
"Ayo Iyya kita tidur sayang, sudah malam! Mom akan membacakan dongeng untuk Iyya!"
Ersya memilih bermain dengan Iyya setelah perdebatannya dengan Div.
Setelah cukup lama dan lelah bermain, Ersya mengajak Iyya untuk tidur.
"Benarkah....., iya Iyya mau ....!" Iyya terlihat begitu semangat mendengar mom Eca nya akan membacakan dongeng. Ia jadi merasa sama dengan anak-anak lainnya yang tidur dengan di bacakan dongeng oleh mommy nya.
Ersya segera menggendong Iyya, membawanya ke kamar Iyya. Di dalam kamar terlihat begitu sepi karena sekarang tidak ada orang lain selain Iyya dan Ersya. Biasanya untuk merayu Iyya tidur butuh beberapa pelayan dan juga encus yang menjaga nya.
"Iyya mau tidul!" teriak senang Iyya sambil berlari menuju ke tempat tidur membuat Ersya menghela nafas.
"Iyya turun dulu!" ucap Ersya sambil berkacak pinggang sambil menggelengkan kepalanya.
"Ada apa mom?" Iyya bisa melihat wajah kesal mom Eca membuat Iyya kembali turun dan menghampiri mom Eca.
"Nggak boleh langsung tidur Iyya, seperti biasa sayang, kita harus gosok gigi!" ucap Iya sambil mengusap pipi Iyya.
"Bagaimana kalau hayi ini nggaj gocok gigi?" Iyya memberi tawaran agar tidak perlu gosok gigi hari ini.
"Nggak bisa karena hari ini mom Eca mau gosok gigi sama Iyya!"
Mendengar hal itu, Iyya tersenyum. Ia begitu senang bisa gosok gigi sama mom Eca. Rasanya seperti mimpi bisa melakukan hal-hal yang sama seperti teman-teman lainnya lakukan sebelum tidur.
"Baiklah, Iyya akan gocok gigi cama mom!"
Ersya mengusap puncak kepala Iyya gemas, anak itu benar-benar menggemaskan.
"Anak pintar!"
Ersya mengajak Iyya ke kamar mandi, mereka gosok gigi bersama. Sesekali terdengar celotehan dari Iyya yang membuat Ersya tertawa geli.
Setelah menyelesaikan acara gosok giginya, Ersya kembali membawa Iyya ke tempat tidur.
"Mom bacakan dongeng untuk Iyya!"
Ersya memeluk tubuh Iyya di atas tempat tidur sambil tiduran dan mulai membacakan dongeng untuk Iyya.
__ADS_1
"Pada suatu desa tinggallah gadis miskin seorang diri, dia berparas begitu cantik. Karena kecantikannya membuatnya selalu menutup wajahnya setiap kali keluar rumah.
Suatu ketika sang gadis pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar, di hutan ia bertemu dengan seorang pangeran tampan.
Tanpa sengaja penutup wajah gadis itu terbuka membuat pangeran dengan mudah melihat wajah cantik gadis itu.
Karena kecantikannya, sang pangeran jatuh_!" ucapan Ersya menggantung saat buku yang ada di tangannya terjatuh ke pangkuannya. Ternyata dua wanita beda generasi itu sama-sama tertidur dengan saling berpelukan dengan tangan kirinya di jadikan bantal oleh Iyya.
Div yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya melihat lampu kamar Iyya masih menyala pun tertarik untuk melihatnya.
"Masak Iyya jam segini belum tidur, ngapain aja pekerjaan wanita itu!?"
Div pun meletakkan gelasnya yang berisi air putih itu di atas meja kecil yang ada di depan kamar Iyya. Ia mulai membuka lebar pintu yang hanya terbuka sedikit.
Awalnya ia ingin segera marah tapi saat melihat dua wanita itu tertidur begitu pulas dengan saling berpelukan membuat Div mengurungkan niatnya untuk marah-marah.
Ia memutusakan untuk berjalan mendekat, "Mereka tertidur!"
Div berdiri tepat di samping mereka, dua wanita itu tampak begitu pulas dengan saling berpelukan. Ia pun memilih untuk mengambil ponsel yang ada di atas nakas di samping tempat tidur itu.
Ia segera menjepretkan beberapa kali kamera ponsel yang tidak di kunci itu. Hp itu adalah milik Ersya. Ia tersenyum puas melihat hasil jepretannya sendiri.
Div m mengembalikan ponsel itu ke tempatnya semula dan kembali fokus pada dua wanita yang tertidur pulas itu.
"Bukankah sudah ku katakan tidak boleh tidur bersama Iyya di kamarnya, wanita ini benar-benar ya .....!" gerutunya lagi. Tapi alih-alih ingin membangunkan wanita itu tapi ternyata Div malah mengambil buku yang jatuh mengenai perut Ersya dan meletakkannya di atas meja.
Setelah itu Div pun mengambil selimut dan menyelimutkannya ke tubuh Iyya dan Ersya.
Ia mengusap kepala putrinya dan mendekatkan wajahnya hendak mencium kening istrinya itu tapi saat begitu dekat, ia baru sadar jika jarak wajahnya dengan wajah putrinya sama dekatnya dengan wajah Ersya bahkan ia bisa merasakan hembusan nafas lembut Ersya yang menyapu pipinya.
Div sejenak beralih menatap wajah cantik itu, seperti sebuah dejavu. Div seperti kembali ke masa itu, masa di mana ia membawa Ersya pulang ke rumahnya saat mabuk saat itu. Bibir itu masih bibir yang sama, bibir merah muda.
Apa yang sudah kamu pikirkan Div ....., batin Div berusaha untuk mengendalikan perasaannya sendiri.
Ia pun melanjutkan mencium kening Iyya.
"Selamat malam sayang!"
__ADS_1
Dan segera menjauh dari wajah itu, ia pergi dan mematikan lampu kamar itu dan meninggalkan kamar itu. Ia harus kembali melanjutkan pekerjaannya.
Div bukan tipe orang yang istirahat di rumah, ia akan bekerja sampai tengah malam atau bahkan bisa sampai pagi dan tidur setelah benar-benar matanya ingin tidur.
Karena sore ia tidak sempat makan gara-gara ulah Ersya. Div pun kembali membuat ulah di malam hari dengan meminta koki dapurnya untuk membuatkan makanan untuk makan malam.
"Permisi tuan, ini makanannya!" ucap koki dapurnya itu sambil meletakkan satu piring stik kentang.
"Terimakasih!"
Sudah jam 02.15 dini hari dan ini adalah makanan ke tiganya setelah roti bakar dan mie kuah.
Dia pikir semua orang akan bisa bangun malam seperti dirinya, terlihat sekali bahkan gelas kosong itu sudah lebih dari lima gelas semenjak setelah makan malam hingga fajar hampir menyingsing.
Dan yang paling parah adalah pria itu tidak pernah benar-benar menghabiskan makanannya.
Setelah matanya benar-benar capek, ia baru akan menghentikan pekerjaan nya dan tidur di tempat kerjanya juga, ia lebih sering menghabiskan waktunya untuk tidur di sofa dari pada di tempat tidurnya.
Bahkan di tangannya masih memegang laptop dan berkas yang begitu berantakan. Ia baru tidur saat ia benar-benar lupa cara untuk membuka matanya.
"Kasihan tuan Div ya!" ucap salah satu koki yang mulai membersihkan dapurnya saat memastikan jika tuan Div sudah benar-benar tidur.
"Iya, padahal dia dulu tidak sebegitu parahnya, sekarang seakan-akan dalam hidupnya hanya ada kerja dan kerja dan nona Iyya!" ucap pelayan yang menemani koki yang bertugas waktu itu.
"Memang apa alasannya sampai tuan Div seperti itu?"
"Semenjak tuan Div tahu kalau dia penyebab kematian mom nya nona Iyya!"
"Kasihan sekali ...!"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰