Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Pulang


__ADS_3

Setelah semua pelanggan kembali dengan aktifitasnya, Zea pun mencondongkan tubuhnya ke depan tubuh Rangga dengan menjadikan tangan kirinya sebagai penganggah sedangkan tangan kanannya untuk menunjuk Rangga,


"Kamu bukan siapa-siapa ku ya, jadi jangan suka mengaturku!" Zea sedikit merendahkan suaranya agar pengunjung lain tidak terganggu. Ia tidak terlalu suka dengan pria di depannya, selain karena sok dekat pria itu juga memiliki hubungan dengan dokter Frans.


"Ya aku cuma memperingatkan saja, banyak pria buruk yang berkedok baik di luaran sana!"


"Seperti kamu!?"


Rangga memicingkan matanya, "Jadi menurutmu aku baik?"


Sebenarnya baik, tapi aku tidak mungkin memujinya, bisa Ge Er dia


"Kok malah diam sih? Atau kamu punya Devinisi sendiri tentang aku, misalnya aku pria yang tampan?" Rangga membentuk huruf v dengan jari jempol dan jari telunjuknya dan ia letakkan di bawah dagu.


Kesempatan bagus .....


"Ada yang sudah mau membayar, saya permisi!" Zea pun langsung berdiri dan meninggalkan ruangan begitu saja, melayani pelanggan yang lain yang mau melakukan pembayaran.


Rangga hanya bisa menatap Zea, ia menggelengkan kepalanya.


"Untung tuh tangan buatan tuhan bukan buatan pabrik, main gebrak-gebrak meja aja!" gumam Rangga.


...🌺🌺🌺...


Ini sudah satu Minggu Ersya di rawat di rumah sakit. Akhirnya Ersya di ijinkan untuk pulang walaupun dengan banyak syarat.


Terlihat sekali wajah Ersya sedang berseri-seri.


"Seneng banget ya pulang?" Div malah terlihat tidak begitu suka karena ia tahu jika istrinya itu cukup sulit mengendalikannya. Apalagi kalau minum Vitamin atau obat, pasti harus drama setiap hari.


"Nggak seneng aku pulang?" Ersya kesal menikah ekspresi wajah suaminya.


"Seneng!"


"Mukanya di tekuk gitu!"


Div pun kembali mendekati istrinya yang sedang duduk di atas tempat tidur pasien, ia memeluk pinggang sang istri,


"Enggak sayang, seneng lah! Masak istri pulang nggak seneng!"


Bibir Div kini sudah tidak bisa di kondisikan, bibir itu sudah mengabsen setiap jengkal leher Ersya, bahkan ia sudah mulai menuju ke dada Ersya.


"Mas, ingat ya ini di rumah sakit!"


"Memangnya kenapa kalau ini rumah sakit, aku bisa beli kamar di rumah sakit ini!" ucap Div masih dengan terus meninggalkan gigitan-gigitan kecil di leher jenjang sang istri.


Sombongnya ....


"Mas, ingat kata dokter!" Ersya Kembali memberi peringatan saat tangan sang suami sudah mulai menyusup ke balik baju Ersya.


Div pun tiba-tiba mengehentikan tangannya,


Hehhhh .....


Terdengar ******* panjang dari helaan nafas Div. Satu Minggu menurutnya sudah sangat sulit ia lalui dan dokter masih melarangnya hingga satu atau dua Minggu lagi berpuasa.

__ADS_1


"Cuma satu atau dua Minggu, wajahnya kayak suruh puasa satu tahun saja!" Ersya mengusap pipi sang suami, rasanya tidak tega melihat wajah suaminya yang begitu tersiksa.


"Kamu tahu, berat_, seberat ini hidupku!"


"Tapi kan masih bisa sentuh-sentuh sama cium!"


"Mana tahan kalau cuma gitu!"


"Sabar!"


Dia benar-benar mirip Divia kalau lagi pengen beli boneka kesukaannya. ersya tersenyum melihat wajah frustasi suaminya.


"Seneng banget suaminya menderita!" Div mencubit hidung sang istri gemas.


"Aughhh mas, sakit tahu!" Ersya mengusap hidungnya yang memerah.


"Abis suami menderita malah di tertawakan!"


"Mungkin kalau nggak sering-sering boleh kali ya mas!" mendengar ucapan Ersya yang ini tiba-tiba di depan wajah Div seperti ada sekumpulan bunga yang bertebaran.


"Yang benar?" Div tersenyum senang kali ini.


"Tanya dulu sama dokter!"


"Harapan palsu!"


"Siapa tahu boleh mas!"


Div memilih untuk merebahkan tubuhnya di tempat tidur Ersya. Ia menengadahkan tangannya seperti kalah perang.


"Rasanya mau pingsan saja!"


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu kamar rawat Ersya, membuat Ersya mengalihkan perhatiannya ke arah pintu.


"Masuk!"


Ceklek


Sekretaris Revan, berdiri di balik pintu yang mulai terbuka itu.


"Selamat sore Bu Ersya!"


"Selamat sore sekretaris Revan!"


"Semuanya sudah siap, apa kita pulang sekarang?"


Ersya pun menoleh pada suaminya yang seakan tidak peduli dengan kedatangan sekretaris Revan,


"Mas, ayo pulang!"


"Bodo ah, ngapain juga pulang!"


"Jangan kayak anak kecil gitu deh mas! Ayo pulang!" Ersya menarik tangan Div, walaupun begitu malas akhirnya Div pun ikut bangun dan turun dari tempat tidur.

__ADS_1


"Eh mau ke mana?" Div segera menahan tangan Ersya yang sudah turun dari tempat tidurnya.


"Pulang mas!"


Srekkkkkk


Dalam sekali hentakan saja, tubuh Ersya sudah berada di dalam gendongan Div dengan kedua tangan kekarnya itu.


"Mas_, mas_, kenapa gini?"


"Siapa yang bolehin kamu jalan kaki?"


"Tapi nggak gendong juga mas!"


"Gendong atau nggak usah pulang sama sekali!"


Selalu deh ....,


Ersya hanya bisa pasrah sekarang. Ia benar-benar tidak bisa menang kalau melawan suaminya.


Div terus membopong tubuh Ersya hingga sampai di mobil. Ia sengaja kali ini tidak mengabari Divia kalau Ersya akan pulang, ia ingin memberikan kejutan pada putrinya itu.


"Capek mas?" pertanyaan Ersya membuat Div tersenyum.


"Kalau cuma buat gendong kamu dari rumah sakit sampai rumah aja aku masih sanggup asal jangan suruh puasa lama-lama!"


Ersya seketika mencubit pinggang suaminya, ia melirik ke arah sekretaris Revan yang terlihat menahan senyumnya.


"Apaan sih mas, ada sekretaris Revan tuh!" bisik Ersya.


"Biarin, dia juga tahu rasanya kalau puasa, dia kan juga punya istri juga, anaknya juga sudah dua!" Div sengaja mengeraskan suaranya membuat Ersya semakin malu saja di buatnya.


Ihhhh, mas Div bikin malu aja ....


Brakkkk


Ersya menutup pintu mobil dengan keras tanpa menunggu suaminya naik. Div sampai memundurkan tubuhnya dan memegangi dadanya karena terlalu terkejut.


Sekretaris Revan hanya terus menahan senyum melihat kelakuan dua manusia yang sedang di mabuk asmara itu.


"Jangan tertawa!" Div menunjuk ke arah sekretaris Revan.


"Mana berani pak!" sekretaris Revan pun langsung menundukkan kepalanya dan Div kembali membuka pintu yang sudah tertutup, terlihat Ersya membuang muka sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Hehhhh


Div kembali menghela nafas, ia harus ekstra hati-hati membujuk sang istri agar tidak marah lagi.


...Kamu adalah hal terpenting dalam hidupku, karena kau udara bagi nafasku, darah bagi nadiku dan mimpi bagi lelapku...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2