
"Kita ke mana?" tanya pria yang sedang mengemudikan mobilnya itu. Untuk pertama kalinya mereka pergi tanpa Asisten, tanpa Sekretaris dan tanpa sopir.
"Daddy cuka yupa, Iyya mau makan es klim!" ucap gadis kecil yang berada di atas pangkuan wanita cantik dengan rambut panjang terurai, senyumnya sedari tadi tidak pernah lepas dari bibirnya.
Seperti sebuah mimpi memilik keluarga yang utuh, mom yang menyayangi dan daddy yang selalu menjadi idola anak gadisnya.
Jika nanti besar, ada cerita sederhana untuk menghiasi mimpiku di waktu kecil.
Suara hati Divia
"Bagaimana kalau kita ke pusat bermain anak yang ada di mall baru itu?" wanita itu memberi saran, berharap pria di sampingnya itu akan menyetujuinya.
"Baiklah!"
Senyum merekah dari bibir Ersya, ternyata usulnya di setujui.
Mobil itu melaju dengan begitu santai, di beberapa bahu jalan saat mobil berhenti karena lampu merah, banyak pengamen yang lalu lalang. Ada pedagang asongan yang sengaja menjajakan dagangannya.
Wanita yang membawa anaknya meminta-minta.
"Mom!"
"Hemmm?"
"Meleka ciapa?" tanya Iyya sambil menunjuk seorang ibu dengan putri seumuran Divia yang sedang di gandeng di tangannya dengan penampilan lusuhnya.
"Mereka hanya orang-orang yang kurang beruntung saja sayang, jadi Iyya nggak boleh ngeluh karena hal kecil, karena di luar sana bahkan hidupnya tidak seberuntung kita!"
"Kenapa oyang-oyang membeyi uang mom?"
"Karena mereka punya kelebihan rejeki, Iyya juga bisa!"
"Iyya juga mau!"
"Baiklah!"
Ersya pun segera mengambil selembar uang dua puluh ribuan dan menyerahkannya pada Divia.
"Lambaikan tanganmu sayang!" perintah Ersya tapi Div segera menahannya.
"Apaan sih, jangan sayang!"
"Kenapa sih?" protes Ersya.
"Kita tidka tahu mereka orang jahat atau orang baik!"
"Paranoid banget jadi orang!"
"Kamu tidak tahu bagaimana kehidupan kita, kehidupan barumu, bukan tentang kemewahan seperti putri dan pangeran tapi kehidupan yang lebih kejam dari pada kehidupan mereka!"
Ersya hanya menghela nafas, ia tidak mengerti dengan pemikiran pria di sampingnya itu.
"Mom bagaimana?"
"Biar mom saja sayang!"
Ersya pun melambaikan tangannya dan benar saja ibu dengan anaknya itu menghampiri mereka. Ersya menyerahkan uang dua puluh ribu itu.
"Terimakasih nyonya, terimakasih semoga kalian selalu bahagia!"
__ADS_1
Lampu lalu lintas kembali menyala hijau, Div segera menaikkan kembali kaca mobilnya membuat ibu itu dengan reflek menjauh dari mobil mereka.
"Jahat banget!"
"Jangan protes!"
Mobil kembali melaju, gedung mall baru itu sudah sangat dekat. Hanya butuh waktu lima menit saja dari lampu lalu lintas terakhir dan mereka sudah sampai.
Div harus memarkirkan mobilnya lebih dulu, Ersya dan Iyya menunggunya di depan gedung.
Setelah kembali, Div segera menggendong Iyya dan Ersya berjalan di sampingnya. Mereka benar-benar seperti keluarga bahagia.
Tujuan utama mereka adalah tempat bermain anak. Div segera mendaftarkan Divia.
Kini Divia sudah berada di area bermain bersama anak-anak lian, mereka mengawasi Divia dari tempat tunggu yang berada di luar pagar.
Mata Ersya tidak pernah luput mengawasi setiap gerakan Divia sampai dia tidak menyadari jika pria di depannya sudah menghilang.
Tidak berapa lama Div sudah kembali dengan membawa berbagai macam camilan dan minuman.
"Minumlah!" ucap Div sambil duduk kembali dan menyodorkan sebotol minuman dingin untuk Ersya.
"Terimakasih!"
Ersya segera membuka segel botolnya dan meneguk minuman itu, dia memang sangat haus.
Tapi kemudian dia kembali teringat dengan kejadian di kafe tadi siang. Ia menatap Div yang sedang sibuk mengawasi putrinya.
"Div!"
"Hmmm?"
"Sebenarnya apa yang aku katakan tadi sama mas Rizal ...., itu sepenuhnya aku mengarang jadi jangan di pikirkan ya!" ucapnya cepat membuat pria itu menoleh cepat pula padanya.
Div tersenyum smirtt dengan mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Ersya membuat Ersya mencondongkan tubuhnya ke belakang.
"Gimana kalau aku menganggapnya sungguhan? Apa yang sudah keluar tidak bisa di tarik kembali!"
"Hahhh?"
Div terus mendekatkan tubuhnya hingga Ersya mengeser duduk nya semakin ke belakang.
"Bagaimana dengan ciuman selamat pagi itu? Sepertinya itu ide yang bagus kan?"
"Bisa sedikit menjauh?"
"Tidak!"
Aughhhh
Dan benar saja Ersya kehabisan tempat hingga membuatnya hampir saja terjatuh untung dengan sigap Div menahan tubuh Ersya dengan menarik pinggangnya.
Mereka saling terdiam dalam beberapa detik. Tapi cukup untuk membuat jantung mereka berdetak lebih cepat.
Srekkkk
Ersya segera mendorong tubuh Div ke belakang, "Sudah ku bilang jangan dekat-dekat, aku kan bisa jatuh!" keluhnya.
"Itttssss, dasar! Perusak suasana!" gerutu Div sambil merapikan kemejanya dan memperbaiki duduknya sedikit menjauh dari Ersya.
__ADS_1
Mereka hanya terus diam sambil mengawasi Divia. Tidak ada percakapan lagi setelah itu, mereka salah tingkah sendiri.
"Mom .....!"
"Dad ....!"
Divia berlari keluar dari area permainan dan menghampiri mereka.
"Kenapa sayang?" tanya Div.
"Iyya cudah celecai! Cekayang Iyya mau makan et klim!"
"Baiklah, kalau putri daddy sudah bertitah, daddy mau apa lagi, ayo sayang kita beli es krim!"
Div segera menggendong Divia sedangkan Ersya membawa barang-barang bawana mereka termasuk cemilan yang tadi di beli Div.
Mereka menuju ke kedai es krim. Di kedai itu varian rasanya sangat lengkap. Ersya dan Iyya sudah duduk di tempatnya.
"Biar daddy yang pesan, kalian mau rasa apa?"
"Coklat!"
"Coklat!"
Ucap Ersya dan Divia bersamaan, mereka saling tertawa membuat Div terdiam.
Dia benar-benar tidak menyangka bahkan selera mereka pun sama.
"Baiklah, Daddy ke sana dulu ya!"
Div pun meninggalkan mereka menuju ke meja kasih memesan beberapa Eskrim dengan rasa coklat dan rasa mocca chino kesukaannya.
"Memang daddy suka es krim?" tanya Ersya pada Divia. Karena perasaan tadi meeka hanya pesan dua dan seharusnya Div membawa tiga cup saja tapi ini di tangannya ada lebih dari lima cup.
"Daddy memang cuka et klim mom, bahkan daddy bica menghabiskan Et klim buanyak!"
"Benarkah?" Ersya benar-benar tidak percaya.
Ternyata ada ya cowok yang penyuka es krim, aku kira cuma cewek yang maniak es krim ....
"Es krimnya datang!" ucap Div saat menghampiri mereka.
"Ye ye ye .....!" Divia begitu senang, Div segera membukakan es krim untuk Divia dan menyodorkan satu cup es krim untuk Ersya.
"Lalu yang tiga untuk siapa?" tanya Ersya yang pura-pura tidak tahu.
"Ya buat jaga-jaga nanti kalau Divia mau nambah, iya kan sayang?"
"Tapi Iyya nggak cuka laca yang itu dad!" protes Divia.
Melihat wajah Div yang seperti itu berhasil membuat Ersya tersenyum.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰