
...Di sadari atau tidak, semua hal yang ada di dunia ini, yang baru saja kamu lalui. Jika itu sebuah keburukan menurut kamu, mungkin itu adalah sebuah kebaikan buat kamu di masa yang akan datang....
...🌺🌺🌺...
Pria yang tengah patah hati itu berjalan cepat menghampiri mobilnya, Sudah cukup baginya pengorbanannya selama ini. Ia tidak mau lagi terjebak dalam cinta yang salah.
"Apa kita perlu membatalkan semua jadwal mr?" tanya Lee yang sudah tahu apa yang akan terjadi karena memang sebelumnya ia sudah menyelidiki perihal keberadaan Lyla dan kekasih barunya.
"Tidak, kita langsung ke kantor!"
"Baik, Mr!"
Seperti biasa hari ini Kim memperpadat jadwalnya, yang harusnya masih di kerjakan besok ia meminta Lee untuk memajukan jadwal hingga hari ini.
Hal ini membuat Dee benar-benar merasa terabaikan, ia menghubungi Lee agar mau mengajaknya ke taman.
Lee yang merasa bingung di antara dua bosnya yang keras kepala hanya bisa menghela nafas.
"Bagaimana ini!?" gumamnya pelan hingga seseorang mendatanginya.
"Apa ada masalah serius?" dia adalah salah satu karyawan di kantor Kim.
"Bisa bantu saya!"
"Apa?"
"Hari ini gantikan tugas saya mengikuti Mr Kim karena saya harus mengantar Dee ke taman!"
"Apa itu tidak pa pa?"
"Asal jika Mr Kim marah, kamu katakan saja kalau saya sedang menemani tuan muda ke taman!"
"Baiklah akan saya coba!"
Lee sedikit bernafas lega, seharian ini akan sangat sibuk dan Dee sudah mengancam akan kabur jika tidak pergi. Dee memang tidak pernah bicara dengan Lee, ia hanya akan mengirim pesan padanya dan apapun itu pasti akan Dee lakukan.
Lee pun bergegas menghampiri Dee di taman bermainnya, ia meminta ijin pada guru pengasuhnya untuk membawanya pergi lebih awal.
"Kita ke taman yang mana, tuan muda?" Lee sudah kembali fokus dengan jalanan.
Terlihat Dee mulai mengetikkan sesuatu di gaway nya dan menunjukkan pada Lee,
"Kita ke taman itu, Lee!"
"Baiklah!"
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju taman yang di maksud. Di sana memang cukup lengkap, anak-anak bisa bermain dan jajan dengan berbagai macam jajanan anak-anak.
Lee memarkir mobilnya di tepi jalan lalu mengajak Dee berjalan menyusuri taman.
...***...
Di tempat lain terlihat Divia sudah bersiap-siap, ia harus menuju ke kantor tempat pria itu bekerja tentunya di temani Yura.
"Kamu yakin mau ke sana?" Yura saat ini malah terlihat ragu.
"Kamu kok jadi ragu sih!?"
"Ya bukan gitu, Mr Kim ini_!" Yura menghentikan ucapannya, ia tidak yakin untuk melanjutkannya.
"Apa?"
"Lebih baik tidak berurusan dengannya, dia itu gay!"
"Kok bisa? Kayaknya tampan!"
"Selama ini begitu banyak gadis yang ingin menikah dengannya tapi dia selalu menolaknya!"
"Tapi gadis itu?"
"Ya mungkin dia cuma cari status aja biar bisa mematahkan rumor itu!"
"Tapi dia punya anak!?"
"Benarkah?"
"Iya, aku melihatnya sendiri!"
"Kamu tahu ada pria yang selalu mengikutinya kan, berdasarkan rumor yang aku terima, pria yang bersamanya itu pasangan sejatinya!"
"Bukan masalah bagiku, malah bagus dong kalau gitu. Aku nggak takut kalau dia minta imbalan yang aneh-aneh kan!"
"Benar juga!"
Mereka terus berjalan menyusuri taman, memang untuk menuju ke halte mereka harus melewati taman dekat kampus.
__ADS_1
Srekkkkk
Tiba-tiba seorang anak memeluk kaki Divia dari belakang.
"Eomma!" ucapnya manja,
Baik Divia ataupun Yura hanya terpaku. Perlahan Divia menoleh ke belakang dan ternyata anak itu lagi.
Anak itu .....
Divia baru sadar, ia tidak perlu jauh-jauh mencari perusahaan pria itu. Saat ini pria kecil itu yang datang sendiri padanya.
Tapi eomma ...., bukankah itu panggilan untuk ibu?????
Divia kembali menoleh pada temannya yang masih terkejut di sampingnya.
"Bisa jelaskan kepadaku tentang eomma?"
"Eomma itu artinya dia panggil kamu ibu!?"
Divia kembali menoleh pada anak kecil itu dan jongkok agar bisa menggapai wajahnya. Memegang kedua bahunya.
"Hallo, saya bukan eomma kamu, kamu pasti salah orang!"
"Eomma!" lagi-lagi anak kecil itu memanggilnya ibu lagi.
"Baiklah, kamu boleh panggil aku eomma, tapi bantu aku sekarang. Kasih tahu aku di mana pria sombong itu?"
"Eomma, eomma, eomma!"
Astaga ...., apa yang dia lakukan!? Divia menoleh ke sekitar dan ternyata mereka menjadi pusat perhatian.
"Cukup!?"
Divia terpaksa meninggikan suaranya membuat anak itu menundukkan kepalanya lesu,
"Maaf, maaf! Aku nggak ada maksud buat bentak kamu, tapi jangan panggi aku_!"
"Eomma!?"
Anak itu malah kembali memanggilnya ibu membuat Divia semakin frustasi.
"Terserah, sekarang panggil aku sesukamu, tapi bisakah kamu menghubungi appa kamu? Sekarang!"
"Appa?"
Pria kecil itu mengangukkan kepalanya, ia segera melakukan panggilan video call pada pria yang di maksud dan menunjukkan gambarnya pada Divia.
"Iya benar, dia!"
...***...
Di tempat lain, pria itu tengah presentasi di ruang meeting. Ponselnya berdering membuatnya terpaksa menghentikan kegiatannya.
"Maaf, saya terima telpon dulu!"
Kim menggeser tombol terima dan layar datarnya itu menunjukkan wajah imut Dee.
"Ada apa Dee?"
"Eomma!?"
"Eomma?"
"Hmmm!" Dee mengangukkan kepalanya mantap.
"Kamu di nama?"
"Taman!"
"Lee?"
Dee menggelengkan kepalanya membuat Kim semakin cemas.
"Boleh saya bicara dengannya?"
Suara seseorang itu berhasil mengalihkan perhatian Kim,
"Dee, ada siapa di sana?"
"Eomma!"
"Berikan ponselmu padanya!"
Dee mengangukkan kepalanya dan tiba-tiba gambar Dee berubah menjadi gambar Divia.
__ADS_1
"Kamu?"
"Tuan Kim, saya ingin menemui anda. Bagaimana kalau kita buat kesepakatan. Atau aku akan menculik anak anda! Kembalikan ponsel dan laptopku dan aku akan mengembalikan anak ini pada anda, bagaimana?"
"Kalian di mana?"
"Kita di taman yang sama!"
"Saya ke sana!"
Mr Kim segera mematikan sambungan telponnya. Ia pergi begitu saja dari ruang rapat.
"Lee, aku tidak akan mengampunimu!" gerutunya sambil berjalan cepat menghampiri mobilnya.
"Kita ke taman!"
"Baik Mr!"
Mobil pun melaju cepat ke tempat yang di maksud, wajahnya sudah terlihat cemas.
...***...
Di taman, Divia mengajak Dee untuk duduk di bangku taman.
"Bisakah kamu bekerja sama denganku?" tanya Divia dan Dee menganggukkan kepalanya mantap.
"Nanti siapapun yang datang ke sini, jangan mau di ajak pulang sebelum aku mendapatkan laptop dan ponselku, bagaimana?"
"Eomma!?"
"Jangan terus memanggilku seperti itu!"
"Eomma!?"
"Astaga, anak ini!?" keluh Divia tapi ia tetap tidak bisa memperlihatkan wajah kesalnya.
Seorang pria tengah berlarian di seluruh taman untuk mencari keberadaan pria kecil itu.
"Dee, kamu di mana?"
"Dee!?"
"Bisa dengar aku kan?"
Ternyata Dee sengaja meminta Lee untuk membelikannya es krim agar ia bisa mendekati Divia.
Lee yang tengah sibuk membeli es krim di manfaatkan Dee untuk menghampiri Divia yang tengah berjalan di samping taman.
Hingga akhirnya Kim datang, Lee bertemu dengannya.
"Apa yang kamu lakukan Lee?" hardik Kim membuat Lee semakin merasa bersalah.
"Maafkan saya Mr, tadi tuan muda meminta es krim, tapi saat saya kembali dia tidak ada!"
Kim mulai mengedarkan pandangannya, ia mencari sosok yang tengah ia cari.
"Kim!?"
Hingga seorang anak melambaikan tangan padanya. Baik Kim dan Lee segera berlari untuk menghampirinya.
"Kamu tidak pa pa, Dee?"
"Anda pikir saya penculik yang jahat!"
"Apa yang kamu inginkan?"
"Seperti yang saya minta tadi, kembalikan laptop dan ponsel saya lalu saya akan mengembalikan anak ini!"
"Kalau saya tidak mau?"
"Saya akan membawa anak ini!"
"Yakin dia tidak akan melawan? Saya punya banyak anak buah untuk menyakitimu!"
"Benarkah? Apa anda seberani itu!?"
Yura hanya bisa menutupi wajahnya, ia benar-benar takut berhadapan dengan orang di depannya. Rumor yang beredar, Mr Kim tidak akan pernah mengampuni orang yang sudah berani membuat gara-gara dengannya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...