantai bawah. Lantai bawah adalah arena parkir mobil. Billy yang berada di depan mereka juga berpura-pura menekan tombol yang sama.
“Aish membuatku sebal saja. Dasar manajer toko yang *****.” Ucap Jenni.
__ADS_1
“Tenanglah nona, anda bisa mencari toko lain untuk berbelanja lagi.” Jawab salah seorang pengawal Jenni.
“Seminggu lagi liburanku di sini sudah selesai. Bagamana mungkin aku akan mendapatkan pakaian yang sesuai dengan selerahku.” Jawab Jenni.
“Kita bisa mendapatkan dengan berjalan-jalan lagi nona.” Jawab pengawalnya lagi.
“Aish diamlah. Kau tidak mengetahui apa-apa bagaimana selerah wanita seperti ku.” Ucap Jenni.
“Maaf nona.” Jawab pengawal.
“Aish. Bagus apanya toko itu. Terkenal dengan kualitasnya tapi ternyata tidak. Membuatku sebal saja.” Ucap Jenni yang mengkepalkan tangannya.
Billy tersenyum mendengar percakapan mereka di dalam lift itu. Dan mendengar bagaimana kedua pengawalnya itu berbisik tanpa pengetahuan Jenni. Saat di dalam lift itu ada 6 orang selain Jenni dan Billy.
“Dia yang salah kenapa harus menyalahkan orang lain.” Bisik pengawal sebelah kanan.
“Stttt.Diamlah!” jawab pengawal di sebelah kiri.
Mereka mengetahui bahwa sebenarnya manajer toko pakaian itu sudah benar. Namun Jenni yang salah tidak ingin di salahkan, memiliki temperament yang buruk dengan kondisi yang selalu berubah-ubah mood adalah hal yang wajar jika dia menjadi pelupa.
Sebulan yang lalu meminta pemesanan dengan warna yang sesuai hatinya dan hari pengambilan meminta warna lain sesuka hatinya pula. Namun semua itu tidak di ingatnya karena sesuai dengan mood hari ini. Kebiasaan yang tidak pernah hilang pada dirinya.
Toko pakaian itu juga merupakan toko pakaian terbaik dengan desainer yang terkenal di negara itu. Banyak orang yang meminta desainer itu untuk membuat pakaian sesuai dengan permintaan pelanggan. Selaian dengan tawaran pakaian yang sudah mereka buat.
Dan untuk mendapatkan pelayanan permintaan desain pakaian sendiri harus menunggu sesuai dengan waktu pemesanan. Itulah yang membuat orang-orang harus menunggu, dan biasanya orang-orang selalu puas dengan hasil yang di berikan walaupun harus menunggu waktu yang lama. Tapi Jenni merupakan orang yang selalu suka-suka dia saja.
Pintu lift terbuka setelah sampai di lantai 1, dan semua orang yang berada di dalam lift itu ternyata menuju lantai yang sama. Billy yang pertama kali keluar dari lift menuju mobilnya. Kemudian di susul dengan yang lainnya.
__ADS_1
Billy yang memasuki mobilnya masih memperhatikan ke mana Jenni akan pergi.