
Satu jam yang lalu di kantor finity group.
Pria yang sedang sibuk dnegan
tumpukan map di depannya tersadar setelah melihat jam yang melekat di
tangannya.
"Sudah waktunya!"
Ia segera menutup semua map itu dan
menumpuknya di sudut meja, ia mencari ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo pak!"
"Masuk ke ruangan ku!"
"Baik pak!"
Tidak berapa lama, pintu ruangan di
ketuk.
"Masuk!"
Seorang pria dengan pakaian resmi
masuk dari balik pintu. Dia adalah sekretaris Revan.
"Ada apa pak?" tanya
sekretaris Revan.
“Siapkan baju semi resmi untukku,
satu tunggu setengah jam lagi!”
“Baik pak!”
Sekretaris Revan segera keluar dari
ruangan pria itu. Ia segera melaksanakan perintah atasannya dengan menghubungi
pemilik butik yang biasa bosnya memesan baju.
"Pak Divta butuh baju semi
formal, segera antar ke ruangan pak Divta!" ucap sekretaris Revan di
sambungan telponnya.
"Baik sekretaris Revan!"
"Terimakasih!"
Divta segera melepas kemejanya, di
dalam ruangan besar itu tersedia kamar tidur dan juga kamar mandi pribadi jadi
ia tidak perlu berpindah tempat hanya untuk istirahat atau mandi.
Ia segera menuju ke kamar mandi,
melepas semua pakaiannya di sama. Ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
setelah menyelesaikan mandinya, Divta segera melilitkan handuk warna putih itu
ke tubuhnya dan dengan rambut yang di biarkan basah.
Dengan masih memakai handuk saja,
Divta duduk di sofa sambil memainkan ponselnya sembari menunggu bajunya datang.
Tok tok tok
Tak berapa lama pintu kembali di
ketuk,
"Masuklah ...!"
Sekertarisnya itu kembali dengan
seorang karyawan butik yang membawa sepasang baju lengkap dengan jasnya.
"Ini pak baju nya!" ucap
karyawan butik itu tanpa tanpa berani mendongakkan kepalanya. Ia takut aja khilaf
melihat tubuh seksi pria di depannya itu. Benar-benar hot daddy.
"Letakkan saja di sini!"
ucap divta sambil menunjuk sofa kosong yang ada di sampingnya!"
"Ba-baik pak!"
Sekertarisnya itu meminta karyawan
butik itu untuk meletakkan di tempat yang di tunjuk oleh Divta, ia pun segera
meletakkan baju itu di tempat yang sama.
Setelah meletakkannya, sekretaris
Revan segera memberi isyarat untuk meminta karyawan itu pergi meninggalkan
ruangan itu.
Sekretaris Revan pun kembali
__ADS_1
menghampiri Div.
"Ada yang bisa saya bantu lagi,
pak?"
"Sudah keluarlah ....!"
"Baik pak!"
Sekertaris itu segera keluar dari
ruangan itu.
Divta meletakkan ponselnya di atas
meja, ia melihat baju itu. Memang sekertaris nya itu paling bisa di andalkan,
ia tidak perlu memerintah dua kali langsung tahu apa maksud bosnya.
Divta segera memakai baju itu dan
bersiap-siap.
Iya keluar dari ruangannya dengan
penampilan barunya, menghampiri sekertaris nya kembali.
"Minta Toni menyiapkan mobil
untuk ku!" ucap Divta.
"Baik pak!"
Divta pun segera masuk ke dalam lift
saat pintu lift terbuka. Ia menuju ke lantai bawah.
Sebuah mobil sudah siap di depan
pintu masuk dengan Tino yang berdiri di samping mobil.
"Silahkan pak!" ucap Tino.
"Saya akan pergi sendiri,
pulanglah ...!" ucap Divta lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di balik
kemudi.
"Baik pak!"
Divta menghidupkan mesin mobilnya
tapi sebelum mobil itu berjalan Divta kembali mendongakkan kepalanya keluar
pintu mobil melalui lubang kaca.
saya akan pulang terlambat karena ada acara, suruh dia jangan menungguku!”
“Baik tuan!”
“Suruh dia makan yang banyak dan
minum obatnya!"
‘Baik tuan!”
Divta pun segera menutup kembali
kaca mobilnya dan melajukan mobil itu meninggalkan halaman gedung pencakar
langit itu.
Ia harus menghadiri undangan
pertunangan itu, bukan karena acaranya tapi ia sedang penasaran dengan pada
yang akan terjadi pada seseorang.
Mobilnya berhenti tepat di depan
pintu masuk, di depan red karpet itu. Kedatangannya tentu langsung menjadi
pusat perhatian, hal yang sangat langka jika seorang Pradivta atau Diagra
mendatangi pesta tanpa perwakilan. Pasti itu adalah orang yang istimewa hingga
seorang Pradivta datang sendiri.
Undangannya adalah undangan VVIP
karena perusahaan Finity Group adalah salah satu pemilih saham di Bactiar
group, mereka memiliki saham sebesar 30%, sebenarnya itu saham milik nyonya
Ratih. Karena nyonya Ratih ingin pensiun dini dan hanya fokus pada yayasan
sekolah. Nyonya Ratih menyerahkannya pada Agra dan Divta untuk di kelola.
Divta bak primadona di pesta itu,
semua kamera langsung membidik padanya. Apalagi baru saja terendus kabat jika
pria satu anak itu keluar dari gedung kantornya dengan membopong seorang wanita
semalam.
Banyak pencari berita yang berusaha
untuk mencari kebenaran berita itu. Setiap gerak-gerik keluarga finityGroup
__ADS_1
seakan menjadi sorotan itulah yang menjadi alasan kenapa sampai sekarang Agra
masih terus menyembunyikan identitas asli istrinya. Ia tidak pernah melakukan
resepsi secara terbuka.
Kedatangannya juga langsung di
sambut dengan begitu bahagian oleh orang tua Tisya dan tentunya beberapa
kamera. Karena setelah ini nama Bactiar group pasti semakin melejit.
“Selamat datang pak Divta, senang
sekali pak Divta mau menyempatkan diri untuk datang sendiri kesini!” ucap ayah
Tisya sambil menyalami Divta dan mengajaknya masuk.
“Bukan hal yang besar, jadi jangan
di besar-besar kan!” ucap Divta datar, pria itu sedang mengamati ke dalam ruang
pesta itu
“Mari mari pak Divta, kita masuk,
biar ngobrolnya lebih nyaman!”
Tuan bactiar itu segera mengajak
Divta untuk masuk, ia sibuk untuk menceritakan bagaimana perusahaan yang sedang
mereka geluti saat ini. Tapi Divta terfokus pada seorang wanita yang menjadi
alasannya untuk datang ke acara ini.
"Saya sangat senang karena
beberapa bulan terakhir, pemasaran di perusahan kami melesat tinggi berkat
kerja sama kita pak Divta!"
"Hemmm!"
"Kami berencana ingin
mengembangkan perusahaan kami di bidang fashion karena wanita itu cenderung
suka dengan berbelanja fashion, jadi nanti selain kosmetik kita akan
meluncurkan beberapa fashion lokal!"
"Bagus!"
Divta bukan fokus dengan apa yang di
bicarakan Tuan Bactiar tapi mata Divta malah terus tertuju pada seorang gadis
dengan wajah cemasnya sedang bersama
dengan orang-orang yang sedang mengelilinginya.
Divta dan tuan Bactiar berdiri di
depan pintu masuk tidak jauh dari gadis itu. Hingga ia bisa mendengarkan apa
saja yang di bicarakan oleh mereka.
“Kami juga berencana mengajari putri
kami, Tisya untuk memegang perusahaan, jadi saya harap nanti pak Divta tidak
keberatan untuk membantunya!”
“baik!”
Perhatian divta kembali tertuju pada
mereka, terutama pada gadis itu.
Bukankah itu Rangga ...., kenapa
gadis itu bisa bersama Rangga? Apa hubungan mereka? batin Divta saat
melihat Rangga bersama dengan Ersya. Kemudian ia teringat siang itu di lobby
itu.
Ahhh ...., gadis itu gadis yang
tertidur di lobby kantor....
Spesial visual Divta
NB :
***Bagi para reader yang nggak mau ngulang, bisa langsung skip saja ya, baca nanti pas tanggal 30, tapi sebenarnya pas tanggal 29 ada beberapa part yang nggak ada di awal.
Sebenarnya di sini aku jadiin satu semua part yang hanya ada Divta dan Ersya nya, kalau pun ada Felic dan dokter Frans hanya sebagai pelengkap saja karena tokoh Ersya memang tidak bisa lepas dari sosok Felic
Maaf atas ketidak nyamanan ini ya🙏🙏***
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰