Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Undangan pertunangan


__ADS_3

Setelah memastikan jika sahabatnya baik-baik saja, Ersya pun memutuskan untuk pulang


lebih dulu. ia hanya berjalan kaki.


Langkahnya berhenti saat sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya, kaca mobil bagian


depan itu mulai turun, dan kepala seorang gadis kecil keluar dari dalam mobil


itu.


“Bidadali Iyya ….!” Panggil gadis kecil itu membuat senyum Ersya yang sempat pudar kini


terukir kembali.


“Om Langga …., Iyya mau tuyun ….!”


“Iya sebentar Iyya, biar om buka dulu pintunya!”


Seseorang segera turun dan berlari memutari mobilnya, Ersya mengenal siapa pria itu. Itu Rangga mantan Felic.


Setelah Rangga membukakan pintu mobil itu, Iyya dengan cepat berlari ke pelukan Ersya.


Ersya pun segera berjongkok.


“Iyya kok tahu sih kalau aku di sini?” tanya Ersya.


“Bidadali Iyya hiyang yagi ya cayapnya? Mom Eca cedih ya?” ucap Iyya sambil menakup pipi


Ersya dengan tangan mungilnya itu.


“Iyya kok tahu kalau mom Eca sedih …?”


“Iyya nggak cuka kalau mom Eca cedih …, jangan cedih ya …!”


“Mana mungkin mom Eca sedih kalau ada Iyya!”


Ersya pun segera mengangkat tubuh Iyya dalam gendongannya.


“Ga …, kenapa di sini?” tanya Ersya.


“Iyya lagi ngajak jalan-jalan!”


“Dan jalan-jalannya di sini?”


“Hanya ingin mengenang masa lalu saja, kamu sendiri ada apa di sini?”


“Lagi mau ke rumah Fe!”


“Ya udah aku antar sekalian ya!”


Ersya pun ikut dengan mobil Rangga. Ia duduk di depan bersama Iyya juga. Iyya begitu


senang bisa bertemu dengan Ersya, sepanjang jalan ia terus bercerita banyak


hal.


“Apa kamu sudah menerima sesuatu?” tanya Rangga kemudian.


“Apa?”


“Felic tidak memberi sesuatu padamu?”


“Tidak …! Apa?”


“Nanti juga di berikan sama Felic!”


Akhirnya mobil itu sampai juga di depan rumah Felic.


“Iyya …, mom Eca turun dulu ya, Iyya sama om Rangga lagi nggak pa pa ya!”


“Iyya mom …, nanti kita beltemu lagi ya mom!”


“Iya pasti …!”


Ersya pun segera turun dari mobil dan melambaikan tangannya saat mobil itu mulai


meninggalkannya. Ersya sudah sampai lebih dulu di rumah felic.


“Sya …, kamu sendiri? Mana Felic?” tanya ibu Felic saat Ersya mulai memasuki rumah


itu. Ia sebenarnya hendak lewat tangga depan rumah tapi saat hendak naik, ibu


Felic keluar dari dalam rumah.


“Ada deh, tan! Jangan khawatir dia sama orang yang tepat!” ucap Ersya.


“Maksudnya?”


“Nanti tante juga tahu sendiri, aku masuk kamar Felic dulu ya, Tan!”


Ersya pun segera berlari ke atas dan masuk ke kamar Felic, ia merebahkan tubuhnya di


atas tempat tidur Felic.


“Beruntung sekali Felic, punya suami yang benar-benar sayang sama dia!” ia kembali


mengingat bagaimana bahagianya dulu dengan suaminya. Dan sekarang tinggal


kenangan.


“Ihhhhhh …., sebel …!” ucap Ersya sambil menelungkup kan kepalanya dan menutup kepalanya dengan bantal, tapi ada yang keras di balik bantal itu membuat Ersya kembali


mengangkat kepalanya. Ia duduk dan memeriksa apa yang ada di bawah bantal itu.


 “Undangan?”


Air matanya seperti luluh begitu saja saat membaca nama yang tertera di dalam undangan itu. Nama yang selama ini selalu menempati tempat yang begitu istimewa di hatinya, kini tertera di undangan itu bersanding dengan nama orang lain. Ia kembali mengingat kenangan-kenangan indah yang telah mereka lalui dulu, ia bahkan memutuskan menikah muda dengan pria itu tapi semua itu seakan tidak


berarti lagi bagi pria yang sekarang sudah berubah statusnya menjadi mantan.


Bukan cuma mantan pacar, tapi mantan istri, rasanya lebih menyakitkan dari


sebuah pisau yang menghunus langsung ke jantungnya.


Ia kan hidup menjadi seorang janda tanpa anak, orang-orang akan mengatakan kalau


mungkin saja ia tidak bisa menjadi seorang ibu, itu adalah gelar yang akan membuatnya semakin terpuruk, ia tidak mungkin bisa membungkam mulut mereka satu persatu, karena mereka punya hak untuk bicara.

__ADS_1


Hiks hiks hiks


“Mas Rizal bener-bener tega sama aku ….!” Rancau Ersya di sela tangisnya, ia bahkan


sampai meremas undangan itu, rasanya seperti di terpa ribuan peluru yang langsung


menghujam ke jantungnya dan itu tidak hanya sekali, sampai ribuan kali.


“Apa salahku sebenarnya hingga kau memutuskan untuk meninggalkan ku mas?” rancau


Ersya lagi dengan suara seraknya karena terlalu banyak menangis. Sebelum ini ia


sudah menangis hingga berkali-kali, dan menangis lagi.


Sampai ia tidak menyadari jika Felic dan suaminya sudah kembali. Sebenarnya ia tidak


ingin menangis di depan mereka tapi mereka terlanjur melihatnya.


“Sya …, kamu kenapa?” tanya Felic, dokter Frans pun mempercepat langkahnya karena


Felic dalam gendongan suaminya itu.


Dokter Frans menurunkan Felic di samping ersya, “Sya …?” tanya Felic lagi sambil


memegang bahu Ersya yang masih bergetar.


Ersya segera memeluk felic, “Gue kalah Fe!” ucap Ersya sambil kembali menangis


tersedu di pelukan Felic, Felic hanya bisa memeluk sahabatnya itu dan mengusap


punggungnya berharap sahabatnya itu bisa lebih tenang. Ia melihat apa yang di


pegang Ersya, sekarang ia baru tahu apa yang membuat sahabatnya itu menangis.


“Nggak ada gunanya, Sya nangisin cowok kayak gitu! Cowok kayak gitu mesti kita


hempaskan!” ucap Felic sambil melirik pria yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka, seperti mengatakan jika itu juga berlaku untukmu. Dokter Frans hanya


berdehem dan mencoba mengalihkan perhatian. Ia memilih duduk di kursi kecil dan


pura-pura sibuk dengan ponselnya walaupun telinganya terus mencuri dengar.


“Mana bisa Fe, gue nggak se-tegar lo Fe, ini sudah yang  entah berapa ribu kalinya gue menangis!”


“Jangan gitu Sya, lo itu cantik, lo menarik, lo pinter, berpendidikan, lo nggak kalah sama cewek itu, dia cuma menang harta doang, harta bisa di cari. Jadi jadikan


itu sebagai senjata!” ucap Felic lagi membuat Ersya melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.


“Bagaimana caranya Fe?” tanya Ersya, ia memang pintar tapi tidak secerdik Felic.


“Lakukan hal yang sama di depan pria brengsek itu!”


“Maksudnya?” tanya Ersya penasaran, ia pun mengusap sisa air matanya.


“Lo harus cari cowok yang lebih dari dia, minimal sederajat lah sama dia! Menurut gue lo nggak bakalan susah untuk lakuin hal itu!” ucap Felic dengan penuh


kepastian.


“Mana bisa secepat ini gue dapet cowok, apa lagi gue kan janda!lagi pula hati gue juga belum siap Fe!”


“Mana bisa …, emang ada pria yang mau berhubungan sama wanita tanpa menyertakan hati?”


“Ada!” ucap felic dengan pasti.


“Siapa?” tanya Ersya lagi, bukannya menjawab Felic menatap seorang pria yang sedang duduk sambil sibuk dengan ponselnya itu, Ersya pun akhirnya juga menatap ke


titik yang sama. Merasa suasana menjadi hening membuat dokter Frans tertarik


untuk melihat mereka, ia mengerutkan keningnya bingung saat dua wanita itu menatap


padanya.


“Apa?” tanya dokter Frans.


“Lo yakin Fe?”


“Yakin seyakin-yakinnya!” ucap Felic.


“Maksudnya jadi pacar bohongnya Ersya?” tanya dokter Frans lagi dan dua wanita itu


mengangguk.


“Nggak!” ucap dokter Frans dengan begitu tesa, “Gue nggak mau ikutan kegilaan kalian ya,


nggak ada! Aku cuma milik felic, nggak ada di bagi-bagi!” ucap dokter Frans.


“Sekarang aja gitu, coba kemarin-kemarin!” gerutu Felic lirih.


“Aku dengar ya!” ucap Felic sambil melotot pada suaminya itu.


“Sudah cukup, kalian jangan bertengkar lagi, kita harus memikirkan cara lain! Lagi


pula itu juga nggak mungkin, suamimu selengekan gitu, emang sih ganteng tapi


nggak yakin bisa pegang rahasia!” ucap Ersya.


Hehhhh


….


Mereka berdua menghela nafas dalam bersama-sama lalu menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, kini mereka tiduran bersamaan kecuali tentunya dokter Frans.


Setelah posisinya aman dokter Frans kembali duduk dan sibuk dengan game nyang ada di


ponselnya. Ia ingin mendengar kelanjutan perdebatan mereka.


“Kita akan datang ke sana, dan buktikan padanya kalau kita baik-baik saja!” ucap


Felic tiba-tiba, membuat dokter Frans kembali melotot. Tapi ia berusaha keras menahan mulutnya agar tidak bicara agar ia bisa mendengar kelanjutan rencana


mereka.


“Mana bisa …., lo tega biarin gue datang sendiri dan liat mereka bergandengan! Sakit


banget pasti!” ucap Ersya sambil memegangi dadanya, yang walaupun hanya


membayangkan saja dadanya sudah begitu sesak.

__ADS_1


“Siapa bilang lo bakal datang sendiri! Lo harus cari cowok yang mau datang sama lo,


selain Frans tentunya buat pura-pura jadi cowok lo, syukur-syukur itu beneran!”


“Lo buat gue tambah pusing Fe, dari mana gue bisa nemuin cowok secepat ini! Laki lo


aja nggak mau, emang lo masih punya stok cowok buat gue?”


“Rangga!” ucap Felic kembali sambil tersenyum penuh arti, ia juga menganggukkan


kepalanya.


“Maksudnya?”


tanya Ersya, membuat dokter Frans melotot pada istrinya.


“Iiiissstttt…., apaan sih Frans!?” gerutu Felic karena mendapat pelototan dari suaminya


itu. Ucap dokter Frans.


“Iiistttt


…, aku kan cuma ngasih saran lagian bukan buat aku, nggak sampek meluk


orangnya!”


“Jangan


mulai ya! Aku pernah liat kamu meluk dia lama banget!” ucap dokter Frans yang


tidak mau kalah.


Ersya


hanya bisa mangap-mangap aja karena tidak punya kesempatan untuk bicara di


tengah perdebatan mereka.


Melihat perdebatan mereka semakin sengit saja Ersya jadi berkewajiban untuk


menghentikan perdebatan mereka.


“Stoooppppppp!”


teriak Ersya membuat dua orang yang saling berdebat itu diam sekita.


“Kalian


benar-benar seperti anak kecil semua ya!” ucap Ersya kesal, “Dengerin gue, ini


nggak akan bikin kalian bertengkar lagi, ok!”


“Dia


begitu banget nanggepinya denger nama Rangga! Bikin kesel aja!” gerutu dokter


Frans kesal. Ia masih tidak rela jika mengingat pria itu.


“Lo


nggak cemburu kan fe?” tanya Ersya pada Felic.


“Cemburu


kenapa gue? Jangan macam-macam ya Sya!” ucap Felic. “Emang rencana lo apa sih


Sya?”


“Ya


kali aja lo cemburu Fe!”


 “Bukan cemburu mimin …, tapi lo yakin kalau


mas Rizal nggak bakalan tahu? Undangan itu yang gasih rangga loh!” ucap felic


memastikan.


“Jadi


lo nggak cemburu?” tanya ersya lagi dan kali ini langsung mendapat tanggapan


dari dokter Frans.


“Kalian


bener-bener ya, nggak nganggep banget gue ada!” ucap dokter Frans.


Ha


ha ha ….


Dan


langsung di sambut tawa Ersya dan Felic.


“Ya


udah …! Gue pulang ya!” ucap Ersya sambil menyambar tasnya, ia segera


meninggalkan pasangan suami istri itu.


Ia juga tidak lupa membawa undangan yang di tujukan kepadanya. Ia harus menyiapkan


semuanya sebelum menghadiri pertunangan mantan suaminya yang baru beberapa


bulan lalu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2