Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Pembalut


__ADS_3

"Mas, lepasin tanganmu aku harus ke kamar mandi!" keluh Ersya sambil berusaha melepaskan tangan Div sama sekali tidak mau berpindah dari tubuhnya. Tapi bukannya melepaskan tangannya, Div malah semakin mengeratkan pelukannya.


Hehhhhh, Ersya menghela nafasnya begitu dalam sambil menatap wajah pria itu, tenang dan sangat manis.


Manis sekali dia ...., Ersya melihat ke jendela. Matahari masih belum begitu tinggi, tapi biasanya pria ini sudah siap dengan baju kantornya.


"Kamu nggak kerja?"


Div membuka matanya sedikit lalu mengusap kepala Ersya, "Aku libur hari ini!"


"Kenapa? Ini kan bukan hari minggu!?"


"Sudah jangan cerewet, tidurlah lagi!"


Div kembali mengeratkan tangannya di perut Ersya, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya itu.


"Mas, tapi aku harus ganti!"


Div segera menjauhkan wajahnya, mengerutkan keningnya, "Ganti apa?"


"Pembalut! Kayaknya sudah bocor deh!" ucap Ersya dengan mata yang mengarah ke bawah, Div dengan cepat menyingkap selimutnya. Dan benar saja ada darah yang sudah mengering di seprei tempat tidur.


Mati aku ......, wajah Ersya begitu cemas melihat ke arah tatapan Div.


"Apa sangat banyak?"


Ersya dengan cepat menutup kembali selimutnya, "Tidak pa pa, kamu turun dari tempat tidur saja biar aku bersihkan!"


"Kamu yakin?"


Ersya menganggukkan kepalanya dengan cepat dan Div pin segera turun dari tempat tidur,


"Kamu ke kamar mandi saja, biar ini pelayan yang bereskan!"


Ersya tampak berpikir sejenak, Dia masalah kali ya, batinnya.


"Baiklah!"


Ersya segera turun dan berlari ke kamar mandi, ia harus segera mandi dan membersihkan semuanya. Div memanggil kepala pelayan dan memintanya untuk mengganti selimut dan seprei.


Ceklek


"Mas ....!"


Ersya begitu terkejut saat di dalam kamarnya bukan hanya ada suaminya, ada kepala pelayan dan beberapa pelayan lainnya. Ersya masih mengenakan handuk di tubuhnya. Div dengan cepat menghampiri Ersya dan menutupi tubuh Ersya dengan tubuhnya.


"Kalau sudah rapi kalian boleh keluar!"


"Baik tuan!"


Para pelayan itu pun segera keluar dan menutup kembali pintu kamar mereka.


"Mas, kenapa nggak bilang kalau ada mereka?"


"Kamu yang kenapa? Belum juga lima menit kenapa keluar?"


"Aku lupa, pembalutku habis, bisakah aku minta tolong untuk belikan?"

__ADS_1


"Pembalut!?"


"Iya, mana bisa aku keluar kalau tanpa pembalut!"


"Baiklah, tunggu sebentar!"


Div pun mengambil ponselnya dan keluar dari kamar, ia menghubungi seseorang untuk membelikan benda yang di maksud oleh istrinya.


"Hallo Rangga!"


"Iya pak, ada apa?"


"Sebelum ke sini, tolong kamu mampir sebentar ke mini market untuk membeli pembalut!"


"Pembalut?"


"Iya, yang di gunakan wanita saat datang bulan!"


"Baik pak!"


Div segera mematikan sambungan telponnya.


...🍀🍀🍀...


Di tempat lain pria yang bernama Rangga itu tampak beberapa kali mengumpat, ia harus mampir dulu ke minimarket, tapi bukan masalah mampirnya ke sana. Masalahnya adalah karena barang yang ia beli sungguh membuatnya malu.


Hehhhhh ...., Rangga menghela nafasnya dalam sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam mini market.


"Selamat datang!?" sapa wanita cantik yang memakai seragam minimarket yang berdiri di balik meja kasir, "Ada yang bisa di bantu?"


"Tidak saya akan mencarinya sendiri!" ucapan Rangga terjeda, ia menyempatkan diri untuk mengintip tag nama yang berada di bajunya, "Zea!"


"Silahkan!" ucapnya sambil menunduk dan mengayunkan tangannya mempersilahkan masuk.


Rangga pun segera berlalu, ia tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi lagi. Ia segera menuju ke rak yang berisi begitu banyak pembalut.


"Pilih yang mana ya? Apa aku pilih yang sama dengan milik mama saja ya?" gumamnya sambil tangannya sibuk memilih.


Beberapa pelanggan yang kebetulan juga sedang mencari pembalut selalu menyempatkan diri untuk melihat ke arah Rangga,


"Cari buat istrinya ya mas?"


Rangga hanya menganggukkan kepalanya, ia tidak mau berdebat dengan mereka. Toh setelah ini mereka tidak akan bertemu lagi, pikir Rangga.


"Masnya sayang banget sama istrinya!"


Lagi-lagi Rangga hanya tersenyum dan mengambil satu bungkus pembalut yang berukuran paling besar. Ia harus segera pergi dari wanita-wanita itu. Tapi langkahnya kembali terhenti saat melihat sebuah rak yang berisi minuman yang biasa diminum oleh mamanya saat datang bulan.


"Mungkin Ersya juga butuh ini, pak Div kayaknya nggak tahu deh!"


Rangga pun mengambil dua botol dan membawanya ke kasar bersama pembalut di tangannya.


Rangga harus ikut antri bersama pelanggan yang lainnya, pasti akan terlihat aneh saat seorang pria membawa pembalut dan minuman pereda nyeri untuk wanita datang bulan, beberapa orang tampak memperhatikannya. Bahkan banyak dari mereka terlihat berbisik dan tersenyum aneh padanya, para karyawan juga.


Hehhh ...., aku pasti terlihat seperti suami takut istri ....., batin Rangga berusaha untuk tetap cuek.


"Maaf ya mas, merepotkan mu!"

__ADS_1


Tiba-tiba seseorang mengambil barang belanjaannya membuat Rangga terkejut,


"Lain kali aku akan membelinya sendiri!"


Wanita itu ...., batin Rangga. Dan wanita yang mengambil barang belanjaannya kembali ke balik meja kasir.


"Oh suaminya ya mbak, ganteng! Pasti suami yang perhatian, mau membelikan pembalut!" ucap salah satu pelanggan yang sudah berdiri tepat di depan meja kasir dan wanita itu hanya tersenyum sambil menatap Rangga.


"Beruntung sekali mbaknya!"


"Terimakasih! Silahkan datang kembali!" ucapnya sambil tersenyum, mengembalikan uang belanjaan dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Rangga masih tetap ikut mengantri, matanya tidak beralih dari wanita ramah yang melayani pelanggannya itu hingga akhirnya tiba gilirannya. Kebetulan di belakangnya masih belum ada orang lagi.


"Semuanya tiga puluh dua ribu!"


Rangga pun mengeluarkan uang lima puluh ribu dan menyerahkan pada wanita itu, ia segera mengambil barang belanjaannya yang sudah dimasukkan ke dalam kresek,


"Ambil saja kembaliannya, anggap saja itu sebagai bayaran kamu karena sudah menjadi istriku lima menit yang lalu! Sampai jumpa lagi!"


Rangga segera berjalan keluar dari minimarket itu, meninggalkan gadis yang masih terdiam di tempatnya dengan memegang selembar uang lima puluh ribuan.


"Bukannya terimakasih sudah di bantu, sombong sekali dia! Memang aku wanita bayaran apa, uang segini nggak cukup kali buat bayar aku!" gerutu wanita itu sambil meremas uang lima puluh ribu itu.


...🍀🍀🍀...


"Ini pak pesanan anda!" ucap Rangga sambil menyarahkan kantong plastik itu. Div mengambilnya dan memeriksa isi kantong plastik itu.


"Ini apa?" tanyanya sambil mengeluarkan satu botol k*ranti.


"Itu, biasanya mama saya meminumnya saat datang bulan pak, mungkin bu Ersya juga memerlukannya!"


"Jangan sok tahu kamu, tunggu di sini!"


Walaupun protes, tetap saja Div membawa semuanya kembali ke dalam kamar, ia segera mengetuk pintu kamar mandi,


"Sya, pembalutnya sudah datang!?"


Ceklek


Ersya hanya mengeluarkan kepalanya saja dan menjulurkan tangannya, "Mana?"


Srekkkk


Div memberikan pembalutnya saja, "Terimakasih!"


Ersya kembali menenggelamkan diri ke dalam kamar mandi dan menutup kembali pintunya.


Div memilih menunggu Ersya kembali keluar dari kamar mandi dengan menikmati secangkir kopi panasnya.


...Tahu nggak kenapa kita tidak bisa bersatu dengan orang yang kita inginkan? Mungkin Tuhan tahu, ada seseorang yang lebih pantas untuk bersamamu dan sedang menunggumu di persimpangan jalan......


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2