
“Kazumi!” panggil Max dari seberang jalan.
Kebisingan kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya membuat suara itu tidak tersampaikan oleh Kazumi. Kazumi yang masih memikirkan kematian Max terus melamunkan dirinya. Mobil yang terus berlalu lalang di jalan itu, membuat Max sangat khawatir dengan Kazumi.
Max berjalan menyeberang jalan untuk mendekati Kazumi yang berada di jalan. Kazumi berjalan di jalan raya tanpa melihat kanan dan kiri. Mobil terus membunyikan telekson untuk membuat Kazumi minggir dari jalanan. Semua itu tidak berhasil, Max dengan cepat menarik tubuh Kazumi kedalam pelukkannya untuk menghindari mobil itu.
Mobil itu mengerem dengan sangat cepat setelah membelokkan dirinya dari tubuh Kazumi dan Max. Max memohon maaf kepada pengemudi.
“Apa kau gila?” tanya Max dengan bernada tinggi kepada Kazumi yang berada di dalam pelukkannya.
Kazumi yang baru tersadar saat ini dia sedang di pelukkan seorang laki-laki dan mendengar suara laki-laki yang sangat dia kenal itu. Kazumi mendongakkan kepalanya untuk melihat siapakah laki-laki yang sudah menyelamatkannya ini.
“Max?” panggil Kazumi.
“Kau sekarang sudah sadar?” tanya Max dengan jengkel.
“Kau benar-benar Max?” tanya Kazumi yang meletakkan kedua tangannya di pipi Max.
Max yang menarik tangan Kazumi untuk segera meninggalkan jalan raya menuju restoran iga milik Kazumi. Kazumi yang memperhatikan Max menarik tangannya dan membawa dirinya berjalan menuju restoran. Kazumi masih terdiam dan berharap hal ini bukanlah mimpi.
“Oh, nak Max!” panggil nenek.
“Nenek juga bisa melihatnya?” tanya Kazumi.
“Tentu saja, kau kira Max ini hantu tidak bisa dilihat oleh orangtua seperti ku?” tanya Nenek.
“Nenek ambilkan minum dulu untuk Kazumi.” Jawab Max.
Kazumi yang masih memperhatikan wajah Max yang berada di hadapannya itu sambil meminum air yang di bawakan oleh sang nenek.
“Nenek tinggal dulu, kalian bicaralah.” Jawab sang nenek yang meninggalkan mereka.
“Nenek aku mengajaknya keluar, boleh?” tanya Max.
“Boleh.” Jawab Nenek.
Max meraih tangan Kazumi kembali keluar dari restoran menuju sepeda motor yang sudah dia parkir di depan restoran. Max memasangkan helm kepada Kazumi dan menyuruhnya untuk naik ke atas tempat duduk belakang sepeda motor.
“Aku mengetahui kau banyak pertanyaan. Tapi sekarang naik saja dulu.” Jawab Max.
Kazumi yang menuruti kemauan Max, naik ke atas sepeda motor dan memeluk Max dengan erat saat mereka sudah mulai melajukan sepeda motor.
__ADS_1
“Aku berharap ini benar-benar kenyataan. Mimpi yang panjang ini harus tetap seperti ini.” Ucap Kazumi dalam hatinya saat memeluk tubuh kekar Max.
Mereka pergi meninggalkan kota dan menuju sebuah taman bambu yang berada di daerah pegunungan. Max memakirkan sepeda motornya dan melepaskan helm dirinya juga helm Kazumi. Max masih menarik tangan Kazumi, mereka duduk di sebuah bangku dekat taman bambu itu. Max juga membelikan minuman saat mereka berjalan tadi.
Karena masih pagi, taman itu belum terlalu ramai pengunjung yang berjalan-jalan menikmati udara dan suara pemandangan yang di tawarkan di taman tersebut. Max dan Kazumi duduk di bangku taman yang sunyi dengan orang-orang.
“Katakan padaku ini bukan mimpi? Jika ini adalah mimpi biarkan mimpi ini terus berlanjut menjadi mimpi panjang yang indah.” Jawab Kazumi menatap wajah Max.
Max dengan sengaja menempelkan minuman yang dingin itu ke pipi Kazumi.
“Au, dingin.” Jawab Kazumi.
“Baguslah jika kau merasa dingin.” Jawab Max.
Kazumi mencubit pipinya untuk memastikan ini mimpi atau kenyataan.
“Jadi ini benar-benar nyata. Kau? Kau masih hidup?” tanya Kazumi.
“Lalu apa yang kau lihat? Arwah gentayangan dengan wajah tampan?” tanya Max.
“Berita itu?” tanya Kazumi.
“Jadi apa maksud dengan berita itu?” tanya Kazumi.
“Kau sudah melihat wajah asliku tanpa pennyamaran seperti di rumah sakit?” tanya Max.
Kazumi mengaggukkan kepalanya.
“Kau laki-laki yang berbeda. Walaupun tetap dingin.” Jawab Kazumi.
“Seperti yang sudah kau dengar dan ketahui bahwa dokter yang kau kenal di rumah sakit itu sudah meninggal dunia. Dan yang berada di hadapanmu saat ini adalah Max, Max Sandreas yang kau kenal sebagai seorang laki-laki yang pernah membawamu ke Indonesia.” Jawab Max.
“Lalu ada apa sebenarnya. Jangan membuatku bingung.” Jawab Kazumi.
“Aku yakin kau sudah mengetahui kedatangan di rumah sakit tempatmu bekerja adalah sebuah misi dengan tujuan yang berbeda sebagai seorang dokter.” Jawab Max.
“Iya, tapi apapun alasannya aku tidak mengetahuinya hal itu.” Jawab Kazumi.
“Untuk membunuh Hanz.” Jawab Max dengan wajah yang serius.
“Jadi benar, bahwa kau adalah laki-laki yang menakutkan seperti Yakuza?” tanya Kazumi dengan memegang pipi Max dengan lembut.
__ADS_1
“Kenapa reaksimu seperti itu? Dari mana kau mengetahui hal itu?” tanya Max yang menggenggam tangan Kazumi.
“Aku tidak peduli dengan semua itu. Yang terpenting adalah kau selamat dari kecelakaan itu. Kau masih hidup dan saat ini ada di hadapanku.” Jawab Kazumi yang meneteskan air matanya kembali.
“Kenapa menangis dengan alasan yang seperti itu? Apakah aku terlalu berharga bagimu?” tanya Max.
Kazumi yang menangis dengan terisak-isak hanya mengaggukkan kepalanya.
“Jangan menangis lagi, dilihat orang aku telah melakukan sesuatu padamu.” Jawab Max.
Sejak tadi belum ada orang yang datang, namun saat Kazumi mulai menangis beberapa orang datang lewat untuk menikmati pagi hari di taman bambu itu. Kazumi yang berusaha menahan tangisnya dan menghapus air matanya dari wajahnya.
“Karena aku sangat mencintaimu, sangat sangat mencintaimu.” Jawab Kazumi dengan melihat wajah Max.
Dengan melihat ekspresi dan pernyataan cinta Kazumi kepada Max, membuat Max langsung menarik leher Kazumi dan mencium bibir Kazumi. Mereka menikmati hal itu beberapa menit kemudian Max melepaskannya.
“Terimakasih sudah mengkhawatirkan diriku.” Jawab Max.
“Lalu?” jawab Kazumi yang memegangi bibirnya dengan jari tangan sebelah kanan.
“Mulai sekarang aku sudah tidak bekerja di rumah sakit K. Dan aku harus segera meninggalkan negara ini setelah urusanku selesai.” Jawab Max.
“Jadi kau meninggalkan aku begitu saja setelah kau mengetahui perasaanku.” Jawab Kazumi berdiri di depan Max.
“Dan setelah kau menciumku.” Jawab Kazumi kemudian membalikkan posisinya membelakangi Max.
Max yang berdiri juga dan membalikkan posisi Kazumi menghadap dirinya. Menatap wajah Kazumi yang telah selesai menangis dan penampilan yang tidak beraturan. Max tersenyum melihat keadaan Kazumi yang seperti ini. Rasanya di khawatirkan oleh seseorang itu menyenangkan. Dan inikah yang di rasakan oleh Jack di hati dingin seperti dirinya juga.
“Dengar! Aku tidak akan mengucapkannya dua kali.” Jawab Max dengan bernada lembut berbicara dengan Kazumi.
“Apa?” tanya Kazumi.
“Aku tidak mengetahui apakah ini cinta atau tidak. Tapi bolehkah kau menungguku sampai aku bisa memastikan perasaanku kepada dirimu?” tanya Max.
“Jadi kau menyuruhku menunggu? Berapa lama?” tanya Kazumi.
“Aku juga tidak mengetahuinya. Tapi jika kau tidak mau juga tidak apa-apa.” Jawab Max melepaskan tangannya dari kedua bahu Kazumi.
“Baiklah, aku akan menunggumu sampai kapanpun. Katakan padaku aku harus seperti apa?” tanya Kazumi.
“Lakukan seperti biasanya. Tunggu aku kembali untuk menjemputmu di sini. Lakukan semua hal yang kau sukai di sini selama aku tidak bersamamu.” Jawab Max.
__ADS_1