Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
olahraga pagi


__ADS_3

Kembali mengeratkan


selimut di pagi hari memang sangatlah nyaman, begitulah yang terjadi pada


wanita yang tengah tidur di kamar barunya itu.


Berbeda dengan pria


yang ada di sampingnya, entah kenapa dia jadi begitu betah untuk memiringkan


tubuhnya dan menatap wanita yang tertidur pula situ. Di saat seperti ini


biasanya ia sudah berada lantai untuk mengeluarkan keringatnya.


Seperti semalam, ia


masih menggunakan telapak tangannya yang di satukan sebagai bantal kepalanya.


Dia biasa saja, apa


yang luar biasa?


Beberapa kali itu yang


menjadi pertanyaan dalam benaknya, ia memang tidak mengaguminya tapi ia juga


tidak keberatan untuk berbagi ranjang dengan wanita itu.


“Ehhhhww …!”


Tiba-tiba sebuah


pergerakan dari wanita yang sedang di amati membuatnya begitu terkejut, ia pun


segera menutup matanya dan pura-pura tidur.


Ersya membuka matanya,


ia sedikit tersentak saat menyadari di depannya ada seseorang yang juga sedang


tertidur, sepertinya dia lupa jika semalam sudah tidur di kamar baru dengan


suaminya.


“Dia?!”


Ahhhh …, kenapa bisa


lupa ?


Ersya menatap ke


dinding yang ada di depannya, masih jam empat pagi, berarti Divia pun belum


bangun. Ia masih punya banyak waktu untuk persiapan.


Tapi perhatiannya


kembali lagi pada pria yang tengah memejamkan mata di depannya itu.


Ia mengamati setiap


inci wajah tampan itu, “Dia tampan sih tapi kenapa menyebalkan sekali? Apalagi


dia diktaktor!”


Enak saja saya di


bilang diktaktor …


Div ingin sekali


memberi pelajaran pada wanita di depannya, tapi dia juga ingin tahu apa yang


akan di lakukan oleh istrinya itu.


“Dia masih tidur kan?”


gumam Ersya, ia mengibaskan tangannya beberapa kali di depan wajah


Div.memastikan jika pria itu masih tidur.


“Dia benar masih tidur!”


Ersya tiba-tiba


tersenyum, tangannya yang sedari tadi memegangi selimutnya tiba-tiba ingin


sekali menyentuh wajah itu. wajah pria tampan di depannya.


Jari telunjuknya


mendarat di alis tebal pria itu, perlahan jari-jari lentik Ersya berpindah ke


kelopak matanya lalu berpindah ke hidungnya yang tinggi. Kulitnya yang putih


begitu bersih walaupun masih bangun tidur.


Lalu berhenti tepat di


bibir tebal dengan warna merah merona. Bibirnya terlihat begitu seksi.


Kenapa bibirnya seksi


sekali sih? Apa lagi pas bangun tidur kayak gini, rasanya pengen menggigitnya


….


“Aughhhh …!”

__ADS_1


Karena terlalu fokus


dengan khayalannya, tiba-tiba tangannya sudah di gigit oleh pemilik wajah


tampan itu.


“Aughhh aughhh sakit


tahu ….!” Keluh Ersya membuat Div tersenyum.


Ersya memegangi jarinya


yang memerah karena bekas gigitan dari Div.


“Kamu pasti sangat


menginginkan ciuman dari bibir seksi ku kan?!” ucap Div menggoda sambil


tersenyum menatap Ersya.


“Enggak, siapa juga


yang kayak gitu! Bibir tebel kayak gitu aja di bilang seksi!”


Ersya hendak berbalik,


ia begitu malu karena tertangkap basah mengagumi wajah pria itu. tapi ….


Srekkkkk


“Aaaaaa!” teriak Ersya


karena sangat terkejut. Divta menarik tubuh Ersya dan menindihnya.


“Apa-apaan sih, turun


dari tubuhku nggak?”


“Enggak!”


“Div!”


“Sya!”


“Apaan sih!?”


Cup


Div segera membungkam


bibir Ersya dengan bibirnya. Membuat Ersya terpaku seketika, tapi dia juga tidak


ingin menghindar dari bibir hangat itu. bibirnya begitu seksi, Ersya membiarkan


pria itu ******* bibirnya. Ia ikut terpancing untuk mengikuti permainan Div,


tangannya bahkan mencengkeram erat baju tidur Div. ersya sudah mulai


“Eghhhh ….!” Lenguhan


itu muncul dengan sendirinya dari bibir Ersya membuat Div tersenyum. Saat


menyentuh wanita ini, dia tidak lagi menemukan bayangan-bayangan menyedihkan


dari wajah Davina membuatnya ingin melanjutkan aksinya. Ia ingin tahu sejauh


mana instingnya untuk menyentuh wanita kembali, ia juga tidak tahu kenapa tubuh


wanita yang kini berada di bawah kungkungan tubuhnya begitu menarik baginya.


Tangan Div juga mulai


menjelajah ke perut rata Ersya, menyingkap piyamanya san mengusapnya, memberi


sentuhan yang membuat Ersya seperti melayang. Tangannya juga mulai merambah


naik, menemukan dua gundukan itu dan meremasnya secara bergantian. Bibir div


juga mulai bermain di leher dan dada Ersya, bahkan kancing piyama Ersya sudah


terbuka dua di bagian atas hingga menampakkan belahan dadanya.


“Eghhhh …, sudahhhh …,


Div …!”


Ersya semakin tidak


terkontrol, ia ingin lepas tapi rasanya tubuhnya tetap menginginkan sentuhan


itu. Bahkan sentuhan itu semakin membuatnya menggila.


Kini bukan hanya dua


kancing baju, bahkan seluruh kancing piyama Ersya sudah terlepas menampakkan


tubuh mulus Ersya, dada yang masih tertutup oleh bra berwarna merah hati membuat


tubuh itu semakin seksi.


Div bukannya melepaskan


Ersya, ia malah semakin menggila. Bibirnya memberi jejak di setiap jengkal dada


dan leher Ersya, bahkan di perut wanita itu juga.


Tangan Div sudah


bersiap-siap untuk menurunkan celana piyama Ersya, tangannya sudah menyentuh

__ADS_1


celana itu, tapi tiba-tiba ….


Tok tok tok


Sebuah ketukan di pintu


membuat Div menghentikan tangannya. Bibirnya yang sedang berada di dada Ersya


segera ia jauhkan.


Div menoleh kearah


pintu yang masih tertutup, ia berdecak kesal karena juniornya kini sedang on


dan bersiap untuk buka puasa setelah empat tahun tidak berfungsi.


“Siapa?” tanyanya.


“Saya tuan!” suara


seseorang di luar kamar. Div kembali menatap Ersya, wanita itu terlihat sudah


menutup wajahnya dengan selimut. Div tersenyum lalu mendekatkan wajahnya dan


berbisik,


“Kita harus lanjutkan


yang sudah di mulai, rapikan bajumu dan aku akan membuka pintunya!”


Div segera turun dari


tempat tidur dan menghampiri pintu. Ia berhenti sejenak di depan pintu hanya


untuk memastikan jika istrinya itu sudah kembali merapikan bajunya. Ersya


terlihat mengancingkan satu per satu piyamanya.


Setelah memastikan jika


semua semua terkancing, Div membuka pintu yang sebenarnya tidak di kunci,


Ceklek


“Ada apa?” tanya Div


saat pintu sudah terbuka sempurna, di depan itu ada seorang pria yang


sepertinya adalah kepala pelayan dengan usia sekitar lima puluh tahun itu


berdiri tegak di depan pintu.


“Semalam kata koki yang


melayani tuan, tuan tidak memintanya memasakkan sesuatu, apa tuan baik-baik


saja?” wajah kepala pelayan itu terlihat begitu khawatir, karena biasanya jika


div tidak bangun malam, atau tidak begadang dia sedang tidak enak badan.


“Apa perlu saya


panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan tuan?”


“Lihatlah, memang


sekarang saya terlihat tidak baik-baik saja?” Div malah balik bertanya sambil


merentangkan kedua tangannya.


“Jadi tuan baik-baik


saja? Tapi tuan juga tidak olah raga pagi ini?”


Siapa bilang tidak olah


raga, saya baru olah raga tapi kamu malah menggangunya…., batin Div.


“Intinya saya baik-baik


saja dan sekarang kamu boleh melanjutkan pekerjaanmu, jangan ganggu saya


sebelum saya panggil!”


“Baik tuan, maaf


menggangu istirahat tuan!”


Sudah tahu ganggu,


masih betah di sini aja ….


Div pun segera menutup


kembali pintunya dari dalam dan menguncinya. Kepala pelayan itu terlihat bingun


di luar kamar. Ia masih begitu ragu untuk meninggalkan kamar itu.


“Apa benar tuan


baik-baik saja?” gumam kepala pelayan itu dan memilih untuk pergi meninggalkan


kamar itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2