Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Season 2 (26. Hari yang di tunggu)


__ADS_3

"Ya ampun, dia baik sekali sayang! Kamu beruntung, dia pasti Kim! Aku tahu dia begitu mencintaimu!"


Seketika Divia menatap Kim, tapi Kim pura-pura fokus dengan berkas-berkas yang ada di depannya.


"Moms ngomong apa sih, pria seperti itu mana bisa jatuh cinta!" Divia melirik kembali ke arah Kim, ingin melihat bagaimana ekspresi pria itu tapi gagal, sepetinya pria itu begitu pandai menyamarkan ekspresi nya.


"Moms bisa lihat sayang, mana orang yang benar-benar sayang sama kamu dan tidak!"


Apa iya, lihat saja bagaimana ekspresi nya. Dia sama sekali tidak tertarik menatap ke arahku, jangankan menatap ekspresinya aja tidak berubah ....


"Divia, kok malah diam?!"


Divia pun kembali fokus, "Maaf Moms, nggak pa pa. Udah dulu ya Moms, Divia mau ke kamar mandi dulu!"


"Baiklah, hati-hatinya di sana. I love you!"


"I love you too, Moms!"


Akhirnya sambungan telpon pun terputus, tapi ia begitu terkejut saat tiba-tiba Kim sudah berada di depannya saja. Bahkan tangan pria itu kini sudah mengangukkan tubuhnya di sisi kanan dan sisi kiri Divia,


"Kim, ada apa?" Divia sampai mencondongkan tubuhnya kebelakang hampir dalam posisi tidur.


"Jadi menurut kamu, aku pria yang seperti apa?" ucap Kim begitu dekat hingga ia bisa merasakan nafas pria itu menyapu wajahnya.


"Bisa nggak bicaranya nggak usah gini!?"


"Memang kenapa kalau begini?" tanya Kim lagi dan semakin mendekatkan wajahnya membuat Divia semakin mencondongkan tubuhnya ke belakang.


"Tidak pa pa_!"


"Apa kamu merasa deg degan jika seperti ini? Apa terasa susah bernafas, apa tiba-tiba terasa seperti tersengat listrik?" sebenarnya Kim hanya sedang ingin mengutarakan apa yang sedang ia rasakan saat ini dan memastikan jika Divia juga merasakan hal yang sama.


Karena semakin dekat, Divia tidak kuasa. Ia memilih memejamkan matanya dan pasrah dengan apa yang akan di lakukan oleh pria itu,


Apa dia akan menciumku?


Kim menatap wajah Divia, ia kembali fokus pada bibir merah itu. Kembali ia mengingat kejadian beberapa hari lalu. Ciuman itu seakan ingin ia ulang dan ulang lagi.


"Eomma!?"


Teriakan makhluk kecil itu berhasil menjauhkan tubuh Kim dari tubuh Divia.


Kim yang sudah menjauhkan tubuhnya dari Divia segera menoleh ke arah pintu dan ternyata Dee sudah berdiri di sana,


"Ups, aku salah!?" ucap Dee sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan mungilnya tapi memberi selah di jari-jarinya.


Divia segera berdiri dan mendorong tubuh Kim, ia berjalan mendekati Dee,


"Dee, kamu sudah pulang?" Divia menarik tangan Dee perlahan dari wajahnya.


"Iya, Lee yang menjemputku!"


Dee menengok ke arah Kim, ternyata pria itu sudah kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya,


"Apa Kim jahat?"


Divia menggelengkan kepalanya, "Kim sedang memeriksa keadaan Vi!"


"Hehhhh, dia terlalu kaku!" tapi Dee malah menggelengkan kepalanya dengan tangan yang memegangi kepalanya seperti sedang menyayangkan tingkat Kim.


Divia pun ikut melihat ke arah Kim, tidak ada yang beda.


"Dee, ayo aku bantu lepaskan seragammu!"


"Apa eomma sudah sehat?"

__ADS_1


"Ya!?" Divia menunjukan senyumnya untuk meyakinkan Dee.


...***...


Hari begitu cepat berlalu, Divia beberapa hari ini harus fokus mengerjakan desainnya. Beruntung Kim selalu membantunya jadi desainnya bisa selesai tepat waktu.


Tampak hari ini Divia begitu gugup saat turun dari mobil Kim. Kim menyadari hal itu, ia ikut turun dari mobil.


"Vi!?"


Divia menoleh ke belakang dan melihat Kim yang ikut turun membuat Divia mengerutkan keningnya.


"Ada apa Kim?"


Kim tidak menjawab pertanyaan Divia, ia hanya berjalan perlahan mendekati Divia. Ia berdiri tepat di depan Divia.


Cup


Tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di bibir Divia membuat gadis diam terpaku. Kim sudah menjauhkan lagi bibirnya dan meletakkan kedua tangannya di atas bahunya,


"Aku tahu kamu pasti bisa, semangat ya! Aku akan menjemputmu lagi nanti!"


Divia yang masih tidak percaya dengan apa yang baru di lakukan Kim, Divia hanya menganggukkan kepalanya.


Hingga Kim kembali masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Divia yang masih terdiam di tempatnya.


"Kim, apa aku tidak bermimpi tadi, tapi dia benar-benar menciumku dengan sengaja!?" Divia memegangi bibirnya. Terasa masih membekas bibir pria itu.


"Vi, aku menunggumu!" seseorang ternyata sudah berdiri tidak jauh dari tempatnya kini.


"Yura!?"


Divia pun berjalan cepat menghampiri temannya itu,


"Bagaimana hari ini?"


"Kamu pasti bisa Yura, kita harus lulus Sama-sama kan katamu!"


"Iya, semangat!?"


"Semangat!?"


Kini mereka menuju ke ruang ujian, satu persatu mahasiswa memasuki ruangan itu dengan wajah penuh kecemasan dan keluar dengan berbagai ekspresi, ada yang bahagia dan ada yang menangis. Yura dan Divia saling menggenggam tangan untuk saling menguatkan satu sama lain.


Seharusnya Divia berada di urutan abjad depan tapi karena dia masuk ke kampus itu belakangan ia mendapat urutan absen paling belakang. sedangkan Yura , namanya berada di urutan abjad paling akhirnya, membuatnya bisa melihat berbagai ekspresi yang keluar.


Nama Yura di panggil lebih dulu di banding Divia. Divia tersenyum dan memberi semangat pada temannya,


"Kamu pasti bisa!?"


"Ya!?"


Yura masuk, meninggalkan dirinya sendiri di sana. Divia semakin cemas karena tinggal dua orang lagi tiba giliran dirinya.


Hanya butuh waktu lima menit dan Yura kembali keluar, Divia dengan cepat menghampirinya,


"Bagaimana Yura?"


Yura tiba-tiba tersenyum dan memeluk Divia, "Aku lulus Vi! Aku lulus!?"


"Syukurlah!"


"Kamu pasti juga lulus!"


"Ya!?"

__ADS_1


Waktu seakan berjalan begitu lambat, hingga akhirnya tiba gilirannya. Tangannya sudah begitu dingin, Yura memberi semangat pada Divia,


"Aku masuk!?"


"Hmmm, semangat!?"


Divia perlahan membuka ruangan itu, ada empat orang yang tengah duduk di balik meja dengan satu kursi yang berada di depannya. Tiga pria dan satu wanita.


"Nona Divia!?"


"Iya!"


"Baiklah, kita mulai penilaiannya!"


Satu per satu orang-orang itu menanyai Divia, mulai dari konsep, tata letak, warna, dan arti dari beberapa ornamen yang di buatnya.


Setalah sepuluh menit akhirnya selesai juga, seseorang menutup kembali map yang berisi desain Divia,


"Selamat nona Divia, anda lulus dan bisa ke tingkat selanjutnya nya!"


Seketika rasa cemas itu berubah menjadi rasa bahagia.


"Terimakasih, terimakasih, terimakasih, terimakasih!?" Divia membungkukkan badannya empat kali lalu berjalan mundur meninggalkan ruangan itu.


Yura langsung menyambutnya dengan begitu penasaran,


"Vi, bagaimana?"


"Aku lulus!?"


Dua gadis itu saling berpelukan dan meloncat-loncat begitu senang.


Hingga sebuah deringan membuat kebahagiaan mereka terhenti,


"Bentar aku angkat telpon dulu!"


Divia segera merogoh tas sampingnya dan mencari benda pipih itu, ia melihat siapa yang menghubunginya.


"Kim!?" gumamnya lirih, ia teringat dengan kejadian tadi pagi.


"Siapa?" Yura ikut penasaran karena Divia tidak langsung menjawab telponnya. Divia hanya menunjukkan layar ponselnya.


"Tuan tampan, terima aja!" Yura langsung menggeser tombol terima dan mereka langsung terhubung dengan Kim.


"Hallo Vi!?"


"Iya?"


"Bagaimana hasilnya?" terdengar di seberang sana juga begitu penasaran.


"Aku_, aku_!?"


"Iya, bagaimana?"


"Aku lulus!?"


"Yesss!?" walaupun tidak bisa melihat ekspresi Kim tapi Yura dan Divia saling pandang, mereka bisa merasakan betapa senangnya pria itu seperti dia sendiri yang sedang menerima kebahagiaan.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2