Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Gara-gara paparazi


__ADS_3

“Mom …, Iyya lasa daddy


jadi aneh akil-akil ini!” ucap gadis kecil itu sambil mendongakkan kepalanya


menatap wanita yang sedari tadi memangkunya.


“Benarkah? Anehnya


kenapa?” setiap kali menatap wajah gadis kecil itu bawaannya pengen nyubit pipinya,


begitu cantik dan menggemaskan. Ersya seakan melupakan kesedihannya saat itu


juga.


“Tiba-tiba lupa, tlus


tiba-tiba mayah-mayah, eh tadi daddy juga cenyum-cenyum cendiyi!”


Ersya sampai


mengerutkan keningnya mendengarkan penjelasan gadis kecil itu. Dia benar-benar


pandai bicara.


Ha ha ha ….


Ersya tertawa begitu


keras, hingga tubuhnya bergerak semua gara-gara tawa Ersya.


“kenapa mom teltawa?”


“Mom tertawa bukan


karena Daddy Iyya yang jadi aneh, tapi mom itu bingung bagaimana cara


menciptakan wajah semenggemaskan kamu ini!”


ucap Ersya sambil tangannya tidak mampu menahan untuk tidak mencubit pipi Iyya.


“Mom ihhhh …!” Iyya


sampai menggelengkan kepalanya gara-gara ulah Ersya. Saat mereka sedang asik


bercanda tiba-tiba saja mobil mereka di kelilingi oleh beberapa wartawan yang


entah datangnya dari mana, sepertinya memang mereka sengaja mengintai


keberadaan mereka.


Karena gossip yang


beredar sudah semakin meluas, berita kedekatan Div dengan ersya selalu menjadi


sorotan publik, menjadi sasaran empuk para pencari berita.


“Maaf nona Ersya, kami


hanya ingin anda mengklarifikasi tentang kedekatan anda dnegan tuan Div!”


“Apa benar anda dan


taun Div akan segera menikah?”


‘Apa benar nona Divia


anak kandung anda?”


“Siapa yang memulai


hubungan kalian, nona Ersya atau tuan Div?”


“Apa benar berita yang


mengatakan bahwa anda baru saja menyandang status janda?”


“bagaimana awal


pertemuan anda dengan tuan Div?”


Banyak sekali


pertanyaan yang di lontarkan oleh para pencari berita itu, Iyya juga terlihat


semakin tidak nyaman.


“Maaf saya tidak bisa


berkomentar banyak!”:


“Tolong sedikit menjauh


karena putri saya kurang nyaman dengan kehadiran kalian!”


Ersya terus mendekap

__ADS_1


Iyya, ia hanya berharap satu hal. Div segera datang dan mengusir mereka semua.


Ia belum pernah berhadapan dengan wartawan, seandainya saja ia seorang artis


pasti dia tidak keberatan untuk menjawab semua pertanyaan wartawan.


“Tolong sedikit menjauh


dari mobil saya!” ucapan seseorang itu seketika membuat Ersya lega, para


pencari berita pun beralih padanya meninggalkan Ersya dan Iyya.


‘Tuan Div, tolong


segera umumkan berita baiknya!”


“Berita baik apa yang


kalian inginkan?”, kali ini div benar-benar berniat untuk


meladeni pertanyaan wartawan, ia sudah lelah main kucing-kucingan terus dengan


para wartawan, sudah saatnya memang mengeluarkan kartu asnya agar semua


wartawan itu diam.


“Berdasarkan


informasi yang kami dapat, anda dan nona Ersya sudah tinggal satu rumah, apa


itu benar tuan Div?”


“Benar!” jawab Div


singkat.


“Apa itu artinya anda


dan nona Ersya benar-benar akan melangkah ke jenjang yang lebih serius?”


“Iya!”


“jadi kapan rencana


bahagia itu?”


“Minggu depan, jadi


jangan ganggu kamu satu minggu ke depan dan kami akan mengundang kalian secara


langsung oleh beberapa stasiun tv swasta! Saya permisi!”


Dan benar saja kalimat  Div yang terakhir sudah berhasil membuat para


pencari berita itu terdiam, tapi bukan cuma para pencari berita itu yang


terdiam. Ersya pun ikut terbengong, bahkan mulutnya menganga lebar, rasanya


tidak percaya jika pria itu mengatakan hal itu.


Div sudah duduk di


sampingnya, tapi Ersya tetap tertegun. Ia sudah beralih menatap pria di


sampingnya itu dan bergantian menatap para wartawan yang masih berkerumun di


samping mobil. Div mulai menjalankan mobilnya menjauh dari para wartawan  itu.


“kalau mau protes entar


aja, kalau udah di rumah!” ucap Div tanpa menatap ersya, sepertinya dia tahu


apa yang sedang di pikirkan oleh wanita itu.


Masih ada Iyya di


antara mereka, ia tidak mungkin membicarakan hal itu di depan anak itu.


Setelah perang batin


itu akhirnya mobil sampai juga di rumah, Ersya segera membawa Iyya ke kamarnya


memintanya untuk mandi, ia juga segera menyiapkan baju untuk Iyya. Setelah Iyya


selesai mandi, membantu memakaikan baju untuk Iyya lalu mereka pun mulai makan


malam bersama. Di meja makan itu masih terlihat hening, hanya ada suara Iyya


yang sesekali mengajak Ersya atau daddy nya untuk bicara dan selebihnya mereka


lebih banyak diam.


“Iyya mengantuk!” ucap


Iyya, memang Iyya tadi siang hanya tertidur di dalam mobil, padahal biasanya

__ADS_1


Iyya selalu punya jadwal untuk tidur siang. Matanya sudah terlihat berair


padahal makanannya belum benar-benar habis.


“Baiklah, Iyya minum


dulu lalu kita ke kamar ya!”


“Iya mom!”


Iyya pun meminum


susunya dan segera turun dari tempat duduknya, Ersya segera menyusul dan


menuntunnya ke kamar, memintanya untuk gosok gigi kemudian membacakan dongeng


sebelum tidur. Hanya setengah lembar saja Ersya membacanya, gadis kecil itu


sudah tertidur pulas.


Setelah mematikan jika


gadis kecil itu tertidur pulas, Ersya pun dengan cepat turun dari tempat tidur


dan meninggalkan kamar Iyya. Kini pakaiannya sudah berganti menjadi seragam


baby sitter. Ia berjalan ke kamar Div berhenti sejenak di depan pintu lalu


mengetuknya.


Tok tok tok


Punggung tangannya yang


berbenturan dengan pintu berbahan kayu itu sudah menimbulkan suara.


Ceklek


Seorang pria tampan


dengan kaos tipis dan celana bokser di atas lutut membukakan pintu dari dalam,


wajahnya masih datar seperti tadi.


“Masuk!” perintahnya.


Ersya tanpa pikir


panjang segera masuk, ia hanya ingin meminta penjelasan kepada pria itu tentang


statement nya di depan media, bagaimana dengan mudahnya dia mengatakan akan menikah


minggu depan? Padahal untuk menyembuhkan hatinya yang luka saja belum sampai


sepuluh persennya, jika saja terlihat mungkin darahnya masih sangat segar dan


basah.


Pria itu kembali duduk


di sofa, membiarkan Ersya tetap berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk saat


ini.


‘Ada apa?” tanya lagi,


rasanya Ersya ingin sekali menjambak rambut depannya yang hampir menutupi


matanya itu. Kesal sekaligus marah dan kecewa. Bisa-bisanya pria itu mengambil


keputusan secara sepihak tanpa bertanya dulu padanya.


“Ada apa?” Ersya


berkacak pinggang, ia terlihat begitu kesal dengan pertanyaan itu, "


Issst …, mudah sekali berkata seperti itu! Apa kau pernah memikirkan perasaanku? Bagaimana aku nanti di mata orang-orang? Bagaimana bisa dengan mudahnya kamu mengatakan kalau kita akan menikah minggu depan, lalu bagaimana kalau mereka menagihnya?”


Bukannya menanggapi dengan


serius ucapan Ersya, pria itu malah tersenyum dan menatap ke arah Ersya yang


menggebu-gebu.


“Ya kita nikah!”


Bersambung


...Mendapatkan memang mudah yang sulit itu memulai untuk bisa mempertahankan apa yang dia punya...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2