
Tiga mobil dan satu sepeda motor berhenti di halaman sebuah villa di tengah hutan. Anggota Mafioso dari kalangan Akashi membawa pengawal Hanz untuk di ikat di sebuah penjara bawah tanah. Mereka lebih mementingkan Hanz terlebih dulu, soal anak buah Hanz akan mereka fikirkan nanti.
Akashi dan Richard membuka penyamaran mereka, hanya menggunakan kaos hitam saja dan celana panjangnya. Penutup wajah, kaca mata dan juga jaket mereka lepas. Mereka membawa Hanz ke dalam ruang introgasi. Mereka mengikatnya di sebuah kursi besi yang kokoh dan tidak akan bisa di gerakkan karena sudah lengket di lantai.
Kursi introgasi itu di design oleh Akashi sesuai keinginannya. Dengan memiliki sifat psikopat seperti Max, hal seperti ini sudah biasa. Yah, sebuah ruangan yang di rancang sesuai keinginan dirinya agar bisa menyiksa mangsanya tanpa harus takut mangsa lari.
Hanz terbangun dengan sangat cepat. Matanya terbuka dan perlahan-lahan melihat keseliling dirinya. Tak bisa melihat apa-apa. Hanya bisa melihat dirinya yang terikat dengan kuat di kursi ini. Kedua tangan yang di ikat dengan kencang dan kedua kaki di ikat juga, bahkan untuk bergerak saja sulit.
Ruangan introgasi itu benar-benar menyeramkan. Bau darah yang sudah menjadi udara di dalam ruangan itu. Kegelapan mengelilingi ruangan itu menciptakan kesan horror. Hanya ada satu lampu yang tertuju pada kursi introgasi. Kursi introgasi yang berada di tengah-tengah ruangan dengan pencahayaan lampu sorotan itu.
Hanz yang melihat keadaan dirinya tidak bisa bergerak dan melihat sekeliling benar-benar gelap dan tidak bisa melihat apapun bahkan sebuah pentilasi udara dari luar saja tidak ada. Hanz mengeluarkan keringat dinginnya karena sudah ketakutan.
Untuk pertama kalinya dia di ikat dan di kurung di sebuah ruangan yang seperti ini selama hidupnya. Bahkan sejak awal dia menjadi mafia, dia tidak pernah merasakan atau melihat hal yang seperti ini. yang dilihatnya hanyalah transaksi barang illegal dan perkelahian sedikit di jalan saat transaksi.
Hanz meihat ke arah kanan, kiri dan depan. Tidak menemukan siapapun yang berada di ruangan bersama dirinya. Tidak melihat apapun kecuali sebuah kegelapan. Keringat yang terletak di ujung pelapis dahinya menetes.
“Kenapa? Tidak pernah melihat ruangan introgasi seperti ini?” tanya Akashi keluar dari kegelapan itu mendekati cahaya lampu di hadapan Hanz.
“Siapa kau? Mau apa? Dan kenapa kau? Bukankah Max yang membawaku ke sini? Di mana dia?” tanya Hanz yang meninggikan suaranya kepada Akashi.
“Siapapun kami apakah itu penting untuk orang yang akan mati?” tanya Richard yang juga muncul di hadapan Hanz.
“Kalian mau apa padaku? Aku ada menyinggung kalian apa?” tanya Hanz.
“Apakah kau lupa dengan kejadian sebulan lalu? Mendapatkan perintah untuk membunuh seorang pangeran dari Negara Z?” tanya Richard mengeluarkan pisau kecil yang memiliki ukiran yang cantik di gagangnya.
__ADS_1
“Pangeran Richard Leasee!” panggil Hanz.
“Hahahaha, kau sangat sopan memanggilku dengan sebutan Pangeran?” tanya Richard menggoreskan pisau cantiknya itu ke lengan Hanz.
Hanz menahan rasa perih akibat luka yang buat oleh Richard. Padahal hanya 3 cm saja luka yang di buat oleh Richard di tangan kirinya.
“Jiwaku meronta-tonta ingin sekali melukiskan luka-luka di tubuh tua mu itu.” Jawab Akashi yang sudah menjuluskan lidahnya ke bibir dan memasukkan kembali.
“Apa yang kalian inginkan?” tanya Hanz langsung ke inti pembicaraan.
“Kau mengerti juga?” tanya Akashi.
“Untuk itu urusannya aku serahkan kepada mereka. Karena aku tidak ada dendam padamu. Tapi boleh aku bertanya padamu dari mana kau mendapatkan gambar ini? Ini sungguh cantik. Aku ingin membuatnya juga di tangan kananku.” Jawab Akashi.
“Benarkah? Bagaimana caranya? Mungkin aku bisa menolong kau dari mereka jika kau berkata jujur.” Ucap Akashi yang membisikkan ke telinga Hanz.
“Aku harus memberitahunya untuk keselamatan hidupku.” Jawab Hanz dalam hatinya.
“Pergilah ke pelabuhan A yang berada di Tiongkok. Kau akan menemukan seseorang yang memakai jaket dengan lambang itu. Katakan padanya kau ingin bergabung dengan alasan menawarkan keuntungan apa kepada mereka?” Jawab Hanz.
“Saat kau menjadi anggota mereka bagaimana kau tawarkan kepadanya?” tanya Akashi menekan kedua tangan Hanz dengan tangannya.
“Aku menjanjikan untuk menjual organ dalam mayat yang tidak beridentitas atau kecelakaan. Dan mereka akan memberikanku kekayaan dan kekuasaan.” Jawab Hanz.
“Baiklah, karena kau sudah mengkatakan hal ini dengan jujur. Maka aku akan membantumu melepaskanmu dari dia. Namun saat hitungan ketika kau harus pergi berlari ke arah kananku. Di situ pintu keluarnya.” Jawab Akashi yang membuka semua tali yang mengikatnya.
__ADS_1
“Aku tidak sia-sia memberikan kebenaran tanpa kebohongan padamu. Balasan mu ini memang benar-benar cukup.” Jawab Hanz.
“Ingat perkataanku, aku hanya akan membuka satu pengikat saja. Selebihnya itu tergantung keberuntunganmu. Aku akan berusaha mengahlikan dirinya. Secepat mungkin kau lari.” Bisik Akashi yang memotong tali pengikatnya.
“Apa yang sedang kau lakukan Akashi?” jawab Richard.
Richard yang berpura-pura bertentangan dengan Akashi saat dirinya membuka tali pengikat pertama pada Hanz yaitu tali di tangannya di kanan Hanz.
“Tidak ada? Aku tidak melakukan apapun.” Jawab Akashi mengangkat kedua tangannya.
Mereka berdua berpura-pura bertengkar ocehan sehingga Hanz dapat dengan cepat membuka tali yang mengikatnya dengan cepat. Hanz berlari sesuai arah yang diberitahukan oleh Akashi. Tiba-tiba dirinya tertabrak sesuatu yang tidak bisa dia lihat hingga terjatuh ke lantai.
Lampu ruangan menyala, dari gelap menjadi terang benderang. Memperlihatkan semua ruangan yang penuh dengan dinding besi tanpa ventilasi. Hanya ada 5 buah AC yang hidup dan satu kursi introgasi itu. dan beberapa lampu yang terpasang di atas langit ruangan.
Dinding besi yang sudah ternodai dengan bercak darah, bahkan lantai itu penuh dengan darah kering maupun darah yang belum kering. Dan yang lebih mengerikan adalah ada sebuah tong besi berukuran 5liter yang berisi darah. Entah darah apa yang ada di situ. Tong besi itu berisi darah dengan total perkiraan adalah tiga liter dari full wadahnya.
Sebuah meja yang di atasnya terdapat benda-benda tajam yang sangat tidak asing bagi diri Hanz sebagai dokter. Yah, pisau, gunting dan lainnya ada di atas itu dengan berbagai noda darah sebagai keunikkannya. Hanz sangat merasa mual melihat semua kelilingnya tanpa sadar melihat yang ada di depannya.
Hanz melihat seluruh kelilingnya dan benar-benar merasa jijik walaupun dia setiap hari berhadapan dengan darah manusia saat melakukan operasi bedah. Dan yang terakhir di lihatnya adalah sesuatu yang ia tabrak dan membuatnya terjatuh itu.
“Sudah aku katakan padamu, kau harus segera lari dengan cepat. Tapi kau malah menabrak musuh yang sesungguhnya.” Jawab Akashi tertawa.
“Kau!” Hanz menunjuk dengan tangan kanannya ke arah Max.
Max berjalan mendekati Hanz dengan wajah bengis beraura membunuh itu pada tatapan dan hawa saat dekat dengannya.
__ADS_1