
Kembali mengeratkan
selimut di pagi hari memang sangatlah nyaman, begitulah yang terjadi pada
wanita yang tengah tidur di kamar barunya itu.
Berbeda dengan pria
yang ada di sampingnya, entah kenapa dia jadi begitu betah untuk memiringkan
tubuhnya dan menatap wanita yang tertidur pula situ. Di saat seperti ini
biasanya ia sudah berada lantai untuk mengeluarkan keringatnya.
Seperti semalam, ia
masih menggunakan telapak tangannya yang di satukan sebagai bantal kepalanya.
Dia biasa saja, apa
yang luar biasa?
Beberapa kali itu yang
menjadi pertanyaan dalam benaknya, ia memang tidak mengaguminya tapi ia juga
tidak keberatan untuk berbagi ranjang dengan wanita itu.
“Ehhhhww …!”
Tiba-tiba sebuah
pergerakan dari wanita yang sedang di amati membuatnya begitu terkejut, ia pun
segera menutup matanya dan pura-pura tidur.
Ersya membuka matanya,
ia sedikit tersentak saat menyadari di depannya ada seseorang yang juga sedang
tertidur, sepertinya dia lupa jika semalam sudah tidur di kamar baru dengan
suaminya.
“Dia?!”
Ahhhh …, kenapa bisa
lupa ?
Ersya menatap ke
dinding yang ada di depannya, masih jam empat pagi, berarti Divia pun belum
bangun. Ia masih punya banyak waktu untuk persiapan.
Tapi perhatiannya
kembali lagi pada pria yang tengah memejamkan mata di depannya itu.
Ia mengamati setiap
inci wajah tampan itu, “Dia tampan sih tapi kenapa menyebalkan sekali? Apalagi
dia diktaktor!”
Enak saja saya di
bilang diktaktor …
Div ingin sekali
memberi pelajaran pada wanita di depannya, tapi dia juga ingin tahu apa yang
akan di lakukan oleh istrinya itu.
“Dia masih tidur kan?”
gumam Ersya, ia mengibaskan tangannya beberapa kali di depan wajah
Div.memastikan jika pria itu masih tidur.
“Dia benar masih tidur!”
Ersya tiba-tiba
tersenyum, tangannya yang sedari tadi memegangi selimutnya tiba-tiba ingin
sekali menyentuh wajah itu. wajah pria tampan di depannya.
Jari telunjuknya
mendarat di alis tebal pria itu, perlahan jari-jari lentik Ersya berpindah ke
kelopak matanya lalu berpindah ke hidungnya yang tinggi. Kulitnya yang putih
begitu bersih walaupun masih bangun tidur.
Lalu berhenti tepat di
bibir tebal dengan warna merah merona. Bibirnya terlihat begitu seksi.
Kenapa bibirnya seksi
sekali sih? Apa lagi pas bangun tidur kayak gini, rasanya pengen menggigitnya
….
“Aughhhh …!”
__ADS_1
Karena terlalu fokus
dengan khayalannya, tiba-tiba tangannya sudah di gigit oleh pemilik wajah
tampan itu.
“Aughhh aughhh sakit
tahu ….!” Keluh Ersya membuat Div tersenyum.
Ersya memegangi jarinya
yang memerah karena bekas gigitan dari Div.
“Kamu pasti sangat
menginginkan ciuman dari bibir seksi ku kan?!” ucap Div menggoda sambil
tersenyum menatap Ersya.
“Enggak, siapa juga
yang kayak gitu! Bibir tebel kayak gitu aja di bilang seksi!”
Ersya hendak berbalik,
ia begitu malu karena tertangkap basah mengagumi wajah pria itu. tapi ….
Srekkkkk
“Aaaaaa!” teriak Ersya
karena sangat terkejut. Divta menarik tubuh Ersya dan menindihnya.
“Apa-apaan sih, turun
dari tubuhku nggak?”
“Enggak!”
“Div!”
“Sya!”
“Apaan sih!?”
Cup
Div segera membungkam
bibir Ersya dengan bibirnya. Membuat Ersya terpaku seketika, tapi dia juga tidak
ingin menghindar dari bibir hangat itu. bibirnya begitu seksi, Ersya membiarkan
pria itu ******* bibirnya. Ia ikut terpancing untuk mengikuti permainan Div,
tangannya bahkan mencengkeram erat baju tidur Div. ersya sudah mulai
“Eghhhh ….!” Lenguhan
itu muncul dengan sendirinya dari bibir Ersya membuat Div tersenyum. Saat
menyentuh wanita ini, dia tidak lagi menemukan bayangan-bayangan menyedihkan
dari wajah Davina membuatnya ingin melanjutkan aksinya. Ia ingin tahu sejauh
mana instingnya untuk menyentuh wanita kembali, ia juga tidak tahu kenapa tubuh
wanita yang kini berada di bawah kungkungan tubuhnya begitu menarik baginya.
Tangan Div juga mulai
menjelajah ke perut rata Ersya, menyingkap piyamanya san mengusapnya, memberi
sentuhan yang membuat Ersya seperti melayang. Tangannya juga mulai merambah
naik, menemukan dua gundukan itu dan meremasnya secara bergantian. Bibir div
juga mulai bermain di leher dan dada Ersya, bahkan kancing piyama Ersya sudah
terbuka dua di bagian atas hingga menampakkan belahan dadanya.
“Eghhhh …, sudahhhh …,
Div …!”
Ersya semakin tidak
terkontrol, ia ingin lepas tapi rasanya tubuhnya tetap menginginkan sentuhan
itu. Bahkan sentuhan itu semakin membuatnya menggila.
Kini bukan hanya dua
kancing baju, bahkan seluruh kancing piyama Ersya sudah terlepas menampakkan
tubuh mulus Ersya, dada yang masih tertutup oleh bra berwarna merah hati membuat
tubuh itu semakin seksi.
Div bukannya melepaskan
Ersya, ia malah semakin menggila. Bibirnya memberi jejak di setiap jengkal dada
dan leher Ersya, bahkan di perut wanita itu juga.
Tangan Div sudah
bersiap-siap untuk menurunkan celana piyama Ersya, tangannya sudah menyentuh
__ADS_1
celana itu, tapi tiba-tiba ….
Tok tok tok
Sebuah ketukan di pintu
membuat Div menghentikan tangannya. Bibirnya yang sedang berada di dada Ersya
segera ia jauhkan.
Div menoleh kearah
pintu yang masih tertutup, ia berdecak kesal karena juniornya kini sedang on
dan bersiap untuk buka puasa setelah empat tahun tidak berfungsi.
“Siapa?” tanyanya.
“Saya tuan!” suara
seseorang di luar kamar. Div kembali menatap Ersya, wanita itu terlihat sudah
menutup wajahnya dengan selimut. Div tersenyum lalu mendekatkan wajahnya dan
berbisik,
“Kita harus lanjutkan
yang sudah di mulai, rapikan bajumu dan aku akan membuka pintunya!”
Div segera turun dari
tempat tidur dan menghampiri pintu. Ia berhenti sejenak di depan pintu hanya
untuk memastikan jika istrinya itu sudah kembali merapikan bajunya. Ersya
terlihat mengancingkan satu per satu piyamanya.
Setelah memastikan jika
semua semua terkancing, Div membuka pintu yang sebenarnya tidak di kunci,
Ceklek
“Ada apa?” tanya Div
saat pintu sudah terbuka sempurna, di depan itu ada seorang pria yang
sepertinya adalah kepala pelayan dengan usia sekitar lima puluh tahun itu
berdiri tegak di depan pintu.
“Semalam kata koki yang
melayani tuan, tuan tidak memintanya memasakkan sesuatu, apa tuan baik-baik
saja?” wajah kepala pelayan itu terlihat begitu khawatir, karena biasanya jika
div tidak bangun malam, atau tidak begadang dia sedang tidak enak badan.
“Apa perlu saya
panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan tuan?”
“Lihatlah, memang
sekarang saya terlihat tidak baik-baik saja?” Div malah balik bertanya sambil
merentangkan kedua tangannya.
“Jadi tuan baik-baik
saja? Tapi tuan juga tidak olah raga pagi ini?”
Siapa bilang tidak olah
raga, saya baru olah raga tapi kamu malah menggangunya…., batin Div.
“Intinya saya baik-baik
saja dan sekarang kamu boleh melanjutkan pekerjaanmu, jangan ganggu saya
sebelum saya panggil!”
“Baik tuan, maaf
menggangu istirahat tuan!”
Sudah tahu ganggu,
masih betah di sini aja ….
Div pun segera menutup
kembali pintunya dari dalam dan menguncinya. Kepala pelayan itu terlihat bingun
di luar kamar. Ia masih begitu ragu untuk meninggalkan kamar itu.
“Apa benar tuan
baik-baik saja?” gumam kepala pelayan itu dan memilih untuk pergi meninggalkan
kamar itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰