Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Hutang


__ADS_3

Ersya segera menghempaskan tangan


Divta saat mereka sudah berada di tempat yang jauh dari jangkauan wartawan.


“Kamu …!” teriak Ersya sambil


menunjuk wajah Divta, tapi dengan cepat Divta menarik tangan itu dan


mendekatkan bibirnya pada pipi Ersya. Jika orang melihat mereka pasti mengeri


jika Divta sedang mencium pipi Ersya.


“Diam dan nikmati saja permainanku!”


bisik Divta.


"Duduklah sayang ....!"


ucap Divta sambil menggeser kursi yang tepat di belakang Ersya hingga membuat


tubuhnya condong ke tubuh Divta.


Segala perlakuan Divta tidak lepas


dari pengawasan beberapa mata, salah satunya mata Rizal, ia seperti terbakar


cemburu dengan perlakuan Divta pada mantan istrinya itu.


Setelah kursi itu di geser, Divta


segera mendekatkan kembali wajahnya pada Ersya hingga Ersya terjerembak di


kursi itu. Setelah Ersya duduk Divta pun menggeser kursinya sendiri sedikit


dekat ke Ersya dan duduk di sana.


Ersya masih diam dan menatap begitu


kesal pada Divta.


"Bersikaplah manis


padaku!" ucap Divta sambil meneguk minuman yang ada di depannya.


“Bagaimana bisa …, kau tiba-tiba


datang dan kita tidak saling mengenalmu!” ucap Ersya yang masih tidak mengerti.


"Apa ini ada hubungannya dengan


Felic?" tanya Ersya memastikan lagi saat melihat pria di depannya tetap


saja duduk dengan tenang. Seperti tidak terjadi apapun antara meraka.


Kali ini Divta mengerutkan


keningnya, ia tidak ingat dengan nama Felic, ia memang baru bertemu dengan


Felic sekali saja di acara makan malam itu, mana dia ingat, "Felic


....?"


"Iya ...., Felic ...! Felic


sahabatku?" Ersya masih tidak percaya dengan ekspresi Divta yang


sepertinya tidak mengenal Felic.


"Mana aku tahu siapa


Felic!" ucap Divta dengan santainya, ia memang seperti pernah mendengar


nama itu tapi ia lupa di mana.


"Kalau nggak kenal, lalu kenapa


mengaku jadi calon suamiku?" ucap Ersya sambil memegangi kepalanya yang


rasanya mau pecah, "Kalau bukan bagian dari rencana Felic, lalu dari mana


kamu tahu kalau aku butuh pasangan?"


"Nggak usah bingung kayak gitu,


semalam aku mendengar semuanya!" ucap Divta dengan tenangnya sambil


menyilangkan kakinya.


"Semalam ...?!" Ersya


segera menutup dadanya saat ingat dengan keadaannya tadi pagi yang hanya mengenakan


bra nya saja tanpa baju apapun.


"Jangan khawatir, saya tidak


melakukan apa-apa!"

__ADS_1


"Mana aku percaya?! Aku mabuk


semalam!"


"Kamu muntah di baju saya dan


mengenai bajumu! Dari pada masuk angin ya aku lepas!"


"Atau mau kita lanjutkan sekarang,


sekalian menguatkan pada mereka kalau kita memang punya hubungan?!" ucap


Divta dengan senyum mencurigakan, ia kembali mendekat kan wajahnya pada Ersya.


Mengungkung sisi kanan dan kiri Ersya dengan tangannya.


"Kamu ....!"


"Diam dan kita lanjut kan permainan!"


bisik Divta, begitu dekat dengan wajah Ersya membuat Ersya seakan seperti


tersetrum beberapa volt tegangan listrik.


"Mereka masih memperhatikan


kita!" bisik Divta lagi, membuat Ersya menoleh ke arah mata Divta dan


benar Rizal dan Tisya masih memperhatikan mereka.


"Sayang ...., aku benar-benar


merindukan mu!" ucap Divta dengan sedikit keras agar mereka mendengarnya.


"Aku juga sayang ...., aku


hampir mati tadi! Untung kamu datang di waktu yang tepat sayang ....!"


Tisya benar-benar kesal, ia tidak


tahu apa yang istimewa dengan Ersya. Ia yang lebih segala-galanya kenapa bisa


kalah dengan wanita sekelas Ersya.


"Aku ke kamar mandi dulu!"


ucap Tisya kesal dan meninggalkan Rizal sendiri.


Rizal yang hanya sendiri pun


Ha ha ha ....


Divta dan Ersya tertawa bersama-sama


saat berhasil mengusir hama pengganggu itu.


Ersya menghela nafas lega sambil


menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, "Ini benar-benar luar biasa


...., aku menang banyak hari ini!"


"Semua itu berkat bantuan


saya!" ucap pria di depannya sambil menyesap minumannya.


"Iya terimakasih deh ....,


besok kita tidak usah ketemu lagi! Jadi terimakasih nya aku dobel aja deh


terimakasihnya!"


"Siapa bilang!" ucap Divta


sambil menatap Ersya.


"Kenapa?"


“Mungkin setelah ini kita akan


sering bertemu, dan ingatlah bantuan saya ini sebagai hutang!”


“Hutang …, ah gila …! Aku bahkan


tidak punya uang hanya untuk menyewa satu bodyguard


milikmu itu dan kau punya banyak!


Astaga …, bagaimana bisa aku membayarnya!” ucap Ersya. Ia hanya seorang


karyawan bank swasta, gajinya satu bulan jelas tidak akan cukup untuk membayar


satu bodyguard saja.


kenapa orang yang sudah banyak uang


kayak dia masih pengen uang orang kecil ....., sial banget gue....

__ADS_1


“jangan cerewet …, Saya tidak butuh


uangmu!”


Ersya mengerutkan keningnya, jika


bukan uang, “lalu …?"


“Setelah ini, kau tidak akan bisa


berkeliaran bebas lagi karena semua media masa sudah melihat wajahmu!”


"Wajahku ....?"


Ersya baru teringat jika sedari tadi


para pencari berita itu terus mengambil gambarnya dan parahnya gambar kemesraan


mereka. ahhhh cobaan apa lagi ini …..


"Iya ...., besok semua media


masa pasti akan di penuhi dengan wajahmu, termasuk berita-berita bisnis di


televisi!"


“Hahh …, kegilaan macam apa lagi ini


…!” Ia sempat melupakan paparazi yang beberapa waktu lalu sudah menangkap


wajahnya.


Orang seperti apa yang sebenarnya


berhadapan denganku ini ...., apa dia seorang pangeran? Putra presiden? Kenapa


beritanya sangat di buru wartawan....?


“Ini bukan kegilaan, jadi nikmati


saja!” ucap Divta dengan masih santainya.


Di tempat lain, Tisya begitu kesal


dan meminum minuman yang di sediakan dengan begitu rakus.


"Sayang ....., kenapa wajahnya


di tekuk begitu udah mau tunangan?" tanya mamanya yang tiba-tiba saja


berdiri di sampingnya, entah sejak kapan wanita cantik itu memperhatikan


putrinya itu.


"Maam ....!"


"Kenapa sayang ...?" tanya


nyonya Tania sambil mengusap kepala putrinya.


"Aku kesel banget ma!"


"Kesel kenapa?"


"Mama ingat mantan istrinya mas


Rizal?"


"Iya ...., kenapa dengannya?


Apa dia buat gara-gara lagi?"


"Dia permaluin aku sama mas


Rizal mas, dan mama tahu apa yang paling parah?"


"Apa?"


"Mama ingat sama Divta kan, CEO


finityGroup! Dia ngaku calon suaminya Ersya ma ....! Coba mama lihat Tisya,


kurang apa coba? Tisya aja sama sekali nggak di lirik sama dia ma, tapi Ersya.


Kenapa harus wanita itu sih ma, kesel banget aku ma!"


"Sabar sayang ...., kamu cantik


sayang! Sangat cantik! Jadi berbahagialah ...., Rizal juga luar biasa, kamu


cinta kan sama dia?"


"Cinta ma!"


"Ya sudah ...., nggak usah


kesel sayang!"

__ADS_1


__ADS_2