Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Hari pertama sekolah


__ADS_3

Pagi ini di rumah itu tampak sangat heboh. Div yang biasanya jika pagi hari jarang ke kamar putrinya tapi hari ini sangat berbeda.


Ia pagi-pagi sekali setelah olah raga segera menyambangi kamar putri nya itu. Ia tidak siap membangunkan putrinya dan memintanya untuk memakai seragam sekolahnya.


Pria dengan kumis tipis di atas bibirnya itu segera naik ke atas tempat tidur yang tidak begitu luas dengan seprei berwarna merah jambu motif hello Kitty.


"Iyya sayang ....!" pria itu mengusap punggung putrinya yang sedang tertidur pulas dan sesekali mengecup kening putri nya itu.


"Sayang ...., bangun!" bisiknya di telinga putrinya setelah tangannya sibuk menyingkirkan anak rambut yang menutupinya.


Gadis kecil itu terlihat mulai menggerakkan tubuhnya, sepertinya dia mulai terganggu dengan ulah daddynya.


"Dadd ...., jangan ganggu Iyya, Iyya macih ngantuk!"


"Benarkah? Bukankah Iyya hari ini sekolah?"


Ucapan Daddinya kali ini berhasil membuat matanya terbuka lebar, ia membalik badannya menatap daddy Div.


"Iyya hampil yupa Dadd!" ucapnya lalu dengan cepat bangun dari tidurnya.


"Bersemangat sekali!" ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik pintu sambil membawa tumpukan baju, sepertinya itu sepasang seragam baru yang selesai di setrika.


"Mom ...!" Divia merentangkan tangannya.


"Divia ...., ada Daddy di sini!" protes pria itu saat putrinya malah lebih bersemangat saat melihat wanita yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Wanita itu pun meletakkan seragam itu di atas sofa, lalu ia berjalan mendekati mereka. Ia duduk di sisi lain pria itu.


"Sini mom peluk!"


Divia segera bergeser dan memeluk wanita itu membuat Div mencebirkan bibirnya.


"Sekarang Divia siap-siap, mandi dan pakek seragam baru!"


"Siap mom!"


Divia dengan cepat turun dan berlari ke kamar mandi, anak itu sekarang lebih mandiri di bandingkan dengan sebelum kedatangan Ersya di rumah itu. Divia yang dulu begitu manja dan jarang tertawa.


"Kamu tidak mengikutinya?" tanya Div. Ia sudah terlalu lama tidak di ributkan dengan tingkah Divia yang aneh-aneh. Bahkan dulu untuk mandi saja, Divia meminta daddy nya yang memandikannya.


Ersya mengerutkan keningnya sambil mengangkat kedua bahunya,


"Buat apa?"


"Ya mandiin dia!"


"Kalau bisa mandi sendiri kenapa mesti di mandiin? Divia sudah besar, sudah bisa mandi sendiri, bahkan mungkin mandinya lebih bersih dari pada kamu!" ucap Ersya sambil mendekatkan wajahnya pada pria itu dengan senyum meremehkan lalu berbalik hendak turun dari atas tempat tidur, tapi tiba-tiba sebuah tangan menarik kembali tangannya hingga ia terjerembap di atas tempat tidur.


"Aughhh!" pekik Ersya.


Belum sampai bisa menguasai dirinya, tiba-tiba tubuh pria itu menindih tubuhnya.


"Div ..., apa yang kamu lakukan?" Ersya tampak begitu panik.


"Cuma ingin membuktikan apa tubuhku bersih atau tidak!" ucapnya dengan senyum menyeringai. Kedua tangan Div menahan tangan Ersya di samping kepalanya hingga wanita itu tidak bisa meronta.


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Kamu bisa mencium tubuhku kan sekarang, atau aku yang harus melakukannya?"


"A-apa? Jangan macam-macam, Divia akan segera keluar, bangun dari tubuhku!"


"Benarkah seperti itu, saya rasa masih ada lima menit untuk Divia keluar, jadi masih cukup waktunya untuk ....!" Lagi-lagi Div tersenyum membuat Ersya semakin merinding saja.


Untuk mengerjaimu ....


"Bagaimana sekarang, apa sudah siap?" tanyanya lagi mencoba membuat wanita di bawahnya itu semakin panik saja. Dan dia berhasil.


"Jangan macam-macam ya, atau aku akan berteriak!"


"Teriak saja, jika kamu mau semua penghuni rumah ini tahu bagaimana mesra nya kita!"


Dia benar-benar ...., matilah aku....


Ersya hanya bisa pasrah, ia memejamkan matanya saat pria di atasnya itu mulai mendekatkan bibirnya. Rasanya udara di sekitarnya tiba-tiba saja berkurang hingga ia kesulitan untuk bernafas.


Ceklek


Divia ....


Sreekkkkk


Dengan kekuatan penuh, Ersya berhasil melepaskan tangannya dan mendorong pria itu. Ia dengan cepat beranjak dari atas tempat tidur.


Dan Div tidur terlentang di atas tempat tidur itu sambil tertawa.


"Dasar mesum ...!" umpat Ersya.


"Sudah selesai sayang?"


"Cudah mom, daddy kenapa teltawa?"


"Tidak pa pa sayang, mungkin dia sedang stress karena banyak pekerjaan, makanya dia tertawa kayak gitu!"


"Memang daddy cuka cekali bekelja! Kacian daddy...!"


"Sudah sekarang ikut mommy, kita pakai seragamnya sayang lalu sarapan!"


🍀🍀🍀


Akhirnya mereka sampai juga di depan sekolah. Div sengaja meluangkan waktunya pagi ini untuk mengantar Divia dan Ersya ke sekolah.


Untuk hari pertama, orang tua di ijinkan untuk menunggui anaknya hingga selesai sekolah. Jadi Ersya berencana untuk menunggui Divia.


Div ikut turun bersama dengan Divia dan Ersya. Ia mengantar hingga ke depan gerbang sekolah.


"Pamit sama daddy sayang!" perintah Ersya.


Divia menoleh pada teman-teman nya yang lain yang juga di antar oleh daddy nya. Ia melihat bagaimana teman-teman nya itu berpamitan.


"Dadd ...!" panggil Divia sambil melambaikan tangannya meminta daddy nya untuk menunduk. div pun melakukan apa yang di minta putri nya.


"Ada apa sayang?"


"Lihat meyeka dad, daddy hayus meyakukan yang cama!" ucap Divia sambil menunjuk ke arah mereka.

__ADS_1


Div mendongakkan kepalanya menatap Ersya dan tersenyum.


Bukan ide yang buruk ....,


Ersya tidak tahu apa arti tatapan Div, tapi saat melihat arah tatapan Div kemudian ia baru tahu maksudnya.


Dia mau memeluk dan menciumku seperti itu ...., jangan harap ....


"Iyya sayang ...., kita harus amsuk sekarang sayang!" ajak Ersya.


"Tapi mom, daddy hayus belpamitan dulu kan cebeyum beyangkat kelja!"


"Iya sayang, daddy akan berangkat kerja, sini mendekatlah!" Div sengaja mengeraskan suaranya agar semua orang mendengarnya.


Dan benar saja, orang-orang yang ada di sekitar mereka menoleh padanya.


"Ayo sayang sini, sebelum aku terlambat ...!" ucap Div lagi sambil meregangkan tangannya.


Ersya hanya bisa menelan salivanya dengan begitu sulit, semua orang menatapnya. Ia terpaksa mendekat pada Div dan ....


Srekkkk


Hal yang paling di sukai oleh pria itu adalah menarik pinggang rampingnya hingga mereka begitu dekat.


"Cium pipiku sayang!" ucap Div lagi, Divia hanya tertawa melihat kelakuan kedua orang tuanya itu.


Tapi Ersya malah menjauhkan bibirnya, ia mencondongkan kelapanya ke belakang.


Dia benar-benar cari keuntungan dalam kesempitan ....


"Lakukan atau kamu mau Divia malu gara-gara mom dan daddy nya tidak akur!?" bisik Div dengan nada mengancamnya.


"Ayo mom, cium daddy!" pinta Divia yang juga menunggu saat-saat itu.


"Di cium ya!?" ucapnya lirih, lalu ia menatap pipi putih halus di depannya, lagi-lagi ia menelan salivanya dengan begitu susah dan perlahan mendekatkan bibirnya pada pipi itu. Dan .....


Srekkkk


Cup


Dengan cepat Ersya mendaratkan ciuman di bibir Div ...., ya dengan sengaja pria itu menoleh padanya di saat yang tepat hingga bibir itu mendarat di bibir Div.


Ersya sampai membelalakkan matanya. Divia yang melihat di bawah sampai menutup mulutnya dengan tangan, matanya berbinar.


Dengan cepat Ersya menjauhkan kembali bibirnya. Ingin sekali rasanya mengumpat tapi orang-orang itu melihatnya.


"Sudah ..., lepaskan tanganmu sekarang!" ucap Ersya tanpa menggerakkan bibirnya. Ia tetap berusaha tersenyum walaupun ingin sekali berteriak pada pria di depannya itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2