
Ersya mendengar kabar dari Felic jika sahabatnya itu hampir mengalami keguguran.
Ersya begitu khawatir, ia pun segera menghubungi Felic.
“Hallo
Fe, lo di mana?”
“Gue
di rumah ayah!”
“Di
rumah ayah? Why?”
“Nanti
gue cerita, lo ke sini aja sepulang kerja!”
Ersya
pun segera menutup sambungan telponnya, benar juga ia tidak mungkin langsung
menghampiriFelic karena dia masih kerja. Bank ini bukan milik bapaknya yang
bisa langsung go saat ia ingin.
Ersya
menunggu hingga bank benar-benar tutup, ia tidak ikut melakukan rekap hari ini
dengan alasan ada urusan.
“Besok
aku traktir deh …., nggak pa pa y ague nggak ikut rekap!” rayu Ersya pada
teman-temannya.
“Ok
deh kalau begitu …!”
Ersya
pun segera menuju ke rumah Felic. Langit sudah gelap jadi mungkin semua orang
sudah di rumah.
“Selamat
malam tante …!” sapa Ersya.
“Eh
Ersya, masuk!”
“Fe
nya ada nggak tan?”
“Ada
di kamar, kamu ke sana saja soalnya Fe harus bedtres!”
“Ya
udah tante, Ersya langsung ke kamar aja ya!”
Ersya
pun segera menemui Felic, sahabatnya itu sedang duduk di atas tempat tidur sambil
memainkan ponselnya.
“Hai
Fe, lagi ngapain?”
“Tiduran
…!”
Ersya
pun mendekati sahabtanya, ia tahu jika sahabatnya itu sedang ada masalah. Felic
bukan orang yang biasa menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat seprti itu.
“Lo
ada masalah ya?” tanya Ersya dan Felic pun segera memeluk Ersya dan menangis
dalam pelukannya.
“Ada
apa?”
Felic pun menceritakan semuanya tentang Zea dan
suaminya. Ia sangat kecewa dengan suaminya itu. Tapi ia juga tidak bisa
melepaskan suaminya karena ia terlanjur jatuh cinta dan Felic memutuskan untuk
tinggal di rumah ayahnya untuk sementara waktu.
Dan
semenjak saat itu, Ersya sering menghabiskan waktunya bersama Felic. Ia tidak
mungkin membiarkan sahabatnya itu dalam masalah.
****
Pagi
ini Ersya sedang libur, ia memang berencana untuk datang ke rumah Fe, tapi
belum sempat ia mengambil mobilnya. Seseorang keluar dari dalam mobil dan
menghampirinya, ia tahu siapa pria itu.
“Dokter
Frans!”
“Selamat
pagi Ersya! Mau pergi ya?”
“Iya
…, tapi kalau dokter mau ngobrol sebentar boleh, aku juga ada yang ingin aku
obrolin!”
Kami
pun akhirnya kembali ke teras rumah ku, “Aku buatkan minuman dulu ya!”
“Nggak
__ADS_1
perlu, Cuma sebentar!”
“baiklah!”
Ersya
pun kembali duduk, mereka duduk di kursi kayu yang ada di depan rumah Ersya. Rumah
yang sebenarnya masih menjadi harta gono gini bagi Ersya dan Rizal. Rizal
meminta bagian dari rumah itu, Ersyua maupun Rizal berencana menjualnya, tapi
untuk sementara waktu karena Ersya belum punya tempat tinggal baru, Ersya
pmasih menempati rumah itu.
“Saya
ingin bicara!”
“Saya
ingin bicara!”
Ucap
mereka bersamaan,
“Ya sudah dokter saja yang bicara duluan!”ucap
Ersya mempersilahkan Dokter Frans yang bicara lebih dulu.
“Sebenarnya
saya mau minta bantuan kamu buat bujukin Felic!”
“Membujuk?”
“Iya
…, Fe salah faham! Dia menganggap aku berselingkuh padahal sebenarnya pertemuan
kami terakhir itu adalah untuk mengakhiri semua!”
“Mengakhirri,
berarti kalian memenag punya hubungan dong!”
“Hubungan
masa lalu dan tidak untuk masa depan!”
“Lalu
apa yang bisa saya bantu?”
****
Pagi
ini Ersya sengaja datang pagi-pagi untuk mengunjungi rumah orang tua Felic. Ia punya
rencana dengan dokter Frans.
“Pagi
tante, Felicnya ada kan?”
“Ersya,
masuk!”
Ersya
pun masuk ke dalam rumah bersama ibu Felic, “Felic ada sednag istirahat di
“Boleh
nggak tan Ersya aja Fe jalan-jalan?”
“Enggak,
dia sedang hamil muda, dokter memintanya untuk bedtres!”
“Ihhh
tante gitu …!” protes Ersya, ia mencomot sebutir kue yang sudah di buat ibunya
Felic.
“Tante
nggak mau ambil resiko, Sya!”
“Tapi
tante …, tapi menurut dokter yang bicara sama Ersya, katanya boleh loh tan di
ajak jalan-jalan asal pakek kursi roda!”
“benarkah?”
“Benar
tan, ini dokternya terpercaya banget malahan dok, dokter yang sangat peduli
sama ibu hamil seprti Felic!”
“Ya
udah kalau kamu mau ngajak jalan-jalan, nggak pa pa deh! Asal jangan lama-lama
ya!”
“Siap
tante!”
Ersya
segera masuk ke dalam kamar felic, Felic yang sedang membaca buku begitu senang
melihat kedatangan Ersya.
“Ersya
…!” ucap felic sambil tersenyum lebar.
“Mau
jalan-jalan nggak sama gue?”
“Emang
boleh?”
“Boleh
kalau pakek kursi roda, ini benean loh gue dapat data dari sumber terpercaya!”
***
Kini
__ADS_1
Ersya sudah bersiap-siap untuk membawa Felic jalan-jalan, sebenarnya ia begitu
takut tapi ia yakin dengan perkataan orang jika Felic akan baik-baik saja, mereka
juga sudah mendapat ijin dari ibunya Felic walaupun banyak sekali wejangan
sebelum mereka berangkat.
“Sudah
siap, mom?” tanya ersya tapi Felic malah memelototkan matanya karena mendengar
panggilan mom dari Ersya.
“Apaan
sih melotot kayak gitu, keluar loh entar matanya!”
“Jangan
panggil gue mom ya , gue nggak suka! Gue lebih suka di pangil bubu atau bunda!”
protes Felic.
“Gitu
aja protes lo …!”
“Biarin!”
Kini
Ersya sudah membawa Felic jalan-jalan dengan kursi rodanya, Ersya mendorong
pelang kursi roda Felic menyusuri jalan sempit, sesekali mereka berpapasan
dnegan tetangga Felic yang sebenarnya banyak yang julit ya.
“Fe
…, ngapain pakek kursi roda?” tanya tetangga yang kebetulan lewat.
“lagi
pengen main becak-becakan, tante!” jawab Ersya dengan gayanya yang nyablak.
“Di
tanya beneran malah jawabnya asal!” ucap ibu itu sambil berlalu dnegan wajah
kesal.
“Keterlaluan
lo Sya!” ucap Felic setelah ibu-ibu tadi menjauh.
‘Biarin
Fe, sekali-kali tetangga yang kayak gitu perlu di lawan juga!”
“Bisa-bisa
besok ada trending topic, ‘Felic yang tiba-tiba jadi orang kaya ternyata di
siksa suaminya sampek nggak bisa jalan’ malang bener nasib suami gue!”
Ha
ha ha
Ersya
hanya tertawa mendengarkan lelucon dari felic, tapi mungkin memang itu bukan
sekedar lelucon, bisa jadi besk benar-benar akan tersebar berita kayak gitu,
dan ibunya pulang-pulang dari pasar mencak-mencak gara-gara jadi nara sumber
dadakan yang di mintai konfirmasi.
Setelah melalui beberapa rintangan tetangga
yang bermulut pedas, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah taman yang berada
di dekat rumah Felic, taman itu tidak terlalu luas tapi cukup asri dan enak
untuk sekedar menikmati udara segar karena jauh dari jalan raya.
“Kita
berhenti di sini ya, udara pagi sangat baik untuk ibu hamil!” ucap Ersya saat
mereka sudah sampai.
“Ya
udah aku duduk di situ aja deh …!” ucap felic sambil menunjuk sebuah bangku
yang berada di bawah pohon besar.
“Baiklah
…!” ersya kembali mendorong kursi rodanya sedikit mendekat biar Felic tidak
berjalan terlalu lama.
Setelah
Felic berpindah dari kursi roda menuju ke kursi taman, ersya tampak
mencari-cari sesuatu. Setelah apa yang dia cari ketemu, Ersya tersenyum senang.
“bentar
ya Fe, gue tinggal dulu!” ucap Ersya.
“Lo
mau kemana?” tanya felic sambil menahan tangan Ersya. Jujur ia takut jika di
tinggal sendiri apalagi ia tidak bisa ngalakuin apa-apa.
“bentar
aja, ntar gue balik lagi!” ucap Ersya dan langsung meninggalkan Felic begitu
saja tanpa mengindahkan panggilan Felic.
Ersya
meninggalkan Felic, ia memilih menghintip dari balik pohon besar itu, ia ingin
tahu jika mereka tidak akan bertengkar lagi. Cukup dia yang merasakan pahitnya
perpisahan, ia tahu jika suami sahabatnya itu orang baik, tidak mungkin mudah
berpindah ke lain hati.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰