
“Mom …, Iyya lasa daddy
jadi aneh akil-akil ini!” ucap gadis kecil itu sambil mendongakkan kepalanya
menatap wanita yang sedari tadi memangkunya.
“Benarkah? Anehnya
kenapa?” setiap kali menatap wajah gadis kecil itu bawaannya pengen nyubit pipinya,
begitu cantik dan menggemaskan. Ersya seakan melupakan kesedihannya saat itu
juga.
“Tiba-tiba lupa, tlus
tiba-tiba mayah-mayah, eh tadi daddy juga cenyum-cenyum cendiyi!”
Ersya sampai
mengerutkan keningnya mendengarkan penjelasan gadis kecil itu. Dia benar-benar
pandai bicara.
Ha ha ha ….
Ersya tertawa begitu
keras, hingga tubuhnya bergerak semua gara-gara tawa Ersya.
“kenapa mom teltawa?”
“Mom tertawa bukan
karena Daddy Iyya yang jadi aneh, tapi mom itu bingung bagaimana cara
menciptakan wajah semenggemaskan kamu ini!”
ucap Ersya sambil tangannya tidak mampu menahan untuk tidak mencubit pipi Iyya.
“Mom ihhhh …!” Iyya
sampai menggelengkan kepalanya gara-gara ulah Ersya. Saat mereka sedang asik
bercanda tiba-tiba saja mobil mereka di kelilingi oleh beberapa wartawan yang
entah datangnya dari mana, sepertinya memang mereka sengaja mengintai
keberadaan mereka.
Karena gossip yang
beredar sudah semakin meluas, berita kedekatan Div dengan ersya selalu menjadi
sorotan publik, menjadi sasaran empuk para pencari berita.
“Maaf nona Ersya, kami
hanya ingin anda mengklarifikasi tentang kedekatan anda dnegan tuan Div!”
“Apa benar anda dan
taun Div akan segera menikah?”
‘Apa benar nona Divia
anak kandung anda?”
“Siapa yang memulai
hubungan kalian, nona Ersya atau tuan Div?”
“Apa benar berita yang
mengatakan bahwa anda baru saja menyandang status janda?”
“bagaimana awal
pertemuan anda dengan tuan Div?”
Banyak sekali
pertanyaan yang di lontarkan oleh para pencari berita itu, Iyya juga terlihat
semakin tidak nyaman.
“Maaf saya tidak bisa
berkomentar banyak!”:
“Tolong sedikit menjauh
karena putri saya kurang nyaman dengan kehadiran kalian!”
Ersya terus mendekap
__ADS_1
Iyya, ia hanya berharap satu hal. Div segera datang dan mengusir mereka semua.
Ia belum pernah berhadapan dengan wartawan, seandainya saja ia seorang artis
pasti dia tidak keberatan untuk menjawab semua pertanyaan wartawan.
“Tolong sedikit menjauh
dari mobil saya!” ucapan seseorang itu seketika membuat Ersya lega, para
pencari berita pun beralih padanya meninggalkan Ersya dan Iyya.
‘Tuan Div, tolong
segera umumkan berita baiknya!”
“Berita baik apa yang
kalian inginkan?”, kali ini div benar-benar berniat untuk
meladeni pertanyaan wartawan, ia sudah lelah main kucing-kucingan terus dengan
para wartawan, sudah saatnya memang mengeluarkan kartu asnya agar semua
wartawan itu diam.
“Berdasarkan
informasi yang kami dapat, anda dan nona Ersya sudah tinggal satu rumah, apa
itu benar tuan Div?”
“Benar!” jawab Div
singkat.
“Apa itu artinya anda
dan nona Ersya benar-benar akan melangkah ke jenjang yang lebih serius?”
“Iya!”
“jadi kapan rencana
bahagia itu?”
“Minggu depan, jadi
jangan ganggu kamu satu minggu ke depan dan kami akan mengundang kalian secara
langsung oleh beberapa stasiun tv swasta! Saya permisi!”
Dan benar saja kalimat Div yang terakhir sudah berhasil membuat para
pencari berita itu terdiam, tapi bukan cuma para pencari berita itu yang
terdiam. Ersya pun ikut terbengong, bahkan mulutnya menganga lebar, rasanya
tidak percaya jika pria itu mengatakan hal itu.
Div sudah duduk di
sampingnya, tapi Ersya tetap tertegun. Ia sudah beralih menatap pria di
sampingnya itu dan bergantian menatap para wartawan yang masih berkerumun di
samping mobil. Div mulai menjalankan mobilnya menjauh dari para wartawan itu.
“kalau mau protes entar
aja, kalau udah di rumah!” ucap Div tanpa menatap ersya, sepertinya dia tahu
apa yang sedang di pikirkan oleh wanita itu.
Masih ada Iyya di
antara mereka, ia tidak mungkin membicarakan hal itu di depan anak itu.
Setelah perang batin
itu akhirnya mobil sampai juga di rumah, Ersya segera membawa Iyya ke kamarnya
memintanya untuk mandi, ia juga segera menyiapkan baju untuk Iyya. Setelah Iyya
selesai mandi, membantu memakaikan baju untuk Iyya lalu mereka pun mulai makan
malam bersama. Di meja makan itu masih terlihat hening, hanya ada suara Iyya
yang sesekali mengajak Ersya atau daddy nya untuk bicara dan selebihnya mereka
lebih banyak diam.
“Iyya mengantuk!” ucap
Iyya, memang Iyya tadi siang hanya tertidur di dalam mobil, padahal biasanya
__ADS_1
Iyya selalu punya jadwal untuk tidur siang. Matanya sudah terlihat berair
padahal makanannya belum benar-benar habis.
“Baiklah, Iyya minum
dulu lalu kita ke kamar ya!”
“Iya mom!”
Iyya pun meminum
susunya dan segera turun dari tempat duduknya, Ersya segera menyusul dan
menuntunnya ke kamar, memintanya untuk gosok gigi kemudian membacakan dongeng
sebelum tidur. Hanya setengah lembar saja Ersya membacanya, gadis kecil itu
sudah tertidur pulas.
Setelah mematikan jika
gadis kecil itu tertidur pulas, Ersya pun dengan cepat turun dari tempat tidur
dan meninggalkan kamar Iyya. Kini pakaiannya sudah berganti menjadi seragam
baby sitter. Ia berjalan ke kamar Div berhenti sejenak di depan pintu lalu
mengetuknya.
Tok tok tok
Punggung tangannya yang
berbenturan dengan pintu berbahan kayu itu sudah menimbulkan suara.
Ceklek
Seorang pria tampan
dengan kaos tipis dan celana bokser di atas lutut membukakan pintu dari dalam,
wajahnya masih datar seperti tadi.
“Masuk!” perintahnya.
Ersya tanpa pikir
panjang segera masuk, ia hanya ingin meminta penjelasan kepada pria itu tentang
statement nya di depan media, bagaimana dengan mudahnya dia mengatakan akan menikah
minggu depan? Padahal untuk menyembuhkan hatinya yang luka saja belum sampai
sepuluh persennya, jika saja terlihat mungkin darahnya masih sangat segar dan
basah.
Pria itu kembali duduk
di sofa, membiarkan Ersya tetap berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk saat
ini.
‘Ada apa?” tanya lagi,
rasanya Ersya ingin sekali menjambak rambut depannya yang hampir menutupi
matanya itu. Kesal sekaligus marah dan kecewa. Bisa-bisanya pria itu mengambil
keputusan secara sepihak tanpa bertanya dulu padanya.
“Ada apa?” Ersya
berkacak pinggang, ia terlihat begitu kesal dengan pertanyaan itu, "
Issst …, mudah sekali berkata seperti itu! Apa kau pernah memikirkan perasaanku? Bagaimana aku nanti di mata orang-orang? Bagaimana bisa dengan mudahnya kamu mengatakan kalau kita akan menikah minggu depan, lalu bagaimana kalau mereka menagihnya?”
Bukannya menanggapi dengan
serius ucapan Ersya, pria itu malah tersenyum dan menatap ke arah Ersya yang
menggebu-gebu.
“Ya kita nikah!”
Bersambung
...Mendapatkan memang mudah yang sulit itu memulai untuk bisa mempertahankan apa yang dia punya...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰