I Love You Mr.Mafia

I Love You Mr.Mafia
Wajah Pucat Caca


__ADS_3

Setelah menunjukan test alat kehamilan dan juga menyuruh Selly untuk merahasiakan hal ini kepada Jack. Lagi-lagi Caca merasa mual dan ingin memuntahkannya. Caca masuk kembali ke dalam toilet dan keluar kembali. Selly yang menyaksikan hal itu sangat kasihan terhadap majikannya.


Namun hal in adalah hal yang wajar, hal yang biasa di alami oleh wanita hamil di awal masa kehamilannya. Wajah pucat Caca semakin tampak jelas terlihat. Selly memerintahkan Caca untuk segera memakan sarapannya.


“Caca makanlah sarapanmu dulu, aku akan membuatkanmu susu yang di campur madu untuk sedikit membantu meredahkan rasa mual.” Ucap Selly.


“Iya bibi, terimakasih. Aku sangat senang akhirnya Bibi dengan sendirinya memanggil namaku tanpa di minta.” Jawab Caca yang tersenyum dan berjalan menuju tempat tidurnya.


Selly mengambilkan sarapan yang sudah di bawanya itu ke Caca. Selly meninggalkan Caca dan membuatkan susu yang di campur madu asli di dapur. Caca hanya makan beberapa suap dan lagi-lagi makanan itu ingin dia keluarkan namun di tahan oleh Caca.


Caca hanya mampu menahannya beberapa menit, tapi pada akhirnya dirinya masuk kembali ke dalam toilet dan mengeluarkan makanan yang baru saja dia makan. Selly datang membawa susu itu dan memerintahkan Caca untuk meminumnya.


“Apakah tidak perlu ke dokter agar bisa menahan rasa mualmu?” tanya Selly.


“Aku tidak suka ke dokter bi, bahkan aku sangat takut terhadap jarum suntik. Apakah ada obat herbal lainnya atau makanan lainnya yang bisa di cerna oleh perutku saat ini?” tanya Caca.


“Waktu saya mengandung Shinta tidak separah ini. Hanya merasa mual beberapa kali, namun anda terus-terusan merasa mual.” Jawab Selly bingung.


Selly sedang berfikir ramuan apa yang cocok untuk majikannya itu namun, masih belum terfikirkannya. Caca juga sedang memikirkan hal apa yang bisa dia masukkan ke dalam perutnya itu. Caca teringat dengan perkataan istri Kagami, lalu dirinya memerintahkan Selly untuk mengambil ponselnya.


Caca menyuruh Selly untuk membuat ramuan yang sudah tertulis di dala resep yang telah di berikan oleh istri Kagami. Dan Selly memenuhi permintaan Caca, Selly membuatkan sebuah bubur yang berisi beberapa rempah-rempah yang bagus untuk kandungan.


“Ternyata ini maksud yang di katakana istri paman Kagami. Terimakasih bu.” Jawab Caca tersenyum dan berfikir sepertinya istri Kagami sudah mengetahui kehamilannya ini dan mempersiapkan hal-hal ini jika terjadi hal yang seperti ini.


Setelah memakan bubur itu, Caca lumayan bertenaga dan tidak sering mual kembali. Hanya sesekali saja merasa mual, dan ia merasa sangat mengantuk.


“Tidurlah, kau perlu istrihat yang banyak.” Jawab Selly kepada Caca yang sudah mengurusnya sejak pagi hingga pukul sepuluh ini.


“Iya bi. Terimakasih telah merawatku.” Jawab Caca.


“Aku akan membuatkan mu bubur ini setiap pagi sepertinya memang bekerja.” Jawab Selly.


Caca tertidur hingga siang hari. Kenzo dan Bella yang baru saja pulang dari sekolah karena sudah memulai semester baru. Mereka di antarkan oleh Bagas dan Deni ke sekolahnya. Mereka yang sudah selesai mengganti bajunya, bergegas ingin bertemu dengan Caca namun di cegah oleh Selly. Mereka bertemu. dengan Selly di depan kamar Caca.

__ADS_1


“Biarkan bunda kalian istirahat.” Ucap Selly.


“Bunda kenapa?” tanya Bella dan Kenzo bersamaan dengan khawatir.


“Tidak apa-apa. Mungkin masih lelah karena perjalanan.” Jawab Selly yang sedang membawa makan siang Caca.


“Kami ingin melihatnya,” ucap Bella dan Kenzo bersamaan dan masuk saja ke dalam kamar Caca.


Saat mereka sampai ternyata Caca baru saja keluar dari toilet.


“Ada apa ini?” tanya Caca yang melihat Selly marah karena Kenzo dan Bella masuk.


“Aku hanya ingin kau istirahat dengan tenang. Namun Nona muda dan tuan muda tidak mendengarkannya dan khawatir tentang keadaanmu.” Jawab Selly.


Caca memberikan kode kepada Selly apakah dia menceritakan perihal tentang kehamilannya. Dan Selly menggelengkan kepalanya.


“Bunda kenapa? Apa yang sakit?” tanya Bella dan Kenzo yang memeriksa keadaan Caca.


Caca tertawa melihat tingkahlaku anak-anaknya itu. Dia hanya tersenyum dan berjalan menuju tempat tidur untuk mendudukkan dirinya.


“Tapi wajah bunda sangat pucat. Apa kita harus ke dokter?” tanya Kenzo.


“Tidak perlu sayang, lihat badan bunda tidak panas. Berarti bunda baik-baik saja.” Ucap Caca yang menarik tangan Kenzo dan Caca yang di letakkan di atas keningnya untuk memeriksa suhu badan.


Kenzo dan Bella menganggukkan kepalanya menandakan bahwa bundanya baik-baik saja. Mereka memeluk Caca dan Caca memelukkan kembali.


“Kami hanya khawatir.” Jawab Kenzo.


“Terimakasih anak-anak bunda.” Jawab Caca yang mencium mereka berdua.


“Aku letakkan makanannya di sini. Jangan lupa segera memakannya saat masih hangat.” Jawab Selly kemudian meninggalkan tempat.


“Bunda makanlah, kami memastikan bunda menghabiska makan siang ini. Setelah itu kami akan meninggalkan bunda untuk beristirahat dan tidak akan mengganggu.” Jawab Bella.

__ADS_1


Caca mengaggukan kepalanya dan tersenyum. Kenzo yang turun dari tempat tidur mengambil makanan itu dan memberikannya kepada Caca. Mereka berdua menyaksikan Caca menghabiskan semua makananya kemudian mereka meninggalkannya untuk beristirahat.


Mereka berdua pergi untuk makan siang, setelah itu mencari keberadaan Deni dan Bagas. Setelah mengetahui mereka sedang latiha  tembak, Kenzo dan Bella segera meninggalkan meja makan. Mereka berdua berlari menuju ruang latihan, di mana Deni dan Bagas sedang berlatih menembak.


Deni dan Bagas yang sudah menggunakan alat pelindung baik kacamata, penutup telinga dan juga rompi yang di gunakan mereka. Tidak lupa memegang pistol dan sudah berdiri dengan posisi siap menembak sasaran yang sudah ada di depan mata. Kenzo dan Bella juga mengikuti melengkapi perlengkapan sebelum ikut berlatih menembak.


Deni melatih Bagas dalam menembak yang benar dengan posisi tangan dan kaki yang benar.


“Bidik dengan benar dengan posisi yang sudah aku jelaskan tadi.” Ucap Deni.


“Baik.” Jawab Deni.


Satu peluru keluar dari pistol yang di pegang oleh Bagas.


“Tidak buruk untuk pertama kalinya.” Jawab Deni yang melihat.


“Baguslah.” Jawab Bagas.


“Lakukan hal yang sama hingga bisa membidik titik tengah merah itu.” Jawab Deni.


“Baiklah. Akan aku coba.” Jawab Bagas.


“Paman, aku sudah siap untuk ikut.” Jawab Bella.


Kenzo tanpa ada aba-aba berdiri di samping Bagas dan mulai melakukan aksinya. Dirinya menembakkan ke arah sasaran tepat pada titik tengah berwarna merah sebanyak tiga kali. Kemudian mengarahkan ke tempat sasaran lainnya. Ke sepuluh tempat bidikkan dan hanya tiga peluru dari kesepuluh peluru yang meleset dari titik tengah merah bidikkan.


“Kau sangat hebat di usia sekecil ini?” tanya Bagas yang terkejut.


“Bisa ala biasa. Aku sudah mempelajarinya sejak dua tahun terakhir.” Jawab Kenzo tersenyum.


“Memang beda oalahraga orang kaya.” Ucap Bagas dalam hatinya.


“Apakah akan baik-baik saja mengajarin mereka seperti ini?” tanya Bagas.

__ADS_1


“Apakah kau lupa tentang siapa mereka?” tanya Deni yang mengingatkan akan hal status mafia.


“Benar juga. Pantas saja.” Jawab Bagas yang menggelengkan kepalanya.


__ADS_2