
Akhirnya Div hanya bisa menuruti kata istrinya. Ia mengemasi barang yang sebenarnya sudah di siapkan oleh Ersya, ia hanya tinggal memasukkannya ke dalam tas.
"Sudah selesai, sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanya Div yang malah terlihat buntu tidak bisa berpikr jernih, apalagi melhat sesekali sang Istri menahan sakit.
"Jemput Divia mas!" ucap Ersya sambil menahan sakit di perutnya.
"Aku nggak mungkin ninggalin kamu, gimana dong!?" Div semakin di buat pusing.
"Aku nggak mau Divia nggak ada yang jemput, menurutmu siapa yang lebih pantas jemput Divia selain kita kalau Rangga aja kecolongan?"
Setelah berpikir panjang, akhirnya Div menemukn satu orang yang pantas,
"Aku tahu siapa orangnya!"
"Siapa?"
"Rendi!"
Mereka akhirnya sepakat untuk memberitahukan keadaan mereka pada Rendi dan memintanya untuk menjemput Divia.
Setelah berhasil menghubungi Rendi, Div pun bersiap-siap untuk mengantar sang istri ke rumah sakit.
Kedatangan Div dan sang istri langsung di sambut oleh dokter Sifa, sebelumnya mereka sudah menghubungi dokter Frans untuk menyiapkan semua dan hal yang mengejutkan ternyata di sana ada Felic juga, ia sengaja datang ingin memberi semangat kepada sahabatnya yang sedang berjuang. Ia juga membawa baby Zoe juga dan menitipkan pada suster.
"Ayo Sya, gue bersama lo!" ucap Felic saat Ersya di masukkan ke ruang pasien untuk menunggu sebelum masuk ruang persalinan.
"Jangan lebay deh Fe, gue belum tentu lahir sekarang, lo ada-ada aja!"
"Jangan lama-lama Sya, nggak kasihan apa sama laki lo yang ganteng tiba-tiba jadi aki-aki gara-gara terlalu mengkhawatirkan lo, lihat Pak Divta pucet banget gitu!" bisik Felic agar tidak bisa di dengar oleh suami sahabatnya. Dan Ersya hanya mencebirkan bibirnya.
Memang benar saja apa yang terjadi pada Div, majahnya tampak pucat.
"Mas, kenapa pucat?"
DIv yang mengusap punggung Ersya malah terlihat menahan sakit,
"Nggak tahu, apa kamu nggak merasa ada yang aneh?" Div malah balik bertanya.
"Aneh kenapa?"
"Sedari di rumah aku merasa punggungku seperti mau patah da sebentar-sebentar hilang!"
Mendengar ucapan sang suami, Ersya pun kembali menarik tangan Felic hingga wanita yang sudah lama menjadi sahabatnya itu mendekatkan telinganya ke bibir Ersya,
__ADS_1
"Ada apa?"
"Emang ada ya kalau istri mau lahiran yang merasakan sakit suaminya?"
"Hahhhhh?" Felic kembali bangun dan menatap ke arah Divta yang berada di sisi lain ranjang Ersya.
"Jangan keras-keras!" ucap Ersya tanpa menggerakkan bibirnya.
"Ya setahuku emang ada kayak gitu, tapi kayaknya seribu satu deh!"
"Jadi menurut lo, gue yang bagian dari satu orang lawan seribu itu?"
"Bisa jadi, lo ngrasa sakit nggak?"
"Ya mana aku tahu, ini cuma mules biasa belum ada yang luar biasa!"
Saat mereka masih asik mengobrol dokter Siva pun menghampiri mereka dengan peralatan lengkapnya dan di temani oleh dua perawat,
"Mohon maaf, kami harus memeriksa pasien dulu!"
Ucapan dokter Siva berhasil membuat Felic dan Div sedikit menjauh.
"Sudah pembukaan empat, sebentar lagi sudah bisa di pindahan ke ruang persalinan, berdasarkan pemeriksaan semuanya normal jadi bu Ersya bisa melahirkan dengan normal."
Di tempat lain, Rendi sedang berdiri di depan gerbang sekolah Divia. Sekolah Divia dan Elan satu tempat jadi Rendi bisa menjemput mereka secara bersamaan.
Elan juga sudah berdiri di samping Rendi dengan gaya yang jelas berbeda. Elan lebih genit dari sang ayah, ia memanfaatkan wajah tampannya untuk menggoda anak-anak lain yang lewat.
"El!"
Rendi memperingatkan putranya itu saat membuat anak perempuan yang kebetulan lewat sampai bersembunyi di balik tubuh ibunya gara-gara di goda putranya.
"Ayah, Elan hanya memanfaatkan ketampanan yang Tuhan berikan untukku!"
"Kamu dapat kata-kata seperti itu dari mana, jangan bilang ini bunda kamu ya!' ucap Rendi pada putranya itu, dan langsung mendapat tatapan sengit dari sang putra,
"Anak usia lima tahun aja sudah mikirin tampan!" gumam Rendi dan kembali fokus ke depan.
Tidak berapa lama, seorang gadis kecil tersenyum hingga menunjukkan deretan gigi putih bersihnya menatap ke arah mereka.
"Ayah!" teriaknya tangannya melambai.
"Ahhh, akhirnya keluar juga!" gumam Elan yang sudah mulai bosan menunggu.
__ADS_1
Elan masih duduk di taman kanak-kanak jadi membuatnya pulang lebih dulu di bandingkan Divia yang memang sudah sekolah dasar.
"Ayah, kenapa ayah yang jemput? Daddy?" tanya saat tidak menemukan daddy.
"Kak Via yang cantik, bisa kita segera pergi saja, Elan sudah kesal berdiri di sini, nanti ketampananku semakin bertambah!"
"Ihhhh, adek kecil, siapa sih yang bilang kamu tampan? Divia mencubit pipi Elan gemas, memang pria kecil itu memiliki kadar ketampanan yang lumayan tapi gayanya juga lumayan tengil. Sepertinya anak laki-laki itu kelak akan menjadi PR untuk sang ayah yang memiliki pola hidup yang hanya lurus saja.
"Baiklah, kita masuk nanti ayah kasih tahu di dalam mobil!"
Mereka pun akhirnya benar-benar masuk ke dalam mobil dengan suara rame dari si ganteng Elan.
Rendi pun segera menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan gedung sekolah.
Di dalam mobil, Rendi pun mengatakan jika moms nya akan segera melahirkan. Divia begitu bahagia, ia memohon pada sang ayah agar mengantarnya ke rumah sakit saja. Karena terus memohon akhirnya Rendi hanya bisa menuruti putrinya itu.
"Baiklah, tapi janji sama ayah, jangan membuat keributan di sana, Elan juga!" ucapnya pada sang putri yang suka buat ulah itu.
"Ayah, nggak mungkin lah Elan akan menggoda adik bayi yang baru lahir!"
"Bukan adek bayi yang kamu goda, tapi para perawat!"
Akhir-akhir ini, sepertinya memang Rendi jadi sering berdebat dengan putranya. Tapi perdebatan antara ayah dan anak itu selalu terlihat menggemaskan.
Mereka pun akhirnya sampai juga di rumah sakit, Rendi sedikit kuwalahan karena mengejar dua ana kecil yang sudah berlari lebiih dulu itu.
"Tunggu ayah!"
Langkah mereka terhenti saat melihat dokter Frans keluar dari sebuah ruangan,
"Frans!" panggil Rendi membuat pria berjas putih khas dokter dan kaca mata yang bertengger di pangkal hidungnya.
"Agak berwibawa dikit kek kalau manggil gue di depan anak-anak!" protes dokter Frans pada sahabatnya itu dan hanya mendapatkan tatapan dingin dari sahabatnya.
Bersambung
Ternyata nggak cukup di jadiin satu episode, besok lagi aja ya tambahnya insyaallah sampai End dulu, untuk bonskhap nya nunggu kalau sudah senggang ya, soalnya mau kelanjutan Tisya dan Wilson dulu kasihan kalau di anggurin
Tetap ya, jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...