Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Datang bulan


__ADS_3

Kini Ersya sudah berada di atas tempat tidur, ia sedang fokus dengan ponselnya. Sedari tadi ia mendiamkan Div, suaminya.


Div yang sedari tadi hanya bisa memperhatikan Ersya dari jauh segera menghampirinya. Ia naik ke atas tempat tidur dengan merangkak dan duduk di samping Ersya.


"Masih marah ya?" tanya Div.


"Hmmm!?" jawab Ersya tanpa menoleh padanya membuat Div kesal,


"Kalau di tanya itu lihat ke yang tanya!?"


Ersya menoleh sebentar lalu kembali lagi fokus pada ponselnya,


"Ayolah ...., aku kan sudah minta maaf, lagian aku juga nggak sepenuhnya salah! Sudah ku bilang jangan dekat-dekat sama si brengsek itu, dia itu bawa pengaruh buruk buat kamu!" ucap Div sambil berkacak pinggang.


Ersya menoleh pada suaminya itu, menajamkan matanya, "Kalau mau minta maaf ya minta maaf saja nggak usah pakek embel-embel yang lain!"


"Kamu kalau aku cuma minta maaf saja, juga nggak kamu gubris!"


"Issstttt ....!" Ersya hanya berdecak dan mengambil kembali ponselnya yang sempat ia jatuhkan,


Srekkkk


Tapi Div lebih dulu menariknya dan menindih tubuhnya, "Aku akan meminta maaf dengan cara lain!"


"Nggak usah macam-macam ya, aku sedang datang bulan!"


Div masih berada di atas tubuh Ersya, ia mengerutkan keningnya, "Datang bulan?"


"Issstttt, jadi kamu nggak tahu apa datang bulan itu?"


Div menggelengkan kepalanya,


Keterlaluan ...., batin Ersya.


"Menstruasi, biar aku jelaskan dan bangun dari tubuhku sekarang!?"


Div pun menuruti perintah Ersya, ia bangun dan duduk di samping Ersya.


Ersya memperbaiki posisinya, ia duduk bersila menghadap Div suaminya itu.


"Jadi menstruasi itu adalah siklus bulanan yang dialami oleh setiap wanita, ini terjadi sekitar 3 sampai 7 hari dan bisa lebih!"


"Lama sekali?!"


"Kalau nggak percaya, nih baca sendiri artikelnya!" Ersya menyodorkan ponselnya yang menunjukkan laman pencarian tentang menstruasi.


Div segera mengambil ponsel itu, ia tampak begitu serius membacanya. Terlihat keningnya beberapa kali berkerut lalu menatap Ersya dengan cemas,


"Mana yang sakit?" tanyanya kemudian sambil berusaha. membuka selimut yang di pakai oleh Ersya.


"Apanya yang sakit!?" keluh Ersya tidak percaya.


"Kalau keluar darah pasti sakit kan? Apanya yang sakit?"


Issstttttt ...., ternyata umurnya aja yang banyak, dia polos sekali kalau masalah wanita ....


Ersya hanya beberapa kali berdecak, rasa kesalnya kini sudah berubah gemas,


"Aku nggak sakit, ini memang alami terjadi pada wanita!"


"Mana ada keluar darah di bilang alami! Bahkan saat kita melakukannya saja kamu tidak sampai keluar darah!"

__ADS_1


Ersya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia begitu bingung harus menjelaskannya bagaimana lagi, tapi tiba-tiba Div melakukan panggilan pada seseorang membuat Ersya panik,


"Kamu telpon siapa?"


"Kepala pelayan!"


"Kenapa?"


"Dia harus tahu kamu keluar darah!?"


Kepala pelayan kan cowok, mana mungkin ......, belum juga Ersya meminta Div membatalkan panggilannya, pintu kamar itu sudah lebih dulu di ketuk.


Tok tok tok


Div dengan cepat turun dari tempat tidur dan menghampiri pintu kamar,


"Masuklah!"


Kepala pelayan sudah berdiri di depan pintu itu, Ersya hanya bisa tertegun melihatnya.


Apa yang akan dikatakan oleh pria gila ini ...., astaga dia benar-benar ingin mempermalukan aku ....


Kepala pelayan itu mengikuti Div yang sudah berjalan menuju ke tempat tidur lagi, ia segera menarik bahu Ersya kedalam pelukannya,


"Apa ada yang penting tuan?"


"Ini sangat penting, istri saya mengeluarkan darah!?"


Kepala pelayan terlihat sudah waspada, "Kalau begitu biar saya panggilkan dokter, tuan!"


Dokter ....., Ersya semakin panik saja.


"Jangan ....., jangan ....., jangan ....!" larang Ersya segera mencegahnya.


"Apa kamu punya cara untuk menghentikan darah ini, katanya dia akan mengeluarkan darah sampai satu minggu!?"


"Kalau boleh tahu nyonya berdarah karena apa? Kenapa lama sekali?"


"Dia datang bulan!"


Astaga ....., dia benar-benar keterlaluan, ya Allah siapa saja tolong aku dari kebodohan pria ini ....., batin Ersya saat melihat ekspresi kepala pelayan yang berubah dari cemas menjadi ingin menertawakan.


"Apa kamu tahu caranya?" tanya Div lagi. Selama ini dia tidak pernah tahu bagaimana wanita mengalami menstruasi, apalagi sejak kecil dia juga tidak begitu dekat dengan mamanya. Ia tidak pernah punya waktu untuk bermanja-manja dengan mamanya.


Hemmmm, terlihat kepala pelayan berdehem untuk menormalkan suaranya karena terlalu lama menahan bibirnya agar tidak tertawa.


"Itu memang normal terjadi pada wanita, tuan! Biasanya wanita akan mengalami nyeri pada perutnya saat haid!?"


"Haid?"


"Haid adalah kata lain dari datang bulan atau menstruasi!?"


"Sudah tahu, saya tadi sudah membacanya, lanjutkan!"


Issstttt ...., syok tahu sekali, orang lain sudah tahu dari jaman sekolah, dia baru tahu lima menit yang lalu, memang di sekolahnya tidak ada pelajaran menstruasi apa? batin Ersya sambil menatap jengah pada pria di sampingnya itu.


"Biasanya wanita akan mengalami nyeri pada perut ketika hari pertama menstruasi! Dan untuk mengurangi rasa nyeri itu, biasanya para wanita meminum minuman yang hangat, atau meletakkan botol air hangat di perutnya!"


"Ya sudah siapkan itu semua!" perintah Div.


"Baik tuan!"

__ADS_1


Kepala pelayan segera meninggalkan kamar itu, yang boleh masuk ke dalam kamar itu hanya ada beberapa orang saja, salah satunya kepala pelayan. Jadi jika Div membutuhkan sesuatu maka kepala pelayan yang akan mengantar sendiri ke dalam kamar. Selain kepala pelayan, ada dua pelayan yang memang sudah di tunjuk langsung oleh Div, ada kepala koki dan asisten koki.


"Mas, aku tidak pa pa, aku juga belum merasa nyeri!"


"Belum berarti akan, jadi jangan meremehkan yang belum, mengerti!"


Keras kepala sekali ....., batin Ersya menyerah. Ia mengambil kembali ponselnya yang masih berada di tangan Div. Tapi saat akan membukanya, Div kembali merebutnya.


"Maaaaaassss .....!?" protes Ersya.


"Ponsel tidak baik bagi kesehatan!"


"Tapi aku tidak sakit!"


"Jangan banyak protes!" Div mematikan ponsel Ersya dan meletakkannya ke dalam laci nakas yang ada di sampingnya.


Dia keterlaluan ....., Ersya begitu kesal dan memilih membaringkan tubuhnya, miring membelakangi Div.


"Kamu ngapain?"


"Mau tidur, sudah malam!" jawab Ersya sambil menenggelamkan tubuhnya di balik selimut.


Div melihat ke arah dinding, dan benar saja jarum jam sudah menunjuk ke angka sebelas malam.


Tok tok tok


Kepala pelayan kembali dengan membawa satu botol kaca air hangat dan segelas susu hangat.


"Terimakasih, kalian boleh istirahat!"


Kepala pelayan kembali meninggalkan Div dan Ersya. Sebenarnya Ersya belum mengantuk, ia hanya tidak mau lagi wajahnya terlihat oleh kepala pelayan.


"Sya, bangunlah! Minum susumu!?"


"Nggak mau aku sudah gosok gigi!?" tolak Ersya yang masih berada di balik selimut.


"Yakin perutmu tidak nyeri?" tanya Div memastikan.


Ersya hanya menganggukkan kepalanya, terlihat dari selimut tang bergerak,


"Baiklah terserah kamu!"


Div meletakkan kembali susu hangat dan air hangat itu, ia ikut berbaring bersama Ersya, mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur,


Srekkkkkk


Tiba-tiba tangannya melingkar di perut Ersya membuat Ersya terpaku,


Dia memelukku .....


"Kalau begini pasti lebih nyaman, selamat tidur!" bisik Div.


...Saat seseorang menemukan tempat ternyamannya, bahkan kerasnya batu akan terkikis dengan setetes air...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2