
Div tidak mau berdebat lagi, ia memilih untuk berlalu begitu saja tapi wajahnya tidak seperti tadi sebelumnya. Entah kenapa setiap kali mengingat kedekatan Ersya dengan Rangga rasanya begitu kesal.
Memang apa bagusnya Rangga? masih juga bagusan aku kemana-mana ...., batin Div sambil kembali duduk di sofa dan memeriksa berkasnya.
Walaupun begitu ia sangat tidak fokus apalagi Ersya terlihat begitu senang saat membungkus semua oleh-oleh itu.
Apa yang sedang dia pikirkan? batin Div begitu penasaran, ia hanya mengamati Ersya sambil memutar-mutar pulpennya saja tanpa berkeinginan untuk melanjutkan pekerjaannya.
*Dia benar-benar keterlaluan, tidak tahu apa aku sedang kesal, seharusnya dia berusaha untuk membujukku ....
Brakkkkk*
Div memukul meja di depannya dengan keras hingga membuat Ersya menatap padanya dan mengerutkan keningnya seperti sedang ingin bertanya.
"Ada apa sih mas?"
"Aku ngantuk, mau tidur!"
Div menyelesaikan pekerjaannya dengan menutup semua berkas di tangannya.
Kalau mau tidur yang tidur aja, kenapa juga pakek ngagetin orang ...., batin Ersya kesal, ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Melihat Ersya tidak peduli padanya, Div begitu kesal ia pun berdiri meninggalkan sofa menuju ke tempat tidur.
Setelah melepas sendal bulunya, ia pun naik ke tempat tidur dan tidak lupa mematikan lampu dengan sengaja agar Ersya menghentikan pekerjaannya.
"Mas kenapa dimatiin?" protes Ersya. Bukannya menjawab, Div malah menutup tubuhnya dengan selimut membuat Ersya begitu kesal, pasalnya masih ada beberapa barang yang belum di masukkan ke dalam paper bag.
“Dia kenapa sih?” gumamnya.
Atau jangan-jangan dia marah lagi? Ihhh ...., suka banget marah-marah nggak jelas, batin Ersya. Alih-alih ingin mengabaikan saja tapi ternyata tetap membuatnya tidak tega.
Ersya pun memilih menyudahi kegiatannya, mungkin dia bisa meminta bantuan encus besok pagi sebelum berangkat ke Jakarta.
Sebenarnya ada surprise yang belum Ersya berikan pada suaminya. Tapi ada Divia di tempat tidur mereka, ia tidak mungkin memberitahukannya. Tapi melihat wajah kesal tadi pagi membuatnya tidak tega.
Setelah merapikan barang-barang nya, Ersya pun menyusul suami dan putrinya. Kali ini ia tidak di sebelah putrinya tapi ia memilih sisi lain.
Ersya pun perlahan mendekati suaminya itu, ia duduk di lantai dengan tangan yang ia lipat di depan Div. setelah puas menatap wajah
Div yang sedang memejamkan mata itu, tangannya tertarik untuk melukis sesuatu
di atas hidup pria itu, ia mulai menggerakkan jarinya dan melukis di sama dengan jarinya.
Srekkkk
Tiba-tiba tangannya di tahan begitu kuat oleh
pemilik wajah membuat Ersya memekik,
“Augh!”
“Jangan membangunkan singa yang sedang tidur!” gumam Div masih memejamkan matanya.
__ADS_1
“Tidak, aku hanya ingin memberitahu saja kalau
hukumanku sudah bisa di jalankan sekarang!”
“Hahhh?” Div sepertinya langsung faham dengan ucapan istrinya itu.
Div seketika membuka matanya lebar mendengar ucapan Ersya, “Maksudnya?”
“Sebenarnya tadi sepulang dari jalan-jalan aku lihat tamu bulananku sudah pergi makannya aku mandi keramas!”
“Benarkah?” lagi-lagi ia ingin memastikan kebenarannya. Dan hal yang sa yang di lakukan oleh Ersya, ia mengangguk dengan cepat.
Seketika Div merubah posisinya menjadi duduk dan tangannya terus menarik tangan Ersya.
“Iya, tapi karena ada Divia, jadi buka puasanya
besok saja saat di Jakarta ya!” ucap Ersya sambil berusaha melepaskan tangan suaminya itu.
“Mana bisa seperti itu!”
“Trus?”
Div tersenyum sambil menatap istrinya itu,
“Kita belum pernah mencobanya di dalam air!” ucapnya.
“Maksudnya?”
Div segera turun dari tempat tidur dan …
Srekkkk
Div kembali meninggalkan Ersya dan menutup pintu, menguncinya dari dalam. Ia tidak mau buka puasanya terganggu karena Divia terbangun.
Entah kenapa melihat Ersya tersenyum membuat keinginannya untuk menyentuh wanita itu semakin besar saja. Div segera melepaskan kemeja tidurnya hingga meninggalkan celana panjangnya saja. Ia berjalan perlahan dan ikut masuk ke dalam bath up, merangkak mendekatkan tubuhnya pada Ersya membuat Ersya mencondongkan tubuhnya ke belakang.
“Mas …, jangan menakutiku seperti itu!”
Div hanya tersenyum dan tangannya langsung menarik tubuh Ersya hingga kini posisi mereka setengah tertidur. Tidak membuang waktu Div segera ******* bibir Ersya, satu persatu baju Ersya terlepas oleh tangan Div begitupun dengan dirinya.
Div menambahkan air ke dalam bathtub hingga penuh, mereka benar-benar seperti sedang menikmati satu sama lain saling memberi dan memanjakan.
***
Pagi ini Ersya sudah menyelesaikan semua
barang-barang yang akan di bagikan untuk oleh-oleh di bantu oleh encus. Divia sudah siap dengan bajunya yang rapi.
“Ayo mom, cepetan!”
“Sebentar dong sayang, mom kan belum ganti baju!”
“Pakai itu saja, mom cudah cantik!”
__ADS_1
“Ahhhhh …., putri mom benar-benar pengertian!”
Tiba-tiba Div keluar dengan memakai kaos yang semalam diberikan oleh Ersya membuat Ersya tertegun.
Dia memakainya? Aku kira .....
“Bagaimana menurutmu? Terlalu norak ya?” tanya Div sambil menarik kaos yang sedang di pakainya itu.
Ersya dan Divia hanya menelan salivanya, ia kita suaminya itu akan malu memakainya tapi ternyata dugaannya salah. Dan dengan cepat Ersya menggelengkan kepalanya,
“Bagus! Iya kan Iyya?” ucapnya memberi penilaian Sabil bertanya pada putrinya.
Divia menatap mommynya meminta pendapat dan Ersya mengangguk perlahan.
“O ..., Iya! Daddy keyen pakek itu!” ucapnya sambil mengacungkan dua jempol pada Daddy Div.
“Lalu di mana bajumu?” tanya Div kemudian saat melihat Ersya tidak memakai bajunya. Ia tampak masih memakai baju yang di pakai semalam.
“Bajuku? Oh bajuku masih di dalam, aku belum ganti baju, iya kan Iyya?” lagi-lagi Ersya mencoba meminta Divia untuk membelanya.
Divia hanya bisa menganggukkan kepalanya.
“Ya sudah, kalian keluar dulu, aku mau ganti baju!” ucap Ersya lagi sambil meminta encus dan semua yang ada di situ keluar.
“Baik nyonya!” dua perawat pergi dengan membawa Divia, mereka juga ingin mengangkat koper Ersya dan membawanya ke mobil.
“Ehh tunggu, kopernya biar di sini saja!”
“Kenapa? Encus akan membantumu membawa ke mobil!”
“Biar aku bawa saja, tadi ada yang ke tinggalan di dalam jadi biar aku bawa sendiri saja!”
“Baiklah terserah kamu!” ucap Div menyerah. Saat semuanya sudah keluar tapi Ersya mengerutkan keningnya saat Div masih berdiri di depannya.
“Mas, kenapa masih di sini?”
“Ya menemani kamu pakek baju!”
Enak aja ...., kan yang terutama kamu yang harus keluar, bisa bahaya kalau ketahuan aku nggak bermaksud memakai baju itu ....
“Jangan dong mas, lebih baik mas sekarang temani Divia dulu sarapan, aku akan menyusul, segera…, janji!” ucap Ersya sambil mengangkat kedua jarinya dan melebarkan senyumnya menampakkan gigi-gigi putihnya yang berjajar rapi.
“Baiklah!”
Bersambung
...Cinta bukan tentang bagaimana memanjakan pasangan dengan barang-barang mewah, tapi tentang bagaimana bisa kita menghargai hal-hal kecil yang diberikan pasangan kita...
Jangan lupa untuk memberikan like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...