Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Baby sitter


__ADS_3

Ersya dengan cepat membuka nya, sebuah surat pemecatan.


"Pak ini saya di pecat?"


"Iya!"


"Tapi kenapa saya di pecat pak?"


"Kami tidak bisa memperkerjakan kamu lagi karena di situ saya sudah menuliskan alasannya, mulai siang ini kamu sudah terbebas tugaskan dari kantor ini dan untuk urusan pembayaran akan saya kirim langsung ke rekening kamu!"


...**""**...


Ersya sudah duduk di bangku taman, ia terus menatap surat pemecatan itu. Beberapa kali membacanya sampai ia hafal dengan isi surat itu.


"Ini alasan pemecatan macam apa seperti ini, bisa-bisanya membuat alasan mengganggu kenyamanan karyawan lain, kalau mau pecat seharusnya pecat para pencari berita itu bukan gue ...!"


"Kesalahan apa yang sudah gue perbuat sampai mendapatkan kesialan yang bertubi-tubi kayak gini!"


"Gue harus segera cari tempat tinggal, tapi kalau ngekos, ngontrak tiap bulan mau gue bayar pakek apa lagi, rumah nenek juga udah gue jual buat acara nikahan dulu!"


Tabungannya juga masih sedikit saat ini, tidak mungkin untuk membeli sebuah rumah.


Ersya meremas kertas itu dengan begitu kesal dan melemparnya.


"Aughhhhh!"


Kertas itu mengenai kepala seseorang.


"Ups!" dengan reflek Ersya menutup mulutnya, ia benar-benar tidak sengaja melemparnya.


Seseorang yang tertimpuk kepalanya itu segera mengambil kertas yang terjatuh di samping kakinya itu. Ia menunduk dan mengambilnya, membuka dan membaca isi kertas itu lalu menatap orang yang melempar kertas itu.


"Kamu ...!"


"Ga ...., sorry gue nggak sengaja tadi!"


Ternyata pria itu adalah Rangga, ia segera menghampiri Ersya dan duduk di sampingnya.


"Lo di pecat?"


"Iya!"


Mereka saling diam, melihat wajah kacau Ersya. Rangga sudah bisa menduga jika Ersya tidak baik-baik saja.


"Lo butuh kerjaan?"


"Ya iya lah Ga, gue juga butuh tempat tinggal!"


Kali ini Rangga mengeryitkan keningnya, "Emang rumah lo kenapa?"


Setahu dia, Ersya sudah punya rumah yang cukup besar. Ersya juga bukan dari keluarga yang begitu miskin hingga tidak punya rumah.


"Tanya aja sama sepupu lo itu!" ucap Ersya kesal.


"Dia cari masalah apa lagi sama lo?"


"Dia minta hak harta gono gini!"


"Keterlaluan sekali sih bang Rizal!"


Rangga jadi merasa malu sendiri dengan sepupunya itu. Ia tidak menyangka sepupunya akan setega itu membuat mantan istrinya menderita.


Ersya kembali menatap Rangga setelah cukup lama terdiam,


"Lo ada kerjaan nggak buat gue?"


"Gimana kalau Lo gue temuin sama bos gue? Lagian lo kan juga udah kenal sama dia!"


Kantor Rangga ya ...., lumayan keren, tapi pria itu, ponselku .....


"Ahhh iya lo benar, ponsel gue juga masih di bawa sama dia!"

__ADS_1


Rangga pun akhirnya mengajak Ersya untuk menghampiri mobil mereka.


"Lo bawa mobil nggak?" tanya Rangga saat sudah menemukan mobilnya.


"Iya!"


"Biar gue minta seseorang buat ngambil, lo sama gue aja!"


"Baiklah!"


Ersya pun memutuskan untuk ikut bersama mobil Rangga setelah orang yang mengambil mobilnya sampai.


"Lo jangan sembarangan keluyuran!"


"Kenapa kayak gitu?"


"kalau lo berkeliaran sendiri bahaya, banyak wartawan yang lagi ngejar-ngejar lo!"


"Segitu parahnya ya gosip itu?"


"Iya ...., dan lo udah nggak bisa lagi sembarang bertingkah karena apapun yang menyangkut lo udah jadi sorotan publik!"


"Parah banget!"


Akhirnya mereka sampai juga di depan gedung tempat Rangga bekerja.


"Lo yakin nih mau masuk sendiri?" tanya Rangga saat mereka sudah hampir masuk ke dalam pintu lift.


"Iya!"


"Tapi lo harus janji dulu loh, sekretaris Revan tidak bisa mengijinkan sembarangan orang menemui Pak Div!"


"Jangan khawatir, dia pasti izinin gue masuk!"


"Baiklah gue antar sampai sini ya!"


"Iya!"


Tidak berapa lama pintu lift kembali terbuka, ia segera berjalan meninggalkan lift menyusuri lorong yang mengubungkan ke ruangan Divta.


Langkah Ersya terhenti tepat di depan ruangan yang persis seperti yang di tunjukkan oleh Rangga.


"Nona Ersya!"


Seseorang keluar dari ruangan itu dan menyapanya membuat Ersya menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Selamat siang sekretaris Revan!" Ia mengenal pria itu walaupun hanya beberapa kali bertemu.


"Apa ada yang bisa saya bantu, nona?" tanya sekretaris Revan.


Baguslah kalau sekretaris Revan di sini, ini tandanya pria itu juga di dalam ....


"Saya ingin bertemu dengan pak Div, apa dia di dalam?"


"Biar saya tanyakan dulu pada pak Div, apa beliau mau menemui nona atau tidak! Silahkan nona menunggu di sana!"


"Baik terimakasih!"


Ersya pun duduk di kursi tunggu yang berada di luar ruangan itu.


Sungguh ruangan yang besar ...., ini namanya pemborosan tempat, ruangan sebesar ini hanya untuk ruang tunggu ....


Ersya terus mengamati ruangan itu, ruang tunggu yang elegan hingga tanpa terasa sekretaris Revan sudah kembali keluar.


"Nona Ersya!" Ersya pun segera menoleh ke arah sekretaris Revan.


"Iya!" sahutnya sambil berdiri.


"Silahkan nona masuk!"


Sekretaris Revan membukakan pintu untuk Ersya, kemudian Ersya pun berjalan dan masuk ke ruangan itu.

__ADS_1


"Terimakasih!" ucap Ersya.


Sekertaris Revan kembali menutup pintu dari luar meninggalkan Ersya dan Divta sendiri.


Ersya kembali di buat terkagum dengan ruangan itu, luas dan nyaman.


Pantas sekali pria ini betah banget di dalam sini ....


"Ada apa?" tanya pria yang sedang duduk di sudut meja. Ersya masih berdiri di tempatnya terkejut. Ia pun kembali fokus pada pria itu.


Ersya masih berpakaian rapi dan cantik khas pegawai bank.


"Saya mau mengambil ponsel saya!"


Tiba-tiba saja Ersya terserang lupa tujuan utamanya datang ke tempat itu.


"Ohhh!"


Hanya ohhhh ...., tanya lagi dong ....


Tik tok tik tok ...


suasana hening, baik Ersya maupun Divta tidak melanjutkan pembicaraan mereka.


Dia benar-benar ya ...., Ersya menghela nafas. Sesekali ia juga butuh ngalah.


"Sebenarnya ada yang lain!"


Divta kembali menoleh pada Ersya, ia masih cukup kesal dengan wanita yang ada di depannya itu karena telah melukai kakinya.


"Saya butuh pekerjaan!"


Tiba-tiba bibir Divta tertarik ke atas membentuk lengkungan senyum.


"Apa saya tidak salah dengar?"


"Kalau nggak ada ya sudah!"


Divta jadi teringat dengan rengekan Iyya tadi pagi, putrinya itu semenjak bangun tidur terus meminta mom Eca nya.


"Ada!"


Ersya mengangkat kepalanya kembali, menatap pria yang tetap berada di tempatnya itu.


"Menjadi baby sitter Iyya, bagaimana?"


Ahhhh cuma baby sitter ..., apa gunanya punya ijasah kalau kayak gini ...,


"Sepertinya kamu tidak setuju ya? Ya sudah anda bisa keluar dari tempat ini!"


"Saya setuju!" jawab Ersya dengan cepat, tidak punya pilihan lain, lagi pula apa salahnya dia juga sangat menyayangi Iyya, anggap saja tidak bekerja.


"Bagus!"


"Lalu ponsel saya?"


"Di rumah!"


"Katanya semalam di kantor?"


"Tapi sayangnya sudah saya bawa ke rumah lagi!"


Dia sengaja banget kayaknya .....


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2