
Ersya kembali menatap Rizal, pria itu tampak begitu menyedihkan. Bahkan dia seperti tidak mau mengalah dengan anak kecil, dokter sudah menjelaskan jika memang emosinya sedikit labil.
"Iyya duduk dulu ya, biar mom bicara sama om Rizal!" ucap Ersya lagi saat kembali menoleh kepada putri kecilnya itu dan Divia pun menganggukkan kepalanya.
Ersya membawa Divia menuju ke sofa yang tidak jauh dari tempat tidur Rizal, ia meminta Divia duduk di sana dan memberikan mainannya,
"Tidak pa pa kan, Iyya di sini dulu?" tanya Ersya lagi memastikan.
Divia menganggukkan kepalanya, "Iya mom!"
"Anak pintar!"
Ersya kembali menghampiri Rizal setelah memastikan Divia akan baik-baik saja,
"Mas, sudah makan?"
Dan pria itu menggelengkan kepalanya, Ersya mencari sesuatu di atas nakas dan benar saja ada semangkuk sup, sepertinya itu jatah makan siang Rizal dari rumah sakit,
"Ersya suapi ya mas!"
Tanpa menunggu persetujuan Rizal, Ersya mengambil mangkuk itu dan menyuapkannya pada Rizal tapi pria itu tetap tidak mau membuka mulutnya,
"Mas, kalau mas Rizal nggak mau makan, Ersya nggak akan datang lagi mas!"
"Jadi kamu akan datang lagi?"
Ersya menganggukkan kepalanya, "Sekarang mas Rizal makan ya, kasihan mama kalau mas Rizal nggak mau makan!"
Kali ini pria itu membuka mulutnya, ia setuju untuk makan. Ersya menyuapinya hingga sup di dalam mangkuk itu habis. Ersya mengembalikan mangkuk itu ke atas nakas, ia melihat jam tangannya. Sudah setengah jam, ia harus segera pergi.
"Mas, Ersya pulang dulu ya!"
"Tidak bisakah kau menemaniku sampai aku sembuh?"
"Maaf mas, tapi aku kan sudah janji akan menjenguk mu lagi besok!"
"Tidak ada hari esok!"
Ucapan seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu mengejutkan semua yang ada di sana,
"Mas Divta!" pekik Ersya.
Pria itu menyakukan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan berjalan menghampiri Ersya dan Rizal, lalu menarik pinggang Ersya.
"Apakah sudah kamu cek jammu?"
__ADS_1
"Sudah! Dan aku hanya terlambat dua menit!?"
"Bukan hanya, tapi sudah dua menit, dua detik pun sudah dikatakan terlambat, mengerti!"
Div beralih menatap pria yang sedang duduk di atas tempat tidur, "Dan kamu, jangan kira kamu bisa memanfaatkan sakitmu untuk menjerat istriku lagi!"
"Mas .....!?"
"Ayo pergi!?"
Div melepas tangannya dari pinggang Ersya dan beralih menggenggam pergelangan tangan Ersya,
"Ayo Iyya!"
Divia yang memang sudah berdiri segera menghampiri daddynya. Mereka keluar dari kamar itu dan kembali berpapasan dengan mamanya Rizal,
"Kalian mau ke mana?"
"Maaf ma, tapi Ersya harus pergi sekarang!"
Div terus menarik tangan Ersya dengan satu tangannya menggendong tubuh mungil Divia. Ersya tidak bisa menolaknya karena memang dia sudah berjanji. Ia akan kembali dalam tiga puluh menit dan pria itu setuju.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil, Div masih tetap diam. Tidak ada pembicaraan diantara mereka, hanya ada celoteh kecil dari Divia saat melihat sesuatu yang menarik fi jalan.
Hingga sepuluh menit tanpa pembicaraan, mereka sudah sampai di rumah. Seperti biasa kedatangan mereka langsung di sambut pelayan, begitu juga baby sitter Divia. Divia langsung diambil alih oleh mereka.
"Mas ....., kamu marah ya sama aku?"
Div tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Ersya, ia memilih untuk tetap diam dan melonggarkan dasinya, melempar kain kecil dan panjang itu begitu saja di atas sofa lalu melepas kancing kemeja bagian lengan dan menyingsingnya secara bergantian.
Ersya mengikuti kemanapun Div melangkahkan kakinya,
"Kamu jangan egois dong mas, kasihan tahu mas Rizal! Dia cuma sama mamanya!"
Srrkkkkk
"Aughhhh!?" pekik Ersya saat tiba-tiba pria itu menarik tubuhnya dan menempelkannya ke dinding, mengungkung tubuhnya dengan kedua tangan Divta yang kekar.
"Chhhh, kamu itu bodoh atau terlalu polos! Tidak ingatkan kamu dimana mereka saat kamu sendirian dalam keterpurukan!?"
"Mas itu dulu!"
Brakkkk
Divta tiba-tiba memukul pintu yang ada di sampingnya membuat Ersya terkejut sampai menutup matanya,
__ADS_1
"Kamu jangan mempersulit semuanya!?"
Dia menakutkan sekali, memang aku mempersulit apanya?
Cup
Tiba-tiba bibir itu ******* bibir Ersya membuat Ersya membuka matanya dengan cepat. Kali ini pria itu begitu kasar, bahkan memberikan gigitan pada bibirnya beberapa kali,
"Mas cukup, sakit!" teriak Ersya saat ia berhasil melepaskan bibirnya, ia menolehkan wajahnya ke samping, nafas Div sangat memburu.
Div menarik dagu Ersya dengan begitu kasar hingga membuat wajah Ersya mendongak, matanya memerah begitu marah dengan kedua rahangnya yang mengeras,
"Mas lepasin, sakit!?"
"Aku tidak suka pria itu pegang-pegang milikku!"
Div menarik tangan Ersya yang fi pegang oleh Rizal dan mengecupinya beberapa kali, "Ini kan yang di pegang, katakan mana lagi yang dipegang oleh pria brengsek itu?"
Ersya hanya diam, ia tidak suka dengan perlakuan Div yang ini.
Brakkkkk
Lagi-lagi Divta menggebrak pintu membuat Ersya terlonjak kaget, untung saja kamar itu sudah di pasang meredam suara hingga perdebatan mereka tidak sampai didengar sampai keluar kamar.
"Ayo katakan!?"
"Mas hentikan! Aku bukan barang yang bisa dimiliki oleh siapapun!?" teriak Ersya sambil mendorong tubuh Div dengan begitu kuat hingga membuat pria itu bergeser.
Setelah bisa lepas dari kungkungan Div, Ersya berlalu begitu saja masuk ke dalam kamar mandi, ia ingin menumpahkan air matanya di sana, ia tidak suka menangis di depan orang lain.
Div yang menyadari kesalahannya hanya bisa memukul kepalanya beberapa kali, entah apa yang membuatnya begitu marah. Kemarahannya terpancing saat melihat Ersya dengan begitu perhatiannya menyuapi mantan suaminya itu. Sebenarnya hanya berselang sebentar saat Ersya masuk, Div menyusulnya. Ia melihat mereka dari balik pintu.
Brrakkkk brakkkk brakkkk
"Kenapa bisa kelepasan gini sih!?" keluhnya pada dirinya sendiri dan tangannya beberapa kali memukul dinding berharap kekecewaan Ersya pada dirinya akan berkurang.
Di dalam kamar mandi, Ersya berdiri di bawah guyuran air. Ia membiarkan air matanya bercampur dengan air, ia tidak mau tangisnya sampai terlihat orang lain. Ia seperti ingin menghabiskan air matanya di sana, agar nanti saat ia keluar ia tidak lagi menunjukkan kesedihannya.
...Saat aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri, lalu aku sesekali akan menangis bukan karena aku lemah, tapi biarkan air mata ini menunjukkan kalau aku masih manusia biasa yang punya rasa sakit .......
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰