Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Mungkinkah cemburu?


__ADS_3

"Om Langga?"


Gadis kecil yang baru saja keluar dari kamar itu tampak mengerutkan keningnya. Mungkin dia merasa heran karena semenjak sekolah, om Rangga nya itu jarang ke rumahnya.


Pria dengan jas khas berwarna hitam itu segera menoleh ke sumber suara, dia tersenyum dan melambaikan tangannya,


"Hai Iyya! Sudah rapi ya, sudah siap untuk berangkat ke sekolah?"


Gadis kecil itu lagi-lagi mengerutkan keningnya, ia menekuk tangan kirinya di pinggang dan tangan kanannya ia gunakan untuk menunjuk dagunya, menempelkan jari telunjuknya beberapa kali ke dagunya seperti sedang menduga-duga,


"Kenapa om Langga yang mengantarku ke sekolah?"


"Karena kata daddy, mom Echa sedang kurang enak badan! Jadi Iyya berangkatnya sama om Rangga!"


"Kemayin mom baik-baik aja!"


"Kurang enak badannya mulainya semalam!"


"Oooooohhhh!" lagi-lagi Divia mengetuk dagunya untuk memastikan jika informasi yang di dengar itu benar, "Kalau begitu, Iyya mau ketemu cama mom dulu, om Langga tetap di cini!"


Divia pun berlalu begitu saja meninggalkan Rangga, ia segera menuju ke kamar daddynya.


"Daddy ...., Iyya mau macuk!" teriaknya dari luar dengan tangan mungil yang sudah menarik gagang pintu yang ada di atas kepalanya.


Ceklek


Div yang sedang fokus dengan layar datarnya itu segera berdiri dan menyambut putrinya,


"Sayang ...., belum berangkat?"


"Kata om Langga, mom kuyang enek badan! Iyya mau ketemu!" ucapnya sambil kembali berkacak pinggang, Div segera menghampirinya dan menggendongnya, mengajaknya ke sofa.


"Mom masih di kamar mandi sayang, Iyya sudah sarapan?"


"Iyya cudah cayapan dad, encus yang buatkan!"


Div tersenyum dan mengusap kepala Divia. Ia benar-benar tidak menyadari jika putrinya sudah tumbuh dan mandiri, "Anak pintar, makan sendiri atau di suapi?"


"Kata mom, celagi kita bica hayus di lakukan cendiyi!"


Ceklek


Terdengar pintu kamar mandi terbuka, kedua orang itu segera menoleh ke sumber suara. Ersya keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan baju mandi.


"Mooommm ....!" panggil Divia sambil berlari menghampiri mom nya dan memeluk pinggangnya begitu erat.


"Sayang, kamu sudah siap! Sebentar ya mom ganti baju dulu!" ucap Ersya tapi segera menghampiri mereka dan memeluk Ersya dari belakang.


Srekkkkk


"Mas!" pekik Ersya terkejut.


"Kamu kan kurang enak badan, jadi hari ini biar Rangga yang mengantar Divia ke sekolah. Kamu biar aku yang menemani di rumah, iya kan Iyya?"

__ADS_1


Nihh apa-apaan nih? Maksudnya hari ini aku nggak boleh ke mana-mana? Dia kan tahu aku datang bulan, trus mau ngapain? Atau jangan-jangan alasannya agar aku tidak menemui mas Rizal ...., batin Ersya mencoba mencari tahu apa alasan suaminya melarang mengantar Divia.


"Iya, mom! Mom istiyahat aja! Iyya nggak pa pa pelgi cama om Langga! Iyya nggak mau cakitnya mom cemakin payah!"


"Tapi Iyya sayang_!" Ersya berusaha untuk membantah tapi Div segera memotong ucapannya.


"Iya sayang, biarkan mom istirahat! Kasihan kan mom pasti capek ngurusin kita!"


Ersya menahan kesal dengan ucapan Div dan pria itu hanya tersenyum dengan penuh maksud.


"Iyya sayang, daddy antar ke depan ya, biarkan mom Echa istirahat, lihat badannya kurus kering seperti itu, dia pasti akhir-akhir ini kurang makan!"


"Siap Dad, mom cepat sembuh ya!" ucap Divia sambil memberikan kecupan ke pipi Ersya.


Setelah Divia dan Div meninggalkan kamar itu, Ersya menggerutu kesal.


"Dia benar-benar licik!"


Kring kring kring


Tiba-tiba suara ponselnya berdering membuat Ersya teralihkan perhatiannya, dengan cepat Ersya menyambar ponselnya yang kebetulan berada tidak jauh darinya.


"Fe?!"


Dengan cepat Ersya menggeser tombol hijau, hingga layar ponselnya di penuhi dengan wajah sahabatnya itu,


"Hai Er!" sapa di seberang sana sambil melambaikan tangannya.


"Lucu kali Sya, di panggil Er! Cari yang beda! Gue kangen banget sama Lo!"


Ersya segera duduk di depan meja rias dan menghela nafas, "Gue juga Fe, kapan pulang?"


"Besok, Lo ke rumah gue ya besok! Gue ada oleh-oleh buat lo!"


"Apa? Pisang? Jangan bilang kelapa? Gue kira lo udah betah banget di kampung trus mutusin buat stay di sana!"


"Kalau gue sih asal sama suami gue tercinta, di mana aja betah!"


"Ihhh mau Lo, coba aja dulu gitu, nggak ada tuh acara ngambek-ngambekan lama! Eh iya Fe, tapi besok gue nggak janji ya!?"


"Kenapa?" terlihat raut wajah kecewa dari sahabatnya itu.


"Gue lagi di kurung nih sama pak Div, masak ngantar Divia ke sekolah aja gue nggak di bolehin!"


"Emang apa alasannya?"


"Sebenarnya semalem dia marah gara-gara gue jengukin mas Rizal di rumah sakit, soalnya gue kasihan sama mas Rizal, dia sepertinya sangat depresi!"


"Nah itu lo dong yang salah!"


"Lo kok malah nyalahin gue sih?"


"Itu tandanya laki lo udah mulai cemburu tuh! Hati-hati, jangan suka main hati, laki-laki kalau udah cemburu suka nggak terkontrol!"

__ADS_1


"Ahh yang bener lo Fe, nggak mungkin lah mas Divta cemburu, dia cuma nganggep gue baby sitter nya Divia aja!"


"Yakin lo, awalnya gue sama suami gue juga gitu, tapi cinta itu tumbuh karena terbiasa Sya! Lo coba deh tanya sama pak Div? Atau kalau nggak lo coba tanya sama diri lo sendiri, seberapa berarti pak Div buat lo?"


Ersya terdiam, ia memikirkan ucapan sahabatnya itu. Ia memang tidak pernah memikirkan hal lain selain Divia, tapi apa mungkin memang ada yang terlewat. Kenapa dia bisa mengikhlaskan tubuhnya kepada pria asing itu? Ada hal yang aneh saat pria itu menatapnya.


Ceklek


Tiba-tiba pintu di buka dari luar, Ersya tersadar dari lamunannya,


"Udah dulu ya, mas Div datang!"


Ersya dengan cepat mematikan sambungan telponnya.


"Telpon dari siapa?" tanya Div menyelidik dan menghampiri Ersya.


"Dari Fe!"


"Coba lihat!"


"Apaan sih? Masak telponan sama Fe aja nggak boleh, ini juga ponsel-ponsel ku sendiri!" protes Ersya.


Mendengarkan protes Ersya yang panjang lebar, Div mendekatkan tubuhnya pada Ersya hingga Ersya mencondongkan tubuhnya ke belakang dan punggungnya membentur meja rias. Wajah mereka begitu dekat hingga nafas Div menyapu pipi Ersya.


"Ma_mau ngapain?" tanya Ersya gugup.


Srekkkk


Tiba-tiba ponsel Ersya sudah berpindah di tangan Div, "Aku akan membawa ponselmu, ponsel ini akan kembali besok pagi!"


Div segera menjauhkan tubuhnya dari Ersya dan kembali duduk di sofa menikmati kopinya yang sudah mulai dingin.


Ersya menjejakkan kakinya beberapa kali dengan begitu kesal,


"Aku bisa bosan mas tanpa ponsel dan juga tidak kemana-mana!"


Div hanya tersenyum seperti biasa sambil melirik ke arah Ersya.


Percuma ngomong sama dia ....


Ersya pun memilih untuk pergi ke ruang ganti dan mengganti bajunya.


...Mungkin, kita salah satu tokoh pendukung di kisah lain, tapi saat penulis mempertemukan kita, aku ingin menciptakan kisah kita sendiri sebagai tokoh utama. Bahkan walaupun Rahwana adalah tokoh antagonis di kisah Ramayana tapi dia menjadi protagonis di kisahnya sendiri dengan cinta sejatinya...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2