Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Terjebak di dalam kamar


__ADS_3

Ersya sudah keluar kembali dengan baju rumahannya, ia bisa melihat suaminya itu sedang sibuk dengan beberapa berkas yang memenuhi meja kecil yang ada di depan sofa, entah kenapa pria itu jadi lebih suka bekerja di sofa dari pada di kursi kerjanya sendiri.


Kenapa juga dia tidak keluar dari kamar ....., batin Ersya kesal sambil menatap Div.


Ahhhh ...., lapar sekali, batin Ersya sambil memegangi perutnya yang terasa lapar, sudah jam sembilan pagi. Seharusnya dia sudah sarapan, cacing di perutnya sudah mulai protes.


Ersya memilih tidak memperhatikan pria itu, ia berjalan menghampiri pintu kamarnya, tangannya sudah menggantung hendak menarik handle pintu.


"Mau ke mana?" suara berat itu seketika menghentikan tangannya, ia menoleh ke sumber suara. Divta sudah menatapnya dengan tatapan dinginnya.


"Aku lapar, aku mau makan!"


Tok tok tok


Tiba-tiba suara pintu yang di ketuk membuat Ersya terkejut hingga membuat tubuhnya terlonjak ke belakang, ia memegangi letak jantungnya sambil menatap Div yang tersenyum penuh arti,


"Menyingkirkan dari pintu!" perintah Div.


"Kenapa?" Ersya kadang tidak mengerti dengan maksud dari perintah suaminya itu.


"Masuklah!" perintah Div lagi pada seseorang yang ada di depan pintu.


Ceklek


Seorang pengawal membukakan pintu kamar itu, terlihat kepala pelayan berdiri di depan pintu dan memberi hormat pada Ersya yang masih berdiri di tempatnya, ia tidak mengindahkan ucapan suaminya,


"Selamat pagi nyonya!" sapa kepala pelayan itu.


"Selamat pagi!"


"Kami mengantarkan sarapan untuk anda!"


Ersya menunjukkan wajah bingungnya,


"Aku?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Masuklah!" perintah Div membuat Ersya kembali menoleh pada suaminya. Dan benar saja saat Ersya menyingkir ternyata seorang pelayan di belakang kepala pelayan mendorong sebuah kereta makanan dengan begitu banyak makanan di atasnya.


"Kalian boleh pergi sekarang, kami mau menikmati sarapan! Kalau sudah selesai saya akan memanggil lagi!" ucap Div saat kereta makanan itu sudah berada di depan Div, melewati Ersya begitu saja.


"Baik tuan!"


Kepala pelayan dan pelayan perempuan itu menunduk hormat dan memundurkan langkahnya sekitar tiga langkah baru berbalik dan menutup kembali pintunya.


"Kenapa masih bengong di situ, ayo sini kita sarapan, aku sudah sangat lapar!"


Ersya yang masih berdiri di tempatnya pun segera berjalan menghampirinya,


Jadi dia juga belum sarapan? Ngapain aja tadi ....., batin Ersya sambil duduk di samping Div.


"Kenapa duduk?"

__ADS_1


Pertanyaan itu seketika. membuat Ersya membatalkan duduknya, ia kembali berdiri tegak dan menatap suaminya,


"Ada apa?"


"Bukankah kewajiban seorang istri itu melayani suami? Lalu jika ada makanan di depan meja seperti ini harusnya bagaimana tugas istri?, enak sekali mau langsung duduk!" ucap Div yang sudah duduk dengan melipat kaki nya di atas kakinya yang lain dan bersandar pada sandaran sofa.


Dasar ...., aku kira dia benar-benar perhatian, ternyata dia hanya ingin menyusahkanku saja ....


Ersya pun segera mengambil piring dan mengambilkan nasi dan beberapa lauk dan sayur untuk Div.


"Silahkan suamiku!" ucap Ersya sambil meletakkan piringnya dengan sedikit kasar.


"Kalau ngasih yang ikhlas, terpaksa banget!"


Astaga ......, Ersya berusaha keras untuk menahan kesal dan mengambil kembali piringnya.


"Silahkan suamiku!" kali ini sedikit lebih lembut.


"Aku rasa jika menjadi istri yang baik, seharusnya menyuapi suaminya jauh lebih baik! Kalau istri yang baik sih, kalau kamu nggak tahu!"


Apasih maunya sebenarnya? Bikin kesel aja pagi-pagi, untuk gue lagi laper kalau enggak udah gue cakar-cakar tuh mukanya yang sok ganteng ....


"Kenapa melihatku begitu? Aku tahu wajahku memang tampan, jadi jangan melihatku seperti itu, bisa-bisa kamu jatuh cinta nanti sama aku!"


"Issstttttt!"


Kesel banget jatuh cinta sama dia, nyesel udah mikir dia cemburu sama mas Rizal, dia itu cuma pengen nyiksa gue ....


Ersya pun memilih duduk dan menyendokkan makanan lalu menyuapkan ke mulut suaminya,


Div tersenyum samar lalu membuka mulutnya, kemudian ia mengambil satu sendok lagi dan menyendok ke piring yang di pegang oleh Ersya dan menyuapkan ke mulut Ersya,


"Ayo buka mulutmu!"


Ersya mengerutkan keningnya, "Hahh?"


"Ayo buka!"


Dan Ersya pun segera membukanya,


"Begini lebih baik!" ucap Div saat berhasil menyuapkan makanan ke mulut Ersya.


Kenapa dia jadi lembut seperti ini, aku kira tadi dia ...., batin Ersya sambil mengamati wajah pria yang sedang asik memotong lauk yang akan di suapkan padanya.


Mereka bergantian saling menyuapi hingga makanan itu habis tak tersisa.


"Nggak nyangka ternyata makanan kamu banyak juga!" ucap Div sambil meletakkan piring itu kembali ke tempatnya.


"Enak aja, kamu yang paling banyak makan tadi!"


"Ya baiklah, berarti besok kamu harus memakan lebih banyak dari ini!"

__ADS_1


"Apaan?" ucap Ersya kesal.


"Divia kan sudah bilang kalau kamu sekarang kurus kering, jadi harus makan yang banyak!"


Bukankah tadi dia yang bilang kayak gitu ...., batin Ersya mengingat kembali ucapan pria itu tadi pagi.


Tidak berapa lama kepala pelayan kembali datang dengan seorang pelayan perempuan. Entah kapan pria itu memanggilnya, tiba-tiba datang begitu saja dan membawa pergi piring kotor beserta kereta makanan itu.


Kini di kamar itu kembali tinggal mereka berdua, Div nampak kembali sibuk dengan berkas yang masih berada di atas meja itu, sedangkan Ersya tampak begitu bingung. Apalagi dia tidak memegang ponselnya.


"Mas ...., bisa berikan ponselku?"


Div hanya mendongakkan kepalanya sebentar dan kembali fokus dengan pekerjaannya.


"Berarti nggak boleh ya?"


Ersya memilih diam, tatapan pria itu begitu menakutkan. Ia sama sekali tidak melepaskan ponselnya dan meletakkan di samping laptopnya. Sesekali terlihat pria itu melakukan meeting melalui zoom dan saat itu Ersya hanya bisa diam.


Aku keluar aja deh cari angin tanpa sepengetahuan dia, pumpung sedang fokus sama meetingnya ...., Ersya pun berjalan mengendap-endap hingga tidak mengeluarkan suara sama sekali. Ia perlahan membuka pintu kamar itu,


Yes ...., tidak di kunci .....


Ersya begitu senang saat mendapati pintu itu tidak di kunci, tapi segera langkahnya terhenti saat di hadang oleh dua pengawal bertubuh besar.


"Kalian?"


Ersya begitu terkejut, ia segera menormalkan detak jantungnya yang terkejut.


"Maaf nyonya, tapi tuan tidak mengijinkan anda keluar!"


"Tapi kan aku cuma mau ke bawah, tidak ke mana-mana, janji!" ucap Esya sambil mengacungkan tangannya.


"Maaf nyonya!"


"Sebentar saja, aku mau ambil minum!"


"Maaf nyonya, tidak bisa!"


Keterlaluan sekali, Ersya pun pura-pura berbalik dan dengan cepat mencari sela,


"Happ!" tapi tetap saja tidak bisa.


Hehhhh ....,Ersya menghela nafas dalam sudah beberapa kali ia mencoba tapi ternyata gagal. Ia pun menyerah dan kembali masuk ke dalam kamar.


...Bukan aku egois, tapi cintaku begitu besar hingga aku takut seseorang mengambilmu dariku ......


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2