Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Season 2 (62. Nggak marah lagi)


__ADS_3

Seharusnya Kim sudah sadar berdasarkan pemberitahuan dokter tadi, tapi pria itu seperti masih enggan untuk bangun.


"Kim, kenapa sih nggak bangun-bangun? Jangan buat aku khawatir!"


Divia benar-benar tidak bisa berpindah dari tempatnya hingga tangan yang sedari tadi ia genggam akhirnya bergerak.


"Kim, akhirnya kamu bangun!? Kim bangunlah, buka matamu." Divia segera berdiri dan membungkuk, memastikan Kim benar-benar membuka matanya.


"Vi!?"


"Ya ampun kim, kamu benar-benar membuatku khawatir!" Divia segara memeluk tubuh Kim, dan Kim pun tersenyum melihat Divia begitu khawatir padanya.


"Vi, aku tidak pa pa, aku hanya kecapekan. Jadi sekarang lepaskan pelukanmu, aku bisa tidak bisa nafas."


Divia pun segera menyadari kalau dia memeluk pria itu terlalu kuat,


"maaf, maaf!"


Divia kembali duduk, ia mengusap tangan Kim lagi.


"Kamu tuh apa-apaan sih, kalau kangen tuh ketemu bukan malah menghindar dengan bekerja tanpa tahu waktu. memang kamu robot yang nggak bakal sakit, kalau baterainya habis tinggal di cas. Dasar kekanak-kanakan."


"Kamu kok malah memarahiku sih, semua ini terjadi gara-gara kamu!"


"Jelaslah kamu yang salah, aku sudah susah-susah menunggumu seharian tapi kamu tidak mau menemuiku, mau aku kembali saja ke Indo, biar kamu bisa cari cewek lagi." Divia bicara sambil cemberut.


"Kamu nih bicara apaan sih. Kalau sampai kamu lakuin itu, aku akan menyusulnya ke sana dan langsung melamarmu!"


"Memang berani?"


"Jadi kamu mengancamku!?"


Divia tersenyum dan kembali memeluk Kim, "Jadi ceritanya udah nggak ngambek lagi kan?"


"Tidak untuk kebohongan yang lainnya!"


"Memang aku bohong apa lagi." Divia tidak terima di katakan bohong.


"Lagian kenapa sih tidak jujur jika ternyata kamu putri dari pemilik Divtagroup?"


"Buat apa Kim? Aku nggak mau orang-orang jadi mau berteman denganku gara-gara Daddy aku. Jadi sekarang jangan ngambek lagi ya."


"Tergantung!"

__ADS_1


"Tergantung apanya?"


"Ijinin aku buat tinggal di apartemen kamu."


"Enggak ya, jangan macam-macam. Mau kamu langsung di hapus sebagai salah satu kandidat menantu Daddy aku bahkan sebelum daftar?"


"Kau menakutiku!"


"Kamu belum tahu Daddy ku!"


Kim pun tidak peduli dengan tubuhnya yang masih lemah itu, ia segera menarik tubuh divia dan menarik tengkuknya, menautkan bibir mereka. Ia benar-benar merindukan wanitanya itu, sangat rindu hingga ia tidak bisa mengendalikan dirinya.


Lee yang sudah hampir masuk segera kembali ia urungkan melihat kemesraan Kim dengan divia.


Melihat Lee kembali keluar, membuat Yura penasaran.


"Kenapa keluar lagi, apa Mr Kim sudah sadar?"


"Hmmm, sebaiknya kamu pulang dulu. Aku juga akan pergi."


"Mana bisa aku mau_!" Yura sudah hampir membuka pintu itu lagi untuk menemui Divia tapi dengan cepat Lee menarik tangan Yura dengan kuat hingga membuat tubuh Yura tempental dan menempel sempurna di dada Lee.


Yura tercengang begitu juga dengan Lee. Ia tidak menyangka apa yang di lakukan membuat mereka saling berpelukan.


srekkk


Tapi tiba-tiba Lee mendorong tubuh yura, "Jangan salah faham, tadi hanya_!"


"Aku tahu, jangan di ambil hati." Yura dengan cepat menyambar ucapan Lee sebelum ia sakit hati dengan ucapan pria dingin itu. Yura pun berlalu begitu saja meninggalkan Lee yang masih terdiam di tempatnya.


Tiba-tiba ia memegangi letak jantungnya, ia merasakan hal yang aneh pada jantungnya,


"Ada apa denganku, kenapa rasanya seperti ini? Mungkin aku kecapekan, aku harus minum vitamin, akhir-akhir ini jantungku berdebar lebih keras." Lee segera menyimpulkan sendiri apa yang terjadi pada tubuhnya.


...***...


Divia bahkan tidak pernah meninggalkan rumah sakit, ia menjaga Kim dengan begitu telaten.


"Kim, mau ke mana?" Divia segera berdiri dari duduknya saat melihat Kim hendak turun dari tempat tidurnya.


"Bisa ambilkan aku iPad ku!" Kim kesusahan untuk menjangkau benda pipih yang sengaja Divia letakkan di meja yang jauh dari jangkauan Kim.


"Mau ngapain?"

__ADS_1


"Aku hanya ingin mengecek pekerjaan sedikit saja."


"Enggak! Jangan harap ya, pokoknya sampai dokter mengatakan kamu boleh pulang, baru boleh bekerja, mengerti."


"Tapi_."


Divia sudah berkacak pinggang, "Kali ini aku yang bos di sini."


'Dia menakutkan sekali kalau seperti itu.' Kim hanya bisa menelan salivanya dan kembali duduk di tempatnya.


Divia kembali duduk dan melanjutkan mengerjakan tugasnya.


"Vi, bisa ke sini kan!?"


"Ada apa lagi?"


"Ke sini!"


Divia terpaksa meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri Kim.


"Ada apa?"


"Duduklah!" Kim menepuk tempat kosong di sampingnya


"Jangan macam-macam ya!"


"Memang aku mau ngapain!"


Divia pun akhirnya duduk di samping , tiba-tiba Kim kembali menarik pinggangnya.


"Kim!"


"Aku hanya ingin memelukmu seperti ini!" Kim memeluk pinggang Divia dan menyandarkan dagunya di bahu Divia, "Begini rasanya begitu nyaman.


"Kamu manja sekali."


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2