
Ersya membantu Div dan Iyya untuk makan siang. Setelah memastikan Iyya dan Divta selesai makan siang, Ersya pun berpamitan untuk keluar sebentar.
"Iyya sayang, Iyya sama daddy dulu ya!" ucap Ersya sambil menyiapkan alat pewarna Divia di meja.
"Mom tidak lama kan?"
"Tidak sayang!"
Div hanya terus memperhatikan dari jauh, dia sudah kembali duduk di kursi kerjanya. Pura-pura cuek sampai Ersya menghampirinya.
"Pak Div!"
Memang aku bapakmu apa!
"Hmmm!"
"Saya pergi dulu ya!"
"Ingat, tidak lebih dari satu jam!"
"Mengerti!"
Ersya pun segera keluar dari ruangan Div , sudah jam setengah dua.
Dia tidak butuh lama-lama untuk mengobrol dengan Rizal nantinya.
Ersya masih punya waktu setengah jam untuk sampai di tempat mereka janjian.
Saat Ersya sampai di depan gedung kantor. Sebuah mobil sudah siap di depan gedung kantor.
Mobil?
Sepertinya Div yang sengaja menyiapkan mobil itu untuk mengantar Ersya.
“Silahkan nyonya!” ucap seorang sopir yang sudah siap membukakan pintu mobil.
Ersya menoleh ke kanan dan kirinya, tapi tidak ada orang lain. Mungkin memang yang di maksud sopir itu dirinya.
“Saya?” Ersya menunjuk
dirinya sendiri.
“Iya nyonya!"
"Tapi saya tidak meminta di antar!"
"Pak Div yang meminta saya mengantar nyonya sampai tujuan!”
Oh ..., dia? Apa tujuannya coba ....
Ersya sedikit curiga, mungkin Div sengaja untuk memata-matai dirinya.
“Oh begitu ya!”
Tapi ada hal positif yang bisa dia ambil dari di sediakannya sopir dan mobil untuknya.
Lumayanlah bisa ngirit ongkos, lagi pula ini gratis kan …,
Tapi setelah di pikir lagi, akan ada masalah jika sampai Div mengetahui dia bertemu dengan siapa.
eh tapi apa ini bukan salah satu cara untuk memata-matai ku?
“Tidak perlu, saya bisa pergi sendiri!” ucap Ersya sambil mengibaskan tangannya cepat.
“Tidak nyonya, pak Div memaksa! Jika anda tidak mau saya antar anda bisa pergi dengan mereka!” ucap sopir itu dengan menunjuk dua orang pria dengan jas hitam khas pengawal dengan
kaca mata hitam dan sebuah aerophone di telinganya.
Ersya menatap ke arah
dua orang itu,
__ADS_1
Dia benar-benar ingin memenjarakan aku …
“Tidak perlu, saya sama
kamu saja! Ayo masuk!”
“Baik nyonya!”
Mobil mereka pun mulai melaju, tapi masih ada waktu setengah jam, mungkin dia bisa memanfaatkan waktu
setengah jam itu untuk jalan-jalan sebentar. Sudah lama sekali dia tidak jalan-jalan, lagi pula ia ingin melihat berapa gaji yang di berikan oleh pria
sombong itu.
“Seharusnya gaji ku sudah bisa di ambil kan sekarang aku bisa mengeceknya di atm!”
Ersya mengamati jalanan,
ia mencari atm yang dekat dengan pusat perbelanjaan.
“Pak pak …, berhenti!” ucapnya saat melihat apa yang di cari.
Pak Sopir itu segera menepikan mobilnya dan menoleh ke belakang menatap Ersya.
“Ada apa nyonya!”
“Kita berhenti sebentar ya, ada yang mau aku beli di sana!” ucapnya sambil menunjuk toko kosmetik yang cukup ternama itu.
Sebuah toko kosmetik menjadi tujuannya saat ini, ia baru ingat jika beberapa alat kosmetiknya habis. Ia juga ingin membeli lipstick terbaru.
"Baik nyonya!"
Ersya pun segera keluar dari mobil dan menuju ke gedung itu. Ia sengaja memilih gedung yang ada ATM nya.
Sebelum masuk ke toko kosmetik itu, Ersya lebih dulu masuk ke ATM. Ia mengeluarkan ATM yang beberapa hari di berikan oleh Div, suaminya. Ada dua ATM yang ada di dalam dompetnya. Ia memilih atm lamanya yang kata Div akan mentransfer gajinya di sana. Ia masih ingat betul berapa saldo terakhirnya.
Tabungannya habis karena akhir -akhir ini dia banyak sekali keperluan.
"Waw ....!"
Mata Ersya berbinar, ia sampai menutup mulutnya yang terbuka lebar gara-gara terkejut.
"Ini dia nggak salah nih? Apa dia salah transfer uang ya! dua puluh juta satu bulan, berarti saru tahun saja aku sudah bisa dapat lebih dari dua ratus juta dong!"
Hehhhhh
Tapi tiba-tiba wajahnya berubah masam, hatinya seperti menolak hal itu. Bukan itu yang dia mau, ada hal lain yang ia inginkan. Kasih sayangnya kepada Divia tidak bisa di tukar dengan semua itu.
Ersya tidak melakukan penarikan, ia hanya ingin tahu berapa gajinya saja. Setelah keluar dari atm, Ersya memutuskan untuk singgah sebentar ke toko kosmetik itu.
Dia akan membeli beberapa peralatan kosmetiknya yang memang sudah habis.
"Silahkan nyonya!" sapa salah satu karyawan yang berpenampilan begitu cantik. Sangat cocok menjadi karyawan sebuah toko kosmetik.
"Terimakasih!"
***
Di kantor, setelah Ersya meninggalkan mereka, daddy Div dan Iyya memilih menghabiskan waktu berdua di ruangannya,
Divia sibuk mewarna beberapa gambar putri dan Daddy Div sibuk mengecek berkas-berkas yang memang harus di tanda tangani.
Tok tok tok
Tiba-tiba pintu di ketuk, ada sekretaris Revan di depan pintu itu.
"Masuk!" perintah Div.
Divia yang sedang asik mewarna dan melihat tayangan kartun kesukaannya di layar tab nya tidak memperdulikan kedatangan sekretaris Revan.
“Maaf pak, saya menggangu waktu anda!” ucap sekretaris Revan setelah sampai di depan meja kerja Div
__ADS_1
“Ada apa?”
“Klien dari luar negeri hari ini akan kembali ke negaranya, mereka meminta kita untuk bertemu sebentar sebelum kembali!"
"Di mana?"
"Di kafe dekat Bandar udara pak!”
“Begitu ya!”
Div menatap Iyya yang sedang mewarna, ia tidak mungkin meninggalkan Iyya sendiri.
“Apa Rangga masih di
kantor?”
“Masih pak!”
“Panggil dia! Katakan padanya untuk menemani Divia sebentar selama kita tinggal keluar!”
“Baik pak!”
Sekretaris Revan pun meninggalkan mereka, Div kembali menghampiri putrinya itu.
“Iyya sayang!”
“Iyya sudah tahu!”
Ternyata walaupun tidak memperhatikan pembicaraan mereka, Divia mendengarkannya.
“Maaf ya sayang, tapi
setelah ini daddy janji kan mau mengajak Iyya jalan-jalan!”
“janji ya dadd!”
“janji sayang!”
Div pun memutuskan pergi bersama sekretaris Revan, meninggalkan Iyya bersama Rangga.
Ia menuju ke kafe yang sudah di tunjuk oleh kliennya, sepertinya ia datang lebih cepat. Karena meja yang di pesan masih
kosong. Sambil menunggu kliennya, mereka pun membicarakan tentang proyek yang akan mereka kerjakan setelah ini bersama klein luar negri itu.
"Bagaimana ini menurutmu, sekretaris Revan?" tanyanya sambil menunjukkan beberapa desain yang ada di dalam map itu.
"Sepertinya ini lebih bagus pak, selain menarik itu juga punya beberapa keunggulan di banding lainnya!"
"Ya kamu benar!"
Tapi tiba-tiba ia di kejutkan dengan suara seseorang yang sangat ia kenal menghampiri meja yang ada di belakangnya.
“Mas Rizal, maaf
membuatmu menunggu lama!”
Div segera menoleh, dan benar itu dia,
“Ersya!”
Spesial Visual Ersya
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰