Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Season 2 (45. Tiket untuk nenek)


__ADS_3

Pagi ini si pria dingin itu pertama kalinya bangun di rumah keluarga sederhana, tapi ia merasa begitu terkesan dengan keluarga itu karena kehangatan yang tidak pernah ia jumpai sebelumnya.


"Bagaimana perut Mr Lee, apa sudah lebih baik?"


"Sudah nyonya, sepertinya ramuan dari putri anda cukup manjur!" ucap Lee sambil melirik ke arah Yura.


"Mari makan Mr Lee, jangan khawatir kali ini saya memasak yang tidak menggunakan cabe!"


Akhirnya mereka pun kembali menikmati sarapan, setelah selesai sarapan Lee benar-benar berpamitan,


"Jangan kapok-kapok main ke sini lagi ya mr!"


Lee yang di ajak bicara seperti biasa hanya tersenyum dengan gaya coolnya,


"Eomma, appa, Yura berangkat dulu!" pamit Yura karena terlalu kesal terus berlama-lama dengan pria dingin itu. Sedari bangun tidur Lee sudah berhasil membuat Yura kesal. Ia seperti pangeran di rumahnya, Yura harus mengalah tentang banyak hal. Mulai dari kamar mandi sampai makanan kesukaannya.


"Bukankah kalian berangkatnya barengan?" tanya ayah Yura dan Lee tidak bisa berkata apa-apa selain mengangukkan kepalanya.


"Kami pergi dulu, sampai jumpa lagi!" ucap Lee sambil menunduk memberi hormat pada kedua orang tua Yura.


Jangan Sampek ....., Yura hanya bisa berdoa dalam hati berharap pria menyusahkan ya itu tidak akan pernah kembali.


Yura terpaksa ikut dengan Lee ke dalam mobilnya, Lee segera melajukan mobilnya meninggalkan kompleks rumah Yura.


Di dalam mobil itu tidak ada percakapan antara kedua orang itu.


Hingga suara ponsel Lee berdering dengan cepat pria itu menempelkan aerophone di telinganya,


"Iya Mr!"


"...."


"Baik, saya akan segera mencarikan tiket untuk dua Minggu ke depan!"


"..."


"Setengah jam lagi saya akan sampai!"


"....."


Lee pun segera melepaskan aerophone nya saat panggilan telpon itu terputus.


Ia mengamati jalanan di depannya lalu memilih sebuah bahu jalan dan menghentikan mobilnya di sana.


"Turunlah!"


"Hahh, turun?" Yura begitu terkejut karena jelas ini masih cukup jauh dari kampusnya dan juga bukan halte yang bisa dengan cepat mendapatkan bus.


"Saya ada urusan lain!"


"Tapi ini_!"


"Saya tidak punya banyak waktu!"


Akhirnya tidak ada pilihan lain bagi Yura selain turun dari mobil itu, ia hanya bisa berharap pria dingin itu akan berubah pikiran dan mengantarnya sampai di kampus.


Tapi ternyata baru saja Yura turun, mobil itu melaju dengan tanpa berperasaan.


"Dasarrrrr .....!" Yura begitu kesal sambil menjejakkan kakinya dengan kasar ke tanah. "Dia benar-benar menyebalkan!"


...***...


Di tempat lain terlihat Mr Kim tengah duduk di ruang keluarga, tidak seperti biasanya ia akan dengan cepat berangkat ke kantor.


Pria itu tengah membunuh kebosanannya dengan membaca buku, nenek yang begitu penasaran akhirnya ikut duduk di sofa yang lainnya,


"Kim, apa hari ini tidak ke kantor?"

__ADS_1


"Ke kantor kok Nek, hanya sedang menunggu Lee saja!"


"Lee akan ke sini, ada apa?"


"Ada urusan sedikit!"


Baru saja nenek ingin bertanya lagi, Divia keluar dari kamarnya dan menghampiri mereka,


"Nek, Kim, ada apa? Kenapa kalian berkumpul di sini?" tanya Divia yang penasaran, ini bukan sebuah kebiasaan melihat Kim begitu santai di rumah.


"Vi, tunggulah aku sebentar, aku akan mengantarmu ke kampus!" ucap Kim tanpa mengindahkan pertanyaan Divia.


"Tapi aku ada_!"


"Sebentar saja tidak sampai sepuluh menit!"


Benar saja, baru saja Kim berhenti bicara, seorang pelayan sudah datang menghampiri mereka.


"Maaf tuan muda, di depan ada tuan Lee!"


"Suruh masuk!"


"Baik tuan!"


Pelayan itu pun kembali keluar,


"Duduklah Vi!" perintah Kim dan Divia tidak bisa menolak lagi, ia memilih duduk di samping sang nenek.


Sekretaris Lee pun datang memberi hormat pada mereka,


"Bagaimana?" tanya Kim kemudian.


Lee mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya, di buah tiket dan menyerahkan pada Kim.


"Apa kamu mau pergi?" tanya nenek saat melihat dua tiket di tangannya.


"Kim melihat di internet ada terapi yang bagus untuk nenek, acara itu akan berlangsung selama tiga Minggu jadi selain terapi nenek bisa berlibur di sana, Kim juga sudah meminta beberapa pelayan untuk ikut dengan nenek terutama bibi, bibi yang akan menemani nenek selama terapi!"


"Tapi_!"


"Jangan khawatir Nek, Kim akan baik-baik saja. Nenek juga harus memanjakan diri nenek!"


"Baiklah, nenek setuju!"


Setelah mendapat persetujuan dari nenek akhirnya Kim bisa bernafas lega. Ia segara mengajak Divia untuk berangkat.


"Saya akan mengantar Vi lebih dulu, jadi kamu duluan ke kantor!" ucap Kim pada Lee.


"Baik Mr!"


Mereka pun memutuskan untuk menggunakan mobil yang berbeda, Divia ikut bersama dengan Kim. mereka menuju ke kampus.


"Kim, aku tahu ini hanya alasan saja kan?" tanya Divia memastikan apa yang ia duga itu benar.


"Hmmm!"


"Terimakasih banyak!"


"Ini belum selesai, ada syaratnya!"


"Apa syaratnya?"


"Jika tidak tinggal di rumah berarti kamu harus setuju untuk tinggal di apartemen yang sudah aku pilihkan!"


"Kok gitu sih!?" protes Divia, ia sedang berusaha untuk menghindari kemewahan tapi ia malah mendapatkan kemewahan lainnya.


"Setuju atau tidak sama sekali. Saya akan meminta sekalian pada ayah kamu untuk menikah denganmu, bagaimana?"

__ADS_1


Dia nekat banget sih .....


"Iya deh, setuju!"


Kim tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada Divia, "Setuju apa nih? Setuju buat nikah sama saya?"


"Apaan sih, setuju tinggal di apartemen. Puas!!!! Sudah konsentrasi tuh nyetirnya!"


Kim kembali tersenyum dan mengalihkan tatapannya ke depan.


Aneh, kenapa dia jadi suka sekali tersenyum sih .....


Divia malah merasa tidak nyaman dengan senyum Kim yang seperti itu.


Hingga akhirnya mereka sampai juga di kampus,


"Nanti aku akan menjemputmu dan kita akan melihat-lihat apartemen!"


"Nggak perlu!"


"Kenapa?"


"Ya nggak perlu di lihat, kalau apartemen sudah pasti bagus kan! Aku pergi ....!" Divia mengambilkan tangannya sambil berlaku meninggalkan Kim.


Ia ingin segera sampai di kelas dan menceritakan semuanya pada Yura. Tapi saat sampai di kelas ia tidak mendapati Yura di sana,


"Tidak biasanya Yura belum datang!"


Baru saja Divia ingin menghubungi Yura, gadis itu muncul dari arah pintu.


"Yura!?" panggil Divia dan dengan cepat Yura duduk di samping Divia.


"Kenapa wajahnya seperti itu!"


"Kamu tahu aku harus berjalan setengah jalan ke kampus tadi!"


"Kok bisa!"


"Ya gara-gara si_!" Yura menghentikan ucapannya.


Masak iya aku harus cerita tentang pria dingin itu sih sama Vi ....


"Si, siapa?" tanya Divia penasaran.


"Si sopir bus, gara-gara bannya bocor di tengah jalan!"


"Kasihan sekali! Tapi biasanya kamu juga jalan kaki kan?"


"Iya sih, tapi ini beda!"


"Bedanya apa?"


Bedanya karena aku kesal banget hari ini .....


"Ya beda deh pokoknya!"


"Ya udah aku mau cerita nih!" Divia benar-benar tidak sabar ingin segera bercerita pada Yura.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2