
Jack dan Caca bersiap-siap untuk melanjutkan acara pesta malam ini. Sedangkan yang lainnya, di antarkan oleh Bagas ke villa terdekat yang sudah mereka sewa dua hari itu.
“Apa tidak apa-apa aku bersama dengan mereka?” tanya Meriska membisikkan pada Caca.
“Tidak apa-apa. Lagian di sana kau akan bertemu dengan yang namanya Siska. Dia juga orang pribumi seperti kita. Aku yakin kau cocok dengannya.” Jawab Caca.
“Baiklah.” Jawab Meriska kemudian masuk kedalam mobil.
Dua mobil hitam yang membawa mereka menuju Villa. Deni dan Jimmy sedang di dalam kamar mereka dan bersiap-siap untuk pergi ke pesta lagi. Siska masih di dalam kamar mandi membersihkan dirinya.
Villa itu cukup luas dan pemandangan sudut pantai sudah menjadi ciri khasnya. Terdapat lima kamar yang terdapat dalam villa itu dengan masing-masing kamar mandi di dalamnya. Satu dapur, satu ruang meja makan, satu ruang tamu dan satu buah bagasi yang muat untuk tiga mobil dan 3 kereta.
Dua buah mobil berhenti di villa tersebut kemudian semua penumpang turun dan memasuki villa. Bagas langsung masuk kedalam villa dan mempersilahkan semua tamu untuk masuk. Mereka kumpul di ruang tamu.
“Bu Katie dan Daddy Andrew bisa ke kamar utama. Ini kuncinya.” Ucap Bagas.
“Terimakasih.” Jawab Andrew kemudian pergi bersama Katie langsung masuk kedalam kamar.
“Ini kunci Max dan Billy. Kalian di kamar ke tiga di samping kamar Jimmy dan Deni di lantai dua.” Jawab Bagas.
“Dan ini kunci kamar kakak Meriska dan Kazumi di lantai 3 bersama dengan kakak Siska.” Jawab Bagas.
“Kita berkumpul setelah isya. Silahkan istirahat sejenak.” Jawab Bagas.
Setelah mendapatkan kunci dari Bagas, mereka semua pergi meninggalkan ruang tamu dan bergegas menuju kamar yang sudah di tunjukkan oleh Bagas. Bagas juga sudah memesan beberapa baju jas laki-laki dan gaun wanita sesuai dengan perintah Jimmy. Dan semua barang-barang itu akan tiba sebentar lagi.
Bagas yang mengantarkan Meriska dan Kazumi menuju kamarnya.
“Bagas bagaimana jika kami bertiga saja dalam satu kamar?” bisik Meriska.
“Hmm baiklah. Sebentar aku akan mengetukkan pintu kakak Siska.” Jawab Bagas.
Bagas yang mengetuk pintu kamar Siska dan memperkenalkan Siska dengan Meriska dan Kazumi. Jadi mereka bertiga di dalam satu kamar. Dan para wanita ini saling berkenalan dan menjalin sebuah perteman dari sebuah pertemuan tanpa di duga-duga.
Siska yang menceritakan mengapa dia bisa berada di sini, begitu pula dengan Kazumi dan Meriska. Mereka dengan cepat bisa dekat seperti teman yang sudah lama kenal. Kazumi yang keturunan dengan korea dan jepang ini juga merupakan kecocokan pada Meriska yang juga bisa sedikit berbahasa jepang. Itulah yang membuat komunikasi mereka sangat lancar.
Mereka bergantian untuk mandi dan memakai handuk yang sudah di sediakan di dalam kamar itu. Bagas bergegas memberikan 1 koper yang berisi perlengkapan wanita.
“Kakak ini adalah servis pelayanan kami. hahahha, tidak-tidak. Ini adalah permintaan kakak Jimmy. Silahkan di gunakan untuk mala mini.” Ucap Bagas setelah mengketuk pintu.
“Terimakasih.” Ucap mereka bertiga dengan bahasa yang berbeda.
__ADS_1
“Setelah selesai segera turun.” Jawab Bagas.
“Oke.” Jawab mereka.
Ruang tamu yang cukup besar dengan nuansa pemandangan air laut di samping ruang tamu itu. Sebuah kaca transparan yang memperlihat keindahan air laut di malam hari itu. Deni dan Jimmy sudah duduk di ruang tamu itu bersama dengan Bagas.
“Siapa lagi yang akan kita tunggu?” tanya Deni.
“Oh aku lupa bilang bahwa bu Katie dan daddy Andrew sudah sampai.” Jawab Bagas.
“Max dan Billy juga sudah sampai?” tanya Jimmy.
“Tentu saja kami sudah sampai.” Jawab Billy yang muncul bersama dengan Max.
Mereka berpelukkan sebagai tanda persaudaraan yang sudah biasa mereka lakukan. Hal-hal konyol yang tidak pernah di lupakan oleh mereka.
“Sebenarnya aku ingin membahas sebuah hal dengan kalia tapi nanti saja deh.” Jawab Billy.
“Apa itu?” tanya mereka yang penasaran.
“Nanti saja deh.” Jawab Billy.
“Kalian sudah siap?” tanya Andrew yang ikut bergabung dengan mereka di ruang tamu bersama dengan Katie.
Mereka duduk di ruang tamu menunggu wanita-wanita itu keluar untuk menuju pesta.
“Di mana mereka?” tanya Katie.
“Masih berdandan mungkin.” Jawab Billy.
“Ayo berangkat!” jawab Siska yang datang bersama dengan Kazumi dan Meriska.
“Kau!” ucap Meriska yang menujuk Deni.
Deni yang masih bermain game dari ponselnya tidak menyadari dirinya sedang di tunjuk oleh Meriska. Jimmy menyentuh Deni dan mengatakan bahwa ada sesuatu yang harus ia sadari.
“Mengapa kau ada di sini?” tanya Meriska lagi.
“Sebentar. Kau kan wanita koper itu?” tanya Deni yang baru saja mengingatnya.
“Kalian saling kenal?” tanya Siska.
__ADS_1
Mereka berdua saling menggelengkan kepalanya.
“Di mana kalian bertemu?” tanya Siska.
“Kakak Meriska ini adalah abang Jimmy dan abang Deni.” Ucap Bagas yang memperkenalkan Jimmy dan Deni.
“Abang Jimmy dan Abang Deni ini adalah Kakak Meriska, sahabat terbaik kakak Caca.” Jawab Bagas lagi.
“Sebuah kebetulan kita bisa bertemu kembali.” Ucap Deni yang mengelurkan tangannya kepada Meriska.
“Iya sebuah kebetulan yang tidak di sangka-sangka.” Jawab Meriska.
Semua orang tidak mengerti apa yang di maksud dengan kedua orang ini. Namun mereka mengurungkan niatnya dan segera pergi menuju pesta.
***Flashback***
Di sebuah sudut kota seorang wanita yang terus mendorong kopernya dan mencari sebuah alamat yang ada di tangannya. Namun ia tidak sengaja bertemu dengan segerompolan penjahat dan merampoknya. Dengan kekuatan berlarinya ia hampir saja di tabrak oleh sebuah mobil karena mengejar perampok itu. Dia adalah Meriska yang ingin mencari alamat Caca di Canada dan hampir di tabrak oleh Deni.
“Kau gilak ingin di tabrak?” ucap Deni yang keluar dari mobil memarahi Meriska.
“Maaf. Aku harus mengejar perampok yang membawa koper ku.” Ucap Meriska kemudian pergi meninggalkan jalan itu mengejar perampok.
“Ah sial, aku masih kesal.” Ucap Deni yang mengikuti arah Meriska berlari.
Meriska tiba di sebuah gang kecil yang sempit dan sunyi.
“Tidak aku sangka ternyata kau bisa sampai mengejarku sampai di sini?” ucap perampok.
“Kembalikan koperku.” Ucap Meriska.
“Hahaha, kau minta di kembalikan. Kau lihat keadaan sekarang.” Jawab perampok yang kemudian dua orang temannya muncul.
“Sepertinya kau membawa seorang turis yang lumayan cantik.” Ucap seorang yang baru datang itu.
Mereka mendekati Meriska dan ingin berbuat pelecehan namun satu tonjokkan melayang di masing-masing wajah mereka. Meriska sudah memejamkan matanya karena ketakutan.
“Apa kau bodoh? Ambil kopermu.” Ucap Deni yang baru tiba.
Dengan keahlian Deni untuk bertarung hal ini adalah hal kecil yang bisa dia tanganin dengan mudah. Dengan cepat Deni melumpuhkan mereka dan membawa Meriska keluar dari gang itu.
“Terimakasih.” Jawab Meriska yang masih gemetaran tubuhnya karena ketakutan.
__ADS_1
Deni memegang tangan Meriska dan membawanya duduk di sebuah kursi jalanan yang ada di dekat situ.