I Love You Mr.Mafia

I Love You Mr.Mafia
Permintaan Maaf Caca


__ADS_3

Sejak saat itu Jack mendiamkan Caca, Caca juga tidak memperdulikan Jack. Mereka berpura-pura tersenyum ketika yang lain berpamitan dengan mereka. Jack dan Caca terus di dalam kamar tanpa ada obrolan dan perkataan yang keluar dari masing-masing mulut merek.


Jack kembali mentidurkan dirinya untuk menenangkan emosinya, sedangkan Caca keluar untuk membantu bunda Aisyah menyiapkan makan siang. Dan melihat orang-orang membereskan semua hal yang berkaitan dengan pesta kemarin malam.


“Bunda apa tidak lelah?” tanya Caca.


“Tidak sayang.” Jawab Aisyah.


“Bagaimana jika kita makan keluar saja, sekalian mengantarkan abang dan paman Budi ke bandara.” Jawab Caca.


“Iya bunda, biar aku yang mentraktir kalian sekeluarga.” Jawab Brian yang tiba-tiba datang ke dapur.


“Hm baiklah jika itu permintaan kalian.” Jawab Aisyah.


Aisyah membuatkan kopi untuk Joko dan Budi yang sedang duduk mengobrol di belakang rumah. Air sudah mendidih dan Aisyah menuangkan air tersebut ke gelas yang sudah berisi kopi dan gula. Aisyah berjalan meninggalkan dapur menuju ke pintu belakang rumah. Sedangkan Caca dan Brian masih di dapur.


“Dek?”panggil Brian.


“Ada apa abang?” tanya Caca.


“Dia masih merajuk padamu?” tanya Brian.


“Begitulah.” Jawab Caca singkat.


“Bujulah dia dan mintak maaflah padanya. Sudah sewajarnya dia cemburu melihat kau dan aku dekat karena selama ini dia tidak pernah melihat kau dekat dengan laki-laki lain. Hahaha.” Ucap Brian yang sangat mengetahui Caca dan Jack itu dari mata-matanya.


“Suruh siapa dia begitu padamu tiba-tiba?” tanya Caca.


“Tapi ini tidak salahnya dia sepenuhnya. Sudahlah turunkan egoism itu dan merendahlah padanya. Mau jadi istri durhaka?” goda Brian.


“Baiklah,” jawab Caca yang merapatkan bibirnya kemudian berjalan masuk kedalam kamar.


“Bersiap-siaplah denganya untuk mengantarkanku pulang.” Ucap Brian.


Caca tidak menjawab pernyataan Brian. Ia berjalan terus menuju kamarnya dan masuk kedalam.


“Benar juga, ini semua tidak sepenuhnya salahnya. Aku juga salah, tidak menjelaskannya dengan baik-baik. Tapi suruh siapa dia emosi begitu.” Jawab Caca dalam hatinya saat berjalan lalu masuk ke dalam kamar.


Dilihatnya Jack yang masih tertidur seperti seorang bayi laki-laki di atas kasur itu dengan posisi kedua telapak tangannya di timpa di atas kepalanya dan mendekukkan kakinya. Caca mendekatinya dan ingin merubah posisi tidur Jack agar nyaman namun ternyata Jack terbangun.


“Ada apa menyentuhku?” tanya Jack yang ternyata sudah terbangun sejak Caca masuk ke dalam kamar.


“Aku hanya ingin membaguskan posisi tidurmu saja.” Jawab Caca pelan.


“Maaf, maaf sudah seperti itu kepadamu.” Jawab Caca dengan suara pelan.


“Untuk apa mintak maaf? Kau tidak pernah salah.” Jawab Jack kemudian bangkit dari posisi tidurnya menjadi duduk dan membelakangi Caca.


“Dia benar-benar marah padaku. Sepertinya harus melakukan itu untuk membujuknya.” Jawab Caca yang sedang merencanakan dalam fikirannya dan hatinya.

__ADS_1


Caca mendekati diri Jack dan memeluknya dari belakang.


“Maaf sudah menyakiti hatimu dan membuatmu salah paham. Jangan cemburu kepada dia.” Ucap Caca dalam pelukkan itu.


Jack membalikkan badannya dan melepaskan pelukkan Caca.


“Maaf.” Dengan wajah yang polos dan mata yang berkaca-kaca.


Jack yang tidak tega melihat air mata istrinya itu ingin terjatuh mulai berbicara.


“Iya aku maafkan.” Jawab Jack.


“Aku di maafkan?” tanya Caca yang seketika merubah ekspresi wajahnya dengan bibir yang tersenyum melihat Jack.


“Dia tidak akan pernah tega melihat air mataku jatuh.” Ucap Caca dalam hatinya dengan penuh kemenangan.


“Iya. Jadi jangan menjatuhkan air matamu.” Jawab Jack dengan singkat.


“Tapi wajahmu masih penuh dengan amarah dan tidak seperti memaafkanku.” Jawab Caca.


“Baiklah, ini…” ucap Jack yang mengubah bibirnya itu lebar tersenyum.


“Ini baru.” Ucap Caca yang tiba-tiba mencium bibir Jack dengan cepat.


“Tak.” Selentik jari di kening Caca oleh Jack.


“Au.” Ucap Caca yang merasa terkejut padahal Jack tidak terlalu keras melakukan itu.


“Walaupun dengan Kenzo dan Bella?” tanya Caca.


“Iya.” Jawab Jack singkat.


“Walaupun dengan Bagas?” tanya Caca.


“Iya.” Jawab Jack singkat.


“Walaupun dengan bunda dan ayah?” tanya Caca yang semakin jahil.


“Itu boleh.” Jawab Jack.


“Jadi sama abang Brian juga boleh?” tanya Caca.


“Tentu saja tidak.” Jawab Jack dengan cepat dan memberikan ekspresi bola mata yang akan keluar dan wajah membunuh.


“Hahahaha, iya iya. Aku menuruti apa kata suamiku.” Jawab Caca yang kemudian memeluk Jack di atas tempat tidur.s


“Jika kau ingin memeluk mereka semua harus atas izinku.” Jawab Jack yang kemudian memeluk Caca lagi.


“Iya, iya hubby. Apakah sakit?” tanya Caca yang melepaskan pelukkannya dan menyentuh pipi kanan Jack.

__ADS_1


“Tidak sakit. Di sini yang sakit.” Ucap Jack yang menunjukkan ke hatinya.


“Aku menampar hubby di pipi, kenapa di dada yang sakit?” tanya Caca yang polos.


“Aku benar-benar cemburu melihatmu di peluk olehnya dan kau mencium pipinya lalu tertawa bersama dengannya.” Jawab Jack dengan jujur.


“Dia hanyalah abangku tidak lebih. Sedangkan kau adalah suamiku, kenapa kau cemburu dengannya?” tanya Caca.


“Apakah kau tidak pernah mengetahui bahwa sebenarnya laki-laki itu adalah makhluk yang paling cemburu melihat wanitanya bersama dengan laki-laki lain walaupun itu hanyalah saudaranya?” tanya Jack.


“Baiklah-baiklah. Aku salah, aku minta maaf.” Jawab Caca.


Jack menunjukkan bibirnya yang ingin di cium oleh Caca. Caca menuruti permintaan Jack untuk mencium bibirnya hingga mereka sama-sama menyelesaikan pertengakaran mereka di ranjang selama sejam. Caca teringat bahwa siang ini dia akan pergi untuk mengantar Brian dan paman Budi ke bandara.


“Jack jangan di teruskan lagi, siang ini kita harus bersiap-siap untuk mengantarkan paman Budi dan abang Brian ke bandara.” Ucap Caca.


“Yah, padahal aku masih ingin.” Jawab Jack yang menurunkan niatnya kemudian membawa Caca untuk mandi bersama.


Semua orang bersiap untuk pergi ke bandara, begitupula dengan Deni dan Meriska yang sudah di dalam mobil yang di jemput oleh Bagas.


“Jadi kita akan makan di luar?” tanya Deni.


“Iya. Sekalian kakak Meriska akan kembali? Paman Budi dan abang Brian juga, jadi sekalian saja mengantarkan kalian ke bandara.” Jawab Bagas.


“Baru saja kami akan menelponmu untuk menjemput kami.” Jawab Meriska yang turun membawa kopernya.


“Kau juga akan kembali hari ini?” tanya Deni.


“Iya. Aku sudah memesan tiketku malam ini.” Jawab Meriska.


“Aku juga ikut mengantarkanmu, sini kopermu aku yang akan memasukkan ke dalam mobil.” Jawab Deni.


“Terimakasih.” Jawab Meriska.


“Sepertinya ada yang sudah PDKT.” Ucap Bagas yang berbicara pelan di samping Meriska.


“Bagas?” panggil Meriska.


“Siap komandan akan melaporkan kepada bos. Hahahah,” jawab Bagas.


Caca dan Jack keluar dari kamar dan melihat Budi, Joko, Aisyah dan Brian sudah duduk di ruang tamu dengan kopernya.


“Jack, Caca kemarilah!” ucap Brian kepada mereka berdua.


“Aku ada sesuatu untuk kalian berdua. Anggap saja ini adalah kado pernikahan kalian.” Jawab Brian yang memberikan amplop putih kepada Caca.


“Ini apa?” tanya Caca.


“Buka saja.” Jawab Brian.

__ADS_1


Caca membuka amplop putih yang di berikan oleh Brian kepadanya. Aisyah, Joko dan Budi yang sudah mengetahui isi amplop itu sudah tersenyum duluan.


__ADS_2