I Love You Mr.Mafia

I Love You Mr.Mafia
Pembunuh Bayaran


__ADS_3

Richard memerintah seluruh anak buahnya untuk melaksanakan permintaanya. Sebagian mempersiapkan kendaraan, dan seorang pergi ke administarsi untuk checkout dari rumah sakit. Richard yang belum bisa bergeral terlalu banyak tetap tinggal di ruangan menunggu anak buahnya menyelesaikannya. Richard kembali membaringkan dirinya dan mengistrihatkan dirinya sambil menunggu.


Antrian di meja administrasi karena saat itu jadwal masih pagi di mana keluarga pasien untuk menyerahkan uang perawatan sehingga membuat antrian panjang. Pengawal Richard berdiri dengan nomor antrian 7. Menunggu sekitar setengah jam kemudian ia membayarkan semua biaya operasi dan perawatan semalam bosnya kepada kasir administrasi.


Seorang pengawal yang menjaga Richard sendiri di dalam ruangan masuk ke dalam kamar mandi dan dua orang pengawalnya diluar menjaga pintu ruangan.


“Bos, aku ke kamar mandi dulu.” Ucapnya.


“Iya,” jawab Richard.


Seorang pria yang memakai baju dokter dengan menutupi wajahnya dengan masker tiba-tiba masuk kedalam ruangan Richard. Di lihat oleh kedua pengawalnya lolos begitu saja karena dikira mereka hanya dokter biasa yang masuk untuk memeriksa bosnya.


“Mengapa banyak sekali dokter yang masuk kedalam ruangan bos dalam beberapa jam ini.” Ucap pengawal yang di luar.


“Iya yah, apa jangan-jangan….” Ucap mereka terus terburu-buru masuk kedalam ruangan Richard.


“Ternyata benar dia berada disini, cepat suntikkan cairan ini kemudian aku akan mendapatkan bonus.” Ucap pria yang menyamar menjadi dokter itu.


Dia ingin menyuntikkan sesuatu ke dalam cairan inplus yang ada di atas tiang besi di samping Richard namun berujung ke tangan kanan Richard yang terdapat selang inplus itu. Richard yang merasakan ada seseorang datang menghampirnya dan menyentuh tangan kanannya. Richard membuka matanya.


“Siapa kau?” tanya Richard.


“Tenang tuan saya hanya ingin menyuntikkan obat antibiotic ke selang inplus anda.” Jawabnya dengan tenang dan menekan jarum suntik itu ke selang inpus Richard.


Saat ia ingin menekan jarum suntik itu ternyata Max masuk kedalam yang sebelumnya mencegah kedua pengawalnnya Richard yang berjaga di luar ruangan untuk masuk.


“Kalian tunggu di sini dan lihat keadaan jangan sampai ada yang masuk.” Ucap Max kepada kedua pengawalnya.


“Baik tuan,” jawab mereka.

__ADS_1


Max memukul kepala pria itu dengan tangannya sehingga membuatnya tidak sadarkan diri. Max dengan paksa mencabut inplus tangan Richard segera.


“Au…sakit Max. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Richard kepada Max.


“Bodoh, dia ingin membunuhmu. Kenapa belum juga checkaout dari sini?” tanya Max.


“Pengawalku masih mengurus prosesnya.” Jawab Richard yang masih merasakan sakit di tangannya.


“Ada apa?” tanya seseorang yang keluar dari kamar mandi mendengar pukulan Max.


“Ikat dia dan bawa juga bersama kalian.” Ucap Max memerintah.


“Sekarang aku akan mengelabui semua orang dulu atas kematianmu.” Ucap Max menyuntikkan sesuatu cairan kepada Richard.


“Aku percaya padamu.” Jawab Richard kemudian menutup matanya.


Richard dinyatakan sudah meninggal dunia hingga ketelinga musuh yang membuktikan rencana mereka berhasil telah membunuhnya. Sedangkan rencana Max terus berlanjut untuk membawa Richard dan yang lainnya ke rumah sakit Akashi. Setelah kejadian itu Kazumi tidak habis fikir dengan pasiennya.


“Bukankah operasinya berhasil? Kenapa bisa seperti ini?” tanya Kazumi yang baru saja menerima laporan.


Saat dirinya ingin melihat secara langsung mayat itu sudah tidak ada di dalam rumah sakit. Dan mereka tidak meminta tanggung jawab rumah sakit karena dinyatakan sebagai gagal jantung. Kazumi menyalahkan dirinya karena tidak bisa menjaga pasiennya dengan baik.


Dan dia juga berfikir ini tidak mungkin karena baru saja dia memeriksa bahwa keadaannya sudha membaik dan akan segera sadar. Namun kenapa ia meninggal dunia karena gagal jantung. Kazumi berusaha mencari tau apa yang terjadi namun tidak ada bukti apapun yang ia temukan.


***Sebelum Pembunuhan***


Max yang keluar dari ruangan Richard berinisiatif untuk memasuki ruangan Hanz untuk memenuhi janjinnya. Malam itu Hanz memerintahkan Max untuk menemuinnya di pagi hari untuk memberikan surat tugas Max yang akan bergabung di bagian dokter bedah bersama dengan Kazumi.


Max tidak sengaja mendengar pembicaraanya lewat telepon dengan seseorang yang akan membunuh Richard menggunakan cairan pembunuh tanpa di ketahui pihak rumah sakit dengan tempo waktu 10menit akan bekerja.

__ADS_1


“Ternyata dia adalah pangeran Richard sekaligus juga mafia yang terkenal di sini beberapa bulan ini?” tanya Hanz lewat telepon.


“Dia berada di ruangan ….” Ucap Hanz lagi lewat telepon.


“Saya tunggu transfernya setelah membunuhnya.” Ucap Hanz.


“Oh anda sudah mengirimkan pembunuh bayaran untuk ke rumah sakit ini? Baiklah aku akan memantaunya dan memastikannya ia berhasil. Baik bos.” Ucap Hanz sebelum menutup teleponnya.


“Jadi begini cara bermain kalian? Aku tidak akan membuat rencana kalian berhasil. Kau akan melihat apa yang akan aku lakukan untuk kalian.” Ucap Max dari balik pintu kemudian berjalan meninggalkan ruang Hanz.


Max berjalan menuju ruangan untuk mengambil obat pemberhentian detak jantung selama 5 menit itu. Sebuah toples kecil berukuran 5cm yang berisi cairan berwarna biru di laci kerja Max di ambilnya beserta satu set jarum suntik yang masih baru. Obat itu akan di suntikkan ke tubuh Richard agar bisa melabui musuh bahwa Richard sudah meninggal.


“Aku harus merencanakan kematian Richard untuk memancing ikan naik ke permukaan.” Ucap Max setelah mengambil semua hal yang di perlukannya di dalam ruangan.


Max berjalan menuju ruangan Richard dengan terburu-buru sebelum pembunuh itu yang terlebih dahulu datang sebelum dirinya. Saat di lorong jajaran pintu kamar pasien dua orang dokter berjalan menuju tempat yang sama dengan arah yang berbeda. Max berjalan dari lorong sebelah kanan sementara pembunuh dari sebelah kiri.


Ruangan Richard yang dekat dengan sebelah kiri sehingga sang pembunuh yang lebih dulu sampai di ruangan itu. Saat pembunuh itu masuk Max menebak bahwa yang masuk itu adalah seorang pembunuh karena hanya Kazumi dan dirinya saja yang  memiliki akses untuk mengecek keadaan Richard.


Max berlari dengan cepat membuat dua pengawal itu melihat arah Max yang ingin masuk ke dalam kemudian di cegah oleh Max.


“Jangan masuk!” ucap Max sekitar 3 meter jauhnya dar mereka berdua dengan nada pelan.


“Kalian tunggu di sini dan berjaga-jaga jangan ada orang lain lagi yang masuk. Bersikap tenang dan jangan mencurigakan.” Ucap Max.


“Baik tuan,” jawab mereka.


Max memasuki ruangan Richard kemudian berjalan pelan-pelan untuk  mendekati pembunuh dengan memberikan kode kepada Richard saat melihatnya. Jari telunjuk Max mengarahkan ke bibirnya menunjukkan kepada Richard yang sedang menatapnya.


“Brukkkkk,” pukul Max dari belakang pembunuh itu.

__ADS_1


__ADS_2