Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Season 2 (4. Terjerembab)


__ADS_3

Divia duduk sambil menatap dedaunan yang terkena terpaan angin, begitu menyejukkan mata, udaranya juga tidak sepanas di Jakarta.


Hingga sebuah bola menggelinding tepat mengenai kakinya,


"Hahhh, bola siapa?" gumamnya sambil mengambil bola itu.


Hingga seorang anak kecil berjalan mendekatinya,


"Itu bolaku!"


"Jadi ini bolamu?"


"Hmmm!" anak laki-laki berusia empat tahunan itu tampak menganggukkan kepalanya,


"Ya ampun kamu menggemaskan sekali, mana mama kamu?"


Tapi anak itu hanya menggelengkan kepalanya, tiba-tiba seorang pria dengan jas rapi menghampiri mereka,


"Maaf nona, jika dia menggangu nona!" pria itu membungkukkan punggungnya dengan begitu sopan.


Divia segera mengibaskan tangannya, "Enggak, kami hanya mengobrol sebentar!"


Divia beralih menatap anak kecil itu,


"Maaf ya, aku kembalikan bola kamu!"


Anak itu segera berlari meninggalkan Divia saat sudah menerima bolanya.


"Saya permisi nona!"


Divia melakukan hal yang sama, ia membungkukkan punggungnya dan pria itu pergi.


"Jadi keinget masa kecil!"


Divia menghela nafas panjang, di usia yang sama seperti anak itu ia hanya bermain di temani Rangga.


"Jadi kangen sama Moms dan kurcaci-kurcaci itu!"


Baru saja Divia hendak mengeluarkan ponselnya, ponselnya sudah lebih dulu berdering. Dan orang yang di rindukan itu ternyata menghubunginya lebih dulu.


"Panjang umur banget!"


Divia dengan cepat menggeser tombol terima,


"Hai Moms!" Divia melambaikan tangannya dengan semangat.


"Bagaimana hari pertama kamu di sana,. sayang?"


"Divia baik Moms, hanya sedikit merindukan Moms!"


"Hanya sedikit!"


"Iya, sedikit aja. Nggak boleh banyak-banyak karena aku bisa nggak kuat!"


"Kamu nih ya!"


"Baiklah, sekarang tunjukkan pada Moms sedang di mana kamu?"


"Ini Moms, Divia sedang di sebuah taman Deket kampus, bagus kan pemandangannya!?"


Divia berdiri dari duduknya dan mengarahkan kameranya ke seluruh penjuru tempat itu.


"Wahhh bagus banget, coba keliling deh, Moms pengen lihat!"


"Baiklah!"


Divia pun melangkahkan kakinya, berlahan berputar-putar menunjukkan tempat-tempat dengan fungsinya.


"Moms jadi ingin ke sana!"

__ADS_1


"Nggak usah Moms!"


"Kenapa?"


"Ntar aku nggak jadi kuliah gara-gara Moms ngintilin Divia Mulu!"


Divia terus saja berjalan hingga tanpa sadar ia menabrak seseorang,


Brukkkk


"Aughhhh!"


Ia terjatuh dan ponselnya terlempar, beruntung tidak begitu jauh dari tempatnya terjatuh.


"Sayang, kamu tidak pa pa kan?"


Divia masih bisa mendengar suara Moms nya.


Divia pun dengan cepat mengambil ponselnya,


"Moms, Sudah dulu ya!" dengan cepat ia mematikan telponnya.


Mati aku ...., keluhnya saat menyadari ada sepasang sepatu yang berada di depannya, sepatunya terlihat mengkilat. Perlahan ia menengadahkan kepalanya dan ternyata di depannya ada seorang pria ....


Tampan ....


"Bisa kan jalannya hati-hati, kamu tahu kamu sudah membuat minuman ini tumpah ke jas ku!"


Pria itu marah-marah pada Divia dengan menggunakan bahasa Korea,


Divia juga melihat seorang anak yang tengah merangkul kaki pria itu ketakutan.


Anak yang tadi, jadi dia ayahnya?


"Mianhamnida (Maaf)!"


"Sungguh aku tidak sengaja!"


"Kamu membuat hariku kacau!"


Dan anak kecil itu menatap Divia dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Ayo Dee, kita pergi!"


Pria itu segera mengangkat tubuh anak kecil itu dengan satu tangan. Divia bernafas lega karena akhirnya pria itu tidak membuat perhitungan dengannya.


"Ampun dhhhh, hampir saja! Dia benar-benar menyeramkan!"


Divia segera memungut buku-buku nya yang jatuh berserakan di tanah.


Ia harus segera pulang dan memasak untuk dirinya sendiri. Sesampai di rumah, sambil memasak ia kembali menghubungi Moms nya, ia tahu pasti Momsnya tengah mengkhawatirkan dirinya.


"Kamu tidak pa pa kan, sayang?"


"Tidak Moms, jangan khawatir! Itu tadi hanya insiden kecil, aku tidak sengaja nabrak seseorang!"


"Tapi kamu baik-baik saja kan?"


"Baik banget, Divia nggak luka sedikitpun!"


"Baguslah, ok iya Moms sampai lupa. Tadi Moms mengirimkan sesuatu buat kamu, sudah sampai belum?"


"Apa?"


"Semua makanan kesukaan kamu!"


"Buat apa Moms?"


"Moms takut kamu kelaparan sayang!"

__ADS_1


Divia hanya bisa menepuk keningnya, ia pikir dengan hidup jauh dengan keluarganya ia bisa mandiri, tapi nyatanya tetap saja tidak bisa lepas.


Suara pintu di ketuk dari luar, Divia segera menjauhkan ponselnya dari telinga dan memastikan yang di dengar itu benar,


"Moms, itu kayaknya!"


"Baguslah kalau datang, ya udah Daddy pulang, Moms matikan dulu ya telponnya!"


"Hmm!"


Divia meletakkan ponselnya begitu saja dan berjalan ke arah pintu. Dan benar saja seorang pengantar paket.


Satu kardus besar berhasil ia terima, ia segera membawa masuk paket dari mamanya dan membukanya, matanya sampai terbelalak melihat semua makanan dan camilan ini. Ia tidak perlu memasak untuk waktu yang lama.


"Mommy, benar-benar ya!"


Divia hanya bisa menggelengkan kepalanya, tapi ini semua nyata.


"Moms benar-benar luar biasa!" semua yang di kirim adalah makanan kesukaannya.


"Dia benar-benar mommy terbaik di dunia!"


Walaupun mengeluh tapi ia suka, niatnya untuk masak akhirnya ia urungkan. Ia harus makan masakan mommy nya.


Hari demi hari berlanjut, hingga bulan demi bulan dan divia sudah mulai terbiasa dengan kehidupan barunya.


Kalau masalah makanan, mommy nya masih sering mengirimi makanan untuknya, terkadang Divia tidak makan sendiri, ia akan membawa sebagian makanan itu ke rumah Yura karena ia tahu mamanya Yura menyukai makanan Indonesia.


Divia juga sudah mulai mencari pekerjaan paruh waktu, dan ternyata tidak semudah yang ia pikir. Ia bekerja bukan untuk mencari uang tapi ia sedang mencari pengalaman. Uang yang di kirim daddynya setiap bulan sudah sangat cukup, bahkan lebih dari cukup.


Kalau di mau, dia bahkan bisa menyewa tempat yang bagus atau menyewa sebuah apartemen, tapi nyatanya Divia tidak melakukan hal itu.


Karena kemampuannya dalam hal akademi tidak begitu bagus, akhirnya ia juga harus mengejar ketertinggalannya, ia mulai rajin belajar dan menyibukkan dengan buku-buku itu.


"Sayang, masih ngapain?" Moms Ersya tidak pernah absen dalam sehari pun untuk menghubungi Divia. Seperti saat ini.


"Ini Moms, Divia masih belajar! Divia banyak ketinggalannya!"


"Ini kan kalau di situ sudah malam banget sayang, ini sudah jam 11 malam!"


"Nggak pa pa Moms, lagi pula bentar lagi Divia juga mau tidur!"


"Jangan terlalu keras belajarnya, tetap jaga kesehatan kamu ya!"


"Iya pasti, Moms juga baik-baik di sana!"


"Ya udah, tidurlah. Moms matikan dulu telponnya!"


"See you Moms, I Miss you!"


"I Miss you too, good night!"


Divia segera mematikan sambungan telponnya, matanya juga sudah mulai berair, tandanya sudah minta untuk di istirahatkan.


Divia menutup laptop dan bukunya, merapikannya ke dalam tas, besok ia harus berangkat kuliah pagi-pagi. Dosennya memberinya sebuah tugas untuk membuat disain grafis, jika kali ini gagal ia harus mengulang lagi tahun depan.


"Selamat malam Korea, aku titipkan mimpiku untuk esok hari ya!"


Divia segera merebahkan tubuhnya yang sudah mulai kewalahan dengan aktifitas hariannya. Hanya dalam waktu beberapa menit saja, ia sudah masuk ke dunia mimpi.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2