
Lee Kazumi adalah seorang wanita keturunan Jepang dan Korea. Ayah yang berasal dari Korea dan Ibu yang berasal dari keturunan Jepang. Dan dirinya mengikuti marga sang ayah. Namun sayangnya Lee Kazumi sudah menjadi yatim piatu sejak hari kelulusanya menjadi siswa tingkat menengah. Dan saat itu dirinya mendapatkan beasiswa kuliah di bidang kedokteran.
Karena untuk merayakan keberhasilan dirinya, orangtuannya sengaja membuat kejutan untuknya. Dan saat Lee Kazumi keluar dari mobil orangtuanya untuk membeli sebuah es cream di persimpangan, ada mobil continer yang tiba-tiba menabrak kedua orang tuannya sehingga mengakibatkan ledakan mobil orangtuannya.
*Sejak kematian orangtuanya dia pindah ke Jepang dan tinggal dengan neneknya. Saat itu dirinya tetap melanjutkan studinya yang mendapatkan beasiswa di jepang dekat tempat tinggal neneknya. Dia hanya tinggal dengan neneknya yang bekerja membuka usaha restoran kecil di kota jepang itu.
Ia tumbuh menjadi pribadi yang tangguh karena dari kecil sudah belajar bela diri sebagai anak dari tentara nasional korea. Semuannya ia pelajari dari sang ayah, itulah mengapa dirinya bisa bela diri dan membereskan mafia-mafia itu*.
***
Kazumi menggunakan pakaian operasi dan mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum masuk ke ruang operasi. Pasien ini mengalami tiga luka tembak yang berada di bagian perut dengan satu peluru yang sudah mengenai hati.
“Apakah semuanya sudah di persiapkan?” tanya Kazumi saat di ruang operasi.
“Sudah dok.”
“Baiklah. Pasien terkena tiga luka tembak di bagian perut, operasi di mulai pukul 18.05……..” ucap Kazumi kemudian memulai operasi.
Dengan sangat tekun dan teliti Kazumi merobek kulit pasien yang sudah di beri obat bius agar tidak merasakan sakit ketika di sayat perutnya. Dan saat itu banyak dokter lain yang juga melihat kegiatan operasi ini, salah satunya Max.
“Menarik,” ucap Max lagi-lagi seperti itu kemudian tersenyum.
“Namanya Lee Kazumi, dokter biasa yang baru saja satu tahun ini bekerja disini dan shiff setiap malam hari di hari ini, senin dan rabu. Tidak ada yang istimewah darinya yang ada dia di kenal sebagai dokter yang kasar.” Ucap dokter wanita yang di sebelah Max.
“Mengapa kau mengatakan hal in kepadaku?” tanya Max dengan ketus.
“Tidak ada, hanya memberitahumu sebelum kau terjebak olehnya. Karena banyak dokter disini yang mengejarnya namun dirinya hanya menginginkan harta dan jabatan dokter.” Jawabnya.
“Dan kau takut jika aku tertarik padanya dari pada denganmu?” tanya Max.
“Bukan, bukan seperti itu.” jawab wanita itu dengan kalah lalu memegang tangan Max bermaksud untuk merayunya.
“Berhenti omong kosong denganku dan singkirkan tangan mu dari tanganku.” Jawab Max dengan mata yang melotot sehingga menunjukkan wajah yang sangar.
__ADS_1
Dua peluru sudah yang mengenai usus bos mafia itu sudah di keluarkan. Tinggal satu peluru lagi yang belum di keluarkan oleh Kazumi. Kazumi sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk mengeluarkan peluru yang sudah terkena pada hati. Namun saat di keluarkan darah segar terus keluar sehingga Kazumi kesulitan untuk menjahit luka tersebut.
“Tekanan jantung menurun.” Ucap suster yang membantu.
“Segera siapkan lebih banyak lagi darah.” Jawab Kazumi.
Kazumi dengan berusaha untuk menghentikan pendarahan namun belum berhasil. Sementara sejak Kazumi mengeluarkan peluru itu dalam perut pasien, Max sudah menebak bahwa Kazumi tidak akan berhasil karena peluru itu terkena pada bagian aliran darah yang sensitive.
Bahkan ahli pada bidang itu sulit untuk melakukan menutupan luka. Max langsung turun ke bawah untuk mengikuti operasi guna membantu Kazumi. Walaupun dirinya mengetahui kosekuensi atas tindaknya yang tidak boleh sembarangan untuk masuk ke ruang operasi apalagi dirinya masih dokter baru.
Namun dirinya sengaja melakukan itu untuk menarik perhatian seseorang yang baru saja datang dan melihat operasi itu. Lagi pula dirinya sudah sangat bosan tidak melakukan apapun sejak datang ke negara ini dan bertugas di rumah sakit ini. Jiwa psikopatnya yang menyukai darah ini meronta untuk melakukannya.
Dan tidak ada niatan untuknya menarik perhatian Kazumi, tindaknnya real dilakukan untuk menarik perhatian seseorang petinggi itu sesuai dengan rencananya datang ke rumah sakit ini. Dengan cepat Max memakai pakaian operasi dan mencuci tangannya kemudian masuk kedalam ruang operasi.
“Siapa dia? Kenapa dia sembarangan masuk ke dalam ruang operasi.” Jawab seseorang dokter yang melihat ke arahnya.
“Saya Dokter Max dari bagian bedah UGD akan membantu dokter Kazumi, mohon kemurahan hati tuan Haru untuk keselamatan pasien.” Ucap Max pada microfon di ruang operasi itu.
“Jangan lakukan itu tuan, dia adalah bos mafia terkenal di bagian selatan ini.” Jawab seorang dokter yang bersama dengan tuan
Haru.
“Itulah mengapa aku datang kemari untuk menyaksikannya. Jika terjadi apa-apa aku bisa melampiaskan semua kesalahan kepada mereka berdua. Dan jika mereka berhasil maka popularitas kita akan menaik.” Jawabnnya.
“tuan memang yang terbaik bisa memikirkan hal sedetail itu di masa mendatang.” Jawabnya.
“Tentu. Kita saksikan saja pertunjukan ini. Dia anak baru itu kan? Yang memiliki latar belakang bagus dari kandidat lainnya?’ tanya Haru.
“Iya tuan,” jawabnya.
Haru memang memiliki sifat yang sangat licik namun cerdas. Dia merencanakan untuk mencelakai Max dan Kazumi jika terjadi sesuatu pada mafia itu.
“Bersikap tenanglah, kau sudah melakukan yang terbaik.” Ucap Max untuk menenangkan Kazumi.
__ADS_1
Kazumi mengerti kode dari Max kemudian mengiyakan. Max dengan cepat menghentikan pendarahan itu kemudian baru mememulai menjahit luka yang ada di hati tersebut. Kazumi dan semua orang yang menyaksikan keahlian Max sangat kagum. Terutama tuan Haru yang sempat goyang untuk mempercayai Max.
“Gunting,” ucap Max.
Lalu di berikan oleh Kazumi.
“Tisu,” ucap Max.
Lalu diberikan lagi oleh Kazumi.
“Aku akan menjahit luka dalamnya, kau yang memotong benangnya.” Ucap Max.
“Baik,” jawab Kazumi.
“Potong,” ucap Max.
Di potong oleh Kazumi menggunakan gunting, dan terus seperti itu hingga selesai menjahit luka yang ada di dalamnya. Kazumi benar-benar terpesona dengan tindakan Max.
“Mengapa kau membantu ku?” tanya Kazumi.
“Berhenti mengoceh dan fokus pada pasien.” Jawab Max saat menjahit.
“Tekanan jantung kembali normal, darah kembali normal…..” suster menjelaskan keadaan pasien.
Setelah selesai melakukan penjahitan dan pemberhentian darah pada luka dalam itu, tinggal melakukan penjahitan pada luka luar. Saat itu Max memberikan sisah tugasnya kepada Kazumi.
“Setelah ini kau bisa melakukannya?” tanya Max.
“Tentu,” ucap Kazumi.
“Dokter Max selesai membantu, keadaan pasien sudah stabil.” Ucap Max kemudian keluar dari ruang operasi.
Tuan Haru berinisiatif untuk segera mendatangi Max yang baru saja keluar dari ruang operasi. Sementara Kazumi melakukan tugasnya dengan baik setelah di bantu oleh Max.
__ADS_1