Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Romantis-romantisan


__ADS_3

Setelah karyawan resort itu meninggalkan mereka, Div segera memeluk Ersya dari belakang dan menciumi tengkuk Ersya,


“Mas, kamu nggak lupa kan kalau aku sedang_!” Ersya berusaha untuk memperingatkan suaminya itu. Tapi Div lebih dulu memotong ucapannya seperti tahu apa yang ingin dikatakan.


“Datang bulan kan? jangan cemas, nanti malam Divia ikut tidur bersama kita jadi biarkan aku mengambil jatahku sekarang!” ucap Div.


Div segera membalik tubuh Ersya dan kembali menarik pinggang Ersya mendekatkan lagi bibirnya ke arah bibir Ersya, tapi Ersya dengan cepat mencegahnya dengan telapak tangannya.


“Tunggu ...., tunggu ...., tunggu ....!"


"Ada apa lagi sih?" protes Div karena Ersya terus menghindar,


"Lalu kamar sebelah?” tanya Ersya sambil menunjuk kamar sebelah.


“Untuk baby sitter Divia, sesekali mereka juga perlu di manjakan kan, untuk itu biarkan sekarang aku menghabiskan waktu ku berdua sama kamu!” ucap Div yang tidak menyerah dan tetap berusaha untuk mendekatkan bibirnya pada ceruk leher Ersya membuat Ersya memalingkan wajahnya merasa geli.


“Apaan sih mas!” ucap Ersya malu-malu. Ia tidak bisa mengingkari jika semua sentuhan yang di berikan oleh pria itu sudah menjadi candu baginya.


“Bagaimana kamu suka?”


“Emmm!”


Ersya mengalungkan tangannya di leher suaminya dan sedikit berjinjit untuk memberi kecupan singkat pada bibir suaminya.


Hal manis yang Ersya lakukan malah semakin membuat Div frustasi, ia menginginkan hal lebih dari ini tapi tidak bisa.


“Ahhhh, masih kurang berapa hari tamu itu akan pergi?” keluh Div karena selalu gagal menahannya.


“Masih ada satu atau dua hari lagi, atau bisa jadi satu minggu lagi!”


“Katanya hanya satu minggu, kenapa setelah di kurangi tiga hari jadi tetap satu minggu!?” protes Div membuat Ersya merasa gemas. Div begitu menggemaskan dengan wajah tidak berdayanya itu.


“Aku cuma becanda …! Tunggulah dua atau tiga hari lagi, lagi pula kamu kan mantan cassanova, kenapa nggak jajan aja di luar? Apalagi kata orang-orang di bali ceweknya cantik-cantik!”


Mendengarkan pertanyaan itu dengan cepat Div melepaskan tangannya hingga menimbulkan jarak di antara mereka. Ia merasa tidak di butuhkan oleh istrinya sendiri, ia merasa tidak istimewa untuk wanita yang sudah di nikahinya itu.


“Kamu serius nyuruh aku nglakuin itu?” tanya Div dingin, Div yang tadinya begitu hangat tiba-tiba berubah dingin.


“Ya siapa tahu kamu mau, mas!” ucap Ersya yang masih tidak menyadari kemarahan suaminya.


“Kalau aku benar-benar mau, bagaimana?”


Memang masih kurang apa satu istri ....? keluh Ersya dalam hati, sebenarnya pertanyaannya juga tidak serius, ia hanya ingin tahu apakah suaminya itu masih mau mencari kebahagiaan lain di luar rumah.


“Ya silahkan!” ucap Ersya sambil berbalik hendak meninggalkan Div


Div mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya terlihat, rahangnya tampak mengeras, pria itu dengan kuat menarik kembali tangan Ersya hingga tubuh Ersya terpental ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Cup


Bibir Div mendarat di bibir Ersya dan dengan begitu kasar ******* bibir Ersya hingga membuat Ersya berusaha untuk melepaskannya. Setelah melihat Ersya hampir kehabisan nafas, Div melepaskan pagutan bibir mereka dan mengusap bibir Ersya yang berdarah akibat di gigit olehnya.


“Itu hukuman karena kamu sudah mengatakan hal itu!”


Div mendorong tubuh Ersya hingga mundur dua langkah dan meninggalkannya begitu saja.


Brakkkk


Div membanting pintu itu dengan kasar. Ersya masih terdiam dan memegangi bibirnya yang terasa perih.


“Dia kenapa marah?” gumam Ersya yang bingung, "Apa aku salah bicara tadi? Bukankah seharusnya aku yang marah?"


...🍀🍀🍀...


“Beraninya dia!” umpat pria itu beberapa kali, pria yang sedang berdiri di bibir pantai itu terlihat begitu kesal, kakinya terlihat menendang kaleng kosong di depannya.


“Sial!”


Dia tampak begitu marah,


"Dia benar-benar tidak peka, terbuat dari apa sih hatinya?”


Pria itu adalah Div, ia sebenarnya marah dengan dirinya sendiri karena entah kenapa ia sudah merasa Ersya adalah hidupnya tapi tidak mampu mengungkapkan perasaannya dengan benar.


Helaan nafas panjang terdengar, Div mendudukkan bokongnya di hamparan pasir putih yang luas itu sambil memandangi kilauan air laut yang terkena pantulan sinar matahari ditengah hari.


Cukup lama ia terdiam, tidak peduli udara panas siap membakar kulitnya. Hingga matahari hampir condong ke barat barulah pria itu berdiri dari duduknya. Ia menghampiri salah satu pegawai Resort,


“Bisa beritahu aku di mana apotik terdekat dari sini?” tanyanya.


“Butuh waktu lima menit dari sini tuan, tuan bisa menggunakan mobil Resort kalau perlu tuan?”


“Tidak perlu, bisa di tempuh dengan jalan kaki kan?”


“Bisa tuan, mari saya antar!”


“Baiklah!”


Div diantar pelayan Resort


itu menuju ke sebuah apotik, ia membeli sebuah cream untuk bibir. Setelah mendapatkan apa yang di cari Div segera kembali ke kamarnya. Saat ia membuka pintu, terlihat Divia sudah berada di kamar mereka, Ersya sedang mengepang rambut Divia. Ersya mengangkat kepalanya menatap pria itu.


“Daddy dali mana?” tanya gadis kecil itu.


“Bentar sayang, jangan bergerak dulu. biar mom selesaikan dulu!” larang Ersya karena putrinya itu sudah akan berdiri dan menghampiri daddy.

__ADS_1


“Oh iya, maaf mom! Oh iya dad, kacian tahu mom!”


“Kenapa?” Div ikut duduk di atas tempat tidur tepat di depan Divia.


“Mom bibilnya di gigit celangga!”


Enak saja dia bilang aku serangga …., Div mengeluarkan cream yang telah ia beli tadi.


“Pakai ini!” ucap Div dan Ersya segera mengambilnya dan membaca kemasan cream itu.


Dia perhatian sekali ….


“Aku mau mandi, bau keringat! Kalian sudah makan kan?”


“Cudah dad, tapi mom belum, mom nungguin daddy katanya!”


Div menatap pada Ersya dengan tatapan penuh tanya. Ia tidak menyangka jika ternyata wanita itu tidak marah padanya.


“Tunggu sebentar aku mandi dulu!”


Div dengan cepat ke kamar mandi, ia tidak sampai lima menit sudah menyelesaikan mandinya. Sudah jam dua pasti istrinya itu sudah lapar.


“Cepat sekali mandinya?” tanya Ersya yang sudah menyodorkan baju untuk Div yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Tubuhku tidak terlalu kotor!" Div kembali menatap wajah Ersya, memperhatikan bibir Ersya,


“Sudah dipakai creamnya?”


“Maafkan aku ya!” ucap Ersya membuat Div terdiam dan kembali menatap istrinya itu.


“Lain kali jangan lakukan lagi!”


“Emmm!” Ersya menganggukkan kepalanya,


“Ya sudah aku tunggu di tempat makan ya!”


“Hemmm!”


Setelah Ersya meninggalkannya, Div segera memakai bajunya dan menyusul Ersya ke tempat makan.


...Jika aku milikmu, maka miliki aku seutuhnya dan jangan biarkan orang lain memasuki celah yang belum sempat kamu tutup dengan rasamu...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2