Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Season 2 (55. Morning kiss)


__ADS_3

Divia memilih menyimpan ponselnya di atas nakas. Ia bingung harus melakukan apa sekarang, padahal ia sudah berjanji pada ayahnya untuk berkunjung tapi Kim tidak juga terlihat tanda-tanda akan meninggalkannya.


Aku harus apa sekarang ....


Divia sampai memutar otaknya hanya untuk membuat Kim pergi dari apartemennya, ia tidak tahu harus beralasan apa lagi pada Kim agar ia pergi dulu,


Divia menatap pria yang tengah duduk di sofa, ia terlihat sibuk dengan beberapa berkas yang baru saja di bawakan oleh Lee.


Dia malah membawa semua pekerjaannya ke sini ...., batin Divia melihat begitu banyak berkas yang berserakan di atas meja. Kim benar-benar tidak hari tanpa bekerja, dia benar-benar pria yang gila bekerja.


"Kim, apa kamu tidak ingin pulang?" mendengar pertanyaan Divia, Kim mendongakkan kepalanya menatap ke arah Divia tanpa mengeluarkan satu kata pun, "Maksudku, Ini sudah hampir gelap!" Divia segara meralat ucapannya.


"Aku akan menemanimu sampai benar-benar sembuh, jadi jangan khawatir tentang langit yang gelap. Karena lampunya sudah menyala!" ucap Kim dingin dengan tanpa beban membuat Divia mencebirkan bibirnya kesal dengan jawaban Kim.


Dia benar-benar ya ...., Divia terpaksa kembali mengalihkan tatapannya, bahkan saat ini ponselnya juga sudah berada di tangan Kim, ia tidak punya pilihan lain selain diam dan kembali memutar otak.


Hingga beberapa menit kemudian, sepertinya Divia kembali mendapatkan ide.


"Apa tidak sebaiknya kamu pulang, pasti para pelayan sedang menunggu kamu!"


Kim kembali memiringkan kepalanya menatap Divia, "Memang mereka kurang kerjaan!?"


Divia hanya bisa tersenyum hambar, ia sepertinya benar-benar kehilangan ide lagi.


Sepertinya percuma mencari cara bagaimanapun Kim tidak akan pernah pergi, tapi ayah .....


"Kim!?"


"Hmmm?" kali ini Kim menjawab tanpa menatap padanya.


"Boleh pinjam ponselku sebentar nggak?"


"Buat?"


"Kan kamu tahu hari ini ayahku akan datang, aku mau tanya apa dia sudah sampai atau belum!"


"Begitu ya!?"


"Hmmm!" Divia mengangukkan kepalanya dengan begitu bersemangat.


Kim pun akhirnya mengambil benda pipih yang ia jejer di atas meja, ia mengambil yang miliknya dan membawa mendekat ke arah Divia,


"Itu kan punya kamu, Kim?"


"Sengaja, kamu ingat kan nomor ayah kamu?"


"Mana ingat!"


"Baiklah, aku akan mengirimkannya ke ponselku!"


Kim kembali lagi dan mengambil ponsel Divia,


"Yang mana?" Kim menunjukkan beberapa nomor kontak di ponsel Divia. Beruntung Rendi memiliki nomor pribadi dan nomor pekerjaan yang berbeda.


"Yang ini!" tunjuk Divia. Sebuah nomor dengan profil Nadin.


Kim pun dengan cepat mengirimkannya ke ponselnya, "Ayo cepetan tanyakan sekarang?"


"Pakek hp kamu?"


"Hmmm!"


"Tapi_?"


"Kamu lihat kan profil aku hanya sebuah tangan, siapa yang mengira itu nomor seorang pria!"


"Baiklah!"


Divia pun akhirnya tidak punya pilihan lain selain ia harus menghubungi ayahnya dan mengatakan kalau dia tidak bisa datang. Beruntung Kim juga punya nomor pribadi, jadi yang di gunakan Divia untuk menghubungi ayahnya bukan nomor yang biasa untuk bekerja.


Divia pun segera mengetikkan pesan pada ayah Rendi.


//Ayah maaf ya, Divia tidak jadi ke tempat ayah, ternyata tugas sangat banyak. Besok Divia akan usahakan, semoga ayah maklum. Salam sayang dari Vi untuk ayah, juga untuk paman Ajun.//

__ADS_1


Setelah mengirim pesan, Divia segera menghapus kembali pesan itu dan setelah memastikan ayahnya membalas pesannya ia segera mengembalikan ponselnya ke pada Kim.


Malam semakin larut dan kim hanya akan meninggalkan Divia saat ia ingin ke dapur atau ke kamar mandi.


Bahkan saat Divia sudah tertidur pulas, Kim masih tetap terjaga. Sambil melanjutkan pekerjaannya ia juga sesekali melihat ke arah Divia dan memastikan Divia nyaman dengan tidurnya.


***


Pagi ini Divia sudah tampak rapi, berbeda dengan Kim yang masih tertidur pulas di atas sofa, ia juga sudah memasak untuk pria yang sepertinya baru saja tertidur beberapa jam yang lalu.


Divia tidak berniat membangunkan Kim, ia merasa begitu bersalah karena sudah membohongi pria itu, hingga membuatnya terjaga sepanjang malam.


Hingga akhirnya Lee datang, hari ini seharusnya Kim memiliki beberapa pekerjaan penting. Itulah kenapa Lee harus datang pagi-pagi.


"Tunggulah di sini, aku akan mencoba membangunkannya!" perintah Divia pada Lee, ia pun kembali masuk ke dalam kamar dan duduk berjongkok di depan Kim, menatapi wajah tampan yang tengah terlelap itu, rasanya tidak tega untuk membangunkannya.


Tapi ternyata Kim sadar jika dirinya tengah di perhatikan, hingga membuatnya membuka matanya perlahan, Kim tersenyum saat melihat Divia di depannya,


"Selamat pagi sayang!" sapa Divia membuat senyum Kim semakin lebar, untuk pertama kalinya Divia memanggilnya dengan panggilan istimewa.


"Selamat pagi, sayang!" balasnya, bukannya bangun Kim malah menjadikan kedua telapak tangannya sebagai bantalan. Ia sedang ingin menikmati pagi ini dan tidak ingin semuanya cepat berlalu.


"Kim, di depan ada Lee!"


"Lee?"


"Hmmm!" Divia mengangukkan kepalanya membuat Kim tersadar akan sesuatu.


"Kenapa tidak membangunkan ku?" tanya Kim dan dengan cepat bangun dari sofa.


Walaupun mereka satu kamar, kim tidak pernah memanfaatkan kesempatan untuk bisa tidur satu ranjang dengan Divia, ia sangat menghormati apa yang menjadi budaya divia.


"Kamu tidurnya nyenyak sekali sih!"


Divia jongkok di depan Kim dengan menyanggah dagunya menggunakan kedua tangan,


"Boleh aku menciummu sekarang?" pertanyaan Kim seketika membuat Divia terkejut.


"Hahh?"


"Suka sekali mencuri ciuman orang!" gerutu Divia sedangkan Kim hanya tersenyum melihat gerutuan Divia,


"Itu morning kiss, seharusnya setiap pagi, dan aku pasti akan memintanya!"


Divia hanya menyebirkan bibirnya, Kim baru teringat dengan keadaan Divia,


"Apa kamu sudah baik?"


"Hmmm, aku sehat Kim! Apa kamu lupa kalau saat ini Lee menunggumu di luar?, ini sudah cukup lama!"


Sebenarnya hari ini begitu malas untuk pergi ke kantor, tapi apa boleh buat ada beberapa pekerjaan yang harus ia lakukan hari ini.


"Baiklah, katakan aku akan mandi sebentar!"


"Hmm!"


Kim dengan cepat menuju ke kamar mandi sedangkan Divia kembali menghirup Lee, ia ada yang ingin ia tanyakan pada pria itu.


"Lee, aku ingin bicara. Bisa kita duduk sebentar di sana!"


"Kalau berhubungan dengan Mr Kim, lebih baik nona Vi bertanya langsung padanya!"


"Tidak, ini soal Yura!"


"Nona Yura?"


"Hmmm!" Divia mengangguk dan berjalan lebih dulu menuju ke sofa, dia duduk begitu juga dengan Lee.


"Apa benar kamu kemarin meninggalkan Yura di pasar?"


Jadi dia mengadu ..., Lee langsung faham dengan pertanyaan Divia. tapi ia tidak berniat menjawabnya, ia memilih untuk tetap diam.


"Aku mau kamu minta maaf padanya, ajak dia makan malam!"

__ADS_1


"Tapi maaf nona, saya akan melaksanakan tugas yang di perintahkan oleh Mr Kim saja!"


"Tapi ini perintah Kim, sungguh!" Divia dengan cepat beralasan.


"Maaf nona!"


Susah sekali ....


Beruntung Kim keluar dari kamar, ia sudah terlihat rapi dengan baju ganti yang sengaja ia letakkan juga di apartemen tanpa sepengetahuan Divia.


"Kim!" dengan cepat Divia berdiri dan menghampiri Kim, ia bergelayut manja di lengan Kim.


"Ada apa? Jangan menggodaku seperti itu!"


Lee yang juga melihat Kim mendekat ke arah mereka pun ikut berdiri dan menundukkan punggungnya memberi hormat pada Kim.


"Kim, kamu sudah baca kan pesan Yura semalam!"


"Hmmm!"


"Aku mau Lee minta maaf pada Yura dan mengajaknya makan malam, bukankah itu bukan ide yang buruk?"


"Lalu?"


"Lee maunya yang ngasih perintah kamu!"


"Benarkah itu Lee?" tanyanya pada Lee, walaupun ia sudah tahu pasti Lee akan menolak karena hanya perintahnya yang akan di penuhi oleh pria itu.


"Saya akan melakukan seperti yang di minta nona Vi!"


"Bagus! Kamu sudah dengan sendiri kan, jadi apa imbalannya untukku?" tanya Kim pada Divia setelah Lee memberi jawaban.


Apa maksudnya ?


"Imbalan? Imbalan apa?"


"Misalnya ini!" ucap Kim sambil menunjuk bibir Divia.


"Memang harus ya?" tanya Divia sambil menoleh Lee yang juga ada di sana, ia tidak mungkin mencium Kim di depan Lee.


Tapi ternyata Lee langsung sadar dengan kode Kim, ia segera memutar badannya membelakangi mereka,


Ehhh, siapa yang menyuruhmu berbalik, bukan itu maksudku ....


Divia malah panik sendiri, tapi Kim sepertinya tidak peduli,


"Bisa kan lakukan sekarang?"


"Di sini?"


"Hmm, atau aku minta Lee untuk membatalkannya!"


Yang benar saja ...., kenapa dia jadi mesum sekali ???


Divia pun akhirnya tidak punya pilihan lain, ia harus menebus kesalahannya pada Yura karena telah membuatnya ikut kesal seharian.


Gara-gara pesan dari Yura, ia jadi punya rencana untuk mendekatkan Lee dengan Yura.


Divia pun akhirnya menjinjitkan kakinya agar bisa mencapai bibir Kim, tapi Kim dengan cepat mengangkat tubuh Divia dengan menopang bokong Divia menggunakan kedua lengan kekarnya hingga mereka sejajar. Kim sudah mendekatkan bibirnya hingga akhirnya tidak ada pilihan lain selain mencium bibir pria itu.


Awalnya Divia hanya diam, tapi dengan cepat Kim ******* bibir Divia dan tidak membiarkan Divia menarik bibirnya.


Ciuman itu berlangsung kembali dengan cukup lama hingga Divia menarik bibirnya, ia benar-benar malu pada Lee, meskipun pria itu membalik badannya dia pasti juga tahu apa apa yang sedang mereka lakukan.


Ahhh rasanya tidak punya muka ....,


Divia dengan cepat berlari menuju ke meja makan dan mulai makan tanpa menunggu Kim.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2