Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Merelakan lebih baik


__ADS_3

Div dan Ersya segera berdiri, tapi mereka begitu terkejut saat melihat siapa wanita yang keluar bersama dengan dokter itu.


"Ellen?"


Ellen pun sepertinya sama terkejutnya saat melihat Div dan Ersya di sana, wajahnya seketika pucat melihat mereka.


"Div?!"


Div segera mendekati Ellen dan dokter, meninggalkan Ersya di tempatnya. Ia sungguh tidak sabar mengetahui apa yang terjadi dengan Ellen.


"Ellen, kalau tidak salah ini ruangan dokter kandungan! Kamu kenapa di sini?"


Ersya yang masih berdiri di tempatnya jadi berpikir macam-macam dengan begitu ingin tahunya suaminya itu.


Apa telah terjadi sesuatu antara mereka? batin Ersya. Walaupun beberapa kali menepisnya tapi Ersya masih sangat penasaran.


"Iya, I know! aku hanya baru saja melakukan pemeriksaan dan ternyata ada masalah dengan rahimku! I'm so sad about all this!"


Ellen tiba-tiba menangis dan menyandarkan kepalanya di dada Div, walaupun sebenarnya ingin menghindar tapi tidak bisa. Ellen semakin menangis tersedu.


Div yang masih terkejut menoleh pada istrinya, berharap tidak terjadi kesalah fahaman di antara mereka berdua.


Ersya hanya menggelengkan kepalanya seolah memberi jawaban kalau dia tidak pa pa, walaupun sebenarnya ada rasa sakit yang tidak terlihat.


"Dokter, bisa jelaskan semua ini padaku?" tanya Div pada dokter yang masih berdiri di tempatnya.


"Anda keluarganya?"


Menyimpan rahasia segala tentang pasien adalah kewajiban dokter, dia hanya akan memberitahukan kepada keluarga atau orang-orang terdekat pasien.


"Dia calon suami saya dok!"


Mendengar ucapan Ellen, Div begitu terkejut. Ia sampai mendorong tubuh Ellen hingga sedikit menjauh,


"Ellen, jangan keterlaluan!"


Bukan hanya Div, tapi Ersya juga mengalami hal yang sama. Matanya membulat sempurna mendengar pernyataan Ellen.


"Saya berkata benar dok, beberapa tahun lalu sebelum dia menikah dengan wanita itu!" ucap Ellen sambil menunjuk ke arah Ersya dengan tanpa rasa bersalah.


"Itu cuma masa lalu, jadi jangan memaksakan!" hardik Div kesal.


"Tapi dok, dia yang berhak mendengarkan keadaan saya saat ini!" ucap Ellen begitu keras kepala ingin Div yang menjadi orang yang bertanggung jawab atas keadaannya.


"Baiklah, kalau begitu mari ikut saya masuk!" ajak dokter itu kembali masuk ke dalam ruangan.


"Saya mengajak istri saya!" ucap Div sambil menunjuk Ersya.


"Baiklah!"

__ADS_1


...🌺🌺🌺...


Akhirnya mereka duduk juga di dalam ruangan, Ellen dan Div duduk di kursi sedangkan Ersya memilih berdiri di samping Div.


Dokter pun duduk di kursinya dan mulai mengeluarkan catatannya.


"Sebenarnya nona Ellen menderita kanker rahim dan mengharuskan rahimnya secepat mungkin untuk di angkat!"


Div dan Ersya masih terlihat tenang dengan penuturan dokter. Hingga akhirnya sampai di masalah intinya.


"Lalu apa hubungannya dengan saya? Dia bukan siapa-siapa saya! Kami sekarang hanya sebatas hubungan bisnis!" ucap Div yang sudah kesal dan ingin segera mengakhiri keruwetan ini.


"Salah satu penyebab kanker rahim ini adalah beberapa tahun lalu nona Ellen mengalami keguguran, tapi karena tidak melakukan kuret mengakibatkan beberapa jaringan yang masih tertinggal membentuk sel kanker. Adanya resiko terjadi kanker rahim pada ibu yang mengalami keguguran tanpa kuret, terutama bila ada jaringan yang tidak bersih. Hal ini dikarenakan jaringan yang tidak bersih dapat berkembang menjadi jaringan abnormal dan menjadi sel kanker. Kita perlu melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui apakah sel kanker ini jinak atau ganas!"


Dokter menjelaskan dengan begitu panjang lebar, dan Div masih terlihat bingung.


"Lalu apa hubungannya dengan saya?"


"Karena kamu ayahnya Div, you daddy!" ucap Ellen membuat Div terkejut dan berdiri dari duduknya, menatap Ellen tidak percaya.


"Tidak mungkin, kamu sudah gila! Mana mungkin!"


"Mungkin!"


"Kamu selalu memakai kontrasepsi kan?"


"Kamu benar-benar gila!"


Srekkkk


Div menggeser kursinya dengan dan menarik tangan Ersya keluar dari ruangan itu meninggalkan Ellen dan dokter.


"Mas ...., tapi kita mau...!"


"Kita ke dokter lain saja!"


"Tapi mas!"


Div melepas tangan Ersya dan berbalik menataknya,


"Stop!" bentak Div membuat Ersya terdiam.


Div mengusap kepalanya kasar, dia tidak tahu sudah melakukan apa pada istrinya.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud kasar!"


"Aku tahu!"


Div kembali menarik kedua tangan Ersya, menggengamnya dengan begitu erat.

__ADS_1


"Kamu percaya kan padaku? Kamu tahu kan itu cuma masa lalu?"


Rasa takutnya kehilangan sang istri membuatnya bersikap seperti itu. Ia benar di buat terkejut, ia juga belum siap kalau harus kehilangan lagi.


"Kamu tidak akan meninggalkan aku gara-gara ini kan?"


"Kamu tahu kan aku dan Divia begitu membutuhkanmu?"


Ersya masih terdiam, membuat Div semakin bingung saja. Ia benar-benar siap kehilangan apapun saat ini tapi tidak Ersya dan Divia. Ia rela menukar apapun asal bisa tetap bersama istri dan anaknya.


"Itu bagian masa lalumu kan mas?" tanya Ersya dengan wajah datarnya


"Iya, kalau kamu mau aku melepas semua masa laluku, aku akan melepasnya!"


"Jangan!"


Div mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan istrinya,


"Maksud kamu?"


"Aku tahu mas tidak bermaksud membuat semua ini terjadi, waktu itu mas juga tidak tahu kan kalau Ellen sedang hamil, kalau mas tahu pasti juga mas akan merawatnya dengan baik! Tapi Ellen menganggap mas sebagai penyebab semua ini, jadi saran aku bantu dia hingga pengobatannya selesai, itu sudah cukup!"


"Kamu tidak sedang menghayal kan? Kamu minta suami kamu ngurusi wanita lagi? Itu tidak akan terjadi!" jawab Div dengan begitu kerasnya.


"Bukan kamu mas, mana boleh kamu, kan ada Rangga, ada sekretaris Revan, kamu bisa minta bantuan sama mereka, menanyakan jadwal pemeriksaannya, memastikan makanannya, dan lainnya!"


"Menurutmu itu baik?"


"Iya, sebagai laki-laki yang baik!"


"Terserah lah, aku lapar dan mau makan dulu!"


Div menarik tangan Ersya lagi, Divia sudah menunggu mereka di mobil.


Sebenarnya doa Ersya sedang terkabul saat ini, dia tidak jadi bertemu dokter dan melakukan pemeriksaan, tapi ada hal yang sangat tidak dia syukuri saat ini. Dia ingin kejadian ini tidak pernah ada dalam hidupnya.


Walaupun itu masa lalu, tapi tetap saja mengetahui masa lalu suaminya sering kali membuat jantungnya seperti berada di atas rollercoaster, kadang naik dan kadang turun dan dia harus siap menerima resiko yang mungkin akan terjadi selanjutnya.


Bersambung


...Tidak semua yang menyedihkan dari kita, harus kita tangisi. Ada banyak kesedihan yang cukup kita hadapi dengan merelakan dan tersenyum. Karena hanya dengan tersenyum, kita akan mendapat yang lebik baik....


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2