Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Jadi lebih licik


__ADS_3

Ersya masih berdiri di tempatnya saat mobil yang di tumpangi suaminya pergi meninggalkannya. Setelah yakin mobil itu menghilang Ersya segera kembali masuk.


Suara canda tawa dari ruang keluarga membuatnya begitu malas untuk melewatinya, tapi dia bingung harus lewat mana, tidak ada jalan lain selain lewat ruang keluarga untuk kembali ke kamarnya.


"Mari saya antar nyonya!"


Perkataan seseorang menyadarkannya, di belakangnya ada kepala pelayan. Tapi setidaknya dia sekarang bisa bernafas lega karena ada kepala pelayan yang siap dua puluh empat jam menjaganya dari gangguan dua makhluk itu.


Ersya pun kembali berjalan, kepala pelayan pasti memastikannya untuk tetap beristirahat di kamar, atau jika berada di ruangan lainnya makan akan ada kepala pelayan bersamanya.


Langkah Ersya melambat saat sampai di samping sofa tempat nyonya Aruni dan Ellen duduk. Menyadari kedatangan Ersya, nyonya Aruni dan Ellen mengehentikan tawanya.


Ellen segera berdiri dan seperti sedang memastikan sesuatu,


"Sya, kamu tidak pa pa?"


Ersya tampak berpikir, mungkin benar dugaan suaminya jika ada sesuatu dalam makanan itu.


"Ahhh iya!" Ersya segera memegangi perutnya, lalu berpindah ke kepalanya, "Perutku tiba-tiba mules, kepalaku juga pusing!"


Ellen tampak tersenyum, meskipun sedikit memalingkan wajahnya agar Ersya tidak bisa melihat senyum jahatnya.


"Nyonya, nyonya tidak pa pa?"


" Saya akan telpon tuan dulu nyonya!"


"Pelayan ...., pelayan .... , bawa nyonya ke kamar!"


Kepala pelayan malah yang kena prank Ersya, ia tampak begitu panik. Ia segera mengambil ponselnya yang berada di saku bajunya dan menghubungi seseorang, tapi tangan Ersya segera mencegahnya.


"Nanti saja menghubunginya, cepat bawa saya ke kamar, kakiku benar-benar lemas sekarang!"


Akting Ersya benar-benar meyakinkan, ia bahkan sampai menyandarkan tubuhnya dinding dengan tangan kiri memegangi perutnya sedangkan tangan kanan memegang tangan kepala pelayan.


"Baiklah nyonya!"


"Kalau begitu biar aku saja yang menghubungi Div, bawa Ersya ke kamarnya!" Ellen pura-pura peduli dengan keadaan Ersya saat ini.


"Baik nona!"


Kepala pelayan segera membawa Ersya ke kamarnya di ikuti oleh beberapa pelayan lainnya yang menghampiri mereka saat di panggil tadi.


Ellen pun kembali menghampiri nyonya Aruni dan kembali duduk di sampingnya.


"Kamu yakin mau menghubungi Div?"


"Iya!" Ellen kembali tersenyum dan menoleh pada nyonya Aruni yang tercengang dengan jawaban Ellen, "Tapi bukan sekarang tante, satu jam lagi saat suara ribut dari kamar kembali terdengar!"


"Kamu pintar sekali!"


"Kita harus bermain cantik Tante, jangan sampai terlihat jika kita dalang di balik peristiwa ini!"


"Tapi kamu yang menyiapkan sarapan untuknya, sudah pasti kamu yang akan tertuduh!"


"Tidak ada bukti, tidak ada racun atau apa yang ada dalam makanan itu!"

__ADS_1


"Tapi kamu sudah menaruh sesuatu tadi!"


"Itu bukan racun tapi hanya obat perangsang kontraksi! Tidak ada yang akan curiga!"


Ersya yang sudah berada di depan kamar, segera mengehentikan langkahnya.


Aku tidak boleh percaya pada siapapun, kecuali kepala pelayan.


"Aku mau di temani kepala pelayan saja!"


Mendengar permintaan Ersya, kepala. pelayan pun segera meminta pelayan lainnya untuk meninggalkan mereka.


Kini kepala pelana dan Ersya saja yang masuk ke dalam kamar,


"Tutup!"


"Baik nyonya!"


Kepala pelayan mengantar Ersya ke tempat tidurnya dan segera kembali untuk menutup pintunya.


Saat ia kembali, ia begitu terkejut ketika mengetahui Ersya sudah berdiri tegak dan memegang ponselnya hendak mengirimkan pesan pada seseorang.


"Nyonya_!"


Ersya hanya tersenyum sebentar lalu kembali melanjutkan mengirim pesan.


"Nyonya tidak pa pa!"


//Jangan khawatir aku tidak pa pa💖// send, read.


Ersya tersenyum dan kembali meletakkan ponselnya, ia duduk dengan melipat satu kakinya di atas kakinya yang lain, lalu menatap kepala pelayan yang masih berdiri di tempatnya dengan terpaku.


"Seperti yang kamu lihat, aku tidak pa pa! Tapi bisakah aku minta tolong padamu!"


"Apa nyonya?"


"Nanti saat tiba waktunya, aku akan memberitahumu! Maaf aku tidak bisa mempercayai sembarang orang sekarang, jadi bisakah kamu aku percaya?"


"Saya siap mati demi menjaga keluarga ini nyonya, nyonya Ratih dan tuan Wijaya begitu berjasa dalam hidup saya dan keluarga saya!"


Saya percaya pada orang yang tepat!


Sekarang Ersya benar-benar merasa yakin jika kepala pelayan berada di pihaknya, karena dia termasuk orangnya nyonya Ratih.


...🍂🍂🍂...


"Lama sekali reaksinya?" tampak nyonya Aruni tidak sabar. Ia terlihat terus mondar-mandir di depan sofa tempatnya duduk tadi.


"Sabar lah Tante, bentar lagi, mungkin lima menit lagi!" Ellen masih begitu tenang sambil memainkan ponselnya dari tadi.


Dan benar, lima menit kemudian dari kamar Ersya terdengar suara ribut-ribut, pelayan mulai berdatangan satu persatu, pengawal yang berjaga di depan pun tampak masuk dan menuju ke kamar Ersya.


"Sudah di mulai Tante!"


Mereka pun ikut naik ke kamar Ersya dan melihat apa yang terjadi. Terlihat kepala pelayan sibuk melakukan panggilan, dan Ersya sudah duduk di sudut tempat tidur dan ada darah yang mengalir di kakinya.

__ADS_1


"Ya ampun, Ersya kamu kenapa?" Ellen mendekat dan memastikan jika itu benar-benar darah. Ellen mencolek sedikit darah yang menetes di lantai dan memastikan jika itu benar-benar darah dan ternyata benar, itu darah.


"Ya ampun, kamu keguguran! cepat panggilkan ambulan kuat harus membawanya ke rumah sakit."


Nyonya Aruni juga pura-pura menunjukkan rasa simpatinya dengan memeluk Ersya,


"Sabar ya, mama juga sedih, mama harus kehilangan cucu mama lagi!"


Mereka pun akhirnya membawa Ersya ke mobil, bukan mobil ambulan. Kepala pelayan kembali berhenti dan menoleh pada nyonya Aruni dan Ellen.


"Tolong nyonya tetap di rumah sampai nona Divia pulang ya nyonya, jangan katakan apapun pada nona Divia!"


"Iya, iya sudah sana pergi, kasihan Ersya kalau kelamaan, dia harus segera di tangani dokter!"


Kepala pelayan pun kembali bergabung dengan mobil yang di tumpangi Ersya bersama beberapa pengawal lainnya.


"Sekarang waktunya!" ucap Ellen saat mobil sudah meninggalkan rumah, ia mengambil gawai dan melakukan panggilan kepada Div.


"Hallo Div!"


"Ada apa?"


"Ersya Div!" nada suara Ellen di buat sepanik mungkin agar Div tidak curiga.


"Ersya kenapa?"


"Sepertinya Ersya keguguran!"


"Keguguran? Kok bisa?"


"Nggak tahu, mungkin karena apa yang kalian lakukan tadi pagi!"


"Memang apa yang kami lakukan?"


"Sesaat sebelum aku masuk ke kamarmu, kata dokter seharusnya kalian tidak melakukan itu duluan akan selama beberapa Minggu!"


"Baiklah, tetaplah di rumah, aku titip Divia ya, jangan katakan apapun padanya!'


"Pasti!"


"Terimakasih ya!"


Sambung telpon pun terputus.


"Kamu hebat banget sih!" tampak nyonya Aruni begitu bangga dengan rencana Ellen.


"Iya lah Tante, Ellen gitu!"


...Kamu tidak perlu pintar untuk mengahadapi orang yang licik, tapi kamu hanya perlu lebih licik untuk mengalahkannya, seperti halnya menghadapi orang bodoh. Kita tidak perlu menunjukkan kepintaran kita cukup jadilah orang yang lebih bodoh darinya...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2