Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Dia datang


__ADS_3

Satu jam yang lalu di kantor finity group.


Pria yang sedang sibuk dnegan


tumpukan map di depannya tersadar setelah melihat jam yang melekat di


tangannya.


"Sudah waktunya!"


Ia segera menutup semua map itu dan


menumpuknya di sudut meja, ia mencari ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Hallo pak!"


"Masuk ke ruangan ku!"


"Baik pak!"


Tidak berapa lama, pintu ruangan di


ketuk.


"Masuk!"


Seorang pria dengan pakaian resmi


masuk dari balik pintu. Dia adalah sekretaris Revan.


"Ada apa pak?" tanya


sekretaris Revan.


“Siapkan baju semi resmi untukku,


satu tunggu setengah jam lagi!”


“Baik pak!”


Sekretaris Revan segera keluar dari


ruangan pria itu. Ia segera melaksanakan perintah atasannya dengan menghubungi


pemilik butik yang biasa bosnya memesan baju.


"Pak Divta butuh baju semi


formal, segera antar ke ruangan pak Divta!" ucap sekretaris Revan di


sambungan telponnya.


"Baik sekretaris Revan!"


"Terimakasih!"


Divta segera melepas kemejanya, di


dalam ruangan besar itu tersedia kamar tidur dan juga kamar mandi pribadi jadi


ia tidak perlu berpindah tempat hanya untuk istirahat atau mandi.


Ia segera menuju ke kamar mandi,


melepas semua pakaiannya di sama. Ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


setelah menyelesaikan mandinya, Divta segera melilitkan handuk warna putih itu


ke tubuhnya dan dengan rambut yang di biarkan basah.


Dengan masih memakai handuk saja,


Divta duduk di sofa sambil memainkan ponselnya sembari menunggu bajunya datang.


Tok tok tok


Tak berapa lama pintu kembali di


ketuk,


"Masuklah ...!"


Sekertarisnya itu kembali dengan


seorang karyawan butik yang membawa sepasang baju lengkap dengan jasnya.


"Ini pak baju nya!" ucap


karyawan butik itu tanpa tanpa berani mendongakkan kepalanya. Ia takut aja khilaf


melihat tubuh seksi pria di depannya itu. Benar-benar hot daddy.


"Letakkan saja di sini!"


ucap divta sambil menunjuk sofa kosong yang ada di sampingnya!"


"Ba-baik pak!"


Sekertarisnya itu meminta karyawan


butik itu untuk meletakkan di tempat yang di tunjuk oleh Divta, ia pun segera


meletakkan baju itu di tempat yang sama.


Setelah meletakkannya, sekretaris


Revan segera memberi isyarat untuk meminta karyawan itu pergi meninggalkan


ruangan itu.


Sekretaris Revan pun kembali

__ADS_1


menghampiri Div.


"Ada yang bisa saya bantu lagi,


pak?"


"Sudah keluarlah ....!"


"Baik pak!"


Sekertaris itu segera keluar dari


ruangan itu.


Divta meletakkan ponselnya di atas


meja, ia melihat baju itu. Memang sekertaris nya itu paling bisa di andalkan,


ia tidak perlu memerintah dua kali langsung tahu apa maksud bosnya.


Divta segera memakai baju itu dan


bersiap-siap.


Iya keluar dari ruangannya dengan


penampilan barunya, menghampiri sekertaris nya kembali.


"Minta Toni menyiapkan mobil


untuk ku!" ucap Divta.


"Baik pak!"


Divta pun segera masuk ke dalam lift


saat pintu lift terbuka. Ia menuju ke lantai bawah.


Sebuah mobil sudah siap di depan


pintu masuk dengan Tino yang berdiri di samping mobil.


"Silahkan pak!" ucap Tino.


"Saya akan pergi sendiri,


pulanglah ...!" ucap Divta lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di balik


kemudi.


"Baik pak!"


Divta menghidupkan mesin mobilnya


tapi sebelum mobil itu berjalan Divta kembali mendongakkan kepalanya keluar


pintu mobil melalui lubang kaca.


saya akan pulang terlambat karena ada acara, suruh dia jangan menungguku!”


“Baik tuan!”


“Suruh dia makan yang banyak dan


minum obatnya!"


‘Baik tuan!”


Divta pun segera menutup kembali


kaca mobilnya dan melajukan mobil itu meninggalkan halaman gedung pencakar


langit itu.


Ia harus menghadiri undangan


pertunangan itu, bukan karena acaranya tapi ia sedang penasaran dengan pada


yang akan terjadi pada seseorang.


Mobilnya berhenti tepat di depan


pintu masuk, di depan red karpet itu. Kedatangannya tentu langsung menjadi


pusat perhatian, hal yang sangat langka jika seorang Pradivta atau Diagra


mendatangi pesta tanpa perwakilan. Pasti itu adalah orang yang istimewa hingga


seorang Pradivta datang sendiri.


Undangannya adalah undangan VVIP


karena perusahaan Finity Group adalah salah satu pemilih saham di Bactiar


group, mereka memiliki saham sebesar 30%, sebenarnya itu saham milik nyonya


Ratih. Karena nyonya Ratih ingin pensiun dini dan hanya fokus pada yayasan


sekolah. Nyonya Ratih menyerahkannya pada Agra dan Divta untuk di kelola.


Divta bak primadona di pesta itu,


semua kamera langsung membidik padanya. Apalagi baru saja terendus kabat jika


pria satu anak itu keluar dari gedung kantornya dengan membopong seorang wanita


semalam.


Banyak pencari berita yang berusaha


untuk mencari kebenaran berita itu. Setiap gerak-gerik keluarga finityGroup

__ADS_1


seakan menjadi sorotan itulah yang menjadi alasan kenapa sampai sekarang Agra


masih terus menyembunyikan identitas asli istrinya. Ia tidak pernah melakukan


resepsi secara terbuka.


Kedatangannya juga langsung di


sambut dengan begitu bahagian oleh orang tua Tisya dan tentunya beberapa


kamera. Karena setelah ini nama Bactiar group pasti semakin melejit.


“Selamat datang pak Divta, senang


sekali pak Divta mau menyempatkan diri untuk datang sendiri kesini!” ucap ayah


Tisya sambil menyalami Divta dan mengajaknya masuk.


“Bukan hal yang besar, jadi jangan


di besar-besar kan!” ucap Divta datar, pria itu sedang mengamati ke dalam ruang


pesta itu


“Mari mari pak Divta, kita masuk,


biar ngobrolnya lebih nyaman!”


Tuan bactiar itu segera mengajak


Divta untuk masuk, ia sibuk untuk menceritakan bagaimana perusahaan yang sedang


mereka geluti saat ini. Tapi Divta terfokus pada seorang wanita yang menjadi


alasannya untuk datang ke acara ini.


"Saya sangat senang karena


beberapa bulan terakhir, pemasaran di perusahan kami melesat tinggi berkat


kerja sama kita pak Divta!"


"Hemmm!"


"Kami berencana ingin


mengembangkan perusahaan kami di bidang fashion karena wanita itu cenderung


suka dengan berbelanja fashion, jadi nanti selain kosmetik kita akan


meluncurkan beberapa fashion lokal!"


"Bagus!"


Divta bukan fokus dengan apa yang di


bicarakan Tuan Bactiar tapi mata Divta malah terus tertuju pada seorang gadis


dengan wajah cemasnya sedang bersama


dengan orang-orang yang sedang mengelilinginya.


Divta dan tuan Bactiar berdiri di


depan pintu masuk tidak jauh dari gadis itu. Hingga ia bisa mendengarkan apa


saja yang di bicarakan oleh mereka.


“Kami juga berencana mengajari putri


kami, Tisya untuk memegang perusahaan, jadi saya harap nanti pak Divta tidak


keberatan untuk membantunya!”


“baik!”


Perhatian divta kembali tertuju pada


mereka, terutama pada gadis itu.


Bukankah itu Rangga ...., kenapa


gadis itu bisa bersama Rangga? Apa hubungan mereka?  batin Divta saat


melihat Rangga bersama dengan Ersya. Kemudian ia teringat siang itu di lobby


itu.


Ahhh ...., gadis itu gadis yang


tertidur di lobby kantor....


Spesial visual Divta



NB :


***Bagi para reader yang nggak mau ngulang, bisa langsung skip saja ya, baca nanti pas tanggal 30, tapi sebenarnya pas tanggal 29 ada beberapa part yang nggak ada di awal.


Sebenarnya di sini aku jadiin satu semua part yang hanya ada Divta dan Ersya nya, kalau pun ada Felic dan dokter Frans hanya sebagai pelengkap saja karena tokoh Ersya memang tidak bisa lepas dari sosok Felic


Maaf atas ketidak nyamanan ini ya🙏🙏***


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2