Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Season 2 (19. Ciuman yang panas)


__ADS_3

Divia sedari sore sudah mondar-mandir di ruang tamu, ia sedang menunggu kedatangan seseorang. Tangannya beberapa kali memeriksa ponselnya berharap pria yang tengah di tunggunya datang.


Beruntung Dee sudah tidur sedari tadi, ia benar-benar bisa di buat gila oleh pria ini.


"Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu pada Moms Echa. Memang dia pikir dia siapa," Divia terus saja menggerutu, ia masih teringat bagaimana Moms nya memuji pria aneh itu.


"Dasar sok baik, pintar sekali dia cari muka. Pengen banget aku cincang-cincang jadi kayak bregedel."


Nafas Divia bahkan sampai terengah-engah karena menahan emosi, hingga suara klakson mobil yang baru masuk gerbang membuat semangat marah-marah nya semakin berkobar.


Brakkkk


Divia membuka kasar pintu utama, tapi seketika ia terdiam saat melihat Kim sedang di papah oleh Lee dengan aroma yang menyengat dari mulutnya,


"Kim..!" Divia menoleh pada Lee yang tampak kelelahan membawa Kim, "Dia kenapa?"


Divia yang memang tidak pernah mengetahui aroma alkohol seperti apa merasa asing dengan bau yang menyengat itu,


"Kenapa dia bau sekali?" Divia sampai menutupi hidungnya dengan tangan.


"Maaf nona, tapi Mr Kim sedang mabuk, bisa bantu aku membawa Mr Kim ke kamarnya?"


"Tentu."


Divia pun membantu Lee untuk memapah Kim hingga ke kamarnya, mereka menjatuhkan tubuh Kim ke atas tempat tidur,


"Nona, bisa saya minta tolong?"


"Minta tolong apa?"


"Tolong jaga Mr Kim."


"Kenapa harus saya? kamu kan yang kekasihnya, seharusnya kamu yang merawatnya!?"


Seketika Lee tercengang dengan ucapan Divia,


"Maksud nona_,"


"Ya maksud saya, kalian kan punya hubungan khusus selain sebagai bos dan sekretaris."


"Maksudnya hubungan khusus?"


"Ya gitu_!?" Divia menyatukan kedua ujung jari telunjuknya dan mengedipkan matanya cepat pada Lee.


"Maaf nona saya tidak mengerti, kalau begitu saya pergi!?" walaupun dia tahu tapi dia tidak mau meladeni ucapan Divia. Bahkan Lee mempercepat langkahnya agar segera pergi dari Divia.

__ADS_1


"Memang siapa yang aneh!?" Lee bergidik membayangkan kembali ucapan Divia.


Di dalam kamar itu Divia terpaksa tidak bisa meninggalkan Kim sendiri dalam keadaan seperti itu.


Divia mendekat dan mencocol pipi Kim dengan ujung jarinya memastikan dia baik-baik saja,


"Mr Kim ..., apa kau baik-baik saja?" Divia bicara dengan nada pelan, ia tidak mau suaranya sampai membangunkan seisi rumah.


"Hehhhh, sayang sekali seharusnya hari ini aku bikin perhitungan sama kamu tapi kamu malah mengerjaiku dengan keadaan yang seperti ini." Divia terus saja menggerutu. Ia terpaksa melepas sepatu dan kaus kaki Kim. Membetulkan posisi tidurnya.


"Hehhh, bahkan pria menyebalkan ini masih memakai jasnya."


Divia pun terpaksa menarik satu per satu tangannya agar jas itu bisa lepas dari tubuhnya.


"Akhirnya berhasil juga." setelah bersusah payah menarik jas dari tubuh kekar pria di depannya kini tinggal melepas dasi dan kancing baju bagian atas agar lebih nyaman.


"Untung saja kamu appa nya Dee, kalau bukan sudah aku buang ke laut kamu," Divia pun kembali mendekatkan tubuhnya, membuka dasi kim dan melemparnya begitu saja, kemudian tangannya sedikit ragu untuk membuka kancing baju pria itu saat tatapannya tertuju pada wajah Kim yang begitu tampan,


"Dia tampan juga kalau sedang diam seperti ini, tapi tidak ya kalau lagi bawel."


Srekkkk


Tiba-tiba Divia di kejutkan dengan tangannya yang di tarik hingga tubuhnya menimpa tubhh pria itu,


"Apa yang dia lakukan," gumamnya pelan dan berusaha untuk bangkit dari tubuh Kim. Tapi bukannya melepaskan tubuh Divia, Kim malah semakin menariknya hingga kini tubhh Divia berganti posisi di bawah tubuh Kim.


Aku harus apa...., Divia bingung bagaimana bisa lepas dari ciuman pria yang tengah menindih tubuhnya tapi sensasi manis dan sesuatu yang luar biasa itu tiba-tiba melemahkan tubuhnya, ia bukannya menolak tapi malah menerima dengan pasrah, ikut terbawa arus ciuman maut itu.


Ciuman itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya tiba-tiba pria itu kembali tumbang, ada rasa kesal karena apa yang mereka lakukan tidak berlanjut tapi kemudian logikanya kembali membuatnya sadar. Dengan cepat ia mendorong tubuh Kim dari atas tubuhnya.


Setelah berhasil lepas dari Kim, Divia pun segera keluar dari kamar itu. ia berdiri di depan pintu sambil memegangi letak jantungan, benar-benar bekerja lebih keras saat ini. Kemudian ia juga memegangi bibirnya, masih terasa bagaimana bibir itu ******* bibirnya.


"Ya ampun Divia, apa yang baru saja kamu lakukan. Ini benar-benar memalukan ....!?" Divia sampai menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Nggak, nggak aku harus segera tidur. Lupakan semuanya dan tidur." Divia segera berlalu dan kembali ke kamarnya, menutup tubuhnya dengan selimut berharap ia segera tidur dan melupakan semuanya, tapi nyatanya tidak semudah itu. Adegan demi adegan seakan kembali menari-nari di pelupuk matanya,


"Ya ampun, dia sudah mengotori pikiranku yang suci ini!?"


...***...


"Aughhh, kenapa pusing sekali?" Kim terlihat mulai membuka matanya, matahari di luar sudah sangat tinggi tapi untuk pertama kalinya ia bangun kesiangan. Ia merasakan pusing di kepalanya,


"Ini pasti karena aku terlalu banyak minum semalam,"


Kim segera bangun dan merubah posisinya menjadi duduk, ia kemudian memandangi bajunya, kembali mengingat apa yang terjadi semalam. Ia memegangi bibirnya, "Apa yang selama itu hanya mimpi, tapi kenapa terasa nyata sekali?"

__ADS_1


"Tidak mungkin jika itu benar. Ini pasti cuma gara-gara malam itu jadi aku terlalu berhalusinasi."


Kim pun segara bangun dan menuju ke kamar mandi, ia harus menanyakan hal ini langsung pada yang bersangkutan.


Pria itu mengambil ponselnya tapi ekor matanya menemukan sesuatu yang tergeletak di atas tempat tidurnya, sebuah pita.


"Pita, bukankah ini milik Vi? Apa itu artinya yang semalam itu benar?"


Kim pun segera menyakukan pinta itu ke dalam saku kemejanya, ia segera mencari sosok yang sudah membuat dirinya merasa gila,


"Bi, lihat Vi?" tanyanya pada pelayang yang kebetulan melintas di depannya.


"Nona Vi sedang merapikan meja makan tuan!"


"Lalu, Dee?"


"Tuan muda Sudja berangkat dari pagi!"


"Siapa yang mengantar?"


"Nona Vi, tapi ia segera kembali karena ada yang ingin di bicarakan dengan tuan!?"


Kebetulan sekali ....


"Baik bi, terimakasih!" Kim pun segera menuju ke ruang makan dan benar saja Vi sedang membersihkan meja makan bekas sarapan Dee. Dan juga ia sengaja menyiapkan kembali untuk sarapan Kim.


"Pagi Vi."


Tumben dia menyapa, ada angin apa? tapi tiba-tiba saat Divia menatap bibir pria itu, kejadian semalam kembali mengiang-ngiang di pelupuk matanya.


"Aku pergi dulu." dengan cepat Divia mencoba menghindar, ia seakan lupa dengan tujuannya menunggu Kim.


"Tunggu!" Kim berhasil membuat langkah Divia terhenti, Divia pun terpaksa kembali berbalik.


"Duduklah."


Divia terpaksa kembali duduk, Apa boleh buat, kepalang tanggung juga ....


Meraka pun duduk dalam posisi yang cukup jauh. Meja makan berbentuk oval itu dan mereka berada di masing ujung meja.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2