Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Cukup aku saja


__ADS_3

Ersya mendengar kabar dari Felic jika sahabatnya itu hampir mengalami keguguran.


Ersya begitu khawatir, ia pun segera menghubungi Felic.


“Hallo


Fe, lo di mana?”


“Gue


di rumah ayah!”


“Di


rumah ayah? Why?”


“Nanti


gue cerita, lo ke sini aja sepulang kerja!”


Ersya


pun segera menutup sambungan telponnya, benar juga ia tidak mungkin langsung


menghampiriFelic karena dia masih kerja. Bank ini bukan milik bapaknya yang


bisa langsung go saat ia ingin.


Ersya


menunggu hingga bank benar-benar tutup, ia tidak ikut melakukan rekap hari ini


dengan alasan ada urusan.


“Besok


aku traktir deh …., nggak pa pa y ague nggak ikut rekap!” rayu Ersya pada


teman-temannya.


“Ok


deh kalau begitu …!”


Ersya


pun segera menuju ke rumah Felic. Langit sudah gelap jadi mungkin semua orang


sudah di rumah.


“Selamat


malam tante …!” sapa Ersya.


“Eh


Ersya, masuk!”


“Fe


nya ada nggak tan?”


“Ada


di kamar, kamu ke sana saja soalnya Fe harus bedtres!”


“Ya


udah tante, Ersya langsung ke kamar aja ya!”


Ersya


pun segera menemui Felic, sahabatnya itu sedang duduk di atas tempat tidur sambil


memainkan ponselnya.


“Hai


Fe, lagi ngapain?”


“Tiduran


…!”


Ersya


pun mendekati sahabtanya, ia tahu jika sahabatnya itu sedang ada masalah. Felic


bukan orang yang biasa menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat seprti itu.


“Lo


ada masalah ya?” tanya Ersya dan Felic pun segera memeluk Ersya dan menangis


dalam pelukannya.


“Ada


apa?”


 Felic pun menceritakan semuanya tentang Zea dan


suaminya. Ia sangat kecewa dengan suaminya itu. Tapi ia juga tidak bisa


melepaskan suaminya karena ia terlanjur jatuh cinta dan Felic memutuskan untuk


tinggal di rumah ayahnya untuk sementara waktu.


Dan


semenjak saat itu, Ersya sering menghabiskan waktunya bersama Felic. Ia tidak


mungkin membiarkan sahabatnya itu dalam masalah.


****


Pagi


ini Ersya sedang libur, ia memang berencana untuk datang ke rumah Fe, tapi


belum sempat ia mengambil mobilnya. Seseorang keluar dari dalam mobil dan


menghampirinya, ia tahu siapa pria itu.


“Dokter


Frans!”


“Selamat


pagi Ersya! Mau pergi ya?”


“Iya


…, tapi kalau dokter mau ngobrol sebentar boleh, aku juga ada yang ingin aku


obrolin!”


Kami


pun akhirnya kembali ke teras rumah ku, “Aku buatkan minuman dulu ya!”


“Nggak

__ADS_1


perlu, Cuma sebentar!”


“baiklah!”


Ersya


pun kembali duduk, mereka duduk di kursi kayu yang ada di depan rumah Ersya. Rumah


yang sebenarnya masih menjadi harta gono gini bagi Ersya dan Rizal. Rizal


meminta bagian dari rumah itu, Ersyua maupun Rizal berencana menjualnya, tapi


untuk sementara waktu karena Ersya belum punya tempat tinggal baru, Ersya


pmasih menempati rumah itu.


“Saya


ingin bicara!”


“Saya


ingin bicara!”


Ucap


mereka bersamaan,


 “Ya sudah dokter saja yang bicara duluan!”ucap


Ersya mempersilahkan Dokter Frans yang bicara lebih dulu.


“Sebenarnya


saya mau minta bantuan kamu buat bujukin Felic!”


“Membujuk?”


“Iya


…, Fe salah faham! Dia menganggap aku berselingkuh padahal sebenarnya pertemuan


kami terakhir itu adalah untuk mengakhiri semua!”


“Mengakhirri,


berarti kalian memenag punya hubungan dong!”


“Hubungan


masa lalu dan tidak untuk masa depan!”


“Lalu


apa yang bisa saya bantu?”


****


Pagi


ini Ersya sengaja datang pagi-pagi untuk mengunjungi rumah orang tua Felic. Ia punya


rencana dengan dokter Frans.


“Pagi


tante, Felicnya ada kan?”


“Ersya,


masuk!”


Ersya


pun masuk ke dalam rumah bersama ibu Felic, “Felic ada sednag istirahat di


“Boleh


nggak tan Ersya aja Fe jalan-jalan?”


“Enggak,


dia sedang hamil muda, dokter memintanya untuk bedtres!”


“Ihhh


tante gitu …!” protes Ersya, ia mencomot sebutir kue yang sudah di buat ibunya


Felic.


“Tante


nggak mau ambil resiko, Sya!”


“Tapi


tante …, tapi menurut dokter yang bicara sama Ersya, katanya boleh loh tan di


ajak jalan-jalan asal pakek kursi roda!”


“benarkah?”


“Benar


tan, ini dokternya terpercaya banget malahan dok, dokter yang sangat peduli


sama ibu hamil seprti Felic!”


“Ya


udah kalau kamu mau ngajak jalan-jalan, nggak pa pa deh! Asal jangan lama-lama


ya!”


“Siap


tante!”


Ersya


segera masuk ke dalam kamar felic, Felic yang sedang membaca buku begitu senang


melihat kedatangan Ersya.


“Ersya


…!” ucap felic sambil tersenyum lebar.


“Mau


jalan-jalan nggak sama gue?”


“Emang


boleh?”


“Boleh


kalau pakek kursi roda, ini benean loh gue dapat data dari sumber terpercaya!”


***


Kini

__ADS_1


Ersya sudah bersiap-siap untuk membawa Felic jalan-jalan, sebenarnya ia begitu


takut tapi ia yakin dengan perkataan orang jika Felic akan baik-baik saja, mereka


juga sudah mendapat ijin dari ibunya Felic walaupun banyak sekali wejangan


sebelum mereka berangkat.


“Sudah


siap, mom?” tanya ersya tapi Felic malah memelototkan matanya karena mendengar


panggilan mom dari Ersya.


“Apaan


sih melotot kayak gitu, keluar loh entar matanya!”


“Jangan


panggil gue mom ya , gue nggak suka! Gue lebih suka di pangil bubu atau bunda!”


protes Felic.


“Gitu


aja protes lo …!”


“Biarin!”


Kini


Ersya sudah membawa Felic jalan-jalan dengan kursi rodanya, Ersya mendorong


pelang kursi roda Felic menyusuri jalan sempit, sesekali mereka berpapasan


dnegan tetangga Felic yang sebenarnya banyak yang julit ya.


“Fe


…, ngapain pakek kursi roda?” tanya tetangga yang kebetulan lewat.


“lagi


pengen main becak-becakan, tante!” jawab Ersya dengan gayanya yang nyablak.


“Di


tanya beneran malah jawabnya asal!” ucap ibu itu sambil berlalu dnegan wajah


kesal.


“Keterlaluan


lo Sya!” ucap Felic setelah ibu-ibu tadi menjauh.


‘Biarin


Fe, sekali-kali tetangga yang kayak gitu perlu di lawan juga!”


“Bisa-bisa


besok ada trending topic, ‘Felic yang tiba-tiba jadi orang kaya ternyata di


siksa suaminya sampek nggak bisa jalan’ malang bener nasib suami gue!”


Ha


ha ha


Ersya


hanya tertawa mendengarkan lelucon dari felic, tapi mungkin memang itu bukan


sekedar lelucon, bisa jadi besk benar-benar akan tersebar berita kayak gitu,


dan ibunya pulang-pulang dari pasar mencak-mencak gara-gara jadi nara sumber


dadakan yang di mintai konfirmasi.


 Setelah melalui beberapa rintangan tetangga


yang bermulut pedas, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah taman yang berada


di dekat rumah Felic, taman itu tidak terlalu luas tapi cukup asri dan enak


untuk sekedar menikmati udara segar karena jauh dari jalan raya.


“Kita


berhenti di sini ya, udara pagi sangat baik untuk ibu hamil!” ucap Ersya saat


mereka sudah sampai.


“Ya


udah aku duduk di situ aja deh …!” ucap felic sambil menunjuk sebuah bangku


yang berada di bawah pohon besar.


“Baiklah


…!” ersya kembali mendorong kursi rodanya sedikit mendekat biar Felic tidak


berjalan terlalu lama.


Setelah


Felic berpindah dari kursi roda menuju ke kursi taman, ersya tampak


mencari-cari sesuatu. Setelah apa yang dia cari ketemu, Ersya tersenyum senang.


“bentar


ya Fe, gue tinggal dulu!” ucap Ersya.


“Lo


mau kemana?” tanya felic sambil menahan tangan Ersya. Jujur ia takut jika di


tinggal sendiri apalagi ia tidak bisa ngalakuin apa-apa.


“bentar


aja, ntar gue balik lagi!” ucap Ersya dan langsung meninggalkan Felic begitu


saja tanpa mengindahkan panggilan Felic.


Ersya


meninggalkan Felic, ia memilih menghintip dari balik pohon besar itu, ia ingin


tahu jika mereka tidak akan bertengkar lagi. Cukup dia yang merasakan pahitnya


perpisahan, ia tahu jika suami sahabatnya itu orang baik, tidak mungkin mudah


berpindah ke lain hati.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2