
Sayup mata yang tidak tertahankan terlihat jelas pada gambar wajah Caca yang baru beberapa jam di pesawat. Wajah pucat yang seperti tak memiliki aliran darah itu terpancar di wajahnya. Caca hanya ingin istirahat saja karena sepertinya tidak memiliki tenaga sama sekali.
“Jika ingin tidur, pejamkanlah matamu. Dua jam lagi kita akan sampai.” Jawab Jack yang mengelus kepala Caca di kursi pesawat.
“Aku mengantuk tapi mengapa perutku seperti ingin muntah.” Jawab Caca.
“Aku temani ke toilet?” tanya Jack.
“Tidak perlu. Sepertinya hanya masuk angin saja.” Jawab Caca.
“Di tasmu masih ada sirup gingseng yang di beli saat di Seoul?” tanya Jack.
“Oh iya ada.” Ucap Caca.
Jack mengambilkan bungkus plastic kemasan srup gingseng itu untuk Caca konsumsi. Membuka bungkusnya dan memberikannya kepada Caca.
“Sudah pejamkan mata.” Ucap Jack.
Jack mengambilkan selimut yang sudah tersedia di dalam bangku setiap penumpang. Membentangkannya dan menutupi tubuh Caca. Jack mencium kening Caca.
Beberapa jam berada di atas udara di dalam pesawat, Caca menikmati tidurnya itu. Jack yang menjaga Caca selama perjalanan tidak tidur sama sekali. Dia hanya fokus terhadap tabletnya. Mengerjakan pekerjaannya yang tertinggal, hanya memeriksa dan memberi catatan pada setiap dokumen.
Pesawat yang mmebawa mereka akhirnya mendarat di jalan bandara dengan sangat baik. Pramugari memberikan aba-aba untuk bersiap turun karena perjalanan telah sampai. Jack dengan perlahan membangunkan Caca dengan sentuhan lembutnya yang mengarah ke pipi Caca. Caca yang merasa wajahnya di sentuh, ia terbangun.
“Apakah kita sudah sampai?” tanya Caca.
“Sudah mylotus, ayo bersiap turun.” Jawab Jack.
Di luar dari segala administrasi penurunan dan pengambilan koper. Akhirnya mereka keluar, Jack mendorong sebuah sorongan koper dengan beberapa koper yang tersusun. Caca berjalan bersama Jack di sampingnya. Riki dan beberapa pengawal lainnya sudah menunggu kedatangan mereka.
Pengawal berbaju hitam dengan stlye jas dan kacamata hitamnya sudah berbaris menunggu kedatangan Jack dan Caca. Riki memerintah beberapa orang untuk pergi mengambil ahli dorongan yang di lakukan Jack. Mereka berlari mendatangi Jack dan Caca dengan mengambil ahli dorongan iitu sesuai perintah Riki.
Caca memeluk tangan kiri Jack dan berjalan bersama mendekati pengawal mereka. Riki dan lainnya sudah menundukkan kepala atas kedatangan tuan besar dan nyoya besar. Mereka segera mengawal mereka hingga di luar pintu bandara.
Mobil mewah yang langsung berhenti di depan pintu lobi untuk menyambut kedatangan Jack dan Caca. Kemudian, mereka membuka pintu mobil dan mempersilahkan Jack dan Caca untuk masuk ke mobil. Dan beberapa mobil lainnya mengikuti mereka dari depan dan belakang. Mobil yang di tumpangi Jack dan Caca berada di tengah-tengah.
__ADS_1
Bagas, Deni, Kenzo dan Bella beserta Son dan Selly sudah menunggu Jack dan Caca sampai di mansion. Mereka sudah menunggu di ruang tamu. Suara telekson mobil sudah terdengar dari gerbang mansion yang menandakan rombongan Jack dan Caca akan segera tiba di depan pintu mansion.
Semua orang keluar dan berdiri di depan pintu mansion menunggu kedatangan orang yang mereka tunggu. Jack dan Caca keluar dari mobil setelah Riki membuka pintu mobilnya. Kenzo dan Bella langsung berlari memeluk Caca karena rindu, sedangkan Jack masih di biarkan oleh mereka.
“Oh jadi sekarang bunda kalian nomor satu dan aku di acuhkan?” tanya Jack yang menggoda kedua anaknya itu.
“Tentu saja tidak daddy.” Jawab Bella kemudian memeluknya.
Mereka semua berpelukkan saling melepas rindu kemudian bergegas untuk istirahat setelah perjalanan jauh.
Beberapa hari setelah kepulangan mereka, Caca benar-benar mengalami kondisi badan yang lemah. Tidak napsu makan bahkan tidak ingin bergerak banyak. Hanya berada di dalam kasur berjam-jam saja. Keluar dari kamar hanya saat makan pagi bersama dengan mereka.
Jack yang heran dengan tingkah laku istrinya ini bertanya-tanya di dalam hatinya. Tidak seperti biasanya Caca telat bangun dan selalu rajin menyiapkan baju kerja Jack. Selama tiga hari ini hanya tidur saja di atas kasur. Jack berjalan menuju Caca yang sejak tadi hanya memandangi dirinya menggunakn pakaian kerja.
“Ada apa denganmu mylotus?” tanya Jack saat Caca duduk di atas kasur itu.
“Tidak apa-apa, aku hanya suka saat kau tidak memakai baju.” Jawab Caca dengan jujur.
“Apa dia sedang menggodaku?” tanya Jack dalam hati.
“Aku baik-baik saja. Namun aku benar-benar malas bergerak dari kasur ini.” Jawab Caca tersenyum.
“Baiklah, jika terjadi sesuatu maka katakan saja padaku. Aku akan menyuruh Selly mengantarkan sarapanmu ke kamar.” Jawab Jack kemudian berpamitan untuk ke kantor.
Setelah beberapa menit Jack pergi meninggalkan kamar. Tiba-tiba rasa mual muncul lagi pada diri Caca, tapi kali ini tidak bisa di tahankan olehnya. Caca berjalan menuju toilet dan berusaha memutahkannya. Yang keluar hanyalah cairan putih seperti air liur saja. Tidak ada makanan karena memang pagi ini belum ada makan.
Caca mencuci mulutnya dan melihat wajahnya di cermin. Dia langsung berfikir sesuatu dan tersenyum. Lagi-lagi rasa mual terus terasa dan tiba-tiba Selly datang membawa makanan dan melihat apa yang terjadi pada majikkannya.
“Anda tidak apa-apa?” tanya Selly.
“Tidak apa-apa.” Caca kembali merasa mual.
“Nona aku panggilkan dokter.” Jawab Selly yang sangat khawatir.
“Tidak perlu Bibi, ini akan segera membaik.” Jawab Caca kemudian menambil tisu untuk membersihkan mulutnya.
__ADS_1
Caca berjalan menuju tempat tidurnya dan di ikuti oleh Selly. Selly menyuruh Caca untuk segera makan sesuatu dan berfikir bahwa majikannya itu sedang masuk angin.
“Bibi, boleh aku meminta pertolonganmu?” tanya Caca.
“Ada apa nyoya?” tanya Selly.
“Bisakah kau membelikan alat itu?” tanya Caca yang tersenyum.
Selly yang belum menyadari kalimat yang di katakana Caca sempat berfikir semenit lalu langsung mengetahui maksud dari perkataan Caca.
“Baiklah Nana, aku akan segera membeli sekarang juga.” Jawab Selly yang bahagia dan segera keluar dari kamar dan pergi membelinya di apotik bersama dengan Son.
Selly mengajak Son untuk ke apotik, Son yang tidak mengerti maksudnya hanya mengikuti perintah istrinya saja. Setelah beberapa saat mereka kembali dari apotik, dan Selly langsung berlari menuju kamar Caca dan memberikan alat test kehamilan itu.
“Nona ini barangnya.” Ucap Selly memberikannya.
“Bagaimana cara menggunakannya?” tanya Caca.
Selly langsung memberikan penjelasan kepada Caca bagaimana menggunakan test kehamilan itu. Dan Caca langsung menjalakan tahap yang sudah Selly jelaskan padanya. Caca keluar dari toilet dan memegang hasil test itu. Dia mencoba 3 alat test kehamilan itu, dan semuanya menghasilkan hasil yang sama yaitu positif.
“Bagaimana hasilnya nona?” tanya Selly.
Caca tersenyum dan menunjukkan ketiga test itu di hadapan Selly.
“Nona benar-benar hamil?” tanya Selly.
Caca menganggukkan kepalanya.
“Tuan pasti akan sangat senang, dan semua orang pasti senang.” Jawab Selly.
“Bibi, bisa rahasiakan dulu dari semua orang. Aku ingin memberikan kejutan ini kepadanya seminggu lagi saat di hari ulang tahunnya.” Jawab Caca.
“Baiklah.” Jawab Selly.
“Terimakasih Bi.” Jawab Caca.
__ADS_1