Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Daddy Div ( Bucin)


__ADS_3

"Dad mom mana?"


Sedari tadi gadis kecil itu terus menanyakan mommy nya yang memang tidak keluar dari dalam kamar, bahkan sekarang ia harus berangkat sekolah di antar oleh daddy nya.


"Tidak pa pa sayang, mom hanya kurang enak badan saja, jadi hari ini Iyya berangkatnya sama daddy!"


"Iyya mau liat mom dulu cebelum belangkat cekoyah!" ucap Divia yang sudah hampir berbalik tapi Div segera menahan tas putri kecilnya itu. Membuat putri kecilnya itu mengerutkan keningnya.


"Kenapa dadd?"


"Nggak usah sayang, mommy biar daddy yang urus, Iyya berangkat saja ya, ayo nanti keburu terlambat!" ucap Div meyakinkan pada putri kecilnya itu.


Divia tampak begitu khawatir, kalau daddy nya yang mengantarnya ke sekolah pasti mommy nya tidak ada yang menjaga. Lalu Divia menoleh pada sekretaris Revan,


"Iyya beyangkat cama om Levan aja deh dadd, daddy jagain mom ya!"


Div tersenyum tipis, memang itu yang ia mau, "Nggak pa pa nih, beneran?"


"Iya!"


Divia pun segera masuk ke dalam mobil, di samping mobil itu sudah ada sekretaris Revan.


"Apa pak Div tidak ke kantor juga hari ini?" tanya sekretaris Revan.


"Tidak!" jawabnya dengan tanpa pikir panjang, "Eh maksudnya, Ersya sedang tidak enek badan jadi saya harus menjaganya!"


"Lalu jadwal meeting hari ini?"


"Undur jadi besok, kalau ada yang tidak begitu memerlukan kehadiran saya, pergilah bersama Rangga!"


"Baik pak!"


Mobil yang membawa sekretaris Revan dan juga Divia pun berlalu meninggalkan Div yang masih berdiri di tempatnya. Setelah memastikan mobil itu pergi, Div dengan cepat berlari masuk ke dalam rumah.


Bukan ke kamar, melainkan ke dapur membuat orang-orang yang berada di dapur kalang kabut. Mereka segera bersikap siaga.


"Ada yang harus kami bantu tuan?" tanya kepala pelayan yang segera menghampiri mereka saat tahu Div berada di dapur. Tidak biasanya tuannya itu akan ke dapur sendiri.


"Ambilkan satu piring nasi dan beberapa lauk pauknya!"


"Apa ada masalah tuan?" tanya kepala pelayan lagi, biasanya ia hanya akan memanggil tidak sampai ke dapur sendiri untuk hanya sekedar mengambil makanan.


"Memang wajah saya penuh dengan masalah? Di suruh ambil nasi malah tanya masalah!?" gerutu Div kesal.


"Maaf tuan!"


Kepala pelayan segera memberi instruksi pada para pelayan lain untuk mengambilkan apa yang di pemerintahan oleh Div.


"Biar saya bawa tuan, ini di bawa ke mana tuan?" tanya kepala pelayan dengan membawa nampan itu.


Div langsung berusaha merebutnya tapi kepala pelayan itu juga begitu getol mempertahankan nampannya.


"Biar saya saja!"


"Tidak tuan biar saya saja!"


"Tidak, saya saja!"

__ADS_1


"Tidak tuan, saya saja!"


Div menajamkan matanya, dan menarik nampan itu dengan begitu kuat.


"Sudah ku bilang biar saya saja!" ucap Div sambil berlalu begitu saja dengan nampannya.


Kepala pelayan hanya bisa menatap punggung tuannya itu dengan begitu bingung,


"Apa kalian melakukan kesalahan?" tanya kepala.pelayan kepada para pelayan yang ada di belakangnya.


"Tidak tuan!"


"Lalu kenapa hari ini tuan Div begitu aneh? Apa ada yang tahu alasannya?"


"Oh iya tuan, hari ini nyonya juga tidak terlihat sama sekali, apa.ada hubungannya dengan nyonya?" tanya salah satu pelayan pria bertubuh kerempeng dengan lam kain di tangannya.


"Benarkah?" tanya kepala pelayan sambil menatap pelayang itu dan mengerutkan keningnya.


"Iya tuan!"


"Apa ada yang tahu kemana nyonya pergi?"


"Nyonya tidak pergi!" ucap suster yang merawat Divia, "Nyonya semalam tidur di kamar tuan, mungkin sekarang masih di kamar tuan, kata tuan Div nyonya sedang tidak enak badan!"


Mendengar penuturan baby sitter Iyya, kepala pelayan itu tiba-tiba menarik salah satu sudut bibirnya ke atas hingga membentuk senyuman tipis.


"Apa ada yang tuan pikirkan?" tanya baby sitter itu dengan begitu heran.


"Sepertinya sebentar lagi akan ada kabar bahagia di rumah ini!" ucap kepala pelayan.


"Kabar bahagia?" tanya para pelayan lainnya begitu penasaran.


...🍀🍀🍀...


Kini Div sudah sampai di depan kamar nya, ia meletakan nampannya terlebih dulu di atas meja kecil yang berada di depan kamar.


Belum juga ia membuka pintu, tiba-tiba ia di kejutkan oleh seseorang,


"Div, di mana Divia?"


Div segera menoleh ke sumber suara, orang yang sedang ia bawakan makanan ternyata sudah berada di luar kamar dan sepertinya baru saja dari kamat Divia.


"Kamu kenapa berkeliaran di sini?"


"Memangnya aku kenapa?"


"Astaga ....!" umpat Div, ia pun segera menghampiri Ersya dan menarik tangannya.


"Kenapa?" tanya Ersya sambil berusaha melepaskan tangannya.


"Masuklah!"


Setelah Div membuka pintu kamar, Ersya pun masuk. Div mengambil kembali nampannya dan ikut masuk. Ersya begitu kesal karena pria yang telah menjadi suaminya itu tidak memberi keterangan apapun tapi malam membawanya masuk ke dalam kamar kembali.


"Duduklah!" perintah Div lagi sambil menunjuk ke arah sofa yang berukuran sedang yang ada di dalam kamar itu.


"Nggak mau!" Ersya tidak kalah keras kepalanya di bandingkan Divta.

__ADS_1


"Duduk!" kali Div meninggikan suaranya membuat Ersya tidak bisa menolak lagi. Dia pun segera duduk dan di susul oleh Div.


Div meletakkan nampannya di atas meja dan kembali menatap Ersya,


"Kamu nggak sakit?" tanya sambil melihat ke arah bagian bawah Ersya.


Pukkkk


Ersya melempar bantal sofa yang ada di sampingnya, untuk Div mempunyai reflek yang tepat sehingga dengan sigap tangannya mampu menangkis bantal itu.


"Kenapa malah melempar ku dengan bantal?"


"Siapa suruh pikirannya mesum!?"


"Siapa sih yang mikir mesum, biasanya kalau wanita habis begituan kebanyakan nggak bisa jalan, apalagi tadi pagi itu pertunjukan terhebat saya!"


"Memang kamu pikir aku masih perawan apa? Saya sudah janda, JANDA BERPENGALAMAN!" ucapnya sambil mendekatkan wajahnya pada Div.


Div segera menangkis wajah Ersya dengan tangannya, "Tunggu, makanlah dulu!" ucap Div sambil meletakkan piring yang sudah berisi makanan itu di atas pangkuan Ersya.


"Memang mau ngapain?"


"Makanlah, atau mau saya suapi biar cepat selesai!?"


"Apaan sih!?"


"Ya udah jangan protes terus cepetan makan!"


Ersya mencebirkan bibirnya lalu segera menyendok makanannya. Dia memang juga sudah sangat lapar, Ersya dengan begitu lahap menyantap makanannya. Sepertinya olah raga pagi sudah membuatnya kehilangan banyak tenaga.


Div sibuk memperhatikan Ersya yang sedang makan dan sesekali memperhatikan layar ponselnya. Walaupun tidak ke kantor, dia harus tetap mengawasi pekerjaannya melalui layar ponselnya.


Ersya menghentikan makannya yang masih setengah dan menatap pria di depannya itu saat mengingat sesuatu,


"Div!"


Div menoleh sebentar lalu kembali fokus pada layar ponselnya.


"Div!?"


Div kembali menatap Ersya sambil mengerutkan keningnya,


"Memang seperti itu ya cara memanggil suami?"


"Biasanya juga seperti itu, kenapa sekarang protes?" keluh Ersya.


"Terserah!"


Kali ini Div kembali fokus ke layar ponselnya dan tidak mau menatap Ersya lagi walaupun wanita itu terus memanggilnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2