
Jangan lupa like dulu sebelum membaca Biar gak lupa keterusan Baca karena up banyak 😂😂😂😂🙏🙏🙏🙏
Dua orang pemuda yang baru saja keluar dari bandara dengan gaya yang cool terlihat ala-ala idola K-POP. Kacamata hitam yang digunakan kedua pemuda itu dengan stlye yang rapi celana jeans dan jaket jeans juga. Kedua pemuda itu siapa lagi kalau bukan Bagas dan Deni. Mereka baru saja tiba di kota Paris. Mereka langsung mencari taksi menuju alamat yang sudah diberikan oleh Caca.
Saat mereka tiba di alamat tersebut dan mempertanyakan kepada satpam yang menjaga asrama kampus itu tenang keberadaan Meriska. Dan satpam mengeceknya kedalam, ternyata Meriska tidak ada di dalam kamarnya. Menurut perkataan temannya Meriska sedang berada diluar menghadiri sebuah event.
“Jadi dia kemana?” tanya Deni kepada Bagas ketika keberadaan Meriskan tidak ada.
“Jadi kita harus bagaimana?” tanya Bagas.
Mereka berdua sangat bingung, menunggu atau mencari Meriska. Mereka memutuskan untuk menunggu, namun sudah dua jam mereka menunggu Meriska tidak pulang juga. Mereka berdua benar-benar sangat khawatir terhadap keadaan Meriska. Deni memiliki ide untuk meminta bantuan Billy melacak keberadaan Meriska.
Billy meminta alamat email yang pernah digunakan oleh Meriska. Dan Deni memberikannya kepada Billy. Dengan hal yang sepele itu, Billy dapat melacaknya menggunakan IP address yang dimiliki oleh email tersebut. Dan Billy menemukan lokasi keberadaan Meriska dari ponsel yang dimilikinya. Billy menghack ponsel Meriska dengan menggunakan email tersebut.
Billy langsung mengirim lokasi keberadaan Meriska dari ponsel yang dimiliki oleh Meriska kepada Deni dan Bagas. Deni menerima pesan dari Billy kemudian membuka lokasi yang sudah diterima oleh dirinya. Bagas dan Deni bergegas mencari taksi dan mengikuti GPRS yang sudah diberikan oleh Billy kepada mereka. Supir taksi tersebut terus mengikuti arah yang diperlihatkan oleh ponsel tersebut.
Mereka berhenti di sebuah lorong-lorong bangunan kota yang sangat sunyi dan sempit itu. Supir taksi mengkatakan bahwa tujuan mereka sudah sampai. Namun, Deni dan Bagas tidak menemukan sosok yang mereka cari. Sehingga, Deni memerintah supir taksi untuk menunggu mereka berdua di jalan itu. Deni dan Bagas keluar dari mobil taksi dan menelusuri tempat tersebut.
Mereka berdua, berpencar mencari keberadaaan Meriska di setiap lorong gedung yang sangat sempit dan juga sangat gelap tersebut. Keadaan yang gelap gulita di malam hari, dan hanya terlihat beberapa lampu jalanan yang berada di setiap pojok gang lorong terssebut. Saat mereka berpencar, mereka mendengar suara teriak seorang perempuan yang tidak jauh dari tempat mereka.
“Tolong!” suara teriakan yang sangat kencang terdengar dari sudut utara.
Deni dan Bagas berlari menuju asal suara yang didengar mereka berdua. Dan ternyata, suara itu adalah suara Meriska yang meminta pertolongan oranglain untuk menyingkirkan beberapa pereman yang akan berbuat tidak sesonono kepada dirinya.
“Ayo sayang dengan kami bersenang-senang.” Ucap Laki-laki itu.
“Ayo menikmati malam bersama kami.” ucap salah seorang lagi.
__ADS_1
“Aku yang duluan menikmatinya. Kalian berdua berjagalah, setelah itu kalian akan bergiliran.” Ucap seseorang yang beridentitas sebagai bos dari kedua pria itu
Mereka bertiga ada di depan Meriska. Meriska yang terpojok di sudut dinding gedung pada pojok jalan yang sangat sepi. Satu lampu yang ada di setiap pojok jalan menjadi penerang mereka. Deni dan Bagas melihat seseorang sedang ingin bersenang-senang dengan seorang wanita. Bagas dan Deni yang tidak tega melihat hal itu, mereka berdua berusaha menolong wanita tersebut yang sudah ketakutan menutupi wajahnya.
“Apa yang sedang kalian lakukan!” teriak Deni dengan kecang kepada para preman.
“Siapa kalian yang mengganggu kesenangan kami?” tanya salah satu dari preman.
“Tidak peduli siapa kami, tapi jangan harap kalian akan melakukan kejahatan kepada seorang wanita itu.” Jawab Bagas.
“Aku tidak mengenal kau maupun wanita itu. Tapi aku tidak akan membiarkan kau melakukan kejahatan terhadap wanita.” Ucap Deni.
Deni dan Bagas menghadapi mereka bertiga. Deni yang menghadapi dua orang preman sekaligus. Sedangkan Bagas menghadapi satu orang preman. Bagas sudah bisa berkelahi dengan benar karena mendapatkan pelatihan selama di Kanada oleh Deni. Deni yang sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini hanya membutuhkan satu menit saja untuk mengkalahkan mereka berdua.
Bagas yang masih mengkalahkan bos mereka dalam perkelahian itu. Preman-preman itu juga bukanlah seseorang yang terlalu ahli dalam perkelahian, bukan lawan yang berat bagi Deni maupun Bagas yang baru saja belajar beladiri. Deni yang sudah mengkalah kedua anak buah bos preman itu mendekati wanita yang sudah ketakutan itu.
“Meriska!” panggil Deni yang terkejut melihat wajah Meriska didepannya.
Meriska membuka matanya mendengar namanya disebut dengan perlahan-lahan. Meriska melihat seseorang yang dikenal olehnya.
“Deni! Benarkah ini kau?” tanya Meriska kemudian memeluk Deni dengan sangat erat.
Deni yang terkejut dengan pelukkan erat yang diberikan oleh Meriska secara tiba-tiba. Membuat dirinya benar-benar kikuk. Namun, Meriska terus menerus merengek ketakutan. Deni juga merasa tubuh Meriska sangat gemetaran.
“Aku benar-benar takut.”
“Untung saja kau datang tepat waktu.”
__ADS_1
“Jika kau tidak datang saat ini, aku tidak mengetahui apa yang terjadi denganku.”
“Aku benar-benar takut Deni.” Rengek Meriska dalam pelukkan Deni sambil terisak-isak menangis.
“Tenanglah aku sudah ada disini.” Jawab Deni yang kembali memeluk Meriska dan mengelus-elus punggung Meriska untuk menenangkannya.
Mereka cukup lama dalam berpelukkan. Deni tidak menghiraukan Bagas yang sedang berkelahi, Meriska dan Deni merasa waktu berhenti seakan-akan miliki mereka berdua saja. Bagas yang sudah selesai menumbangkan bos preman itu mencoba mengikat mereka semua menggunakan tali pinggang miliknya. Dan mendatangi Deni yang masih berpelukkan dengan Meriska.
“Ehm.” Ucap Bagas.
Deni melirik Bagas mencegah untuk menganggu mereka berdua. Bagas yang jahil, berpura-pura tidak mengerti kode yang diberikan oleh Deni.
“Mereka semua sudah aku ikat, jadi bisakah kita menelpon polisi?” tanya Bagas.
Meriska melepaskan pelukkannya dan mendengar suara Bagas langsung berlari memeluk Bagas. Api cemburu terbakar pada ekspresi wajah Deni. Wajah emosi Deni yang cemburu dengan Meriska memeluk Bagas.
“Adik Bagas kau juga disini? Terimakasih.” Jawab Meriska yang memeluknya.
“Kakak bisa kau lepaskan dengan cepat, lihatlah orang yang di belakangmu sudah siap untuk menerkamku.” Jawab Bagas yang tidak menerima pelukkan Meriska dengan menaikan kedua tangannya.
Meriska melepaskannya dan melihat mereka berdua. Deni yang mengerti hal itu langsung menggendong Meriska dan berjalan menuju taksi mereka.
“Diam dan ikuti aku tanpa harus memberontak.” Jawab Deni setelah menggendong Meriska di depan tubuhnya.
“Kali ini kalian aku lepaskan, tapi jangan pernah lagi mengganggu wanita ini dan wanita lain. Jika kalian tidak bertobat maka nyawa kalian aku sendri yang akan mengambilnya.” Jawab Deni di depan mereka bertiga yang sudah terduduk di tanah dengan tangan yang diikat tali pinggang Bagas.
“Kau beruntung berhadapan denganku, lihat anak buahmu sudah tidak sadarkan diri.” Jawab Bagas mengejek bos preman itu yang masih sadar sendirian sedangkan rekannya sudah babak belur dan tidak sadar.
__ADS_1