
Div benar-benar tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya, ia terus menunggui di depan ruang IGD.
"Mau sampai kapan sih di sini, lama sekali!" gerutunya sambil terus mondar-mandir di depan ruang IGD .
"Sabar tuan, mungkin dokter sedang memastikan sesuatu!" Ajun mencoba untuk menenangkan Div.
"Tapi ini lama sekali!" Div masih tidak mau menunggu. "Awas saja kalau terjadi sesuatu!" keluhnya terus menerus.
Hingga akhirnya pintu itu kembali terbuka dan sebuah ranjang dorong pasien keluar dari ruangan itu, dia atasnya ada Ersya yang masih belum sadar dengan slang infus di tangannya, dua perawat mengiringinya.
"Maaf siapa suami Bu Ersya?" tanya perawat itu.
"Saya!" Div dengan cepat menjawab dan mendekati istrinya, ia segera memeluk dan meninggalkan kecupan di wajah Ersya hingga beberapa kali.
Setelah Div kembali menjauh, perawat itu berbicara kembali,
"Mari pak, saya tunjukkan kamar Bu Ersya!"
"Baik!"
Div terus menggenggam tangan Ersya hingga sampai di ruang perawatan.
Div Barus sadar jika ia sudah begitu lama mengabaikan putrinya karena terlalu mencemaskan Ersya.
"Dad, mom tidak pa pa?" tanya Divia sambil mengusap pipi mommynya.
Div mengusap kepala Divia, ia mencium puncak kepala putrinya itu,
"Maafkan Daddy ya sayang, kamu pasti lelah dan lapar?"
Divia menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak dad, mom pasti sangat sakit hingga tidak mau cepat bangun!"
"Mom baik-baik saja sayang, Iyya pulang dulu ya sayang, biar Daddy yang tunggu mom, nanti kalau mom sudah bangun, Daddy janji akan telpon Iyya!" ucap Daddy Div panjang lebar agar putrinya itu mau mengerti.
Div begitu khawatir dengan keadaan Divia, Divia baru saja pulang dari camping dan ini pengalaman pertamanya setelah sembuh dari sakitnya,
Div pun meminta Rangga untuk mengantarnya pulang lebih dulu dan kembali lagi besok pagi.
"Maaf ya Ga, saya selalu merepotkan kamu!" ucap Div setelah mereka berada di luar ruangan.
"Jangan khawatir pak, Divia pasti baik-baik saja!"
"Terimakasih!"
"Pak!?"
"Hmm?"
__ADS_1
"Ersya bisa hamil?" tanya Rangga, itu pertanyaan yang sedari tadi ingin dia tanyakan tapi belum menemukan waktu yang tepat.
Div pun menganggukkan kepalanya.
Rangga menggerutkan keningnya, "Pak Div sudah tahu sejak awal?"
"Iya!"
Mendengarkan ucapan singkat dari Div, Rangga sekarang faham. Seharusnya dia sudah menyadarinya dari dulu bagaimana sepak terjang atasannya itu.
Sesuatu yang tidak di ketahui oleh orang lain dan di tutup rapat pasti bisa di ketahui oleh atasannya itu. Bagi Div, Rizal bukan tandingannya.
"Saya turut senang pak, selamat ya pak!"
"Terimakasih!"
"Salam untuk Ersya!" ucap Rangga sebelum dia benar-benar pergi.
"Hmm!" walau bagaimana pun, Div tidak bisa mengabaikan rasa cemburunya.
Setelah mengantar Rangga dan Divia keluar, Div pun kembali memasuki ruangan Ersya dan mendapati Ersya masih belum bangun.
Div duduk di samping tempat tidur Ersya, tangannya terus menggenggam tangan Ersya, Div sampai lupa jika masih ada Ajun di sana.
Memang saat Div keluar Ajun tidak ada karena dia masih menemui salah satu dokter di sana yang ternyata temannya. Setelah selesai dengan urusannya, Ajun pun menyusul Div untuk berpamitan pergi karena sebenarnya dia punya tugas lainnya.
"Tuan!"
"Maafkan saya tuan, saya harus pergi dulu, tuan tidak pa pa kan sendiri?"
"Iya, terimakasih sudah mengantar kesini!"
"Sama-sama tuan! Saya permisi!"
Div menganggukkan kepalanya dan Ajun pun menunduk hormat lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Setelah Ajun pergi, Div pun kembali fokus pada Ersya, saat ia menggenggam tangan istrinya itu, ia bisa melihat istrinya mulai sadar.
Mata Ersya berkedip cepat, Div mengusap pipi Ersya perlahan agar istrinya tidak terkejut.
"Sayang, kamu sudah bangun? Apa yang sakit?" tanya Div.
Ersya terlihat beberapa kali mengedipkan matanya, ia berusaha untuk mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa aku di sini?" tanyanya dengan suara lemahnya, ia menarik tangan yang tidak tertancap slang infus dan mengusap kepalanya yang terasa berat.
"Kamu tadi pingsan sayang!"
__ADS_1
Ersya menoleh ke arah Div, ia mengerutkan keningnya. Seingatnya bukan seperti ini posisinya, seharusnya yang di rawat suaminya.
Dengan cepat Ersya bangun dari tidurnya dan dalam posisi duduk,
"Mas!"
Div tidak kalah terkejutnya,
"Apa yang kamu lakukan, tidur!"
"Mas, apa yang terjadi?"
"Tidur lagi dan aku akan menjawabnya!" Div kembali membantu Ersya untuk kembali tidur.
"Jangan aneh-aneh mas, tanganmu sakit kan?"
"Kamu yang jangan aneh-aneh! Jangan keras kepala, tidur atau aku tidak akan menjelaskan apapun padamu!"
"Suka sekali mengancam!"
Ersya pun pasrah, ia harus kembali dalam posisi tidur,
"Mas aku mau setengah tidur aja!" ucapnya, walaupun sebenarnya tubuhnya masih terasa sangat lemas, tapi dia rasanya kurang nyaman jika berbincang dengan posisi tidur sedangkan suaminya duduk di sampingnya.
"Baiklah!"
Div pun mengganjal kan sebuah bantal di bawah punggung dan kepala Ersya, ia juga menaikkan sebagian tempat tidur Ersya dengan posisi sedikit duduk.
"Mas, tangan kamu bagaimana?" tanya Ersya saat sudah dalam posisi yang benar.
"Bisa nggak berhenti mengkhawatirkan aku!?" keluh Div kesal karena saat ia sedang berusaha merancang kata-kata, Ersya kembali bertanya padanya.
"Mana bisa mas, tangan kamu gimana? Aku mau lihat!" Ersya sampai berusaha mengangkat kepalanya agar bisa menjangkau tangan Div.
"Bisa nggak berhenti bicara sebentar, biarkan aku yang gantian bicara!"
"Kenapa sih gitu amat!" Ersya kesal karena tidak bisa melihat dengan pasti lengan suaminya.
"Karena kamu hamil!" ucap Div cepat dan Ersya seketika diam seribu bahasa.
Bersambung
...Kamu itu berharga karena kamu berada di dekat orang-orang yang menghargai kamu, Jadi jangan siakan orang yang ada di samping kamu demi seseorang yang belum tentu bisa menghargai perjuanganmu...
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy reading 🥰🥰🥰