Jaka Rasa Duda

Jaka Rasa Duda
Season 2 (37. Apa yang istimewa?)


__ADS_3

Karena terlalu bosan, Divia pun memilih untuk pindah duduk di sofa, ia ingin menunggu hingga pria itu selesai bekerja baru bicara kembali.


Sebenarnya saat ini Kim tidak sedang sibuk bekerja, ia malah sibuk mencuri pandang pada Divia yang sepertinya sedang asik dengan beberapa buku di tangannya,


Ya tadi tanpa sengaja saat ia menunggu di sofa, ia melihat ke arah rak buku yang ada di pojok ruangan, untuk mengisi waktu luangnya Divia memilih membaca buku-buku itu.


Tapi karena terlalu bosan, Divia sampai tertidur di sofa dengan posisi yang sungguh membuat Kim menggelengkan kepalanya.


"Apa dia tidak bisa tidur dengan posisi yang lebih baik?" gumamnya pelan karena saat ini kaki Divia sudah naik ke atas sandaran punggung pada sofa itu dengan kelapa yang berada di bawah.


Setelah memastikan Divia cukup la tertidur, ia pun menghampiri Divia. Bahkan buku yang di bawa Divia hampir saja terjatuh beruntung Kim dengan cepat menangkapnya hingga tidak menimbulkan kebisingan.


"Dia ceroboh sekali!"


Kim pun segera membetulkan posisi Divia agar lebih nyaman saat tidur, sebenarnya ini sudah waktunya pulang tapi dia tidak mungkin membangunkan Divia.


Hal yang paling di sukai Kim adalah saat melihat Divia tertidur seperti ini, dengan begini ia bisa menatap wajah itu dengan sangat puas.


Kim sampai rela berjongkok di lantai dengan kedua tangan yang menyangga dagunya, menatap setiap inci wajah Divia.


Apa yang istimewa dari dia? Bahkan jika dilihat dari sisi manapun dia tidak lebih cantik dan menarik dari Lyla, tapi kenapa aku jauh lebih menyukai dia dari pada .....


Sebenernya ia tidak ingin membandingkan, hanya saja ia merasa perlu mencari tahu apa yang sebenarnya membuatnya begitu tertarik dengan gadis yang tengah tertidur di depannya.


Tapi sepertinya ia lupa dengan kata-kata bahwa;


...Cinta tidak membutuhkan alasan kenapa harus berlabuh padanya karena memang cinta itu lah alasannya....


Tok tok tok


Hingga suara ketukan di pintu membuatnya mengalihkan perhatiannya dari Divia,


"Isssstttt, siapa sih!?" gumamnya pelan lalu beranjak dari tempatnya dan menghampiri pintu. Ia tidak mau gerakan sekecil apapun sampai membangunkan Divia.


Saat ia membuka pintu ternyata ada Lee di depan pintu, Lee terlihat segera memundurkan langkahnya dan menundukkan kepalanya,


"Maaf Mr, sudah waktunya untuk pulang!"


Mr Kim tidak menjawabnya, ia memilih kembali berbalik dan menatap ke arah Divia, sekretaris Lee juga tertarik untuk melihat ke arah manik mata Mr Kim dan dia langsung tahu apa yang harus ia lakukan.

__ADS_1


"Maaf Mr, saya akan menunggu di ruangan saya, saya akan kembali satu jam lagi!"


Lee hampir saja beranjak tapi Kim segera menahannya, "Tunggu!"


"Iya?"


"Sepertinya dia belum makan sedari siang, tolong Carikan makanan untuknya!"


"Baik Mr!"


Lee pun segera pergi setelah Kim menutup kembali pintunya, ia mencari makanan yang biasa di makan oleh Divia.


Kim yang sudah kembali menghampiri Divia ia memilih duduk di sofa kecil yang ada di depan sofa besar yang menjadi tempat tidur Divia, ia mengambil buku untuk menemani rasa bosannya.


Tidak lupa ia juga menghubungi pelayan di rumah untuk tidak mengkhawatirkan Divia karena mereka akan pulang terlambat. Terutama pada Dee, ia tahu Dee pasti akan sangat mencemaskan Divia, tapi mungkin juga tidak karena sekarang ada Yee Ri di sisi Dee.


Mengingat semakin cepat waktu berlalu perasaannya semakin sepi saat membayangkan ia akan segera berpisah dengan anak itu, anak yang selama ini telah banyak memberi kekuatan padanya.


Tidak sampai setengah jam ternyata Lee sudah kembali, ia meminta Lee untuk menata semua makanan di atas meja samping Divia yang tengah tertidur,


Belum sampai Lee selesai menata semuanya tiba-tiba Divia meregangkan otot-ototnya hingga membuat bajunya tertarik ke atas menampilkan perut rata Divia,


Kim dengan cepat menutupi tubuh Divia dengan posisi hampir memeluknya sedangkan Lee segera membalik badannya,


"Uahhhhh, tidurku nyenyak sekali!" gumam Divia dengan mata yang masih tertutup, tapi saat ia terbangun ia begitu terkejut mendapati Kim begitu dekat dengannya dan hampir memeluknya,


"Kim, apa yang kamu lakukan?" tapi Kim tidak segera menjawabnya. Ia memilih memberi instruksi pada Lee untuk meninggalkan ruangan itu.


"Lee, kamu boleh keluar!"


Lee pun hanya menundukkan kepalanya memberi hormat dan keluar dari ruangan itu,


Setelah Lee keluar, barulah Kim beranjak dari tubuh Divia, pada saat itu barulah Divia menyadari jika bajunya terbuka hingga sebatas dada hampir saja memperlihatkan dadanya.


"Astaga!?" dengan cepat Divia bangun dan menutupi tubuhnya sedangkan Kim sudah berlalu dan membetulkan jasnya, ia kembali duduk di sofa kecil tadi seolah tidak terjadi apa-apa, dengan sikap dinginnya ia duduk dengan melipat salah satu kakinya di atas kaki yang lain.


"Tidak perlu mengatakan terimakasih!"


Memang siapa yang mau mengatakannya .....

__ADS_1


Divia segera tertarik dengan aroma makanan yang begitu menggoda hidung dan perutnya dan benar saja di meja itu sudah penuh dengan makanan.


Ia segera menatap ke arah Kim, berharap pria itu segera menawarinya untuk makan.


Kim sepertinya sudah mulai mengerti dengan bahasa tubuh Divia, ia segera duduk di lantai dan mulai mengambil makanan,


Apa dia tidak ingin menawariku? Divia hanya bisa menahan salivanya saat Kim dengan enaknya mencicipi semua makanan yang ada di depannya.


"Kim, apa kau tidak ingin menawariku?"


Mendengar pertanyaan Divia, Kim menarik garis bibirnya ke atas hingga membentuk senyum tipis,


"Apa kamu juga lapar?"


Dia terlalu lama ...., Divia yang tidak tahan segera turun dari tempat duduknya,


"Iya, aku belum makan dari siang!"


"Makanlah!" Kim menyodorkan mangkuk yang sudah berisi makanan miliknya pada Divia. Sebenarnya ia ingin mengambilkan makanan itu untuk Divia tapi ia tidak tahu cara memberikannya pada gadis itu.


Divia tersenyum, ia mengambil mangkuk itu dan segera memakannya. Ia makan begitu cepat, sepertinya begitu lapar.


"Bisa tidak makannya pelan saja!?" Kim memperingatkannya sambil mengambil mangkuk kosong lagi untuk dia makan sendiri.


"Aku benar-benar lapar, kamu tahu akan wanita cantik di depan itu_!" hampir saja Divia kelepasan, tapi saat melihat tatapan dingin dari Kim ia segera menghentikan perkataannya. Ia tahu apa yang akan terjadi jika sampai ia melanjutkan ucapannya, ini tidak akan baik bagi wanita di depan ruangan itu.


Itu adalah tatapan yang sama persis seperti yang di miliki daddy nya.


"Kenapa berhenti?"


"Tidak, aku cuma mau bilang kalau wanita itu sangat baik!" Divia segera mengalihkan tatapannya agar Kim tidak lagi menginterogasinya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2