
Ersya segera menghempaskan tangan
Divta saat mereka sudah berada di tempat yang jauh dari jangkauan wartawan.
“Kamu …!” teriak Ersya sambil
menunjuk wajah Divta, tapi dengan cepat Divta menarik tangan itu dan
mendekatkan bibirnya pada pipi Ersya. Jika orang melihat mereka pasti mengeri
jika Divta sedang mencium pipi Ersya.
“Diam dan nikmati saja permainanku!”
bisik Divta.
"Duduklah sayang ....!"
ucap Divta sambil menggeser kursi yang tepat di belakang Ersya hingga membuat
tubuhnya condong ke tubuh Divta.
Segala perlakuan Divta tidak lepas
dari pengawasan beberapa mata, salah satunya mata Rizal, ia seperti terbakar
cemburu dengan perlakuan Divta pada mantan istrinya itu.
Setelah kursi itu di geser, Divta
segera mendekatkan kembali wajahnya pada Ersya hingga Ersya terjerembak di
kursi itu. Setelah Ersya duduk Divta pun menggeser kursinya sendiri sedikit
dekat ke Ersya dan duduk di sana.
Ersya masih diam dan menatap begitu
kesal pada Divta.
"Bersikaplah manis
padaku!" ucap Divta sambil meneguk minuman yang ada di depannya.
“Bagaimana bisa …, kau tiba-tiba
datang dan kita tidak saling mengenalmu!” ucap Ersya yang masih tidak mengerti.
"Apa ini ada hubungannya dengan
Felic?" tanya Ersya memastikan lagi saat melihat pria di depannya tetap
saja duduk dengan tenang. Seperti tidak terjadi apapun antara meraka.
Kali ini Divta mengerutkan
keningnya, ia tidak ingat dengan nama Felic, ia memang baru bertemu dengan
Felic sekali saja di acara makan malam itu, mana dia ingat, "Felic
....?"
"Iya ...., Felic ...! Felic
sahabatku?" Ersya masih tidak percaya dengan ekspresi Divta yang
sepertinya tidak mengenal Felic.
"Mana aku tahu siapa
Felic!" ucap Divta dengan santainya, ia memang seperti pernah mendengar
nama itu tapi ia lupa di mana.
"Kalau nggak kenal, lalu kenapa
mengaku jadi calon suamiku?" ucap Ersya sambil memegangi kepalanya yang
rasanya mau pecah, "Kalau bukan bagian dari rencana Felic, lalu dari mana
kamu tahu kalau aku butuh pasangan?"
"Nggak usah bingung kayak gitu,
semalam aku mendengar semuanya!" ucap Divta dengan tenangnya sambil
menyilangkan kakinya.
"Semalam ...?!" Ersya
segera menutup dadanya saat ingat dengan keadaannya tadi pagi yang hanya mengenakan
bra nya saja tanpa baju apapun.
"Jangan khawatir, saya tidak
melakukan apa-apa!"
__ADS_1
"Mana aku percaya?! Aku mabuk
semalam!"
"Kamu muntah di baju saya dan
mengenai bajumu! Dari pada masuk angin ya aku lepas!"
"Atau mau kita lanjutkan sekarang,
sekalian menguatkan pada mereka kalau kita memang punya hubungan?!" ucap
Divta dengan senyum mencurigakan, ia kembali mendekat kan wajahnya pada Ersya.
Mengungkung sisi kanan dan kiri Ersya dengan tangannya.
"Kamu ....!"
"Diam dan kita lanjut kan permainan!"
bisik Divta, begitu dekat dengan wajah Ersya membuat Ersya seakan seperti
tersetrum beberapa volt tegangan listrik.
"Mereka masih memperhatikan
kita!" bisik Divta lagi, membuat Ersya menoleh ke arah mata Divta dan
benar Rizal dan Tisya masih memperhatikan mereka.
"Sayang ...., aku benar-benar
merindukan mu!" ucap Divta dengan sedikit keras agar mereka mendengarnya.
"Aku juga sayang ...., aku
hampir mati tadi! Untung kamu datang di waktu yang tepat sayang ....!"
Tisya benar-benar kesal, ia tidak
tahu apa yang istimewa dengan Ersya. Ia yang lebih segala-galanya kenapa bisa
kalah dengan wanita sekelas Ersya.
"Aku ke kamar mandi dulu!"
ucap Tisya kesal dan meninggalkan Rizal sendiri.
Rizal yang hanya sendiri pun
Ha ha ha ....
Divta dan Ersya tertawa bersama-sama
saat berhasil mengusir hama pengganggu itu.
Ersya menghela nafas lega sambil
menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, "Ini benar-benar luar biasa
...., aku menang banyak hari ini!"
"Semua itu berkat bantuan
saya!" ucap pria di depannya sambil menyesap minumannya.
"Iya terimakasih deh ....,
besok kita tidak usah ketemu lagi! Jadi terimakasih nya aku dobel aja deh
terimakasihnya!"
"Siapa bilang!" ucap Divta
sambil menatap Ersya.
"Kenapa?"
“Mungkin setelah ini kita akan
sering bertemu, dan ingatlah bantuan saya ini sebagai hutang!”
“Hutang …, ah gila …! Aku bahkan
tidak punya uang hanya untuk menyewa satu bodyguard
milikmu itu dan kau punya banyak!
Astaga …, bagaimana bisa aku membayarnya!” ucap Ersya. Ia hanya seorang
karyawan bank swasta, gajinya satu bulan jelas tidak akan cukup untuk membayar
satu bodyguard saja.
kenapa orang yang sudah banyak uang
kayak dia masih pengen uang orang kecil ....., sial banget gue....
__ADS_1
“jangan cerewet …, Saya tidak butuh
uangmu!”
Ersya mengerutkan keningnya, jika
bukan uang, “lalu …?"
“Setelah ini, kau tidak akan bisa
berkeliaran bebas lagi karena semua media masa sudah melihat wajahmu!”
"Wajahku ....?"
Ersya baru teringat jika sedari tadi
para pencari berita itu terus mengambil gambarnya dan parahnya gambar kemesraan
mereka. ahhhh cobaan apa lagi ini …..
"Iya ...., besok semua media
masa pasti akan di penuhi dengan wajahmu, termasuk berita-berita bisnis di
televisi!"
“Hahh …, kegilaan macam apa lagi ini
…!” Ia sempat melupakan paparazi yang beberapa waktu lalu sudah menangkap
wajahnya.
Orang seperti apa yang sebenarnya
berhadapan denganku ini ...., apa dia seorang pangeran? Putra presiden? Kenapa
beritanya sangat di buru wartawan....?
“Ini bukan kegilaan, jadi nikmati
saja!” ucap Divta dengan masih santainya.
Di tempat lain, Tisya begitu kesal
dan meminum minuman yang di sediakan dengan begitu rakus.
"Sayang ....., kenapa wajahnya
di tekuk begitu udah mau tunangan?" tanya mamanya yang tiba-tiba saja
berdiri di sampingnya, entah sejak kapan wanita cantik itu memperhatikan
putrinya itu.
"Maam ....!"
"Kenapa sayang ...?" tanya
nyonya Tania sambil mengusap kepala putrinya.
"Aku kesel banget ma!"
"Kesel kenapa?"
"Mama ingat mantan istrinya mas
Rizal?"
"Iya ...., kenapa dengannya?
Apa dia buat gara-gara lagi?"
"Dia permaluin aku sama mas
Rizal mas, dan mama tahu apa yang paling parah?"
"Apa?"
"Mama ingat sama Divta kan, CEO
finityGroup! Dia ngaku calon suaminya Ersya ma ....! Coba mama lihat Tisya,
kurang apa coba? Tisya aja sama sekali nggak di lirik sama dia ma, tapi Ersya.
Kenapa harus wanita itu sih ma, kesel banget aku ma!"
"Sabar sayang ...., kamu cantik
sayang! Sangat cantik! Jadi berbahagialah ...., Rizal juga luar biasa, kamu
cinta kan sama dia?"
"Cinta ma!"
"Ya sudah ...., nggak usah
kesel sayang!"
__ADS_1